Cinta Nadhira

Cinta Nadhira
Bab 71 Pangeran berkuda putih


__ADS_3

''Emang kamu senang punya tunangan dablek yang tak bisa ngapa ngapain,'' celetuk Hendri.


''Ya buka gitu juga lah Mas? maksud Nadhira yang tak pernah ngatur ngatur Nadhira gitu, misalkan Nadhira mau itu harus laporan, mau ke sana laporan dulu, kan Nadhira juga yang capek, capek badan capek pikiran pula,'' cetus Nadhira panjang lebar pada Abang nya.


''Emangnya Adik sudah tau cowok mana yang akan menjadi jodoh kamu,'' tanya Hendri.


Nadhira hanya mengangkat kedua bahunya tanda tak tahu.


''Dek, bagaimana kalau yang bakalan di jodohin kamu itu laki-laki tua, gendut, botak dan o'on juga,'' gumam Hendri menebak nebak.


''Masak ia sich Mas, orang tua Nadhira setega itu sama anaknya sendiri,'' sahut Nadhira yang ikutan ber travelling.


Nadhira menggeleng kan kepalanya membayangkan laki-laki yang di sebut Abang nya barusan.


Hendri terkekeh yang melihat sang Adik memikirkan semua ucapan nya barusan.


''Lagian mana mungkin Pak Arifin mau menerima cowok yang aku sebutin barusan, bersanding dengan puteri nya yang cantik jelita kayak gini,'' gumam nya pelan sehingga Nadhira tk mendengar gumaman Hendri.


''Lucu,'' Ucap Hendri.


''Apanya yang lucu,'' tanya Nadhira.


''Ya, kamu lah Dek yang lucu, masih memikirkan laki-laki tua, gendut, botak dan o'on juga,'' ledek Hendri sembari menertawakan sang Adik.


''Kan Mas Hendri yang mengisi otakku dengan bayangan laki-laki yang kayak gitu, jangan sampai dech Mas. Amit-amit jabang bayi,'' Ucap Nadhira menggetok getok dahinya lalu ke lantai.


Tawa'an Hendri semakin menjadi jadi ketika melihat sang Adik yang mengetik getok dahinya dan juga lantai.


Hendri memegang perutnya yang mulai terasa sakit karena kebanyakan tertawa.


''Sudah lah, Nadhira mau ke kamar, Mas Hendri lanjutin saja tawanya, kalau bisa berhenti bulan depan,'' Ucap nya beranjak dari duduk nya dan bergegas menuju ke kamar nya.


Di dalam kamar sang Ibu sudah menunggu nya, Bu Susi memilih tidur di kamar Puteri nya, Bu Susi masih ingin berbicara masalah pertunangan nya yang akan di adakan minggu depan.


Bu Susi menjelaskan laki-laki yang bakalan menjadi calon menantu nya dan yang akan menjadi tunangan sang puteri.

__ADS_1


''Ndok, maafin Ibu kalau langsung menerima lamaran dari orang tua Laki-laki tersebut, tapi Ibu juga nggak bisa menolak karena itu sudah janji Ayahmu di waktu mudanya bersama teman sekaligus sahabat nya,'' tutr Bu Susi lembut sembari memegang tangan Nadhira.


''Cowoknya ganteng kok ndok, dan dia masih sekolah juga, sama seperti kamu sekarang, tapi dia sudah kelas 3 SMA,'' jelas nya.


''Masih sekolah sudah berani melamar Nadhira, gimana kalau Nadhira minta di beliin sesuatu Bu, pasti dia juga minta uang pada orang tuanya,'' sahut Nadhira berapi api.


''Sebenarnya dia juga sempat menolak perjodohan ini, karena yang kamu bilang tadi, dia belum punya pekerjaan tapi sudah mau di jodoh kan dengan anak orang,'' tambah Bu Susi.


''Tapi kenapa dia malah mau sih di jodohin, Nadhira nggak mau kalau Nadhira di kekang oleh cowok itu besok,'' tukas Nadhira mengeluarkan apa yang ada di dalam hatinya.


''Insya Allah tidak akan sayang, minggu depan kamu bakalan tau seperti apa wajah calon tunangan kamu itu,'' Ucap nya mengakhiri perkataan nya.


''Sudah malam, kita tidur besok kamu sekolah,''


''Iya Bu,'' jawab Nadhira membaringkan tubuh nya yang merasa lelah, di tambah fikiran yang amburadul selalu membayangkan perkataan Hendri sang Abang tadi.


Nadhira memukul mukul kepala nya agar bayangan laki-laki tua, gendut, botak dan juga o'on itu hilang, namun bayangan itu selalu muncul di setiap Nadhira ingin mencoba memejamkan matanya.


Akhirnya Nadhira tak jadi tidur, dia mengambil ponsel nya di atas nakas dan berselancar mencari sesuatu yang dia ingin ketahui.


Nadhira mulai mengetik dan langsung mengirim pada Herman.


📤-Mas Herman, siapa laki-laki yang akan jadi tunangan ku besok,''


Tringg....


Ponsel Herman berbunyi pertanda ada chat masuk. Herman bergegas mengambil ponsel nya di jok motor nya karena Herman sedang berada di rumah Adhi temannya.


Herman membacanya dan malah cekikikan membuat Adhi bingung dan bertanya.


''Siapa Man,'' tanyanya penasaran.


''Ini Adik nanyain laki-laki yang akan jadi tunangan nya besok,'' jawab nya.


''Cepat balas, bilang saja nggak tau githu,'' tutur Adhi.

__ADS_1


Herman langsung membalas chat dari Nadhira Adiknya.


📩- Mas juga nggak tau Dek?''


📤-Mas Herman pelit,''


📩-Minggu depan kamu bakalan tahu sendiri kok siapa laki-laki yang akan jadi jodoh kamu,''


📤-Mas Herman tega sama Adiknya sendiri, main rahasia-rahasia'an,''


📩- Bukan rahasia sich Adikku sayang, tapi ingin membuat kejutan saja pada Adikku yang comel ini,''


Begitulah isi chat dari Kakak beradik yang main rahasia rahasia'an.


Nadhira yang kesal tak membalas chat dari Abangnya lagi, dia tak menghiraukan ponsel nya yang terus bergetar.


Nadhira memilih tidur di bandingkan membaca pesan yang berusaha masuk ke dalam ponsel nya.


Tak butuh waktu lama, kini Nadhira sudah terbang ke alam mimpi nya yang sedang bertemu dengan sang pangeran yang gagah dan menunggangi kuda putih.


Pangeran tersebut menghampiri Nadhira, dia mengulurkan tangan kekar nya untuk meraih pinggang ramping Nadhira yang terbalut dengan baju syar'i berwarna putih. Nampak Nadhira memegang bahu sang Pangeran tersebut, Nadhira menatap wajah Pangeran yang tak begitu jelas wajah nya.


''Kamu lah yang di takdirkan Allah untuk menjadi jodoh ku, semoga kita menjadi jodoh dan pasangan yang sakinah mawaddah warohmah,'' bisik laki-laki tersebut yang terlihat bak seperti seorang pangeran.


Ketika Nadhira ingin memegang wajahnya, Pangeran tersebut malah memegang tangan Nadhira dan dia pun mencium pipi Nadhira, Nadhira yang kaget langsung terbangun dari tidurnya seraya tak henti henti nya melantunkan lafaz Astagfirullah hal adzim.


Nadhira mengusap wajah nya yang berkeringat dingin, Nadhira menoleh ke samping nya, nampak Ibunya sangat pulas dalam tidur nya.


''Siapa laki-laki barusan, berani sekali mencium pipi ku,'' gumam Nadhira dan mengambil ponsel nya di atas nakas.


Di lihatnya jam di ponsel nya yang menunjukkan jam 2 malam, Nadhira bergegas ke kamar mandi, dengan segera Nadhira mengambil wudhu lalu mengambil mukenah nya, dan di bentangkan nya sajadah pemberian Abang nya.


Nadhira melaksanakan sholat malam dan meminta petunjuk kepada Allah agar dirinya di beri jodoh yang Sholeh dan taat dalam Agama.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2