
Keluarga Eza sudah bersiap untuk berangkat ke rumah Nadhira, 5 mobil sudah di siapkan oleh orang tua Eza untuk para saudara nya yang ikut serta ke rumah Nadhira.
Eza sudah berada di dalam mobil bersama Marvel, Adhi dan juga Nathan yang berada di dalam satu mobil.
Sedangkan ke tiga teman yang lainnya berada di mobil lainnya
Kini mobil melaju dengan pelan secara beriringan menuju ke rumah Nadhira.
Tak butuh waktu lama rombongan keluarga Eza sudah sampai di rumah Nadhira. Eza yang tak menyadari kalau dirinya sekarang sudah sampai dan berada tak jauh dari rumah Nadhira pun di kagetkan oleh ketiga teman nya.
''Ayo turun, ngelamun bae,'' cetus Nathan mengagetkan Eza.
''Emang nya sudah sampai,'' Tanya nya menengok kiri kanan.
''Kayaknya aku kenal jalan ini,'' gumam Eza pelan.
''Iyalah kenal, kan kita pernah main kesini lewat jalan ini juga,'' sahut Marvel dengan nada tinggi nya, karena gemas melihat Eza yang celingak celinguk nggak jelas.
''Ayo turun, semuanya sudah turun tinggal nunggu kamu yang belum turun,'' kata Adhi menarik tangan Eza untuk segera keluar dari mobilnya.
Eza menghembuskan nafas dengan kasar, Eza belum menyadari kalau diri nya melangkah menuju ke rumah Nadhira.
''Jangan nunduk terus, malu maluin saja, kayak ada cermin di bawah,'' tutur Adhi.
Di depan, Herman sudah menyambut kedatangan mereka dengan senyuman nya, karena hanya mereka ber empat lah yang datang belakangan.
''Masih ngapain sich kalian semua,'' Tanya Herman yang membuat Eza kaget.
''Mas Herman di sini juga,'' tanya Eza dalam kesadaran yang belum ful seutuhn ya.
''Ya jelas di sini lah Za, lawong ini rumah Mas Herman,'' cakap Marvel melipat kedua tangan di dada nya.
''Masak sich,'' tanya nya lagi.
''Jadi...'' Eza tak meneruskan ucapan nya karena sudah di potong oleh Nathan.
''Iya, yang akan jadi tunangan kamu itu Nadhira bukan orang lain,'' tukas Marvel ketus karena kesal pada teman nya.
__ADS_1
''Haaa...'' Eza hanya ternganga mendengar ucapan Marvel.
''Bagaimana sekarang, senang dong!'' ledek Adhi cengengesan.
''Harusnya senang dong Mas Adhi,'' sahut Marvel menepuk punggung Eza.
''Ya sudah ayo kita masuk, ngobrol nya nanti saja lagi,'' cakap Herman mengajak mereka ber empat untuk masuk ke dalam rumah nya.
Di dalam rumah Nadhira semua keluarga Eza sudah menyantap makanan yang sudah di sajikan oleh keluarga Nadhira
Nadhira sendiri belum juga sampai ke rumah nya, karena jalanan yang macet.
Keluarga Eza sudah menunggu kedatangan Nadhira untuk melihat seperti apa gadis yang akan menjadi calon menantu nya.
''Calon wanita nya mana?'' tanya saudara jauh Eza yang kebetulan juga ikut ke rumah Nadhira.
''Calon nya belum sampai, mungkin sebentar lagi, katanya terkena macet di jalan,'' jawab saudara Nadhira yang ikut menemani tamu tamu dari keluarga calon laki-laki.
''Emang nggak ada di rumah ini,'' tanya nya.
''Kebetulan Nadhira tinggal di Surabaya, jadi dia berangkat nya tadi pagi dari Surabaya,'' sahut nya lagi.
Kini mobil yang di kendarai Hendri sudah terparkir di halaman tetangga Nadhira.
Nadhira membuka pintu mobil, perlahan dia turun dari mobil yang ia tumpangi. Nadhira menghela nafas untuk mengusir rasa gugup nya, Nadhira menggenggam tangan Umi Upik dengan sangat erat.
Nadhira tanpak terlihat sangat cantik dengan penampilan nya yang sekarang, Nadhira tumbuh menjadi gadis cantik dan anggun, dengan baju gamis yang berwarna Army di padu dengan hijab berwarna hitam nya, di tambah lagi dengan riasan natural nya yang memperlihatkan wajah putihnya.
Herman menyambut sang Adik di depan pintu rumah nya, sedangkan Eza sudah dag dig dug karena sebentar lagi bakalan bertemu dengan calon tunangan nya.
''Kok lama datangnya sich Dik?'' tanya Herman lembut seraya mengusap puncak kepala sang Adik.
''Maaf Mas, jalanan macet jadi lama sampai nya,'' sahut nya mencium tangan Abang nya.
''Ayo masuk, mereka semua sudah menunggu kedatangan mu,'' ajak Herman.
Nadhira mengangguk dan mulai mengikuti Abang nya, sesampai nya di depan pintu Nadhira menghentikan langkah kakinya karena di dalam sangat banyak orang yang melihat ke arah nya.
__ADS_1
Ternyata calon tunangan yang ia tak inginkan, ternyata adalah gadis yang sudah lama ia impikan untuk di jadikan pasangan hidup nya.
''Nggak nyangka yang di jodohkan orang tuaku ternyata gadis yang sudah lama saya incar,'' gumam nya pelan dan terus memandang ke arah luar yang menunggu Nadhira masuk ke dalam rumah.
Sedangkan Nadhira sendiri di luar sedang bingung melihat orang banyak di dalam rumah nya, ''Haruskah aku menyalami semua orang yang ada di dalam,'' bisiknya pelan namun masih di dengar sang Umi.
''Sebaiknya kamu menyalami mereka semua, bagaimana pun kita sudah ditunggu dari tadi,'' bisik Umi Upik pada Puteri angkatnya.
Nadhira mengangguk pelan dan mulai melangkah kan kakinya masuk ke dalam rumah.
Nadhira mulai mendudukkan diri di depan para tamu untuk mencium tangan orang yang lebih tua darinya.
Kini tiba giliran Hera yang mencium tangan Nadhira, Hera mengembangkan senyum manisnya melihat sang kakak ipar yang sangat cantik dari yang ia lihat di foto tempo hari, ketika dia ikut orang tua nya ke rumah Nadhira.
Nadhira juga membalas senyuman Hera yang tak tau kalau dia adalah calon Adik ipar nya.
Nadhira terus mengelilingi orang orang sampai akhir nya tiba di depan Adhi dan teman teman-nya.
''Mas Adhi di sini juga,'' tanya Nadhira heran.
''Iya Adikku sayang, Mas Adhi juga tamu lho, wajib di salami juga,'' jawab-nya yang langsung di tertawakan oleh orang orang di dekat nya.
Nadhira tersenyum mendengar ucapan Adhi barusan dan diapun menggeleng kan kepala-nya.
Nadhira melanjutkan pada Marvel, Nathan dan terakhir pada Eza sendiri.
''Adikku sayang, cium tangan nya kalau bersalaman dengan Eza,'' celetuk Marvel yang niru niru memanggil Nadhira dengan sebutan Adikku sayang.
Nadhira bingung dengan perkataan yang di lontarkan oleh Marvel barusan, Nadhira beranjak dari duduk nya walaupun agak susah, karena gamis yang ia pakai kena injak waktu mau bangun dari jongkok nya.
Eza langsung menangkap tubuh gadis yang sebentar lagi bakalan jadi tunangan nya.
''Hati-hati,'' tutur Eza pelan seraya memegang lengan Nadhira.
''Makasih,'' Ucap Nadhira pelan dan menatap ke arah Abang nya yang berada tak jauh darinya.
''Sekarang waktunya tukar cincin, karena sang gadis sudah tiba,'' Ucap sang Kyai yang di tunjuk untuk mengisi acara lamaran Eza dan juga Nadhira.
__ADS_1
BERSAMBUNG