
Sesampainya di rumah Herman bertanya kabar Nadhira sang adik pada orang tuanya.
"Gimana kabarnya Adik Yah.'' tanyanya.
"Alhamdulillah sehat.'' jawab sang Ayah.
"Kok cuma sebentar biasanya kalau nengokin Adik lama.'' tanya Herman karna orang tuanya cepat pulang dari Pondok Pesantren.
"Adiknya nggak ada di Pondok Pesantren.'' kata sang Ibu.
" Lho, kalau nggak ada di Pondok Pesantren, terus Adik ada di mana Yah.'' ucap Herman kaget.
"Surabaya.'' sahut Bu Susi.
"Ibu jangan bohong, masak Adik pergi ke Surabaya, lha terus Pak Kyai nya gimana coba.'' tanya Herman khawatir.
"Ke Surabayanya bareng Nengnya Herman?'' kata sang Ayah menekan omongannya.
Karena sang Ayah sudah capek dengan pertanyaan Herman sang anak.
Herman menganggukkan kepalanya tanda mengerti, rasa khawatir Herman sudah mulai mereda karna sang Adik ke Surabaya nya bersama dengan nengnya.
"Mas kangen suara Adik?'' gumam Herman setelah sepeninggal Ayah dan Ibunya.
"Mas pengen nelfon tapi tak punya nomer HPnya Dek?!'' Herman mengacak-acak rambutnya frustasi.
Di sisi lain Nadhira sedang gelisah di luar ruang rawat Uminya Hendri.
Hendri yang keluar dari ruangan Uminya melihat Nadhira sedang gelisah,
lalu Hendri menghampiri Nadhira dan bertanya.
"Kenapa gelisah gituu.'' tanya Hendri pada Nadhira.
"Nggak apa_apa kok kak.'' jawab Nadhira.
Ya, Hendri memang menyuruh Nadhira memanggil Hendri sebutan kakak, biar lebih akrab dan tidak canggung lagi.
"Katakan pada kakak ada apa.'' tanyanya lagi.
"Emm... gini kak, sekarang tanggal 5", Ucap Nadhira.
"Iya, emangnya kenapa.'' tanya Hendri penasaran.
"Orang tua Nadhira pasti lagi ke Pondok Pesantren sekarang ini.'' jawabnya sedih.
"Terus.''
"Nggak ada.'' ucap Nadhira sedih.
"Kamu kangen sama Ayah dan Ibumu.'' tanya Hendri.
Nadhira mengangguk.
"Ya sudah telvon saja.'' kata Hendri menyodorkan Ponselnya.
Nadhira yang menunduk saat itu mendongakkan kepalanya menatap ponsel Hendri.
"Beneran boleh pinjam.'' tanya Nadhira.
"Kalau pinjam cuma di pegang saja.'' ketawa Hendri.
Nadhira cemberut mendengar omongan Hendri.
"Yasudah ini di pake saja, kamu hafal kan nomer rumahnya.'' tanya Hendri.
Nadhira mengangguk.
"Mau nggak.'' tanya Hendri lagi.
"Mau.'' ucap Nadhira.
"Ya sudah ambil gih telvon Ibunya sekarang.'' Ucapnya.
Nadhira mengambil ponsel Hendri lalu mengetik nomer ponsel sang kakak.
__ADS_1
Tut.... tut... tut..
Ketika panggilan sudah tersambung.
"Kemana sich Mas, lama banget ngangkat nya.'' gumam Nadhira.
"Hallo.'' ucap Herman setelah di angkat.
''Assalamu'alaikum, Mas.'' jawab Nadhira.
"Siapa.'' tanya Herman malas.
"Jawab dulu salamku kali Mas.'' kata Nadhira kesal.
"Waalaikum salam , capa nich?'' tanya Herman lagi.
"Aku Nadhira Mas.'' Ucapnya,
"Adek, ini beneran Adekkan.'' tanyanya bangun dari tidurnya.
"Iya ini Nadhira, masak Mas nggak bisa bedain suara Nadhira sich Mas.'' Ucap Nadhira kesal.
"Ya maaf Dek, nomer Ponsel nggak aku save, jadi nggak tau kalau Adek yang nelfon.'' jawab Herman sang kakak.
"Tadi pagi Ibu sama Ayah ke Pondok Pesantren.'' ucap Herman
"Sekarng Ibu sama Ayah kemana Mas.'' tanya Nadhira
"Ada di belakang.'' jawabnya.
"Audah pulang dari Pondok Pesantren ya.'' tanya Nadhira lagi.
"Iya, kata Ibu Adik nggak ada di Pondok Pesantren, Ibu sama Ayah cuma bertemu dengan Pak Kyai dan Bu Nyai nya saja, beliau bilang Adek lagi ikut neng Alvy ke Surabaya.'' jawab Herman.
"Iya mas, Dhira lagi ada di surabaya sekarang.'' jawab Nadhira sedih.
"Emangnya ngapain di suraybaya Dek.'' tanya Herman.
"Uminya Ustad Dayat lagi sakit Mas, do'ain saja Mas biar Uminya Ustad Dayat cepet sembuh.'' jawab Nadhira.
"Ya sudah Mas, Nadhira matiin dulu telvonnya.'' kata Nadhira.
"Iya Mas, Assalamu'alaikum.'' Ucap Nadhira mengakhiri telvonnya.
" Waalaikum salam.'' jawab Herman.
Selesai nya Nadhira langsung memberikan ponselnya pada Hendri.
"Makasih kak dah minjemin ponselnya.'' ucap Nadhira.
" iyya sama-sama.'' ucap Hendri
" Sudah kangen-kangennya.'' tanya Hendri lagi.
" Sudah kak, makasich.'' jawab Nadhira.
"Yang harus berterima kasih itu harusnya aku Dhira?'' ucap Hendri.
" Kok bisa kak Hendri yang berterima kasih pada Nadhira.'' tanyanya bingung.
" Iya karna kamu dah bantu aku buat jagain Umi di sini.'' jawab Hendri.
"Ya nggak lah kak, thu sudah kewajiban Nadhira, Nadhira hanya ingin berbakti pada orang tuanya Ustad, Dhira cuma berharap barokahnya beliau saja.'' ucap Nadhira tulus.
Hendri tersenyum menanggapi perkataan Nadhira.
" kamu emang beda dari yang lainnya ", kata hendri
" beda kenapa kak", tanya nadhira bingung
"ya beda saja gituu, aku suka kepribadian kamu ini nadhira",
" kamu orang_nya apa adanya, nggak neko-neko dan kamu selalu merendah di depan orang", ucapnya
nadhira tersenyum "nggak juga kok kak" ucapnya
__ADS_1
mereka tertawa bersama.
kini nadhira dan hendri sudah tidak canggung lagi.
πΊπΊπΊπΊ
Akhirnya sang umi sudah di perbolehkan pulang ke rumahnya, sang umi sudah membaik dari sakitnya.
nadhira merapikan baju_baju sang umi, untuk di bawa pulang.
"gimana nadhira sudah selesai", tanya dayat
" sudah ustad", jawabnya menunduk
"yaudah kita pulang sekarang", kata dayat
nadhira hanya mengangguk.
hendri memapah sang umi ke kursi rodanya.
lalu hendri mendorong kursi roda tersebut menuju ke mobilnya.
nadhira mengikuti hendri dan dayat dari belakang. sedangkan alvy sang neng tidak ikut menjemput umi nya ke rumah sakit.
di dalam mobil sudah ada abahnya dayat dan hendri.
sang abah emang lebih memilih nungguin di dalam mobilnya.
"sudah lama abah", tanya hendri yang memapah sang umi buat masuk ke dalam mobil nya.
" baru saja", ucapnya
"keadaan umi gimana", tanya sang abah
"umi sudah baik kok abah", jawabnya
" abang sama nadhira masih nunggu obat nya umi abah", kata hendri
sang abah hanya mengangguk.
tak berapa lama dayat dan nadhira menghampiri hendri dan sang abahnya.
"sudah yat", tanya sang abah
" sudah bah", kata dayat
"yaudah kita pulang sekarang", ucap abahnya
" nadhira di belakang ya", kata dayat
"iya ustad", ucapnya
selama di perjalanan nadhira tidak berkata sepatah katapun, nadhira hanya mendengarkan obrolan dayat, hendri, abah dan umi nya saja.
sepanjang perjalanan pulang mereka bercanda tawa, nadhira menghela nafas panjang menghilangkan rasa canggung yang ada di dalam diri-Nya.
tak terasa kini mereka sudah sampai di kediaman hendri sekeluarga,
nadhira menurunkan barang bawaan sang umi, sedangkan hendri memapah sang umi menuju ke kamarnya.
" nadhira kamu istirahat saja", ucap sang abah tiba-tiba
"ii_iya abah"jawabnya gugup
" kamu pasti capek kan, hendri antar nadhira untuk istirahat di kamar bella, biar abah yang membawa umi ke kamar", ucap sang abah
"iya abah", jawabnya
nadhira dan hendri menuju ke kamar bella sang adik, lalu nadhira bertanya pada hendri.
" kak emangnya nggak apa_apa nadhira istirahat di sini",
"nggak apa_apa kok, kamu istirahat saja disini, kamu pasti capek banget. beberapa hari ini kamu kurang tidur", kata hendri
nadhira mengangguk dan langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur, ketika hendri menutup pintu nya.
__ADS_1
nadhira melihat sekeliling kamar yang ia tempati sekarang ini, lalu nadhira melangkah menuju ke gambar yang terpajang rapi di dinding kamar tersebut.
"apa ni yang namanya bella, hampir mirip sich", gumam_nya