
Herman menghubungi Hendri untuk menanyakan sudah sampai di mana.
Ponsel Hendri berdering.
dret...dret...dret...
Panggilan dari Herman langsung di angkat nya, belum juga mengucapkan salam, Hendri sudah di cecar pertanyaan oleh Herman.
''Hendri, lho dah nyampek mana nich!'' Tanya Herman.
''Sebentar lagi sampai kok Mas? emangnya kenapa.'' jawab Hendri sekaligus nanya balik.
''Rahasia,'' ucap Herman ketus.
''Kalau sudah sampai jangan lupa kabari aku Oke.'' pinta Herman pada Hendri.
Hendri mengiyakan ucapan Herman dan mematikan ponselnya.
Nadhira yang penasaran bertanya pada Hendri kakaknya.
''Siapa Mas?'' Tanya Nadhira pada Hendri.
''Mas Herman nelfon.'' jawab Hendri tetap menyetir mobil nya.
Nadhira hanya ber Oh ria saja menanggapi ucapan Hendri.
Hendri memutar otaknya memikirkan yang di ucapkan Herman barusan, ''Ada apa sebenarnya di rumah Dek Dhira sekarang!'' Gumam Hendri berpikir keras.
Kurang berapa meter dari rumah Nadhira, Hendri mengambil ponsel nya di dasbor mobil, dia menekan nomor ponsel Herman kalau sebentar lagi bakalan sampai di rumahnya.
Tut...tut...tut...
Panggilan tersambung, dan dengan segera mungkin Herman langsung mengangkat panggilan dari Hendri.
''Sudah di mana!'' Tanya Herman sarkas.
''Ini sudah ada di depan Mas, emang ada apaan sich pakek ngomong gitu segala sama Hendri.'' jawab Hendri dengan nada lumayan tinggi dari biasanya.
__ADS_1
''Lho bakalan tau sebentar lagi, gue tunggu kalian di teras.'' Ujar Herman langsung mematikan ponsel nya.
''Nggak asik banget sich Mas Herman itu Dek?'' Gumam Hendri pada Nadhira di sebelah nya.
''Tau!'' jawab Nadhira singkat.
Hendri memarkirkan mobil nya di depan rumah tetangga Nadhira, karena di halaman rumah Nadhira banyak motor yang terparkir di sana, Herman yang mengetahui kedatangan Nadhira dan juga Hendri langsung memperlihatkan deretan gigi putihnya.
Herman menghampiri Nadhira yang masih berdiri di dekat mobil Hendri.
''Adek sudah sampai?'' Tanya Herman pada Nadhira, Nadhira merasa aneh melihat Abang nya yang memiliki gelagat tersembunyi.
''Yang Mas Herman lihat gimana.'' jawab kesal Nadhira.
''Baru sampai sudah ngomel-ngomel githu Dek?'' tukas Herman mengernyit dahinya.
''Sudah lah ayo ke rumah, di sana sudah ada yang menunggu kedatangan kamu dari tadi.'' Ajak Herman merangkul sang Adek.
Nadhira menatap Herman dengan tatapan menyelidik, ''Tunggu sebentar, emangnya ada apa sich Mas, Mas Herman nggak seperti biasanya dech?'' tanya Nadhira, sedangkan Herman hanya nyengir kuda.
''Kejutan??'' Ucap semua orang yang ada di dalam rumah Nadhira.
Teman-teman Herman sudah berkumpul disana juga, termasuk Rara dan juga Risa pacar Adhi.
Nadhira menyunggingkan senyum manisnya melihat semua orang berada di sana, dengan berbagai hiasan di ruang tamu, dan di meja terdapat beberapa kue dan juga minuman. Sang Ibunda tersenyum melihat Putrinya sudah datang.
Ibunda Nadhira juga ikut andil dalam rencana bikin kejutan buat kepulangan Nadhira dari Pesantren, sekaligus ini ulang tahun Nadhira yang 15 tahun, masih kecil memang, kan baru MTS (Madrasah tsanawiyah).
Nadhira memeluk Ibunda nya terlebih dulu,di ciuminya pipi Bu Susi sang Ibunda, baru setelah itu menghampiri sang Ayah, Nadhira memeluk Ayah-nya begitu erat, karena Nadhira sendiri lebih dekat dengan sang Ayah.
Tak lupa Nadhira menyalami semua orang yang ada di dalam rumahnya, Rara dan juga Risa memeluk Nadhira secara bergantian.
''Happy birthday Adikku tersayang.'' tutur Herman memeluk Nadhira, Rara menyalakan lilin yang sudah terpasang di atas kue ulang tahunnya Nadhira.
Nadhira menitikkan air mata kebahagiaan, karena semua keluarga dan teman teman Abang nya ingat dengan hari lahirnya. Sedangkan Hendri masih diam membisu di tempatnya, Hendri sendiri tidak mengetahui tanggal berapa Nadhira lahir.
dia hanya diam termangu melihat kebahagiaan Nadhira di dalam keluarga nya, meskipun acaranya di adakan secara sederhana, namun semua keluarga dan teman teman nya ikut serta merayakan hari jadi Nadhira.
__ADS_1
Do'a terbaik di ucapkan Nadhira dalam hatinya sebelum dia meniup Lilinnya, berkumpul nya semua keluarga nya, membuat Nadhira merasakan kebahagiaan yang lebih bermakna.
Nadhira menarik tangan Hendri untuk masuk kedalam rumahnya, Hendri melemparkan senyuman nya pada Nadhira, sedangkan Eza merasa iri melihat kedekatan Hendri dengan Nadhira pujaan hatinya.
''Kamu kok nggak bilang kalau lagi ulang tahun.'' Bisik Hendri pelan sambil terus melangkah menuju kedua orang tua nya berada.
''Nadhira juga lupa kok Mas, kalau sekarang Nadhira lagi ulang tahun?'' balas bisik Nadhira.
Hendri mencium tangan kedua Ibu beserta Ayah Nadhira juga, setelah sampai di depan orang tua nya.
''Kok nggak langsung masuk nakal Hendri?'' Tanya lembut Ayah Nadhira.
''Iya Pak, Hendri sampai lupa karena kaget hari ini ulang tahunnya Adik.'' jawab Hendri sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Abah Rahman yang kangen dengan Nadhira dan ingin mengetahui keadaan Putri angkat nya langsung mengirim pesan pada Hendri. 'Ding' bunyi ponsel Hendri, Hendri merogoh saku celananya mengkbil ponsel dan membaca pesan dari sang Abah.
-''Gimana kabar Adik kamu sekarang Hendri, dari kemarin nggak ada kabar sama sekali. Isi pesan Abah Rahman.
-''Kabar Adik baik baik saja Abah? dan sekarang Adik lagi merayakan hari ulang tahun nya. Balas cepat Hendri.
-''Ulang tahun? kamu kok nggak bilang sama Abah kalau Adik kamu Nadhira lagi ulang tahun. Balas Abah Rahman.
Dret...dret...dret.
Ponsel Hendri berdering dan di ID pemanggil nya adalah sang Abah.
-''Hallo, Assalamu'alaikum.'' Ucap Hendri setelah menggeser layar Ponsel nya.
-''Waalaikum salam.'' Jawab Abah Rahman.
-''Mana Adik kamu sekarang?'' Tanya Abah Rahman tak sabar ingin melihat wajah sang putri.
Hendri mengarahkan kamera ponsel nya ke arah Nadhira yang lagi bercengkrama dengan teman Herman yang ikut hadir di acara perayaan ulang tahun Nadhira.
''Cantik." Gumam Abah Rahman memandang wajah putri nya dari jauh.
yang
__ADS_1