
Eza Ferdiansyah menapaki kaki nya di depan pondok pesantren di mana di sana terdapat tunangan nya yang masih sangat betah tinggal di dalam pondok pesantren tersebut, Eza menghela nafas panjang nya ketika melihat nama pondok pesantren yang terpangpang jelas di dinding. Pondok Pesantren ''Ummul Quro'' nampak sangat jelas di depan mata Eza.
''Bang Eza?'' seru salah satu seorang laki-laki yang menjadi pengurus di sana.
''Iya, apa kabar?'' tanya Eza kepada seorang laki-laki yang datang menghampiri nya dengan menenteng kantong kresek hitam di tangan nya, sedangkan tangan yang sebelah kiri nampak sedikit mengangkat sarung nya yang sedikit menutupi kaki nya, karena dia terburu buru menghampiri Eza jadi dia mau tak mau harus mengangkat sarung sedikit ke atas, takut nya dia malah menginjak sarung yang ia kenakan dan semua nya akan jadi masalah besar.
''Bang Eza dengan siapa datang ke sini,'' tanya sang pengurus melihat ke sekeliling tapi tidak menemukan seseorang yang ada di sana.
''Aku sendirian, kebetulan aku sedang pulang dan meluangkan waktu untuk bertemu dengan tunangan ku di sini, dan ingin mengajak dia pergi juga hanya sekedar jalan jalan saja kok, apakah dia ada sekarang?'' tanya Eza dengan panjang lebar.
''Nadhira baru saja keluar dengan Ustad Dayat dan juga neng Bang? mungkin sebentar lagi datang, Abang boleh menunggu nya di dalam saja, mungkin dia sedang menjenguk kerabat nya yang sedang ada di rumah sakit,'' jelas nya dengan mempersilahkan Eza masuk ke dalam Pondok Pesantren putera.
Sang pengurus tidak mungkin langsung membawa Eza ke dalam rumah Kyai nya, tanpa meminta ijin terlebih dulu. Eza hanya bisa dan terus mengikuti pengurus Pesantren ke dalam Pondok pesantren laki-laki.
Eza juga salah sebenarnya karena tidak memberi tahu terlebih dulu kalau dia akan datang ke Pondok pesantren nya, untuk mengajak nya jalan jalan karena sudah sangat lama juga tidak pernah pergi bersama setelah bertunangan kemarin. Eza sangat sibuk dengan pekerja'an nya sekarang, Eza terbilang sangat cepat dalam merintis karier nya dengan usahanya sendiri tanpa bantuan dari orang tua nya.
5 tahun Eza dan Nadhira bertunangan, mungkin bagi mereka waktu lima tahun sudah sangat cukup bagi kedua nya untuk hidup bersama, namun Eza selalu menolak nya dengan sangat pelan. Eza tau betul kalau Nadhira masih butuh waktu untuk bisa menerima dia di sisi nya, sampai akhirnya Eza sukses dalam karier nya untuk saat ini.
__ADS_1
''Bang Eza mau minum apa?'' tanya seseorang dari balik pintu yang kini sudah mulai masuk ke ruangan tunggu, di mana di sana banyak Santri yang sedang bercengkrama dengan orang tuanya masing-masing. Eza tidak mau di ajak ke ruangan lain nya, karena menurut dia Eza hanya datang ke Pondok pesantren untuk menemui Nadhira saja seperti biasa nya.
''Apa saja, asal tidak merepotkanmu,'' jawab Eza yang kini tengah membuka jas yang ia kenakan. Eza sebenarnya belum pulang ke rumah nya karena dia langsung mendatangi Pondok pesantren tempat Nadhira tinggal saat ini, Eza paham betul kalau tunangan nya tidak akan ada di rumah nya, kecuali Eza mengajak nya pulang walau hanya beberapa hari saja di rumah nya.
Flashback on
Acara lamaran berjalan dengan lancar, semua keluarga Nadhira telah kembali ke rumah masing-masing, begitu pula dengan Hendri dan juga Dayat yang segera kembali ke Pondok Pesantren tempat mereka tinggal.
''Kamu baik baik saja di sini oke, jaga kesehatan juga dan juga cepat kembali ke rumah karena sekolah kamu tinggal sebentar lagi,'' pesan Hendri kepada Nadhira yang masih diam mematunh di samping Eza.
''Saya yang akan mengantarkan Nadhira ke sana lusa?!'' jawab Eza dengan datar.
''Mas? Nadhira titip Umi dan juga Abah,'' kata Nadhira yang mulai membuka suara nya.
''Pasti, kamu baik baik ya di sini selama dua hari ini,'' tambah Hendri dengan menatap wajah datar Eza, yang sekarang ini sudah menjadi tunangan adik nya.
Nadhira mengangguk pelan dan mencium punggung tangan Abah, Umi beserta yang lain nya juga. Setelah kepergian mereka semua Nadhira segera masuk ke dalam kamar nya untuk membaringkan tubuh lelah nya, karena dia tadi langsung menghadap keluarga besar Eza.
__ADS_1
''Bapak harap kamu bisa memaklumi puteri bapak nak Eza,'' kata ayah Nadhira yang datang menghampiri Eza langsung.
''Tidak apa apa kok Pak? Eza bisa mengerti kalau Nadhira juga terpaksa dengan acara hari ini,'' jawab Eza dengan ramah dan juga sopan.
''Maafkan Bapak yang sedikit memaksa dia nak Eza, mungkin semua ini juga salah Bapak,'' tambah Ayah Nadhira lagi.
''Nggak apa apa kok Pak, ini semua bukan salah Bapak kok, tapi Ayah Eza juga bersalah dalam hal ini, karena memaksakan kehendak nya, sedangkan Nadhira sendiri masih sekolah dan belum juga lulus,'' balas Eza dengan menggenggam tangan Ayah Nadhira.
Setelah pembicara'an tersebut Ayah Nadhira berlalu karena saudara nya akan kembali ke rumah nya, sedangkan Eza menghubungi sahabat nya agar dia segera di jemput di rumah Nadhira, karena dia juga tidak nyaman dengan sikap Nadhira yang dingin terhadapnya.
-''Apalagi Za?'' tanya Adi dari seberang, dia yang paling dekat dengan Eza.
-''Bisa jemput aku sekarang dirumah Nadhira nggak, aku mau pulang tapi tidak ada kendara'an di sini,'' jawab Eza dengan nada datar nya.
-''Bukan nya tadi mobil kamu di tinggal di sana?'' sela Adi yang mengingat kalau mobil sahabat nya itu ada di rumah Nadhira.
-''Mobil, mobil semua nya di bawa pulang, dan aku sendirian di sini tanpa seorang teman sekalipun,'' balas Eza dengan kesal, karena Adi tidak ikut ke acara lamaran nya tadi, dia malah sibuk dengan kerja'an nya yang tidak boleh ijin hanya karena masalah lamaran doang.
__ADS_1
-''Ya sudah aku segera ke sana sekarang?'' jawab Adi yang tidak tega dengan Eza, karena Eza tidak pernah sendirian ketika datang ke rumah seseorang, apalagi sekarang ini di rumah Nadhira bakalan banyak orang yang tidak banyak ia kenal.
Adi dengan cepat memakai baju nya, karena dia baru selesai mandi setelah dia pulang dari tempat kerja nya. Adi menyambar kunci motor nya dengan tangan kiri nya, sedangkan tangan kanan nya memegang baju yang ia sampirkan di atas bahu nya.