
Setelah beberapa jam perjalanan akhirnya Eza sampai di rumah nya juga.
''Assalamu'alaikum.'' Ucap Eza pada sang Ibu yang membukakan pintunya.
''Waalaikum salam.'' jawab Ibu Eza, Eza mencium tangan Ibunya dan langsung masuk kamar.
Eza begitu lelah dan dia membaringkan tubuh lelahnya di kasur yang sudah 2 hari di tinggalkan nya, tanpa harus menunggu lama, kini Eza sudah berada di alam mimpi nya.
Sedangkan di luar Ibu Eza memasakkan untuk Eza makan, namun setelah lama di tunggu di ruang makan, Eza tidak kunjung hadir juga di meja makan.
Sang Ibu menghampiri Eza di kamarnya, kamar Eza yang tak pernah ia kunci, dengan mudah Ibu Eza masuk kedalam anaknya dan melihat anaknya sedang mendengkur halus, pertanda sang anak sudah sangat nyenyak tidur.
Dengan berat hati Ibu Eza menutup pintu kamar yang ia buka barusan dan bergumam, ''Ternyata Eza sudah tidur nyenyak, apa dia sudah makan sebelum sampai ke sini.'' gumam Ibu Eza yang kini dia di kejutkan dengan kedatangan Hera dan juga suaminya.
''Hey, Ibu kok ngelamun? ngelakuin aku ya.'' Ucap Hera pada Ibu nya berniat untuk bercanda dengan sang Ibu.
''Ibu nggak ngelamun kokIb, Ibu hanya kepikiran pada Masmu saja.'' Ujar sang Ibu pada Hera.
''Emangnya Eza belum pulang?'' tanya Pak Arief pada istrinya.
''Eza sudah pulang Pak, namun dia langsung masuk kamar dan Ibu lihat ke kamarnya, ternyata sudah tidur.'' tutur sang Istri.
''Ya sudah kalau Eza tidur jangan di ganggu lah Bu, mungkin dia kecape'an jadi langsung tidur.'' Ucap Pak Arief menenangkan istrinya yang kekhawatiran nya berlebihan pada putranya.
Di tempat lain Herman pergi bersama calon tunangannya, kini hubungan Herman deng sang kekasih sangat dekat dan Herman berencana akan melamar sang kekasih, saat kepulangan Nadhira ke rumahnya, beberapa bulan sudah mereka menjalin hubungan dengan orang yang ia sayangi, mungkin inilah jodoh Herman Abangnya Nadhira.
''Mas Herman nggak ke Ponpes jenguk adek Dhira.'' tanya Rara pada Herman kekasih nya.
''Adek masih ada di Surabaya sayang, mungkin lusa dia akan kembali ke Ponpes nya.'' Jawab Herman memandang wajah ceweknya.
''Och, belum balik ke Ponpes juga ya Mas?'' Tanya Rara lagi pada Herman.
Herman menggelengkan kepala-nya pelan dan terus melangkah mengitari seputaran Taman.
''Kita duduk di sana ya Mas?'' seru Rara menunjuk ke tempat yang lumayan sepi dari lalu lalang orang orang.
Rara mendudukkan diri di samping Herman, dan sesekali ia tersenyum melihat kekasih nya yang begitu baik dan juga pengertian menurut Rara.
''Mau minum apa, biar Rara belikan.'' Tanya Rara beranjak dari duduknya, namun tangan Rara di tarik oleh Herman dan Rara terjatuh di pangkuan sang kekasih.
__ADS_1
''Nggak usah sayang, duduk di sini saja temani Mas.'' tutur Herman pada Rara kekasih nya.
''Tapi Rara haus Mas?'' Rengek Rara yang sudah sangat kehausan, karena dia belum minum sesuatu dari tadi.
Herman tertawa renyah, melihat wajah sang kekasih yang cemberut.
''Ya sudah, biar Mas saja yang beli, kamu duduk di sini dulu Oke.'' Ucap Herman mengusap puncak kepala Rara.
Rara tersenyum, ''Makasih ya, Mas ku sayang?!'' Sahut Rara, Herman beranjak dari duduknya berjalan menghampiri orang penjual minuman dingin.
Herman membeli 3 botol minuman dingin dan beberapa cemilan buat Rara dan juga buat dirinya sendiri.
''Ini minuman nya buat yang tersayang.'' seru Herman pada Rara saat sudah ada di depannya.
''Banyak banget beli minumannya Mas?'' tanya Rara saat melihat 3 botol minuman di depannya.
''Yang 2 punya kamu, dan yang ini buat kamu sayang?!'' jawab Herman mengambil satu botol minuman dingin untuk di minum sendiri.
''Dasar!'' seru Rara pada Herman.
Herman tidak menanggapi omelan Rara.
''Sudah, jangan ngomel ngomel terus, minum dulu katanya haus, tapi masih ngomel-ngomel nggak jelas.'' Jawab Herman, Rara melotot ke arah Herman, sedangkan di pelototi hanya nyengir kuda.
''Mas Herman jahat banget sich?!'' Ucap Rara, Herman langsung memeluk Rara kekasih nya.
''Pulang yuck sudah malam nich.'' Ajak Rara pada Herman.
''Ya sudah, bukan cuma malam lagi, namun camilan sama minuman nya juga sudah habis.'' celetuk Herman pada Rara.
Rara hanya tersenyum canggung, karena malu pada sang kekasih, karena yang di ucapkan oleh Herman ada benarnya.
*---**---**--**--*
Nadhira di ajak ke studio oleh Hendri, pemilik studio tersebut adalah teman dari Hendri sendiri, begitu masuk kedalam studio Nadhira di buat tercengang karena di sana sangat rame.
''Rame banget, ada apa sich Mas orang orang pada ngumpul di sini.'' tanya Nadhira bingung sekaligus penasaran.
''Adek bakalan tau sebentar lagi.'' Ujar Hendri pada Nadhira sang Adik.
__ADS_1
Nadhira mengangguk pasrah dan tak bertanya lagi pada Hendri, walaupun di landa dengan rasa penasaran nya.
Dan yang di bilang oleh Hendri benar, semua orang bangun dari duduknya mengambil formasi tempat masing-masing.
''Berbaris githu, mau ngapain coba.'' gumam Nadhira, Hendri melirik Nadhira sekilas dan berkata.
''Lihat saja, sebentar lagi?'' bisik Hendri pada Nadhira Adiknya.
Musik sudah di nyalakan dengan sangat keras dan begitu nyaring di telinga.
''Apa mereka nggak budek ya dengerin musik kenceng kayak gitu.'' gerutu Nadhira menutup telinga dengan kedua tanya-nya.
Setelah musik menyala mereka mulai menggerakkan badannya, melenggak lenggok mengikuti sang pelatih di depannya, kini Nadhira di buat takjub dengan gerakan gerakan lincah dari sang pelatih yang melatih menari.
''Mau ikutan joged.'' Tanya Hendri yang sukses membuat Nadhira kaget dan melotot pada Hendri.
''Mas Hendri jangan bercanda ya, Nadhira nggak bisa joged.'' Jawab Nadhira singkat.
''Masak sich nggak bisa joged, tapi Mas pernah lihat kamu joged di Ponpes.'' Ujar Hendri pada Nadhira.
Nadhira hanya memalingkan wajahnya karena malu pada Hendri, ''Kapan Mas Hendri lihat Nadhira joged ya.'' Gumam Nadhira berpikir keras.
''Sudah jangan terlalu di pikirin, nanti cepat tua lho.'' Ujar Hendri ngasal.
Nadhira mendelik pada Hendri, yang langsung di tertawakan oleh Hendri.
''Hendri kok nggak ikutan gabung, dan bawa siapa ini Hen?!'' Tanya Fajar yang menghampiri Hendri yang berdiri di samping pintu.
''Kalau nanya satu satu dong bro, susah jawabnya kalau beruntun githu.'' Ucap Hendri pada Fajar teman sekaligus sahabat nya.
Fajar tersenyum dan berkata, ''Kalau kamu pacaran sama ni cowok, harus lebih extra sabar ya menanggapi ocehannya.'' Seru Fajar pada Nadhira, Nadhira hanya mengangguk pelan, dan memandang ke arah Hendri.
''Kamu salah besar bro, ini Adikku bukan pacarku, jangan bikin gosip dong entar viral lagi.'' Sahut Hendri menepuk bahu Fajar.
👉👉👉👉
Makasih yang sudah dukung karya receh Al-mahyra.
Makasih🙏🙏😘😘💕💕💕
__ADS_1