
Sore itu kegiatan Nadhira di pondok pesantren sangat padat, di tambah lagi dengan tugas tugas dari kampus nya yang harus cepat di selesaikan, awal nya Nadhira berencana mengerjakan sebagian tugas kampus nya bersama dengan adik dan juga kakak yang ada di pondok pesantren tersebut, tapi ternyata Nadhira malah kedatangan Eza Ferdiansyah, jadi mau tak mau Nadhira mengerjakan semua tugas kampus nya di dalam rumah yang di tempati Nadhira selama berada di pondok pesantren.
''Memang nya sebanyak itu ya tugas kamu yang harus di kerjakan,'' tanya Eza dengan suara dingin nya.
''Iya Mas?'' jawab Nadhira dengan seadanya, dan tanpa menoleh ke arah sang tunangan.
''Memang nya kamu nggak mau pulang ke rumah?'' tanya Eza lagi dengan tatapan memohon.
''Mau sich, tapi Nadhira masih harus ngerjain ini dulu, dan lagi besok harus di kumpulkan juga,'' jawab nya dengan seadanya. ''Kalau mas Eza mau pulang, pulang duluan saja, lusa Nadhira juga bakalan pulang kok,'' tambah nya lagi dengan menghentikan jari jemari nya yang tengah menari di atas keyboard laptop nya.
''Ceritanya aku di usir nich dari sini?'' seru Eza dengan wajah yang di buat sesedih mungkin.
''Enggak, nggak gitu maksud Nadhira Mas,'' sahut nya dengan perasaan bersalah nya.
''Lha terus tadi kamu nyuruh aku pulang maksudnya bagaimana,'' kata Eza memangku tangan nya.
''Aku masih nyelesain tugas tugas ini Mas, tolong mengertilah? lagian Mas Eza juga datang nya tidak bilang bilang kan,'' bela nya dengan menundukkan wajah nya, Nadhira takut Eza marah atau tersinggung dengan ucapan nya tadi.
'Ya Allah, apa ucapan ku ada yang nyakitin hati Mas Eza ya, aku nggak sengaja,' batin nya, sedangkan jari jemari nya sudah memeras ujung jilbab nya di bawah meja sana.
''Nggak usah merasa bersalah seperti itu, aku cuma bercanda kok. Dan aku sengaja tidak memberimu kabar seperti kemarin kemarin, karena aku mau buat kejutan atas kedatangan ku hari ini, tapi nyatanya kamu sedang sibuk dengan semua tugas tugas kampus kamu itu,'' Ucap Eza dengan panjang lebar.
__ADS_1
Eza memang orang nya selalu bersikap dingin kepada semua orang, namun dengan orang orang yang ada di pondok pesantren, di mana sang tunangan tinggal sekarang, sikap Eza sedikit menghangat. Mungkin karena dia tau atau mengerti kalau tunangan nya benar-benar menuntut ilmu di sana, dan tidak akan terpengaruh dengan dunia luar seperti cewek cewek di luaran sana.
''Sayang sini,'' panggil Eza dengan melambaikan tangan nya ke arah Nadhira sang tunangan.
Nadhira yang di panggil pun langsung mendongakkan kepala nya menatap wajah tampan sang tunangan. Ya walaupun di dalam hati Nadhira belum sepenuh nya ada nama Eza sang tunangan yang sudah sekian tahun melamar nya.
''Kenapa Mas?'' tanya Nadhira ketika mata mereka bertemu tatap dengan sang tunangan.
''Bawa sini biar aku bantu mengerjakan tugas tugas kamu itu, lagian kamu juga kan ada kelas di belakang kan?'' jawab nya dengan mengulas senyum di bibir nya. Nadhira termangu melihat sang tunangan tersenyum seperti itu, karena sejak dulu Eza tak pernah tersenyum kepada semua orang.
''Bukan nya Mas Eza juga ada kerjaan yang harus di selesaikan sekarang juga ya,''
''Kerjaan ku gampang, bisa kapan kapan di kerjakan iya kan, lagian aku ini bos? jadi suka suka aku kerja dan nggak nya,'' sahut Eza dengan mencoba menyombongkan dirinya di hadapan Nadhira.
''Iya Bu Nyai?'' jawab Eza santai, sedangkan Nadhira yang di panggil Bu Nyai memelototkan matanya. ''Nggak usah seperti itu memandang ku sayang, aku sudah tau kalau aku sangat tampan,'' celetuk nya.
''Wuuu eee kkk,'' Nadhira membalas ucapan tunangan dengan ledekan seperti orang yang mau muntah.
''Buktinya adik adik yang di belakang pada liatin aku tadi, karena mereka terpesona dengan ketampanan ku ini,'' ucap Eza dengan tidak tau malu nya.
''Sudahlah Mas, Dhira sedang sibuk malah di ajak bercanda seperti itu,'' putus Nadhira dengan mengalihkan perkataan yang lain nya.
__ADS_1
Eza yang melihat Nadhira yang tidak mau beranjak dari duduk nya, terpaksa menghampiri nya dan malah duduk di belakang nya.
''Mas malu kalau sampai ustadz melihat kita seperti ini,'' Ucap nya menurunkan tangan Eza yang ada di bahu Nadhira.
''Kenapa harus malu sich sayang? kita kan pasangan halal,'' jawab nya tanpa merasa bersalah sama sekali kepada Nadhira.
Eza mengambil laptop yang tengah ada di pangkuan tunangan nya. ''Dari tadi aku sudah bilang kan, kalau aku akan membantu ngerjain tugas tugas kamu, tapi kamu malah diam saja seperti patung di sini,'' seru Eza.
''Tapi Mas,''
''Sudah jangan tapi tapian, sini aku bantu kamu, agar besok kita bisa pulang bersama, memang nya kamu tidak kangen dengan orang tua kita di rumah.'' potong Eza, tangan Eza begitu lincah menari di atas keyboard yang ia pangku, sedangkan Nadhira menatap takjub kepada sang tunangan.
''Gini doang gampang banget sich,'' celetuk nya, membuat lamunan Nadhira buyar dengan celetukan sang empu.
''Emang iya gampang githu?'' tanya Nadhira heran, karena Eza dengan mudah nya mengerjakan tugas tugas nya dengan sangat cepat.
''Soal ginian saja gampang banget kali sayang,'' Eza mengacak jilbab Nadhira pelan. ''Sudah, lebih baik kamu lanjutkan ngajar adik adik di belakang, biar ini aku saja yang kerjain,'' tambah nya lagi, mengingat malam ini Nadhira ada kelas mengajar adik adik nya di belakang yang besar kemungkinan sudah menunggu kedatangan nya.
Nadhira hanya mengangguk pelan, sembari beranjak dari duduk nya dan menyambar kitab yang berada di atas meja yang tak jauh dari nya.
''Aku tinggal dulu Mas,'' pamit nya, yang langsung di angguki oleh Eza.
__ADS_1
Nadhira tersenyum sekilas dan segera melangkahkan kakinya ke belakang menuju kelas Diniyah yang ada di area pondok pesantren. Dalam perjalanan menuju ke kelas Nadhira, tak henti hentinya menyunggingkan senyumnya.
''Ternyata dia masih saja baik kepada ku, ya walaupun aku terkadang bersikap egois kepada nya,'' gumam nya pelan.