
Nadhira yang sedang duduk di sofa hanya berdiam diri tanpa mengeluarkan suara sepatah katapun, Nadhira sendiri tidak tau harus berkata seperti apa dengan sang tunangan yang sudah 5 tahun lalu melamar nya.
''Kamu sehat,'' kata Eza membuka obrolan nya dengan bertanya basa basi kepada tunangan nya, yang di lihat tak mau membuka suara nya.
''Alhamdulillah baik baik saja, anda sendiri bagaimana?'' jawab Nadhira dengan berkata formal kepada Eza.
''Jangan terlalu formal begitu kepadaku,'' kata Eza datar, Eza menyandarkan bahu nya ke sandaran kursi yang ia duduki sekarang. ''Apa kamu nggak kangen sama aku,'' tambah nya lagi.
Nadhira hanya bisa menghela nafas panjang nya saja, ketika mendengar ucapan dari Eza yang sudah lima tahun menjadi tunangan nya.
Tak lama kemudian seorang santri mengantarkan minuman ke ruang tamu yang di tempati Nadhira dan juga Eza di sana.
''Assalamu'alaikum,'' ucap sang santri ketika sudah berada di samping nya.
''Maaf kak,'' lanjutnya dan menaruh minuman tersebut di meja di depan Eza.
''Terima kasih dek?'' jawab Nadhira ketika sang santri bangun dari duduk nya, ''Oiya, di kelas ada siapa sekarang?'' tanya Nadhira lagi kepada Juhay si santri.
''Belum ada siapa siapa kak, kan sekarang kakak yang ngajar?'' jawab nya dengan lembut, ''Kalau gitu saya permisi dulu kak, assalamu'alaikum,'' ucapnya dan berlalu pergi dari hadapan Nadhira dan juga Eza.
Nadhira nampak menghela nafas dan menghembuskan secara perlahan, karena hati ini adalah giliran dia untuk mengajar di kelas awaliah.
''Kenapa?'' tanya Eza yang menyadari tunangan nya menghembuskan nafas tadi.
''Maaf sebelum nya, sebenarnya hari ini ini saya ada kelas di kelas adek tadi,'' jawab nya ragu ragu, karena nggak mungkin juga Nadhira meninggalkan Eza sendirian di sini, pikir nya.
''Terus kenapa?'' tanya Eza lagi yang sudah mulai mengerti kalau Nadhira sebenarnya ingin berpamitan kepada nya, namun dia masih pura pura tidak tau.
''Apa boleh aku pergi sebentar untuk mengajar adek adek di belakang,'' jawab nya dengan lembut.
Eza hanya mengangguk pelan serata menatap wajah cantik tunangan nya tersebut, ''Apa aku boleh ikut melihat ke belakang?'' Ucap Eza santai, ''Aku takut kamu hanya ingin menghindar dari saya saja,'' tambah nya yang membuat Nadhira melotot ke arah nya.
''Apa kamu sekarang sudah mulai tidak percaya kepadaku,'' sambung Nadhira yang tak terima dengan ucapan Eza barusan.
__ADS_1
''Bukan nya nggak percaya, tapi aku ingin lihat lebih jelas lagi seperti apa selama ini kamu mengajar di Pondok pesantren ini,'' jelas nya.
''Ajak saja Dhira, toh Eza juga hanya ingin tau waktu kamu sedang mengajar saja kan?'' sahut ustadz Dayat yang tiba-tiba menghampiri mereka di ruang tamu.
''Nah, yang di katakan ustadz itu benar. Aku hanya ingin melihat saja bukan mau masuk ke dalam Asrama adik adik di belakang,'' Eza menimpali ucapan ustadz Dayat.
''Tapi ustadz,'' Nadhira tak melanjutkan ucapan nya karena sudah di potong oleh ustadzah nya.
''Aku sudah bilang sama pengurus, kalau Eza mau ikut kamu ke belakang?'' sahut nya dengan sedikit senyuman di bibir manis nya.
''Ya sudah kalau gitu, apa boleh buat,'' gumam Nadhira yang sudah pasrah dengan sang tunangan yang sedari tadi sudah ngotot mau ikut ke belakang.
Nadhira melangkah pergi setelah mengajak Eza untuk ke belakang, sebelum nya Eza melepaskan jas nya yang memang di suruh di buka oleh Nadhira dan meletakkan di dalam kamarnya, karena Nadhira juga mengambil kitab yang akan ia ajarkan kepada adik adik yang sudah dari tadi menunggu kedatangan nya.
Eza yang baru sekali ini masuk ke Aula Pondok pesantren di buat takjub, karena semua santri sedang sibuk dengan pelajaran nya masing masing, ada sebagian santri yang sedang menghafal, ada juga yang sedang sibuk dengan makanan nya juga, hehehe.
''Ternyata di belakang lebih luas lagi, ketimbang di depan,'' gumam Eza yangasih di dengar oleh Nadhira.
''Ya begitulah Mas?'' jawab nya santai sambil terus melangkah menuju ke kelas nya.
''Waalaikum salam,'' jawab nya serentak, seraya bangun dari tempat duduk nya dan berdiri menyambut kedatangan Nadhira yang masih berdiri di ambang pintu kelas nya.
''Sudah lama nunggu nya,'' tanya Nadhira ketika melangkahkan kakinya masuk ke dalam kelas nya.
''Tidak lama kok kak?'' jawab nya, lagi lagi mereka menjawab secara berbarengan.
''Oiya kenalin ini kak Eza,'' tambah Nadhira mengenalkan tunangan nya kepada adik adik yang selama ini menemani nya di dalam pondok pesantren.
''Assalamu'alaikum kak Eza?'' sapa semua adik adik semua nya.
''Waalaikum salam,'' jawab Eza dengan mengulas senyum di bibir tipis nya.
''Lebih baik Mas duduk saja di sana,'' Nadhira menunjuk kursi yang ada di samping nya.
__ADS_1
''Kamu duduk di mana?'' tanya Eza balik, karena kursi yang di tunjuk cuma ada satu.
''Nadhira kan harus ngajar jadi mas Eza saja yang duduk di kursi itu,'' jawab Nadhira lagi yang tanpa di bantah Eza lagi, Eza memilih melangkahkan kakinya menuju kursi yang sudah di tunjuk oleh Nadhira, karena Nadhira sendiri akan memulai pelajaran nya bersama adik adik yang sudah cukup lama menunggu.
Eza menatap sang tunangan dengan tatapan penuh cinta, sesekali Eza mengagumi kecantikan Nadhira yang tak lain adalah tunangan nya sendiri.
''Apa kalian sudah hafal semua nya,'' tanya Nadhira kepada adik adik nya.
''Insya Allah hafal kak,'' jawab beberapa santri yang memang sudah menghafal.
''Alhamdulillah kalau sudah hafal semua nya,'' sahut Nadhira dan menyuruh salah satu santri yang sudah hafal untuk maju ke depan guna membacakan nadhoman yang memang di tugaskan oleh Nadhira beberapa hati kemarin.
''Coba Rina maju ke depan,'' suruh Nadhira. Santri tersebut maju ke depan dan membaca nadhoman yang sudah ia hafalkan beberapa hari ini.
Rina yang di suruh pun maju ke depan untuk membacakan hafalan nadhoman nya.
أَبْـدَأُ بِـاسْمِ اللهِ وَالرَّحْـمَنِ * وَبِالرَّحِـيْـمِ دَائـِمِ اْلإِحْـسَانِ.
Abda-u bismillahi warrohmani wa birrohimi da-imil ihsani
فَالْحَـمْـدُ ِللهِ الْـقَدِيْمِ اْلأَوَّلِ * اَلآخِـرِ الْبَـاقـِيْ بِلاَ تَحَـوُّلِ.
Falhamdulillahil qodimil awali al-akhiril baqi bila tahawwuli.
ثُمَّ الـصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ سَـرْمَدَا * عَلَى الـنَّـبِيِّ خَيْرِ مَنْ قَدْ وَحَّدَا
Tsummash-sholatu wassalamu sarmada 'alan-nabiyyi khoiri man qod wahhada.
وَآلِهِ وَصَـحْبِهِ وَمَـنْ تَـبِـعْ * سَـبِيْلَ دِيْنِ الْحَقِّ غَيْرَ مُـبْـتَدِعْ.
Wa alihi wa shohbihi wa man tabi' sabila dinil haqqi ghoiro mubtadi'.
وَبَعْدُ فَاعْلَمْ بِوُجُوْبِ الْمَعْرِفَـهْ * مِنْ وَاجِـبٍ ِللهِ عِشْـرِيْنَ صِفَهْ.
__ADS_1
Wa ba'du fa'lam biwujubil ma'rifah min wajibin lillahi 'isyrina shifah.