Cinta Nadhira

Cinta Nadhira
Bab 40 Kerja keras semua Tim


__ADS_3

Kemenangan yang kemarin Eza raih bersama tim-nya, mendapatkan apresiasi yang bagus dari kepala sekolah nya.


Eza tersenyum dan bangga juga, sudah membawa nama sekolah nya ke sekolah lainnya, walaupun itu semua hanya pertandingan persahabatan, namun Eza sangat berterima kasih pada semua teman yang ikut andil dalam pertandingan kemarin.


''Gimana bro? kalian senang nggak.'' Tanya Marvel pada semua teman di tim basket nya.


''Alhamdulillah senang banget bro? baru kali ini bisa menang melawan tim yang lebih kuat menurutku.'' Ujar Nathan yang di angguki oleh semua temannya.


''Ini semua hasil kerja keras kita sob, kita patut berbangga hati dengan pencapaian yang sekarang, mungkin besok kita menang lagi kalau ada pertandingan basket di sekolah lain.'' Ucap Teddy panjang lebar.


''Tumben banget, perkataan lho sebijak ini, belajar di mana gue mau belajar juga buat ngerayu si Anin anak kelas 2C itu.'' Seru Marvel yang langsung mendapatkan jitakan dari Nathan.


''Auw....!!! sakit Tan.'' Ucap Marvel mengaduh kesakitan dan memegangi dahinya yang di jitak.


''Lagian lho kalau ngomong nggak di sensor dulu, Anin Anak kelas 2C sudah punya cowok, cowoknya senior kita lagi, jadi jangan macem-macem lho sama Anin, bisa habis lho sama senior.'' tutur Teddy pada sahabatnya Marvel.


''Kan cuma pacar bro bukan suami, jadi bebas Anin sama siapa saja dong, lagian sebelum janur kuning melengkung bolehlah memiliki nya.'' Seru Marvel yang emang susah di bilangin oleh sahabat sahabatnya.


''Biarin sajalah Marvel, mau berduek juga bukan urusan kita kita kan.'' celetuk Eza yang baru menyelesaikan catatannya yang sempat tertinggal, karena kemarin harus bertanding Basket.


''Benar tu yang dikatakan Eza.'' sahut Nathan membenarkan perkataan Eza.


''Ggithu banget sich kalian sama gue sob?'' Rengek Marvel pada sahabat sahabatnya.


''Kamu kan bisa di bilangin, ya gue tinggal lah, ngapain juga masih mau membela orang yang suka ngebantah githu.'' Ucap Teddy kesal karena Marvel susah di atur oleh semua sahabatnya.


Menurut Sahabat nya, tidak baik jadi perebut cewek orang, toh masih banyak cewek di kita ini yang seakan akan tidak akan pernah kehabisan.


''Ya sudah gue nggak mau ngejar-ngejar Anin lagi, tapi kalian juga harus janji nggak bakalan tinggalin gue?'' Ucap Marvel sedih karena perkataan dari sahabatnya barusan.


''Kita kita nggak bakalan ninggalin lho kok, asal lho nggak boleh menyinggung perasaan senior kita, kita bukannya takut cuy, tapi kita nggak mau punya musuh hanya karena masalah cewek.'' ucap Nathan menepuk bahu Marvel.


''Sudahlah nggak usah di fikirin lagi, sekarang kita pulang sudah sore juga ini.'' Ajak Nathan pada semua teman dan juga sahabatnya.


Semuanya beranjak dari duduknya berjalan menuju parkiran sekolahnya, di mana motor motor mereka berada.


Kini langit biru sudah berubah menjadi hitam, yang artinya hujan akan mengguyur kota di mana Eza dan yang lainnya tinggal.

__ADS_1


Dan belum sempat mereka mengeluarkan motor motornya, rintikan hujan sudah mulai meneteskan air nya.


''Yah hujan lagi, mana nggak bawa mantel?'' gerutu Teddy yang sudah ada di atas motor sport nya.


''Sabar saja Ted, siapa tau hujannya akan reda sebentar lagi.'' Sahut Nathan dan juga Marvel.


Sedangkan Eza hanya diam termenung memandangi rintikan air hujan.


''Ech, gue duluan ya sob, lagian cuma begini saja hujannya, kalau di tunggu bakalan lama redanya.'' ucap Eza tancap Gas.


''Sial tuh anak, pakek nerobos hujan segala, entar kalau sakit baru tau rasa thu bocah.'' protes Marvel yang hanya di tertawakan oleh Teddy, Nathan dan juga beberapa temannya yang masih ada di sana.


Tak butuh waktu lama untuk sampai di rumah nya.


Ibu Eza menghampiri anaknya yang basah kuyup, dan memberikan handuk kering untuk putranya.


''Hujan hujanan sich Lhe?'' tanya ibu Eza.


''Iya Bu? Eza lupa nggak bawa mantel.'' jawab Eza melepas sepatunya yang basah.


''Ibu masuk dulu ya, mau masak air buat kamu mandi biar nggak demam.'' tutur ibunya Eza melangkah pergi ke dapur.


Satu persatu Eza mengeluarkan bukunya yang basah, Hera yang melihat buku kakaknya basah kuyup akhirnya menghampiri sang kakak yang duduk diruang tengah.


''Mas Eza, bukunya kenapa basah kayak githu.'' tanya Hera pada Eza.


''Nggak apa apa kok Dek? cuma kena hujan saja barusan.'' jawab Eza mengelus puncak kepala Adiknya.


''Sekolah Adek gimana?'' tanya Eza pada Hera sang Adik.


''Adek dapat nilai 100 lho Mas, pintar kan Hera?'' Ucap Hera semangat.


Eza tersenyum pada sang Adik.


''Adek Mas memang hebat ya, pinter juga.'' Ujar Eza mengacak-acak rambut sang Adek.


Jarak lahir Hera dan Eza emang terbilang cukup jauh, tapi Eza begitu sayang pada Adek nya yang bawel ini.

__ADS_1


Hera beranjak dari duduknya dan pergi kedalam rumah nya, tak lama kemudian Hera menghampiri Eza dengan membawa kipas angin di tangannya.


Eza mengerutkan keningnya melihat sang Adik membawa kipas angin keluar.


''Buat apa itu Dek?'' Tanya Eza penasaran.


''Buat ngapain buku buku Mas Eza lah, kata Bu Guru pakek kipas angin buku yang basah akan cepat kering.'' tutur Hera pada Eza sang kakak.


''Eza!!'' panggil Ibunya.


''Iya Bu?'' jawab Eza dan menghampiri sang Ibu di dapur.


''Airnya sudah panas, cepat mandi.'' suruh sang Ibu.


Eza mengangguk dan membawa ember yang sudah berisi air panas ke kamar mandi.


Eza langsung mengguyur tubuhnya, setelah air panasnya di tambah dengan air dingin agar tidak terlalu panas saat di siramkan ke tumbuhnya.


Eza keluar dari kamar mandi sambil menggosok rambut basah nya.


Hera memperhatikan sang kakak dan bertanya.


''Mas Eza sudah punya pacar belum?'' tanyanya pada sang kakak.


''Emangnya kalau Mas sudah punya pacar kenapa Dek?'' tanya eA balik pada sang Adek.


''Ya nggak apa apa sich Mas, cuma Adek nanya doang sama Mas, kalau sudah punya, berarti sebentar lagi Adek bakalan punya kakak cewek dong.'' cerocos Hera pada sang kakak.


''Mas nggak sempat nyari cewek Dek, kalau Mas punya cewek sekolah Mas bisa keteteran, iya kan Dek?'' tanya Eza.


Hera memegang dagunya dan berfikir keras yang di ucapkan oleh sang kakak.


kemudian Hera mengangguk pelan.


''Iya juga ya Mas, kok Hera nggak berfikir kesana ya?!'' mengangguk angguk.


''Ya sudah lah Hera juga nggak mau pacaran kalau kayak gitu, cita cita Hera kan tinggi, setinggi langit.'' celoteh Hera menunjuk langit biru di atas sana.

__ADS_1


👉👉👉


jangan bosan bacanya ya kak, Makasih 🙏🙏


__ADS_2