
Shollallahu Ala Muhammad.
Shollallahu Allaihi Wasallam.
Shollallahu Ala Muhammad.
Shollallahu Allaihi Wasallam.
Shollallahu Ala Muhammad.
Shollallahu Allaihi Wasallam.
Shollallahu Ala Muhammad.
Shollallahu Allaihi Wasallam.
Nadhira mendengarkan sholawat Jibril yang di putar di rumah nya.
Nadhira begitu menghayati setiap ayat-ayat yang di dengar nya, sembari memejamkan mata-nya. sampai-sampai kedatangan sang ibu tidak ia hiraukan sama sekali.
sang ibu mengguncang tubuh Nadhira perlahan.
Nadhira mengerjapkan mata-nya melihat sang ibu yang sudah berada di Samping-nya.
"Ada apa Bu?'' Tanya Nadhira mengucek matanya.
"Kalau mau tidur jangan di sini nanti jatuh, lagian masih pagi sudah mau tidur lagi.'' jawab Bu Susi.
Nadhira tersenyum menyikapi perkataan sang ibu.
sang ibu langsung duduk di samping Nadhira, setelah dia bangun dari tidurnya lalu duduk di samping ibunya.
"Mumpung masih ada di rumah Bu? Nadhira mau tidur jam segini, kalau sudah balik ke Pondok Pesantren Nadhira nggak bakalan bisa tiduran jam segini bu? jadwal padat banget?!'' ucap Nadhira bercanda.
" Ibu kan cuma nyuruh pindah ke kamar saja, dari pada di sini entar jatuh.'' Ujar Bu Susi pada Nadhira.
"Ibu baik dech, perhatian banget sama Dhira?'' memeluk sang ibu dan menciumi pipi ibunya.
"Sudah pindah ke kamar.'' suruh Bu Susi pada anaknya.
Nadhira mengangguk dan mulai beranjak ke kamarnya, tapi tiba-tiba Nadhira membalikkan badannya menghadap sang ibu dan berkata.
"Oia Bu? Mas Herman kemana, kok Dhira nggak liat.'' tanya Nadhira.
"Masnya ikut Ayah ke sawah, tadi ibu yang mau ikut, tapi nggak di bolehin sama Masnya, katanya suruh nemenin kamu di rumah.'' jawab Bu Susi yang di angguki Nadhira.
Nadhira langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur yang nggak terlalu besar. karna Nadhira hanya tidur sendirian.
(iyalah kan sudah besar)π€¦ββοΈ
Nadhira memejamkan matanya setelah mematikan Ponselnya, sampai tiba Waktunya adzan dzuhur, Nadhira baru bangun dari tidurnya, itupun karena Herman sang kakak yang ngebangunin Nadhira.
"Adek bangun, sudah adzan sholat dulu, habis sholat baru lanjutin lagi tidurnya.'' ucap Herman pelan.
Nadhira membuka matanya dan tersenyum pada Herman, Nadhira meregangkan tubuhnya biar nggak kaku.
__ADS_1
" Mas Herman sudah pulang?'' tanya Nadhira.
"Sudah dari tadi Dek, enak tidurnya Mas pulang sampai nggak tau githu.'' jawab sang Abang, sedangkan Nadhira hanya cengengesan.
"Ya mumpung masih di rumah Mas? Dhira banyakin tidur, kalau sudah balik ya kurang tidur lagi dech.'' tukas Nadhira.
"Ya sudah cepat bangun, mandi dan sholat, habis itu baru tidur lagi, kalau masih mau tidur.'' ucap Herman mengelus kepala adiknya.
Nadhira mengangguk.
" Mas keluar dulu sebentar, nanti ngobrol lagi Oke.'' ucap Herman sebelum keluar dari kamar Nadhira.
"Oke.'' jawab Nadhira semangat, sambil membulat kan jarinyaπ
Nadhira menunaikan ibadah Sholat dzuhurnya.
sedangkan Herman sang kakak kembali lagi ke sawah bersama sang ibu.
di sepanjang jalan menuju ke sawah Herman gomel-ngomel sama sang Ibu karena ikut ke sawah.
"Kenapa Ibu harus ikut ke sawah sich! kan kasian Adik di rumah sendirian.'' omel Herman pada Ibunya.
"Adekmu kan lagi tidur Her, terus Ibu ngapain jagain Adikmu yang lagi tidur, biarin lah adikmu puas-puasin tidurnya, besok kan dia sudah balik ke Pondok Pesantren.'' Ucap Ibu Nadhira.
"Tapi ya kasian lah Bu? sendirian di rumah.'' ucap Herman cemberut.
"Ayo cepetan jalannya biar cepat nyampek di sawah, kasian ayah kamu sudah lapar juga.'' kata sang Ibu.
Herman hanya bisa pasrah pada sang Ibu, karena yang di bilang sang Ibu ada benarnya juga.
Herman sempat berlari mengejar sang Ibu yang sudah jauh berada di depannya.
"Cepat banget sich jalannya Bu, Herman di tinggalin di belakang.'' ucap Herman.
Sang Ibu hanya menoleh tanpa berkata sepatah katapun pada Herman.
" Kebiasaan ezt kalau di tanya nggak pernah jawab kalau lagi buru-buru kayak gitu.'' gerutu Herman.
Sesampainya di sawah, sang ayah sedang beristirahat di gubuk yang ada di tengah sawah. sambil menunggu nasi yang di bawa oleh sang istri tercinta.
"Ayah? ini nasinya di makan dulu, takutnya maag Ayah kambuh lagi.'' Ucap Bu Susi sang istri.
" Iya Bu?'' ucap Pak Arif, mengambil bekal yang di bawa istrinya, di bukanya dan langsung di makan.
"Herman sudah makan.'' tanya sang Ayah.
"Sudah Yah di rumah, Ayah makan saja Herman mau nyelesain yang di sana dulu.'' Ujar Herman berjalan ke tengah sawahnya.
"Iya, ati-hati pegang clurit Ayah, itu tajem banget.'' teriak sang Ayah karena Herman sudah mulai jauh dari gubuk yang di tempati Pak Arif.
"Sudah makan dulu lah Yah, biar Ibu nyamperin Herman di sana.'' Ucap Bu Susi ibunya Herman dan juga Nadhira.
Pak Arif hanya menganggukkan kepalanya.
karena mulut Pak Arif penuh dengan Makanannya.
__ADS_1
Pak Arif meneruskan makan siangnya walaupun sudah terlambat.
Bu Susi membantu Herman membersihkan rumput-rumput yang ada di sela-sela tanaman jagungnya.
Herman terus membabat rumput-rumput hingga bersih. lalu sang ibu berkata.
"Rumputnya di kumpulin di sini saja Le?'' ucap sang Ibu menunjuk pada rumput yang sudah di kumpulkan oleh Bu Susi, Herman Melihat sekilas lalu mengangguk.
Kini Herman sudah mulai mengumpulkan Rumput-rumput yang di babat tadi.
"Masih kurang nggak Bu rumput nya.'' Tanya Herman.
"Masih kurang lhe, besok kan kita mau nganter adek kamu ke Pondok Pesantren, pasti Ayahmu nggak bakalan ke sawah lagi besok.'' jawab sang Ibu.
Herman mulai membabat Rumput-rumput nya lagi sampai banyak.
sedangkan sang Ayah membersihkan di sebelah kanan dekat dengan gubuknya, tak berapa lama Pak Arif menghampiri anak dan istrinya dan berkata.
"Sudah mau sore, kita pulang yuck.'' ajak Pak Arif.
" Iya Pak, rumput nya di ikat dulu biar di bawa pulang sama Herman.'' ucap Bu Susi sang istri.
Pak Arif membelalakkan matanya melihat tumpukan rumput yang sudah menggunung.
tapi Herman masih tetap memunguti Rumput-rumput lainnya.
" Herman rumput sebanyak ini buat apa?'' tanya sang Ayah.
"Ya di kasihkan ke sapi la Yah, masak di kasih ke Adek.'' Ucap Herman bercanda.
" Ayah nanyanya serius lho Herman!'' Ucap sang Ayah.
" Herman juga serius Yah.'' jawab Herman lagi.
"Banyak banget, tadi kan kamu sudah bawa pulang juga 1ikat.'' seru sang Ayah.
" Ibu yang nyuruh Yah, suruh banyakin ngumpulin rumputnya, biar besok Ayah nggak usah ke sawah lagi.'' ucap Herman sambil mengikat rumput-rumput yang sudah di kumpulkan.
Pak Arif hanya geleng-geleng nggak karuan melihat tumpukan rumput yang menggunung.
"Ini kalau di ikat bisa jadi 3 ikat gede nich, lawong sapinya cuma dua ekor mau bawa pulang rumput seabreg kayak gini.'' Ucap sang Ayah sambil bantuin Herman mengikat rumput-rumput tersebut.
"Ya sudah Ibu pulang duluan ya, Assalamu'alaikum.'' pamit Bu Susi.
" Waalaikum salam.'' jawab Herman dan Pak Arif.
Bu Susi menyusuri jalanan sempit yang berada di tengah-tengah sawah.
Bu susi mempercepat langkah kakinya setelah sampai di jalan ber aspal, tak lupa Bu Susi selalu tersenyum ketika bertemu dengan orang-orang yang ia rasa di kenalnya.
ππππ
mohon dukungannya kk.
jangan lupa like, komen dan votenya.
__ADS_1
makasihππ