
Eza tidak mengalihkan perhatian nya pada wajah Nadhira yang begitu cantik dan juga menawan, sesekali Eza melirik temannya yang mulai berbisik tentang keanggunan Nadhira.
Eza mendesah frustasi seakan akan Eza sudah tidak akan punya kesempatan lagi untuk mendekati Nadhira,karena yang Eza lihat hari ini begitu banyak cowok yang mengagumi kecantikannya, walaupun dia sendiri hanya memoles tipis make up dan lipglos warna nude yang nampak begitu cantik di wajahnya. Di padu padankan dengan baju syar'i berwarna Army dengan hijab warna senada.
Nadhira menghampiri sanak saudara nya yang mulai melangkah ke depan menuju kakaknya yang sedang duduk santai bersama kekasih hatinya,yang nggak akan lama menjadi suami istri. Alvaro beserta saudara dari Herman yang lainnya mulai menyawer tunangan Herman, Rara menyalami satu persatu yang memberinya uang,sedangkan orang orang yang lebih tua Rara mencium tangannya,dan sesekali dia tersenyum ketika ada seseorang yang berkata. "Nggak bakal lama lagi Herman bakalan hu'a hu'e," ledeknya.
Herman mengangkat satu alisnya lalu menatap Rara yang ada di sampingnya dengan tatapan penuh tanda tanya, "kenapa dia tersenyum, hanya gara gara temannya berujar hu'a hu'e," Batinnya.
Nadhira menaruh uang saweran terakhir,setelah semua saudaranya dan semua teman teman kakaknya sudah selesai menyawer.
"Nadhira tambahin sawerannya kak Rara," tukas Nadhira menaruh uang kertas 100 ribuan sebanyak dua lembar.
__ADS_1
"Adik nggak usah ngasih kakak," tolak Rara mengembalikan uang pada Adik iparnya.
"Ya nggak apa apalah kak, ini bukan uang dari Mas Herman kok, ini uang Nadhira hasil mengajar Anak anak kecil di sana, jadi tolong di terima ya, please??" Mohon Nadhira pada sang kakak ipar.
Rara melirik ke arah Herman, Herman yang di lirik mengerti dan diapun menganggukkan kepala nya.
"Ya sudah aku terima kalau githu, makasih ya sayang?" Ujar Rara tersenyum memperlihatkan deretan giginya.
Herman mengangkat Nadhira, dan di taruhnya di tengah tengah antara dirinya dan Rara.
Herman merangkul sang Adik sambil mencium puncak kepala Nadhira yang sangat ia sayangi setelah BunSusi Ibunya.
__ADS_1
"Adik..."
Gumam Herman tidak meneruskan ucapannya, rasanya susah sekali mengeluarkan ucapa demi ucapan buat sang Adik yang sudah menengadah menatap Abangnya.
"Kenapa jadi sedih gini sich?" Celetuk Nadhira beranjak dari duduknya dan memegang pipi Kakak iparnya yang sangat cantik di hari peetunangannya.
"Aku serahkan Mas Herman pada kak Rara mulai sekarang, tolong jagain dia buat Nadhira, oke?!"
"Pasti, Adik nggak usah khawatir," balas Rara tersenyum.
Para tamu pada memandangi keakraban Nadhira dan Herman, 2 sejoli yang tak mungkin di pisahkan, menurut orang orang yang tidak mengetahui Nadhira adalah Adik dari Herman, kemarin ada orang yang mengira Nadhira adalah sepasang kekasih yang begitu serasi. Namun hari ini dan detik ini juga semuanya terungkap kalau Nadhira adalah Adik dari laki laki angkuh yang bisa tertawa di samping sang Adik.
__ADS_1