Cinta Nadhira

Cinta Nadhira
Bab 48


__ADS_3

Nadhira langsung memeluk sang Ibunda waktu sudah sampai di rumahnya.


Herman mencium tangan Abah Rahman dan Umi Upik, lalu menjabat tangan Hendri dan sama-sama membenturkan bahunya, mereka pun terkekeh karena ulah mereka sendiri.


Nadhira memeluk erat sang kakak dan berkata, ''Mas, Nadhira titip Ibu sama Ayah ya, jagain dia untuk Nadhira.'' pintar Nadhira pada Herman.


''Pasti Dek, kamu jangan khawatir masalah Ibu dan juga Ayah, itu sudah menjadi tanggung jawab Mas, kamu belajar yang benar di kota orang ya sayang?'' Ujar Herman mengelus bahu dan mengecup puncak kepala sang Adek.


Hendri merasakan kesedihan melihat Nadhira berpelukan dengan Herman. Namun Herman masih bisa melihat sang Adik walau sudah jauh dari sisinya, sedangkan Hendri tidak bisa lagi menggenggam tangan Nada sang Adik yang sudah lama meninggal dunia, apalagi memeluk nya, Hendri mengusap air matanya yang tiba-tiba jatuh begitu saja.


''Sudah ach sedih sedihnya, Mas juga ikutan sedih tau Dek?'' rengek Hendri dan juga ingin memeluk Nadhira.


''Jangan macam macam ya.'' Tukas Herman tersenyum, karena Herman hanya ingin menggoda Hendri yang nampak begitu sedih.

__ADS_1


''Ini juga Adikku kali Mas Herman?'' Ujar Hendri masih merengek seperti anak kecil yang kehilangan permen nya.


Nadhira yang mengerti langsung menghambur pada Hendri yang juga ada di sebelah nya. Nadhira sekarang sedang di apit oleh kedua laki-laki tampan dan juga gagah.


Sedangkan Abah Rahman beserta istri nya hanya menyimak kelakuan putranya yang begitu manja pada adik angkatnya.


''Alhamdulillah ya Abah putra kita sudah bisa tertawa lagi, dengan kehadiran Nadhira Putri kita juga, semoga keluarga kita semua selalu kayak gini ya Bah?'' Ucap Umi Upik pada suami nya.


''Iya Umi, kita sangat bersyukur dan berterima kasih pada Bu Susi dan juga Pak Arifin, karena sudah mengijinkan kami merawat Putri kecil kami.'' tukas Abah Rahman menatap sang istri dan menatap Pak Arifin dan juga Bu Susi.


''Sudahlah Bu Susi, jangan berterima kasih kita kan keluarga, sebagai keluarga sudah sepatutnya kami merawat Nadhira juga.'' Sahut Umi Upik tersenyum.


Nadhira, Hendri dan juga Herman malah sibuk sendiri, mereka bertiga terus saja melemparkan ledekan ledekan kecil, bukan nya sedih malah mereka semua pada tertawa dengan ledekan satu sama lainnya.

__ADS_1


Hari ini Nadhira begitu bahagia, bisa berkumpul seperti ini sangatlah susah, rumah Nadhira di penuhi dengan canda tawa yang di buat oleh Herman dan Hendri, keduanya kocak dalam menghibur Nadhira.


''Kami akan bawa Nadhira ke Surabaya sekarang Pak, kalau Bapak sama Ibu kangen dan ada waktu mainlah ke rumah.'' Ujar Abah Rahman, Pak Arifin dan Bu Susi mengangguk.


''kalau githu kita pamit sekarang ya Pak, Bu?'' tuka Umi Upik beranjak dari duduk nya.


''Nadhira pamit ya Bu? Pak?.'' Ujar Nadhira tersenyum, mencoba menghilangkan kesedihan yang menyelimuti dalam dirinya.


Nadhira memeluk Ibu dan juga Ayah nya, dan yang terakhir Nadhira memeluk sang Abang, yang ada di samping nya, Herman membalas pelukan sang Adik.


''Sudah jangan nangis, jelek kalau nangis kayak gitu. ledek Herman mengusap air mata sang Adik.


''Ingat sekolah yang bener, agar cita cita mu kelak tetcapai.'' Pesan Herman pada Adiknya.

__ADS_1


Nadhira tersenyum dan mengikuti langkah Hendri beserta keluarga barunya. Herman mengikuti mereka berempat sampai masuk kedalam mobilnya.


Nadhira melambaikan tangannya saat mobil sudah beranjak pergi meninggalkan halaman rumah Nadhira.


__ADS_2