Cinta Pertama Ustadz

Cinta Pertama Ustadz
1.


__ADS_3

Sudah lewat 1 bulan setelah kepergian suaminya, Meilinda masih menitikkan air mata disetiap sujudnya. Setiap kenangan bersama mendiang selalu mengiringi hari-harinya, setiap sudut rumah menghadirkan bayang-bayang sang suami...


Meilinda, seorang wanita sederhana dengan hijab yang menutupi auratnya tampak bersahaja. Pembawaannya yang tenang membuat orang disekitar menganggap dia seorang wanita yang tegar setelah kematian suaminya. Hanya dengan melihat matanya yang sembab karena seringnya menangis, orang terdekat bisa melihat kesedihannya... Ya, dia selalu menangis dalam diam. Dia tak ingin anak semata wayang nya melihat dia bersedih, dia harus tegar demi putranya yang masih kecil dan membutuhkan perhatian darinya.


Haikal, baru saja kelas 5 Sekolah Dasar. Anak laki-laki dengan kulit putih dan mata sipit yang terlihat seperti tertutup saat dia tertawa karna pipi nya yang tembem. Dia anak yang cerdas dan aktif. Haikal sangat dekat dengan bundanya, selain ke sekolah dia selalu bersama bunda nya. Di lingkungan rumah memang Haikal tidak banyak memiliki teman, dia jarang keluar rumah dan lebih memilih untuk bermain dirumah ditemani bunda.


Haikal lah penyemangat Meilinda. Senyum Haikal adalah kebahagiaan Meilinda, dan senyum Meilinda adalah kehidupan Haikal. Hamdan, mendiang suami dan ayah dari Haikal adalah seorang lelaki yang sangat bertanggung jawab terhadap keluarga. Selain menafkahi keluarga kecilnya, dia juga membantu ibu dan adik perempuannya. Wajarlah jika dia selalu bekerja keras dan jarang berada dirumah, dia menyerahkan urusan rumah pada istrinya. Meilika bukan tidak boleh bekerja, hanya saja tanggung jawab utama nya adalah Haikal dan untuk menyewa seorang ART itu akan memberatkan suaminya. Sebelum menikah, Meilika bekerja sebagai karyawan di sebuah Bank yang lumayan besar. Namun dia kemudian mengundurkan diri setelah menikah untuk fokus mengurus keluarganya.


"Linda, jadi bagaimana rencana mu kedepan?" Pertanyaan ibu mertua nya kembali terngiang di telinganya. Ya, Linda harus segera memikirkan kelangsungan hidupnya... Maka dipenghujung malam ini, dia tengadahkah kedua tangannya. Masih dengan berurai air mata, dia curahkan segala kegundahan dalam hatinya.


"Ya Allah, Engkau Maha Mengetahui yang terbaik untuk hambaMu. Berilah petunjuk agar hamba tidak salah dalam melangkah, hanya kepadaMu lah hamba memohon pertolongan. Aamiin Allahuma Aamiin "


Setelah selesai menunaikan kewajibannya diawal hari, Linda melipat mukenanya dan beranjak menuju belakang. Memulai hari seperti biasa di dapur, mempersiapkan sarapan untuk keluarganya. Tak ada lagi senandung dalam kegiatannya seperti dulu, pikirannya sibuk menyusun serangkaian rencana-rencana sampai dia tidak mendengar salam yang diucapkan Haikal sepulang nya dari Masjid komplek rumah.

__ADS_1


"Bunda...bund..."


"Ah, iya nak...sudah pulang?"


"Bunda kok ga jawab salam Ical? Bunda ngelamun ya, kangen ayah ya?"


"Aduuhhh maaf, nak. Iya tadi bunda ga denger kamu masuk, Waalaikumsalam. Sudah, sekarang Ical siapin dulu bukunya terus mandi ya. Sebentar lagi makanan nya mateng terus kita sarapan ya."


Setelah mengantar Haikal sekolah, Linda sering mampir kerumah ibu mertua nya sekedar membantu ibu di toko. Ibu berjualan kebutuhan pokok dirumah, Hamdan yang memberi modal setelah bapak meninggal 5 tahun yang lalu. Selain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari Ibu, juga untuk mengisi waktu luang Ibu dimasa tuanya. Adik Haikal, Gendis, kuliah semester akhir. Tinggal menunggu jadwal sidang, dia juga selalu membantu di toko karna waktunya senggang.


"Gimana kabarnya, Lin? Sehat, toh?" Ibu menyapa Linda yang baru saja memarkirkan sepeda motornya di halaman rumah ibu.


"Alhamdulillah bu." Mereka pun berjalan beriringan masuk kedalam rumah, Gendis yang mengerti kemudian mengambil alih untuk menjaga toko.

__ADS_1


"Sudah kamu pikirkan rencanamu kedepan, Lin?" Ibu kembali bertanya.


"Linda hanya bisa pasrah sama Allah, bu. Ical sebentar lagi naik kelas 6, mau pindah pun tanggung, bu. Kasihan dia. Untuk sementara Linda pakai uang simpanan dulu, bu. InsyaaAllah pasti ada jalan." Jawab Linda lebih mantap dan yakin.


"Ibu belum bisa bantu banyak, nak. Hasil dari warung paling hanya cukup untuk makan dan kebutuhan sehari-hari, ibu juga mulai menabung untuk keperluan adikmu lulus. Kalau saja Hamdan masih ada, dia pasti punya jalan." Ibu sangat menyayangi putra satu-satu nya itu. Hamdan yang penyayang, menjadi tulang punggung keluarga sejak memiliki penghasilan sendiri. Sedikit demi sedikit selalu dia sisihkan gajinya untuk orangtua dan adiknya semata wayang.


Mungkin ini yang membuat Meilinda akhirnya menerima lamaran Hamdan, karena perhatiannya pada keluarga. Hamdan lelaki yang tidak terlalu banyak bicara, dibilang pendiam juga tidak karna dia tergolong dikenal dalam lingkungan pekerjaannya.


"Sudah lah, bu. Gak usah terus dipikirkan, biar mas Hamdan tenang. Ibu juga harus jaga kesehatan, InsyaaAllah Linda akan coba cari pekerjaan." Jawabnya.


"Cari kerja apa, Lin. Kamu kan belum pernah bekerja lagi setelah menikah, umurmu sudah kepala 3. Apa ada perusahaan yang mau mempekerjakanmu? Belum lagi Ical, siapa nanti yang akan mengurus Ical kalau kamu bekerja? Itu lah salahnya Hamdan, semua kebutuhan dia yang memikirkan. Kamu tinggal terima dirumah, coba kalau dari dulu kamu bekerja, bisa bantu suamimu dan sekarang ga pusing mikirnya. Tabungan peninggalan Hamdan lama-lama kan habis juga, Lin. Mana bayar sekolah anakmu mahal kalau sekolah di swasta." Meilinda hanya bisa terdiam mendengar omongan ibu mertuanya. Selain menghormati sang ibu, apa yang diucapkan ibu memang ada benarnya.


Selama 11 tahun pernikahannya dengan Hamdan, semua keperluan selalu terpenuhi. Mereka memang tidak hidup dalam bergelimang harta, dia sangat bahagia dengan keluarga kecilnya dalam kesederhanaan. Hamdan secara tidak langsung telah mendidik dan membimbingnya menjadi pribadi yang berbeda setelah menikah. Menjalani hidup sederhana, menunaikan tugas sebagai istri dan ibu untuk Haikal. Hamdan pernah berkata bahwa sebaik-baik tempat untuk seorang istri adalah dirumahnya, karna madrasah pertama seorang anak adalah dirumah dan guru pertama anak adalah ibunya. Maka dengan sukarela dia meninggalkan pekerjaannya dan menikmati perannya sebagai istri dan ibu dirumah. Pada awalnya beberapa teman masih sesekali mengajaknya untuk sekedar nongkrong seperti kebiasaan mereka selepas bekerja, sekali dua kali dia bergabung dengan mereka atas ijin suaminya. Tapi lama kelamaan, dia mulai sering menolak. Entah lah mengapa, dia mulai tidak nyaman. Dia merasa dunia mereka sudah berbeda, setiap kali dia nongkrong dengan teman-temannya selalu kepikiran Hamdan.

__ADS_1


__ADS_2