
"Tentu saja Mei harus bantu, karena misi Ummi sekarang adalah membuat Mei kerasaan tinggal disini." Jawab Ummi sambil mempererat genggamannya dan tersenyum kearah Meilinda.
"Aamiin Allahuma Aamiin, InsyaaAllah kami bisa kerasan Ummi."
"InsyaaAllah, ayok kita siapkan makan siang, sebentar lagi Abah sama Haikal pasti sampai dirumah." Ajak Ummi semangat. Meilinda menganggukkan kepalanya, setelah melipat dan menyimpan mukena dalam kamar, mereka menata makanan diatas meja makan.
"Sebenarnya Abah lebih suka makan dibawah, lesehan gitu, Mei, tapi seringkali Ummi kesulitan jika terlalu lama duduk dibawah. Perut bagian bawah ini suka kram dan perih. Ini sudah mendingan sih, sudah bisa berjalan sampai masjid bahkan ikut shalat dimasjid dengan gerakan yang benar, Alhamdulillah senang rasanya. Tapi kita makan di meja makan saja ya, cuma mau menjaga saja tidak mau memaksakan." Papar Ummi.
"Assalamualaikum..." Ucap Abdul dan Haikal berbarengan.
"Waalaikumsalam..." Jawab Ummi dan Mei juga kompak.
"Ayo mari kita makan, Haikal pasti sudah lapar itu." Ajak Ummi.
"Ganti bajunya dulu, nak." Titah Mei, Haikal pun mengangguk dan berjalan menuju kamar tamu. Setelah mencuci tangan, dia duduk disamping bundanya.
Mereka makan dengan tenang, sesekali diselingi dengan pembicaraan ringan. Meilinda lebih memilih untuk menjadi pendengar saja, atau menjawab dengan anggukkan kepala dan senyum. Canggung dia rasakan, duduk satu meja dengan ustadz Abdul. Entah lah mengapa, tapi dia juga senang melihat Haikal terlihat bersemangat dan senang berinteraksi dengannya. Dia menjawab pertanyaan lelaki itu dan istrinya dengan gembira.
"Abah suka makanannya?" Tanya Ummi.
"Alhamdulillah, apa karena ada tamu ini ya masakannya sedikit beda, enak sekali." Jawab Abdul tulus.
"Ini masakan bunda, tadz." Jawab Haikal.
"Kok Haikal tahu kalau bunda yang masak?" Tanya Ummi.
"Iya dong, Haikal tahu lah kalau bunda masak itu pakai bumbu cinta jadi Haikal langsung bisa menebaknya." Abdul sedikit terkejut dengan jawaban Haikal.
__ADS_1
"Kamu tuh bisa aja yah muji bunda mu, terus nanti gak mau dunk makan masakan pondok. Kan gak mungkin bunda yang masak."
"Tenang Ummi, Haikal itu pemakan segala, tidak pilih-pilih."
"MasyaaAllah... Alhamdulillah, senangnya Ummi."
Setelah makan siang, Abdul mengajak Haikal ke pondok putra. Disana sedang ada persiapan penyambutan santri baru, mereka membantu menyiapkan fasilitas kamar dan yang lainnya. Abdul hanya memberi beberapa arahan karena tidak lama setelah itu dia harus pergi mengurus beberapa hal diluar dan juga ada agenda mengisi tausiah sore di kota. Setelah menitipkan Haikal pada ustadz dan santri disana, dia pun pergi diikuti ustadz Saiful yang selalu setia mendampinginya.
Karena kondisi fisik yang masih lemah, Ummi mohon diri pamit untuk beristirahat. Meilinda memilih untuk berjalan-jalan berkeliling pondok putri, siapa tahu ada yang bisa di lakukan. Beberapa ustadzah dan santriwati yang menetap sedang mempersiapkan fasilitas kamar untuk penyambutan santri baru, sama seperti pondok putra. Meilinda menawarkan bantuan dan dengan suka hati mereka menyambutnya dan mempersilahkan untuk bergabung.
"Maaf Ukhti, tinggalnya dimana?" Tanya salah seorang dari mereka, Mei ingat dia yang berbicara dengan Ummi di masjid tadi.
"Saya dari Jawa Tengah, kesini ikut putra saya masuk pondok ini, jadi santri SMP."
"Ooohhh..." Koor mereka.
"Bukan, Ummi meminta saya ikut kesini, katanya bantu di pondok. Belum tahu juga nanti bantu apa ya, kalau mengajar ya ndak mungkin saya masih minim ilmu agama."
"Kalau disini ada aja, teh kerjaan mah. Tidah melulu mengajar, lebih tepatnya membimbing. Tidak sekedar ilmu dunia ýang dibutuhkan, lebih banyak ilmu bathin ya, neng. Menjadi ibu pengganti buat para santriwati, kadang suka ikut nangis bareng mereka, ikut merasakan kesedihan mereka gitu... Tapi enggak boleh atuh, kita harus kuat-kuatin. Nih eneng-eneng ini mah sudah kebal, liburan aja memilih tetap di pondok, menjaga hafalan daripada pulang."
"MasyaaAllah... Tidak rindu keluarga?" Tanya Meilinda takjub.
"Rindu sudah pasti, ust, tapi Mama sama Papa sudah niatkan kami jadi hafidzah. Pantang pulang sebelum lulus, alhamdulillah disini juga dapat keluarga. Ada Ummi, ada Abah, ada ustadzah ada teteh-teteh..."
"...ada akang-akang juga kan, yah... kalo libur begini mah agak longgar aturannya, bisa ngintip-ngintip sedikit ke seberang... Xixixixi"
Mereka saling menyahuti satu sama lain, terasa sekali rasa kekeluargaan mereka. Meilinda juga salut pada para santriwati yang tetap tinggal dan tetap semangat, dia jadi ikut lebih semangat untuk menjadi lebih baik.
__ADS_1
Ustadzah Aisyah, yang berbicara dengan Ummi tadi di masjid, ternyata adik kandung dari ustadz Abdul. Dia tinggal tidak jauh dari pondok, dia sudah menikah dengan salah satu ustadz disana. Cinta lokasi kalau santriwati bilang, menjadi contoh teladan akhirnya bagi mereka. Teh Ais, lebih suka dipanggil begitu, 3 tahun lebih muda dari ustadz Abdul. Seusia dengan Meilinda, mereka jadi lebih cepat akrab. Teh Ais mempunyai dua putri masing-masing SMA kelas dua dan SMP kelas 3 dan putra mereka masih duduk di kelas 4 sekolah dasar.
Ketiga anak teh Ais bersekolah di pondok itu, alasannya kalau anak putri akan lebih baik jika tetap dekat dirumah tapi dengan lingkungan yang baik. Teh Ais, memperlakukan kedua putrinya sama saja dengan santriwati lain, tidak ada bedanya. Bahkan semua santriwati sudah menjadi putrinya juga. Setelah menyelesaikan pekerjaan, para santriwati itu pamit kembali ke asrama karena sebentar lagi masuk waktu shalat ashar dan jadwal mereka untuk setoran murojaah.
"Ummi semakin baik, kan?" Teh Ais melanjutkan obrolan dengan Mei sambil berjalan menuju rumah.
"Alhamdulillah, sepertinya begitu teh. Saya ikut senang mendengar ini pertama kali Ummi bisa kembali shalat di masjid, terharu rasanya melihat Ummi sampai meneteskan air mata dalam doanya." Mei menerawang kembali melihat bayang-bayang sosok Ummi tadi.
"Beberapa bulan yang lalu Ummi sempat drop sampai masuk ICU, kami hampir menyerah dan mengira... Alhamdulillah kemudian kondisinya berangsur baik, sepertinya Ummi ada yang mengganjal. Walau harus merasakan sakit luar biasa, Ummi tetap bertahan, demi Abah." Papar teh Ais lirih.
"Ummi sangat sayang sama ustadz Abdul ya, teh."
"Tentu saja, sudah lama Ummi menunggu kang Abdul pulang dari Mesir. Mereka sudah ta'aruf saat Lebaran pertama akang di Mesir, kami berkunjung ke pulau S, bersilaturahmi dengan sahabat lama Kiai. Ummi adalah putri dari sahabat Kiai. Pada saat itu lah semua sudah diputuskan"
"Nyai dan Kiai itu..."
"Orang tua kami, karena pemilik dan yang disepuhkan di pondok ini, kami biasa memanggil beliau Kiai dan Nyai. Tiga tahun Ummi sudah dititipkan dipondok ini, dibimbing langsung oleh Nyai, sudah Nyai anggap putri menantu, sambil menunggu kepulangan akang. Setelah akang pulang, pernikahan langsung dilaksanakan. Jadi memang sosok akang sudah ada dihati Ummi jauh sebelum bertemu akang."
Mereka akhirnya sampai dirumah, dan menghentikan pembicaraan. Teh Ais masuk kedalam, melihat keadaan Ummi. Meilinda masuk kedalam kamar tamu.
'Jadi itu sebabnya...' Batin Mei.
.
.
.
__ADS_1
.