Cinta Pertama Ustadz

Cinta Pertama Ustadz
52.


__ADS_3

"Akan lebih baik jika bunda ditemani ustadz Abdul jika ingin bertemu yang bukan mahramnya, saya yakin bunda juga tidak akan mau bertemu anda tanpa didampingi suaminya."


'Suami?! Meilinda sudah menikah lagi? Aakkhh sial, kalah cepat aku... Harus ubah strategi ini...'


"Jadi bagaimana caranya agar saya bisa bertemu dengan Meilinda?"


"Sebaiknya anda datang lagi saat ustadz Abdul kembali dari perjalanan dakwahnya, kira-kira tiga hari lagi."


"Baik, malam ini juga saya pergi. Tiga hari lagi saya akan kembali." Setelah Arief pergi, Revan mengambil barang-barangnya dan memasukkannya kedalam mobil. Sesegera mungkin dia melajukan mobilnya, ada kesal dihati mendengar kabar bahwa wanita yang dia damba ternyata sudah menjadi milik laki-laki lain.


Larut malam Revan baru sampai dirumahnya, dengan kasar dia hempaskan tubuhnya diatas kasurnya yang empuk. Lelah setelah perjalanan dan lelah berperang dengan batin, membuatnya dengan cepat menutup matanya.


"Bunda kenal sama tamu kemarin itu?" Aisyah bertanya setelah mereka selesai murojaah seusai subuh dan tausiah, dalam perjalanan kembali ke rumah utama.


"Iya, teh.... Dia pimpinan di kantor tempat aku biasa antar katering."


"Oohhh, sempat ketemu kemarin disini?" Meilinda menganggukkan kepala menjawab pertanyaan Aisyah.


"Apa ada sesuatu terjadi?" Meilinda menceritakan pertemuannya dengan Revan beberapa waktu yang lampau. Dia lega mendengar kabar yang disampaikan Aisyah bahwa lelaki itu sudah pergi, walau ada sedikit khawatir mendengar akan kehadirannya setelah ustadz Abdul yang sudah menjadi suaminya pulang.


...***...


Tiga hari berlalu, Meilinda menunggu kehadiran suami dengan tidak sabar dirumah. Sengaja hari ini dia tidak pergi ke rumah singgah, kabarnya sebelum dhuhur ustadz Abdul akan sampai dirumah. Benar saja, tidak lama kemudian dia mendengar deru suara mesin berhenti didepan rumah. Dari balik jendela dilihat suaminya sedang menurunkan barang dibantu oleh ustadz Saeful.


"Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam..."


Abdul meletakkan barang-barang di lantai rumah, mengucapkan terimakasih pada asisten setianya dan menutup pintu. Meilinda langsung menubruk dan memeluk suaminya, melepas kerinduannya. Abdul membalas pelukan sang istri dengan erat sambil menciumi pucuk kepalanya yang tertutup hijab.


"Rindu sekali ya, padahal kak Bas masih kotor dan bau loh ini..." Ucapnya menggoda. Meilinda merengut manja masih dalam pelukan Abdul. Setelah puas, akhirnya mereka melepas pelukan. Berjalan beriringan kedalam, Abdul pamit membersihkan diri terlebih dahulu dan Meilinda membawa barang bawaan suami kebelakang.


Dia meletakkan secangkir teh jahe panas kesukaan suami diatas meja, lalu mulai memilah pakaian kotor suaminya. Kembali dari belakang setelah meletakkan baju kotor di keranjang, Meilinda melihat minuman itu sudah habis diminum. Dicarinya sosok suami, sampai kedalam kamar dan ternyata dia melihat Abdul sedang merebahkan diri disana.


"Sini, Mey." Ajaknya menyadari kehadiran Meilinda di gawang pintu.


"Capek banget ya, kak? Istirahat saja, Mey siapkan makan siang dulu." Abdul menggelengkan kepalanya dan memberi isyarat untuknya mendekat.


Meilinda ikut merebahkan diri disamping sang suami, menelusupkan kepalanya didada tempat yang sudah menjadi favoritnya. Mendengar detak jantung suami membuatnya terlena.


"Semua baik-baik saja kan disini?" Meilinda mengangguk masih dengan posisi sama, membuat gerakan gesekan yang menimbulkan efek lain yang Abdul rasa.


Diangkatnya dagu Meilinda agar bisa ditatapnya manik hitam diwajah itu, senyum terkembang melihat pujaan hati yang sangat dirindukannya. Wajah mereka sudah sangat dekat, bibir mereka menyatu. Perlahan namun pasti, baju yang dikenakan Meilinda sudah terlepas. Abdul membimbing doa yang mereka lafadzkan bersama, sambil mata tetap saling memandang mendamba.

__ADS_1


[Selanjutnya kalian tahu lah apa yang terjadi 😉]


Meilinda keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk diikuti Abdul, air masih menetes dari rambutnya. Setelah memakai gamisnya, dia mulai mengeringkan rambutnya.


"Jalan-jalan keluar aja yuk, Mey. Kita ke kota, udah lama juga kan gak pacaran hehe"


"Apa kak Bas gak capek?"


"Udah hilang capeknya, kan udah di charge hehe..." Mereka terkekeh. Abdul keluar mempersiapkan mobil, tidak lama kemudian disusul Meilinda yang langsung duduk dikursi penumpang disamping suaminya.


Mobil melaju meninggalkan pondok pesantren diiringi tatapan seorang laki-laki yang baru saja turun dari mobilnya, tanpa sempat menghentikan mereka dan menemui mereka.


"Maaf, pak. Ustadz Abdul baru saja keluar sama bunda." Ucap ustadz yang merangkap kepala keamanan di pondok sudah paham maksud kedatangan Revan.


"Saya bisa lihat itu!" Jawabnya ketus "Kemana mereka?"


"Wah saya enggak tahu, pak. Bisa bapak tanyakan ustadz Arief di kantor, mungkin beliau tahu. Mari saya antar."


"Saya tahu jalannya." Revan mengenakan kacamata hitamnya dan beranjak dari sana. Dia melihat laki-laki yang selama ini bertanggung jawab atas pondok itu sedang berbincang dengan salah satu karyawannya, langsung dia menghampirinya.


"Saya kembali sesuai dengan janji saya." Ucapnya.


"Oh iya, pak Revan silahkan mari masuk dan menunggu diruang tamu. Sebentar, biar saya sendiri yang menemui ustadz Abdul dan mengatakan kedatangan anda."


"Oh ya? Ustadz Abdul baru saja tiba pagi tadi, memang hari ini masih hari istirahat beliau. Harap anda maklum, beliau baru melakukan perjalanan dakwah."


"Akan saya tunggu sampai mereka kembali." Revan membalikkan badannya meninggalkan ustadz Arief tanpa menunggu jawaban. Dia langkahkan kakinya kembali kedalam mobil, merendahkan sandaran kursi dan duduk menunggu disana.


'Lebih mudah melihat kedatangan mereka dari sini.' Gumamnya. 'Astaga, demi apa seorang Revan menunggu didalam mobil seperti ini?! Sedangkan saat ini mungkin dia sedang asyik berduaan dengan laki-laki itu. Apa hebatnya dia dibandingkan aku, tempat ini saja di kampung.' Terus pikiran dan batinnya berdialog sendiri.


Arief: Kang, putranya pak Gunawan menunggu di pondok.


Abdul: Ada masalah dengan dana atau gimana?


Arief: Sepertinya urusan pribadi, kemarin bilang ingin bertemu bunda.


Abdul: Baik, selepas dhuhur kami pulang.


Pesanan makanan mereka akhirnya sampai, Meilinda meletakkan nasi dan lauk keatas piring suaminya. Seperti biasa, Abdul selalu senang memberikan suapan pada istrinya dari piring dan tangannya, walau menu makanan yang mereka makan sama.


"Apa ada masalah selama kak Bas tinggal, Mey?" Abdul memancing obrolan. Meilinda tertegun mendengar pertanyaan itu, dia berfikir akan menceritakan soal kedatangan Revan setelah sampai dirumah saja jadi dia menggelengkan kepalanya. Mengalihkan pembicaraan dengan menceritakan hal-hal biasa yang terjadi di pondok dan di rumah singgah.


Selepas shalat Dhuhur di Masjid Agung kota, Abdul melajukan mobilnya kembali ke pondok. Ketika mobil memasuki gerbang, dari kejauhan dilihatnya seorang lelaki turun dari mobil mewah dan melihat kearah mereka. Meilinda menatap panik suami disampingnya, kemudian menundukkan kepalanya. Mencoba menyusun kalimat untuk menjelaskan kedatangan lelaki itu.

__ADS_1


"Itu putranya pak Gunawan ya, katanya kesini mau ketemu Mey." Ucap Abdul tetap tenang, Meilinda tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya dihadapan Abdul.


"Itu, anu kak..." Gelagapan Meilinda mencoba menjelaskan, dari kejauhan Revan sudah berjalan mendekati mereka. Abdul menggenggam tangan istrinya sambil tersenyum, mengajaknya untuk segera turun.


"Anda pasti mas Revan, putra dari pak Gunawan." Ucap Abdul setelah dia turun dari mobil dan berhadapan dengan tamunya, Meilinda tetap menunggu disisi lain mobil.


"Aku datang lagi, Lind, sesuai dengan janjiku, jadi apa sekarang kita bisa bicara?" Revan sama sekali tidak mengacuhkan Abdul yang ada didepannya dan berbicara pada Meilinda yang hanya bisa menunduk.


"Mari mas Revan, kita bicara didalam, silahkan." Ajak Abdul pada Revan. Meilinda sudah lebih dulu masuk setelah mendengar perkataan suaminya, karena kebetulan dia yang terdekat dengan pintu dan juga dia yang membawa kunci rumah.


Setelah masuk rumah, Meilinda segera kebelakang membuatkan minum untuk tamunya. Revan duduk berseberangan dengan Abdul, wajahnya menampakkan kekesalan. Bermacam umpatan berseliweran dibenaknya, keinginannya untuk berbicara berdua saja dengan Meilinda masih belum terlaksana juga.


"Baik mas Revan, boleh saya bertanya ada keperluan apa ya mau bertemu dengan istri saya?" Abdul memberikan penekanan pada kata 'istri saya' sebagai penegasan posisinya disana.


"Ada urusan yang tertunda, anda mungkin belum mengetahui hubungan kami dimasa lalu, sebelum Linda menjadi istri anda tentunya. Kami sudah lebih dulu dekat, hanya tiba-tiba saja Linda pergi meninggalkan Jawa dan juga saya. Sudah lama saya mencari-cari, ternyata disembunyikan disini."


"Meilinda tidak bersembunyi disini, tidak ada yang menyembunyikan atau memaksanya tinggal disini. Haikal menempuh pendidikan di pondok ini, Meilinda pun sama belajar disini."


"Jadi seperti itu, anda mengiming-imingi beasiwa untuk Haikal agar bisa mendapatkan Meilinda?! Pelajaran apa yang anda berikan sampai akhirnya dia terpaksa tinggal disini? Apa langsung anda berikan praktek dirumah ini?!"


"Astaghfirullah al'azhim! Apa yang anda katakan pak Revan yang terhormat?! Tidak pantas anda berkata seperti itu pada suami saya." Meilinda datang dengan nampan berisi minum dan juga cemilan. Setelah dia meletakkan nampan dan menatanya di meja, Abdul meraih tangannya dan membimbingnya untuk duduk disampingnya.


Revan yang melihat kedua tangan yang terus menyatu itu mendengus tanpa berniat memyembunyikannya.


"Hubungan seperti apa sebenarnya yang ada dimasa lalu, mas Revan?" Meilinda terus menatap wajah suaminya yang terlihat tenang, namun dia merasa ada gemuruh yang ditahan disana. Genggaman tangan yang tidak Abdul lepaskan sepanjang pembicaraan seperti menyiratkan arti kepemilikan.


"Kami cukup dekat, sampai hampir menikah." Jawab Revan pasti, refleks Meilinda terkekeh mengejek yang dibalas dengan tatapan tajam tidak senang dari Revan. Abdul menatap Meilinda, pandangan penuh tanya.


"Maaf, kak, Mey sudah tidak sopan. Jadi gini, pak Revan ini pimpinan diperusahaan yang karyawannya pesan makan siang di katering tante Ivone. Kak Bas masih ingat tanye Ivone kan, dulu kita mampir sebelum ke Solo itu loh. Pak Revan memang sempat menyatakan ingin menikahi Mey, tapi sudah Mey jelaskan, lagi pula beliau sudah bertunangan waktu itu."


"Aku udah bilang kan, aku bisa putuskan pertunanganku?!" Revan memotong dengan cepat. Meilinda hanya tersenyum sambil tetap menatap manik diwajah suaminya. Revan yang melihat semakin merasakan panas dihatinya.


"Sepertinya sudah jelas semua, mas Revan. Sekarang Meilinda adalah istri saya, tanggungjawab saya. Saya menghormati pak Gunawan, papa anda, beliau sedikit banyak menceritakan soal keluarga, termasuk masalah yang terjadi dalam rumahtangga anda. Lari bukan lah suatu solusi, apalagi menambah masalah. Hadapi masalahnya, mas." Abdul berkata dengan lembut dan tenang, emosi yang dirasakan tadi sudah bisa dia kendalikan.


"Masalah saya akan selesai jika saja dari dulu Linda mau menikah dengan saya, maka akan saya selesaikan sekarang juga masalahnya dengan menikahinya. Saya harap anda mau melepasnya dan mengembalikannya pada saya." Revan tetap berbicara dengan angkuh.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2