
Meilinda semangat sekali keesokan harinya, mengerjakan pekerjaan rumah dengan riang. Mey sudah terbiasa dengan rutinitas harian dan kebiasaan ustadz Abdul. Bahagia Abdul melihat istrinya seperti itu.
"Semangat sekali Mey, senang kak Bas lihatnya. Jadi semakin cantik aja, mukanya berseri-seri." Goda Abdul. Kini Meilinda juga sudah terbiasa dengan pujian dari ustadz, sekedar basa-basi hanya untuk menyenangkan hatinya saja.
"Assalamualaikum" Suara Aisyah didepan, kalau dulu waktu Ummi sakit biasany dia langsung masuk sambil mengucap salam. Kini dia tahu ada bunda yang sudah menjadi istri sah dari kakaknya, harus menjaga privasi mereka.
"Waalaikumsalam, masuk teh..."
"Kang..." Sapanya pada Abdul sambil mencium punggung tangannya. Diluar pondok, Abdul tetaplah kakaknya maka dia akan berlaku selayaknya seorang adik. Lain halnya jika di pondok, dia akan berlaku sama seperti ustadzah lainnya.
"Sehat, dek?"
"Alhamdulillah, kang... Akang gimana sama bunda, udah gol belum?"
"Teh Ais iiihh, ngomong apa an sih?!" Mey berhambur memeluk adik iparnya itu agar tidak membocorkan rahasianya.
"Curhat apa emang bunda, dek? Cerita lah, bilang kalo akang ganteng gitu gak?"
Meilinda melotot mendengar komentar ustadz yang sudah menjadi suaminya itu. Sebenarnya lelaki seperti apa yang sudah dinikahinya itu, kenapa selalu membuatnya terkejut. Ini lagi adik ipar, penampilan alim dan anggun, ternyata komentarnya bisa absurb gini ya...
"Udah aaahh yuk beresin baju Ummi." Meilinda menarik Ais masuk ke kamar utama.
"Jadi gimana, bund? Udah apa belum?" Setelah mereka hanya berdua saja disana.
"Gak usah dibahas."
"Kemarin habis jalan-jalan ya, kata anak-anak sampe heboh gitu kang Abdul pamer kemesraan. Ais pikir kalian sudah...." Ada nada sedih dari suara Aisyah. "Padahal kang Abdul tuh jaga image loh depan anak-anak, kalo dirumah mah nyenengin kan ya? Perhatian, sayang, usil, ngangenin... hehe udah kerasa belum?" Matanya mengerling menggoda.
"Biasa aja... Ini bajunya mau dikemanain, teh?" Meilinda mengalihkan pembicaraan.
"Bunda udah pilih?" Yang ditanya menggeleng acuh "Kalau adat disini, menerima dan memakai baju keluarga yang sudah meninggal menandakan rasa sayang kita pada mendiang karena ikut meringankan hisab memanfaatkan barang tersebut, selalu mengenang kebaikannya. Kalau beda lawan jenis biasanya diberikan pada pasangan untuk dipakai."
Meilinda menunduk, kemarin ustadz juga bilang kalau Ummi pasti senang dia memakai salah satu bajunya. Akhirnya Mey melihat-lihat sekiranya ada yang cocok untuk Mey pakai. Badan Ummi lebih mungil darinya jadi agak lama mereka memilih, sampai akhirnya dia menemukan satu gamis cantik yang masih terbungkus plastik. Gamisnya simple dengan aksen dibawahnya, pas sekali dibadan Meilinda.
"Cantik, bund. Ais kok gak pernah lihat Ummi pakai ya?"
Baju-baju yang lain mereka masukkan dalam laundry bag besar agar mudah dibawa, Mey juga mengambil beberapa hijab untuknya sebagai tambahan.
__ADS_1
"Alhamdulillah, ini bawanya gimana? Mau dibawa kemana?" Tanya Meilinda.
"Diteras belakang saja, nanti kasih tau yang lain kalau ada yang cocok boleh ambil, udah pada tahu kok disini mah. Lemarinya udah kosong, baju bunda mau sekalian Ais bantu pindahkan kesini?"
"Hah...?! Enggak, gak usah hehe."
"Sekalian, bund, yuk biar ga bolak balik ngangkutnya."
"Enggak enggak, jangan... Nanti nanti aja deh, udah capek, eh anu mau masak iya mau siap-siap masak."
"Bunda masih belum bisa menerima kang Abdul ya? Tidak mungkin bunda tidak pantas untuk kang Abdul, kalau memang betul begitu, pasti akang tidak akan mau menikah apa pun alasannya, walau Ummi yang minta sekali pun. Kalau memang bunda tidak pantas untuk kang Abdul, tidak mungkin Allah lancarkan proses pernikahan kalian. Kalian menikah atas izin Allah, karena memang kalian berjodoh." Aisyah menjelaskan panjang lebar. [karena bukan omelan, jadi tidak dikalikan ya😁]
Meilinda termenung meresapi perkataan Aisyah lama setelah Aisyah pamit.
"Melamun lagi, Mey." Tiba-tiba didepannya sudah ada ustadz yang sudah menjadi suaminya itu. "Assalamualaikum" dia mengulang salam.
"Eh, waalaikumsalam." Meilinda kebelakang mengambilkan air putih untuknya minum.
"Alhamdulillah...mikirin apa sih, Mey? Cerita lah, siapa tau kak Bas bisa bantu."
"Ummi pernah cerita beberapa kali meminta ustadz untuk menikah lagi, tapi selalu ustadz tolak, kenapa?"
"Bagaimana kita bisa tahu kalau sudah jodohnya?"
"Kalau kita sungguh-sungguh yakin pada takdir Allah, pasti ada jawaban, dikasih keyakinan sama Allah."
"Begitu juga waktu ustadz dijodohkan dengan Ummi?"
"Pada awalnya kak Bas menolak saat itu, tapi Kiyai meminta untuk lakukan shalat istikharah dulu paling lama satu minggu. Dan benar saja, dihari ketiga kak Bas mendapat jawabannya."
"Apa itu, gimana caranya?"
"Saat itu seperti yang pernah kak Bas ceritakan dulu, magang membantu membimbing ibadah haji dan umroh. Setelah shalat, kak Bas didekati seorang musafir lokal yang belum pernah kak Bas temui sebelumnya dan kak Bas juga tidak kenal. Beliau mengatakan 'pilihlah Salsabila dan bersabarlah atasnya, kelak kau akan mendapatkan apa yang engkau inginkan'. Kurang lebih begitu kalau diterjemahkan."
"Salsabila itu nama Ummi?" Abdul mengangguk.
"Tiga hari berturut-turut kak Bas bertemu lelaki itu ditempat yang berbeda, tidak ada obrolan lain hanya mengatakan kalimat yang sama lalu beliau selalu bergegas pergi. Maka dari itu akhirnya kak Bas menyetujui dengan syarat menyelesaikan study dulu, dan Ummi menunggu disini bersama Kiayi, Nyai dan Ais."
__ADS_1
"Ustadz tadi bilang awalnya menolak, kenapa? Apa ustadz sebenarnya punya calon sendiri?"
"Ada seorang gadis yang secara diam-diam menetap dihati kak Bas saat itu, tapi belum kak Bas ungkapkan."
"Kalau begitu ustadz menikahi Ummi terpaksa? Tanpa cinta?"
"Kak Bas sayang Ummi setulus hati, dari dulu sampai sekarang sayang itu masih sama. Jika yakin, memantapkan hati bahwa ini pilihan Allah, maka kita bisa melakukan semua atas dasar karena Allah, mencari ridho Allah maka perasaan itu timbul dengan sendirinya, karena Allah."
"Kalau begitu, ustadz shalat istikharah lagi ya, minta jodoh lagi dan ibu untuk Khansa secepatnya." Karena asyik mengobrol mereka hampir lupa waktu dan terdengar adzan berkumandang dari mesjid dan Abdul segera bergegas keluar.
****
"Mey, lepas ashar nanti ikut ke kota ya, kak Bas ada ngisi tausiah disana. Acaranya sih ba'da isya, tapi shalat maghrib jamaah lalu ada ramah tamah sampai Isya. Sesekali kak Bas pengen ditemenin istri, sering tuh ibu-ibu pengajian suka tanya 'kok gak ditemenin, apa istrinya gak takut ustadz dicantol orang, ustadznya ganteng gini kok...'"
"Alhamdulillah kalo emang ada yang mau..." Niat Abdul menggoda malah jadi bumerang hahahahaha.
Setelah ustadz yang sudah menjadi suaminya itu pergi melakukan pekerjaannya, Meilinda segera menyelesaikan tugas-tugas rumah, mandi kemudian bersiap kerumah tempat anak-anak bermain. Hampir setiap hari akhirnya Mey berkunjung dan bermain bersama mereka, ada saja yang bisa dilakukan disana. Canda tawa selalu hadir, Mey juga banyak mendapatkan ilmu dari pengasuh disana yang baik dan ramah. Mereka sangat penyabar, banyak juga pengalaman hidup yang bisa jadi pelajaran untuknya.
Ada seorang anak yang ternyata dulu hasil perbuatan dosa kedua orang tuanya diluar pernikahan, lalu dibuang dan diasuh disana. Bukan hanya anak asuh saja yang memiliki pengalaman tidak menyenangkan, ternyata ada pengasuh yang dulu pernah menjadi korban tindak asusila lelaki tidak bertanggungjawab. Alhamdulillah setelah lepas dari traumanya dan berserah diri pada Allah, sekarang sudah memiliki suami yang sayang dan mau menerimanya.
Terkadang mereka keceplosan saling menceritakan hubungan intim dengan suami, sebelum akhirnya tersadar dan beristighfar sambil cekikikan. Seperti juga hari itu, Meilinda yang awalnya mendengar sepintas lalu karena ikut membantu memasak untuk makan siang anak-anak mulai menajamkan telinganya.
"Aduuhh gini nih, ceu kalau mau datang bulan teh jadi sok nafsuan yah." Ucap Neng Ela yang memang belum ada satu tahun menikah.
"Aah itu mah kamu aja yang emang suka sama doyan kali." Sambut ceu Nia yang lebih tua dari mereka.
"Hahaha tau aja si eceu mah, abis gimana atuh yah da si aa teh suka menggoda geura. Lembut tapi perkasa gimana gitu hehe"
"Astaghfirullah neng, nyebut masih siang hahahaha."
Meilinda yang mendengarkan pembicaraan itu pun berpikir, bagaimana neng Ela bisa begitu ingin melakukan itu dengan suaminya, bukan kah itu menyakitkan...
.
.
.
__ADS_1
.