
Lamunan Mei terhenti ketika suara adzan berkumandang dari arah masjid, segera dia berbenah dan bersiap. Dia mendengar salam dari arah depan, sepertinya Haikal. Setelah menjawab salam, dia lihat Haikal masuk ke kamar mengambil baju koko nya dan peci dan bersiap menuju masjid. Dia juga membawa serta Al-Qur'an, katanya mau ikut murojaah bersama ustadz selepas Ashar. Mei lega karena Haikal cepat beradaptasi di pondok itu, dan merasa senang karena semangatnya.
Meilinda sudah mengenakan mukenanya, dia melirik kamar Ummi. Kira-kira Ummi shalat di masjid tidak ya, apa teh Ais sudah pergi, tidak terlihat setelah tadi masuk kamar Ummi. Tidak lama pintu kamar Ummi terbuka, teh Ais keluar dan melihat kearah Mei. Senyumnya merekah, tanpa dikira tiba-tiba teh Ais memeluk Mei dengan haru. Belum sempat dia menanyakan hal itu, Ummi keluar dari kamar dan segera mengajak mereka menuju masjid.
Malam itu Meilinda makan hanya berdua dengan Ummi, Haikal memilih makan di ruang makan asrama putra dan kabarnya ustadz Abdul baru selesai acara diluar selepas Isya.
"Yah seperti ini lah, Mei, jadi pendamping Abah. Harus siap ditinggal-tinggal. Ini baru kegiatan didalam kota saja, malam sudah kembali. Harus siap kalau ada undangan diluar kota, bisa berhari-hari karena biasanya sekalian dibeberapa tempat."
"Seperti waktu ustadz ada kunjungan ke sekolah Haikal itu ya, Um. Alhamdulillah banyak dapat berkah dari penjuru negeri."
"Itu berkah yang sangat luar biasa Allah berikan pada kami, bisa bertemu Mei. Dan atas izin Allah juga yang sudah merancang takdir kita sedemikian rupa, sehingga pada saat ini lah waktu yang tepat kita bertemu." Meilinda bingung, kenapa jika mereka hanya berdua saja perkataan Ummi terkadang sulit Mei mengerti. Rasanya dalam sekali, tapi penuh teka-teki dan Mei tidak mengerti maksudnya. Untuk bertanya rasanya segan, memang Meilinda lebih suka menjadi pendengar saja.
"Maaf harusnya Ummi, panggil dengan teteh atau mbak ya. Sungguh Ummi pikir kita seumuran, ternyata sama teh Ais ya... Habis Abah yang duluan panggil nama, jadi ketularan nih. Sekali lagi maaf ya... Jadi enaknya dipanggil mbak atau teteh ya, atau bunda aja yah sama kayak yang lain panggil Ummi gitu." Meilinda tersenyum melihat Ummi salah tingkah.
"Ummi boleh panggil apa saja, asal jangan ustadzah. Duuhh malu rasanya, tidak pantas. Tadi siang santriwati ada yang panggil ustadzah, geli rasanya ditelinga xixixixixi." Mereka tertawa bersama.
"Mulai besok mau belajar ngaji sama Ummi? Habis subuh kita mulai ya?"
"Mau banget Ummi, sebenarnya tadi mau minta salah satu ustadzah sini ajarin, tapi bingung sama malu hehe paling minta sama teh Ais. Alhamdulillah kalau Ummi bersedia."
"Dulu juga Ummi yang ngajarin Nyai langsung, ibundanya Abah. Beliau menitipkan Abah, memberi petuah-petuah. Rasanya Ummi sudah mengenal Abah padahal belum pernah bertemu." Kenang Ummi. "Sudah malam, Ummi masuk kamar dulu ya, bund. Mungkin sebentar lagi Haikal pulang."
Meilinda merapikan meja makan, menyimpan piring kotor dibelakang. Ternyata bik Asih belum pulang, kemudian dia mengambil dan mencuci piring-piring kotor itu. Mei sudah menawarkan untuk mengerjakannya tapi bik Asih bersikeras itu tugasnya. Tidak lama kemudian Mei mendengar suara Haikal.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam, sudah pulang, Cal." Sambut Mei, sambil Haikal mencium punggung tangannya.
"Iya bunda... Seru tadi di asrama sama ustadz dan kakak-kakak santri, ada dek Dzaki juga putranya ustadz Arief. Baru kelas 4 loh, bund tp hafalannya setara sama Haikal. Oh ya, bund, disini jangan panggil Ical ya, kan udah gede malu hehe." Meilinda terkekeh mendengar putranya nyerocos.
__ADS_1
"Cieh anak ganteng bunda sudah besar rupanya..." Meilinda mencium puncak kepala Haikal.
"Besok Haikal boleh pindah ke kamar asrama gak, bund? Capek bolak balik terus, lagian lebih seru disana sama kakak-kakak."
"Coba besok tanya sama ustadz Abdul ya, bunda ndak ngerti. Kita tamu disini jadi tidak boleh seenaknya yah... Sudah cuci muka dan sikat gigi, lalu istirahat. Kita mulai bangun lebih pagi, sebelum adzan subuh dan mulai ikut kegiatan disini yah."
"Maaf bu, Bibik boleh minta tolong?" Bik Asih menghampiri Meilinda sebelum dia masuk ke kamar.
"Iya, Bik, ada apa?"
"Anu bu, aduh gak enak saya jadi na..."
"Bibik bicara saja, siapa tahu saya bisa bantu."
"Anu...bibik dapat kabar, suami bibik demam dirumah, ini bibik mau pulang, tapi Abah belum pulang, Ummi juga sedang istirahat."
"Kayaknya ga papa, Bik. Nanti biar saya sampaikan, bibik pulang saja, biar bisa merawat suami."
"Kenapa lagi?"
"Abah kalau pulang suka minta dibuatkan teh jahe, bu, hangat-hangat. Kalau mau saya buat sekarang nanti takut keburu dingin. Air jahenya sudah bibik buat, biasanya nanti dipanaskan lagi terus dikasih teh sama sedikit gula, Abah tidak suka terlalu manis, paling satu sendok teh saja." Meilinda tertegun mendengar penuturan bik Asih, menimbang-nimbang. Kasihan bik Asih harus segera pulang, tapi menyiapkan teh untuk ustadz...rasanya...
Demi melihat mata memelas bi Asih, tidak tega rasanya Mei menarik kembali ucapannya. Akhirnya dia menganggukkan kepalanya dan meyakinkan bik Asih kalau dia akan melakukan permintaannya.
Setelah bi Asih pergi, Meilinda menengok kamar Haikal. Kelihatannya dia sudah terlelap, perjalanan jauh dan kegiatan hari ini pasti membuatnya lebih cepat terlelap. Mei pun beralih melihat kamar Ummi, kalau tidak ada yang menemani biasanya pintu kamar Ummi terbuka agar memudahkan untuk mengawasi. Terlihat Ummi juga sudah tertidur tenang.
Tidak lama kemudian terdengar deru suara mobil berhenti didepan, Mei mengintip dari jendela. Rupanya betul ustadz Abdul sudah pulang, segera dia ke belakang mempersiapkan minuman teh jahe hangat. Karena gugup Mei sampai lupa dengan instruksi bik Asih tadi, akhirnya dibuat lah versinya. Dengan ragu dia membawa minuman itu kedepan, dilihatnya ustadz Abdul sudah duduk bersandar di kursi membelakanginya. Ustadz Abdul sedang membaca Al-Qur'an, suaranya sayup sayup terdengar perlahan.
Meilinda meletakkan minuman teh jahe dimeja samping ustadz, dan segera berlalu dari sana. Mei kembali masuk kedapur, bersandar di dinding dan memegang dadanya. Degup jantungnya berdetak kencang, entah lah mengapa dia gugup sekali rasanya.
__ADS_1
Abdul mengakhiri bacaannya, menyeruput minumannya tanpa meniupnya. Dia tertegun sejenak, kemudian meminumnya kembali. Dia juga perhatikan bukan gelas yang biasa dia pakai, dia meminumnya seteguk demi seteguk sampai habis. Segar rasanya badan setelah perjalanan tadi, ada tanya dalam benak karena minumannya tidak seperti biasanya, lebih menyegarkan.
Abdul beranjak dengan membawa gelas kosong.
"Mei, kenapa? Sakit, kok dadanya dipegang begitu? Bik Asih kemana?"
"Astaghfirullah, ya Allah, ustadz mengagetkan."
"Maaf, kak Bas tidak bermaksud. Kamu gak apa-apa?"
"Aahhh iya, tadz. Tidak, tidak apa-apa... Anu, itu tadi bik Asih pamit karena suaminya demam. Tadi juga pesan dibuatkan teh jahe jika ustadz pulang." Meilinda gugup tertunduk ditatap intens oleh ustadz Abdul, matanya lelaki itu terlihat panik dan penuh perhatian.
"Astaghfirullah... Maaf Mey, iya...terimakasih dan maaf lagi karena sudah merepotkan."
"Maaf ustadz, sudah malam, saya permisi masuk ke kamar."
"Mey..." Meilinda menghentikan langkahnya, dadanya berdegup lebih kencang dari sebelumnya. Untung dia tidak punya riwayat penyakit Jantung, jika iya pasti sudah kena serangan saat itu.
'Suara itu... Panggilan itu...' Benak Meilinda.
"Sudah lah, istirahat saja." Ucap Abdul dengan helaan nafas berat dan pergi mendahului keluar dari dapur.
Meilinda segera masuk kedalam kamar tamu, merebahkan diri perlahan disamping Haikal. Degupnya masih terasa walau sudah reda, lama sekali dia baru bisa memejamkan matanya. Menjelajah dunia mimpi, beralih ke dimensi lain, kembali ke masa sekolahnya dulu. Masa dimana dia mengikuti kegiatan pesantren kilat yang diadakan di masjid komplek rumah oleh kakak-kakak pendatang.
.
.
.
__ADS_1
.