Cinta Pertama Ustadz

Cinta Pertama Ustadz
56.


__ADS_3

Setelah melalui perjalanan panjang yang cukup melelahkan, akhirnya mereka sampai di pondok pesantren. Khansa tertidur dalam pangkuan Mutiyah, Meilinda membimbing Mutiyah untuk menidurkan Khansa di kamar tamu. Dia pun menyarankannya untuk tetap menemani Khansa sambil beristirahat.


Meilinda menerima barang-barang yang telah diturunkan ustadz Saeful dibantu kepala keamanan pondok, Aisyah yang kebetulan melihat pun turut serta membantu Meilinda didalam rumah.


"Dimana keponakanku, bund?"


"Tidur di kamar tamu ssstttt jangan diganggu!" Jawab Meilinda pelan. Aisyah perlahan memutar knop pintu tapi tidak bisa dibuka, mana mungkin anak sekecil Khansa bisa mengunci pintu.


"Terkunci, bund!"


"Ada Mutiyah bersamanya, dia ikut bersama kami karena Khansa sangat lengket dengannya. Ndak apa-apa, bisa bantu kita disini." Paparnya. Aisyah mengangguk dan mengurungkan niat untuk melihat putri dari kakaknya itu.


Malam itu selepas Isya, semua keluarga berkumpul dirumah utama. Arief dan Aisyah beserta putra bungsu mereka dan kedua putrinya, Abdul dan Meilinda bahkan Haikal pun turut serta, ada mamang dan bibi juga ikut hadir disana. Semua bersuka cita menyambut kedatangan Khansa, semua terpukau dengan kelucuan dan kecantikan gadis kecil itu.


Kebahagiaan tidak dapat disembunyikan dari wajah Abdul, akhirnya dia bisa berkumpul kembali dengan putrinya. Meilinda merasa ikut bahagia, semua keluarga turut bahagia.


Khansa ternyata anak yang aktif dan ceria, dia juga senang menjadi perhatian. Tikahnya yang disambut tepuk tangan dan gelak tawa orang disekeliling membuatnya senang, berbeda dengan Khansa sewaktu berada kota kelahiran Umminya yang terlihat pendiam dan takut-takut.


"Dek Tiyah, biar saja Khansa bermain bersama kakak-kakak nya disana, mereka pasti akan menjaganya dengan baik." Saran Aisyah yang melihat Mutiyah selalu meminta Khansa untuk duduk tenang disampingnya, bersebelahan dengan Abdul sang ayah.


"Terlalu berbahaya, yuk, Sasa masih suka terjatuh-jatuh, dia juga suka memasukkan barang kedalam mulutnya." Kilahnya. Aisyah menatap Meilinda yang hanya tersenyum kecil.


Malam belum terlalu larut, tapi cukup membuat gadis mungil itu menguap berkali-kali. Lelah juga karena perjalanan dan bermain barusan. Meilinda meminta Mutiyah menidurkannya didalam kamar tamu.


"Kang, sepertinya Mutiyah itu terlalu mengekang Khansa. Apa-apa tidak boleh, selalu harus didekatnya, bahkan sepertinya dia lebih berhak dari akang yang bapaknya atau bunda yang sekarang itu jadi ibu buatnya." Curhat Aisyah pada Abdul saat mereka bisa berbincang berdua saja. Keluarga lain sudah meninggalkan rumah utama, hanya Aisyah yang masih tinggal dan membantu Meilinda merapikan alat-alat makan.


"Itu lah, dek, akang juga jadi serba salah. Mey yang mengajaknya kesini, karena yah sulit sekali melepaskannya dari Khansa, kami tidak tega rasanya."


"Dia itu adiknya Ummi yang sempat akan ta'arufan sama kang Abdul, kan? Bunda sudah tahu, kang? Iisshh, akang harus cerita lah daripada nanti ada kesalahpahaman. Aisyah lihat, dia suka sekali curi-curi pandang sama akang."


"Iya, nanti akang cerita. Sudah, kamu pulang sana sudah malam. Kasihan Dzaki dan suami mu, gak ada yang ngelonin"


Setelah membersihkan diri, melaksanakan shalat malam dan tilawah, Abdul naik keatas tempat tidurnya. Meilinda baru saja menyelesaikan rangkaian bacaan doanya, dia menunggu suaminya melakukan hal yang sama sambil merebahkan diri.


Meilinda langsung menelusupkan diri didada sang suami saat Abdul merebahkan diri disampingnya, dia memeluk sang istri kemudian mengecup kepala dan memainkan rambut istrinya.


"Akhirnya, kak, kita bisa berkumpul. Mey jadi ingat Ummi, rindu.... Coba Ummi masih ada..."


"Kalau Ummi masih ada, siapa ya kira-kira yang nemenin kak Bas disini?" Meilinda tertegun mendengar perkataan Abdul, rasa apa ini yang ada dihatinya...

__ADS_1


"Hahahahaha...kamu tuh mikir apa, sih, kok jadi diam?" Abdul mengubah posisinya, melorot di kasur memiringkan tubuhnya hingga dia bisa bertatapan dengan wajah cantik istrinya.


"Entahlah, kak, Mey bingung dengan perasaan Mey sendiri. Mey ndak tau akan seperti apa hidup ini jika saja Ummi..."


"Jadi mengertikan mengapa kak Bas dari dulu tidak mau berpoligami, tidak sanggup kak Bas melukai hati wanita yang kak Bas sayangi dan cintai." Ucapnya sambil mengecup kening Meilinda. Kecupan terus merembet, mencari lawan yang kemudian ikut saling mengecap.


Diluar kamar, seseorang menghentikan langkahnya didepan pintu kamar mereka, merapatkan telinga dan mencuri dengar ucapan didalam. Dia tertegun, hatinya gundah, terjadi perang bathin disana. Segera dia kembali ke kamarnya, merebahkan diri disamping gadis cilik dengan perlahan agar tidak terbangun. Air mata meleleh, dia terisak dalam diam.


"Mey...belum tidur, kan?" Abdul mendekati istrinya setelah mengeringkan badan dan memakai bajunya, Meilinda yang sudah terlebih dulu berbaring dengan bantal beralaskan handuk karena rambutnya basah, memiringkan tubuhnya menghadap Abdul, suaminya.


"Hilang kantuknya." Jawab Meilinda sambil memonyongkan bibirnya, Abdul terkekeh melihat sikap manja istrinya.


"Ada yang ingin kak Bas ceritakan." Ucapnya mengambil posisi ternyaman disamping Meilinda.


"Dulu, setelah sembuh dari keguguran untuk yang kedua kalinya Ummi pernah mengajak kak Bas silaturahmi kerumah paman, katanya rindu rumah dan keluarga. Ternyata Ummi berniat mengenalkan kak Bas dengan saudaranya, menanyakan kesediaan kak Bas untuk ta'aruf dengannya. Itu yang pertama kalinya Ummi mulai mencarikan istri lain untuk kak Bas, alasannya karena sudah dua kali dia keguguran maka dia minta kak Bas beristri lagi."


"Tentu saja kak Bas menolak, kak Bas tidak tahu ternyata selama ini Ummi selalu bercerita dan memberi harapan-harapan pada gadis itu. Tapi kak Bas tidak bisa, kak Bas tidak menyangka jika sampai saat ini gadis itu masih berharap."


"Mutiyah, kan?" Tanya Meilinda membuat Abdul sedikit kaget. "Tidak mungkin Mey tidak tahu, gerak-geriknya sudah sangat terlihat. Apalagi sampai sekarang Tiyah belum mau menikah, lebih memilih merawat Khansa."


"Kalau Mey tahu, kenapa Mey masih mengajaknya tinggal disini? Atau saat itu Mey belum tahu?"


"InsyaaAllah hati kak Bas tidak berubah, tidak akan pernah menyakiti hati wanita yang sudah rela mendampingi dengan menduakannya."


"Ternyata hati Mey tidak sebaik Ummi ya, kak. Setelah apa yang kita lalui, dulu Mey secara terang-terangan meminta kak Bas menikah lagi. Kini, hati ini berat rasanya berbagi. Mey malu mengakuinya."


"Kenapa harus malu, ya habibaty... Kak Bas justru senang, hanya ada kak Bas dihati Mey dan hanya ada Mey dihati kak Bas. Kita akan lalui semua bersama ya..."


"Iisshhh malah ngegombal..."


Mereka pun tidur dengan saling berpelukan dan senyum merekah.


...****...


"Mari Uda, ayu... Tiyah sudah menyiapkan sarapan." Ajaknya sambil mendudukkan Khansa dikursi. Baru saja Meilinda sampai di dekat meja makan, Tiyah sudah mengambilkan makanan dalam piring untuk Abdul dan meletakkannya didepan Abdul.


Abdul menatap Meilinda dengan perasaan khawatir, tapi Meilinda membalas tatapan itu dengan senyum seakan mengatakan kalau dia baik-baik saja.


"Dek Tiyah nanti ikut kerumah singgah ya, kamu pasti suka disana, Khansa juga akan punya banyak teman, banyak mainan dan kakak-kakak yang mau bermain dengan Khansa, mau kan ya, nak?" Meilinda berkata pada putrinya yang kemudian melirik Mutiyah.

__ADS_1


"Sasa sudah biasa bermain denganku, ayu." Bantahnya.


"Panggil bunda saja, sama seperti yang lain. Ustadz membangun rumah singgah itu untuk Ummi, makanya dinamakan Salsabilla. Kamu pasti mau melihatnya." Ucap Meilinda yang berhasil membuat Mutiyah tertegun.


"Jika tidak merepotkan, ayu eh bunda, baiklah Tiyah ikut." Jawabnya pada akhirnya.


Setelah selesai sarapan, Abdul bersiap menuju kantor pondok. Seperti biasa Meilinda akan mencium punggung tangan suaminya yang dibalas dengan kecupan dikening, rutinitas itu pun tidak mereka lewatkan walau ada Mutiyah disana yang melihatnya dengan kikuk. Sekarang Abdul menambah dengan mengecup pucuk kepala putrinya kemudian memeluknya, mungkin ikatan bathin mereka sudah terjalin karena kini Khansa tidak lagi ragu-ragu pada Abahnya.


"ndong...itut Bah..." Khansa mulai memberanikan diri meminta.


"Jangan Sasa, Abah itu mau kerja, Sasa sama biju aja ya kita main..." Bujuk Mutiyah membuat Khansa mengeratkan pelukannya pada Abdul.


"Tidak apa-apa, saya hanya mengecek keadaan pondok dan asrama saja. Yuk, Sasa ikut Abah."


"Jangan, uda, nanti mengganggu. Atau biarkan aku ikut saja, agar tidak merepotkan uda."


"Ini lingkungan pesantren, Tiyah, akhwat dilarang berkunjung ke area putra. Khansa putri saya, tidak akan merepotkan. Satu lagi, tolong panggil saya ustadz seperti yang lain di pesantren." Abdul menggendong Khansa keluar dari rumah.


Meilinda merapikan meja makan, menyimpan piring kotor di belakang dan mencucinya. Setelah kembali dari belakang dilihatnya Mutiyah berdiri didepan pintu dengan gelisah, kepalanya terus celingukan berharap bisa melihat Khansa.


"Jadi ikut ke rumah singgah, dek?" Tanya Meilinda yang sudah bersiap.


"Jika diizinkan, saya nak tunggu disini saja bunda, jaga-jaga jika Khansa rewel dan mencari saya." Ucap Mutiyah sambil menggosok-gosokkan tangan dengan gelisah.


"Baiklah, titip rumah ya. Saya akan kembali sebelum dhuhur, nanti ndak usah masak lagi lauk sarapan tadi juga masih banyak. Kalau kamu ada kepengen makan apa ya, ndak apa-apa bikin aja ya. Bunda tinggal, assalamualaikum."


"Waalaikumsalam..." Mutiyah mengikuti Meilinda ke teras depan, sampai motor maticnya tidak terlihat pun dia tidak beranjak dari tempatnya.


Sebuah mobil mewah terparkir didepan masjid, lelaki tampan dengan penampilan eksekutif muda turun. Menatap ke arah pos keamanan yang kosong, kemudian melihat ada seorang wanita duduk dengan gelisah didepan rumah. Dia pun menghampirinya.


"Permisi, Meilinda ada?" Wanita itu menatapnya heran kemudian menggelengkan kepalanya. "Kamu siapa? Orang baru ya disini? Tinggal dirumah ini juga?" Mutiyah menganggukkan kepala. "Boleh minta nomor HP nya?" Lelaki itu menyerahkan HP nya agar Mutiyah dapat menuliskan nomornya.


"Maaf pak Revan, jika ingin bertamu silakan tunggu di ruang tunggu untuk tamu. Hari ini kebetulan ustadz Abdul sudah kembali, mari saya antar." Terpogoh-pogoh kepala keamanan menghampiri ketika melihat Revan datang.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2