
...
Revan: Please, Lind. Kita masih bisa jadi teman, kan?
Chat nya bahkan tidak dibaca... Gumam Revan, sulit sekali baginya untuk fokus bekerja. Sebentar-sebentar dia melihat HP nya untuk melihat notifikasi didalamnya. Dia meremas-remas rambutnya, menghempaskan badannya diatas sofa dalam ruangannya. Dibukanya kotak makan yang dikirim oleh Tejo tadi, terlalu terlambat memang untuk makan siang. Perutnya tidak begitu lapar, hanya saja dia ingin mencicipi masakan yang dia yakin telah dibuat oleh Linda. Rasanya memang enak, dia menikmati makanan itu sambil membayangkan sosok yang mengolahnya.
Saat para siswa masuk kembali kedalam kelas masing-masing untuk doa penutup, Meilinda menjalankan shalat Dhuhur. Dia tidak bisa mampir di masjid biasanya karena dipakai shalat Jumat oleh jamaah.
"Gimana ujian hari ini? Bisa jawab dong..." Seperti biasa menjelang tidur Meilinda mengajak Haikal ngobrol dulu.
"Bisa dong... Anak bunda kan pintar hehe" Jawab putranya itu.
"Besok terakhir kan ujiannya, waahhh ga kerasa ya anak bunda udah gede... Udah mau naik kelas 6 loh..." Meilinda mengenang, rasanya baru kemarin dia masih menggendong putranya itu, saat masih ada Hamdan disisi mereka.
"Iya bund, temen-temen Ical liburan sekolah mau pada survey buat nyari pondok katanya. Kita nanti liat-liat juga yuk, bund. Besok katanya mau ada sekolah yang presentasi juga ke sekolah, ustadz bilang kalo masuk pondok itu daftarnya emang diawal-awal, nanti ada test masuk dulu gitu..." Haikal masih berceloteh tentang referensi pondok pesantren yang dia dengar baik dari teman maupun ustadz dan ustadzah nya.
"InsyaaAllah, nak. Terus berusaha, ikhtiar dan berdoa. Kita minta rezeki sama Allah ya, nak. Tidak ada yang tidak mungkin kalau Allah berkehendak. Sekarang Ical baca surat Al-Fatihah dulu, tiga surat terakhir diakhiri dengan doa sebelum tidur. Jangan lupa berdzikir juga." Meilinda mengecup kening Haikal dan beranjak dari kamar itu.
Tujuannya sudah pasti, berdialog dengan sang pencipta. Mengadukan segala gundahnya, mengharapkan petunjuk agar tidak salah dalam melangkah. Jujur perjalanan hidup putranya masih panjang, dia ingin melihat Haikal sampai menjadi Sarjana. Bukan sekedar lulus mendapatkan ijazah, tapi memiliki ilmu dan akhlak yang baik untuk bekal tidak hanya di dunia tapi sampai di akhirat kelak.
Haikal belajar di sekolah swasta, untuk naik kelas dia harus menyediakan sejumlah uang. Biaya di kelas 6 juga tidak sedikit nanti, ada jam tambahan, les dan juga buku-buku khusus untuk menghadapi Ujian Nasional. Meilinda memikirkan untuk mencairkan salah satu deposito peninggalan Hamdan, tapi ada rasa khawatir apa yang akan terjadi dikemudian hari. Sanggup kah dia membiayai sekolah Haikal sampai jenjang yang lebih tinggi, lama kelamaan tabungan itu juga akan habis. Sedangkan gaji yang dia dapat saat ini, hanya cukup untuk biaya sehari-hari dan uang bulanan sekolah Haikal.
'Astaghfirullah... Rezeki itu sudah Allah atur, aku harus tetap yakin pada ketentuan Allah. Ya Allah, ampuni hamba yang sempat meragukan ke Agungan Mu, tiada daya dan upaya selain atas ridho Mu ya Allah.' Ratap Meilinda dalam munajatnya.
Dia tutup doanya dengan shalat sunah Taubat, shalat hajat dan shalat witir. Dilipatnya mukena penuh kenangan itu, diletakkan dengan hati-hati mirip seperti petugas paskibraka yang menyerahkan bendera pusaka saat upacara peringatan kemerdekaan Republik Indonesia.
__ADS_1
Segera dia merebahkan diri untuk beristirahat. Ditatapnya sisi tempat tidur yang kosong, terkenang wajah Hamdan tidur berbantalkan telapak tangannya. Hamdan memang terbiasa tidur dengan posisi miring, sehingga Meilinda bisa dengan leluasa menatap wajah suaminya. Wajah seorang lelaki yang dicintai dan disayanginya, wajah seorang ayah yang bertanggung jawab terhadap keluarganya. Wajah yang memancarkan keteduhan dihiasi lelah setelah berjuang seharian mencari nafkah untuk keluarga. Itu lah wajah yang saat ini tidak bisa lagi dia lihat disampingnya, wajah yang selalu dia rindukan.
Diapun terlelap menyisakan tetesan air disudut matanya yang tidak terhapus karena dia pun tidak menyadarinya.
Selepas mengantar Haikal ke sekolah, Meilinda melajukan motornya menuju rumah ibu mertuanya. Sudah biasa jika dia tidak bekerja dan tidak ada yang harus dilakukan, maka dia mampir sekedar melihat keadaan ibu dan adiknya. Toko terlihat lumayan ramai pagi itu, Meilinda segera membantu Gendis menata sembako yang akan dijual kedalam rak.
"Gimana skripsimu, dek?" Tanyanya disela-sela kegiatannya.
"Alhamdulillah mba, sudah masuk bab terakhir. Semoga bulan depan sudah bisa ajukan sidang." Jawab Gendis dengan semangat.
"Aamin, mba doakan lancar ya..." Ucapnya.
"Ical mana, mba kok ndak ikut?" Gendis celingukan mencari keberadaan keponakan kesayangannya, karena memang cuma satu-satunya.
"Naik kelas 6 ya, mba?Ndak kerasa ya..." Gendis cengengesan. Dia ingat bagaimana reaksi keponakan gempalnya itu setiap kali dia goda dan jahilin.
Meilinda yang sedang sibuk langsung menekan icon menjawab saat mendengar HP nya berbunyi tanpa melihat siapa yang menghubunginya.
"Lind... Halo, ini beneran Linda kan? Tolong jangan ditutup, aku perlu ngomong sama kamu." Meilinda memastikan pemilik suara itu dengan melihat layar HP nya.
"Maaf, saya sedang sibuk." Ucapnya bermaksud mematikan hubungan.
"Aku mohon, Lind. Aku ga mau menyesal seumur hidup aku, beri aku kesempatan satu kali saja sebelum aku memutuskan jalan hidupku. Please, Lind." Ada rasa iba dalam hati Meilinda mendengan suara Revan diseberang. Dia rasa Revan sedang bersungguh-sungguh, dalam penilaiannya seorang Revan tidak mungkin sampai memohon jika memang tidak benar-benar terdesak.
__ADS_1
"Apa yang Anda inginkan?" Tanya Linda.
"Kita ketemuan, ada yang ingin aku sampaikan. Please... Setelah itu kalau kamu menginginkan, aku tidak akan mengganggumu lagi." Pinta Revan.
"Saya ndak bisa janji, nanti saya kabari." Jawab Meilinda dan memutuskan hubungan tanpa menunggu persetujuan orang diseberangnya.
"Siapa, mbak... kok serius amat ngomongnya?" Gendis berbisik sambil melihat Meilinda yang memasukkan HP nya dalam saku.
"Orang ga jelas... Udah, ayok beresin lagi." Elaknya.
Setiap hari Revan selalu menghubungi Linda menanyakan kapan bisa bertemu, seringkali Linda tidak menjawab telfon darinya. Dia juga rajin mengirim chat, kadang menanyakan keberadaan Linda, mengingatkan untuk makan dan perhatian-perhatian kecil lainnya. Walau tidak pernah mendapatkan balasan, tapi dia selalu merasa senang jika pesannya terkirim. Kemudian merasa exited dan cemas menunggu jawaban atau sekedar tanda pesannya terbaca. Tingkahnya sudah seperti anak remaja yang sedang jatuh cinta.
Sudah 3 hari Revan menunggu kapan sekiranya bisa bertemu Linda. Semakin hari Revan semakin merindukan sosok Linda, Revan sendiri tidak mengerti. Linda yang selalu menghindarinya, bahkan menatap matanya pun dia rasanya enggan, membuatnya penasaran. Linda itu istimewa, dia tidak tergoda pada wajah tampan dan kekayaan yang dia miliki. Matanya yang teduh dan sayu, sangat menyejukkan.
Katering selalu diantarkan Tejo, dan dari dia lah Revan tahu kalau Linda menjemput Haikal yang pulang cepat karena sudah selesai ujian.
Akhirnya dia harus nekat, waktunya tidak banyak. Dia harus bertemu Linda secepatnya, dia tidak mau menyesal karena keputusan yang salah.
.
.
.
__ADS_1
.