
"Maaf pak Revan, jika ingin bertamu silakan tunggu di ruang tunggu untuk tamu. Hari ini kebetulan ustadz Abdul sudah kembali, mari saya antar." Terpogoh-pogoh kepala keamanan menghampiri ketika melihat Revan datang.
Baru saja dia melaporkan pada ustadz Abdul soal kedatangan lelaki itu ke pondok pesantren ini kemarin, sempat tidak terima dan tidak percaya mendengar Abdul dan Meilinda tidak dirumah, eh ini udah nongol lagi.
Revan diantar sampai pintu depan kantor pondok, kemudian dipersilahkan masuk dan bersalaman dengan Abdul dan saling menyapa.
"Anda kembali?" Abdul berkata masih dengan nada ramah.
"Tentu saja, saya tidak akan menyerah dengan mudah. Bisa bertemu dengan Linda?"
"Pagi ini dia mengunjungi rumah singgah kami, Meilinda memang bertanggungjawab mengelola dan mendampingi anak-anak yang terlantar disana. Mungkin siang nanti baru akan kembali, apa anda akan menunggu?"
"Sudah pasti, jauh-jauh saya datang kesini tidak ingin pulang begitu saja tanpa hasil." Mereka berjabat tangan, kemudian Revan keluar. Dia berpapasan dengan Haikal yang menggandeng seorang bocah kecil, sekilas dia mendengar percakapan didalam.
"A-bah..." Ucap Khansa terpatah-patah.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam, MasyaaAllah putri abah pintarnya, rewel gak?" Abdul memangku Khansa.
"Ndak kok ya, Sasa pintar tadi, tapi maaf Abah, Haikal sudah mau masuk kelas lagi jadi gak bisa jagain makanya ta anter kesini aja."
"Iya, mas, makasih ya...cepat kembali ke kelas nanti terlambat, belajar yang baik ya..." Haikal mencium punggung tangan Abdul dibalas dengan usapan dikepalanya.
"Assalamualaikum..."
__ADS_1
"Waalaikumsalam..."
Ketika Haikal keluar, Revan sudah tidak ada disana.
'Mereka sudah punya anak? Tapi tidak mungkin, umur anak itu sepertinya sudah besar. Jadi ustadz itu punya istri lain? Apa wanita itu istrinya?' Benak Revan, menunggu sambil duduk didalam mobilnya. Melihat lurus kearah rumah, memandangi wanita yang masih setia didepan rumah.
Tidak lama Abdul melewatinya dengan menggendong Khansa, berjalan kearah wanita itu. Setelah menyerahkan bocah itu yang langsung diterima dengan suka cita, Abdul masuk kedalam masjid.
Ingin sekali Revan turun dan bertanya langsung pada wanita itu, tapi dia tidak mau lagi mencari keributan yang berujung diusirnya sebelum dia bertemu Meilinda. Dia dapat melihat di pos keamanan, tampak kepala keamanan berdiri dan terus memandangi, mengawasi gerak-geriknya.
Tidak lama kemudian dapat dilihatnya dikejauhan wanita itu terlihat mencari-cari sesuatu, dan melihat HPnya.
"Halo, ini aku yang tadi meminta nomor HP mu. Sekarang aku sedang dalam mobil dan bisa melihatmu dari sini, tapi peraturan ditempat ini pasti tidak membolehkan aku bicara langsung padamu." Mutiyah memandang samar-samar lelaki dibalik kemudi mobil yang terparkir.
"Oke, Mutiyah, apa benar Meilinda tidak dirumah? Apakah anak yang bersamamu itu adalah anakmu? Jadi itu anaknya ustadz dari kakakmu, dia istri pertama ustadz dan sudah meninggal?"
Pembicaraan terus berlangsung, sesekali Mutiyah menjawab singkat pertanyaan yang dia tahu atau hanya sekedar mengangguk dan menggeleng karena dia yakin lelaki yang berbicara dengannya dapat melihat. Dia tetap memperhatikan dan memgawasi Khansa yang bermain dibawah pohon rindang didepan rumah utama itu.
Mutiyah mengajak Khansa masuk rumah setelah menutup telfonnya, mereka kemudian bermain didalam rumah. Menurut Mutiyah akan lebih aman jika mereka bermain didalam, lebih mudah mengawasi dan tidak terlalu lelah karena dia bisa sambil duduk-duduk.
Mutiyah kembali mengingat percakapan dengan lelaki yang bernama Revan itu, 'mengapa dia tertarik betul ingin tahu perkara ayu Mey, apa dia mantan suaminya? Tidak, yang aku dengar suami ayu Mey meninggal karena sakit.' Saking asyiknya melamun sampai dia tidak menyadari seseorang masuk, dia bahkan tidak membalas salam yang diucapkannya.
"Bunda belum pulang ya?" Mutiyah menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Aisyah yang masuk kerumah melalui pintu penghubung asrama putri. "Khansa ikut bibi kebelakang yuk, disana ada ayunan, ada kolam ikan, nanti main sama teteh-teteh juga."
Aisyah menggandeng tangan mungil Khansa tanpa berniat meminta persetujuan dari Mutiyah yang awalnya akan menolak tapi kalah cepat karena Aisyah sudah lebih dulu pergi, akhirnya dia mengikuti dibelakang dengan tatapan kesal.
__ADS_1
Saat pagi tadi menyiapkan sarapan dibelakang memang sempat dia mengintip halaman asrama ini, tapi ini pertama kalinya dia benar-benar berada dihalaman yang lumayan luas itu. Mutiyah tidak shalat di masjid karena menjaga Khansa. Santriwati sedang belajar di ruang kelas, dari kejauhan terdengar sayup-sayup suara riuh anak-anak belajar. Gedung sekolah pun bisa terlihat dari halaman itu, disudut selatan berdampingan dengan gedung kantor.
Khansa terlihat senang, dia tertawa-tawa riang. Mutiyah sebenarnya ikut senang melihat Khansa yang sudah dia anggap putrinya sendiri itu, tapi hati kecilnya merasakan sakit. Sepertinya dia bukan lagi satu-satunya orang yang anak itu butuhkan. Semenjak tinggal disini, Khansa semakin lama semakin bisa lepas darinya. Jika dulu, lima menit saja tidak dilihat sosoknya maka dia akan menangis. Tapi tadi, hampir dua jam Khansa bersama Abahnya tapi tidak dilihatnya bekas menangis disana. Sekarang, dia bermain asyik sepertinya tidak merasa kehilangan dirinya yang biasa selalu didekatnya.
"Kalau merasa bosan, gabung kita saja disini. Ustadzah-ustadzah disini pasti senang ada tambahan tenaga, Khansa bisa bermain aman dilingkungan ini, tetap bisa diawasi." Ucap Aisyah mendekati Mutiyah yang terlihat murung.
"Nanti Sasa terjatuh, ayu, kalau tidak didampingi."
"Panggil teh Ais saja. Jatuh ya gak apa-apa, luka sedikit sebentar saja sembuh. Khansa akan belajar berhati-hati setelah itu. Putri teteh ada dua, sudah besar-besar sekarang, mereka menjadi pribadi yang mandiri jika kita membiarkannya berkembang. InsyaaAllah tidak apa-apa, yakin lah sama Allah."
"Atau ikut bunda, biasanya bunda hari-hari dihabiskan di rumah singgah bersama anak-anak terlantar. Usia mereka beragam, walau lebih besar dari Sasa tapi masih bisa mengajaknya bermain."
"Teteh adalah orang paling dekat dengan Ummi setelah ustadz Abdul di pondok ini, teteh mengerti sekali rasa kehilanganmu. Bagaimana perjuangan Ummi untuk Khansa tapi kemudian terpaksa berpisah jauh, itu sebabnya Ummi dan ustadz Abdul membangun rumah singgah. Agar anak-anak yang kurang beruntung tidak mendapatkan pendidikan atau terbuang dari keluarganya tetap mendapat kasih sayang, tapi kondisi Ummi semakin lemah jadi tidak bisa ikut mengembangkan. Sekarang bunda yang menggantikannya, sungguh Ummi sangat bahagia setelah bertemu bunda."
"Mutiyah, bukan kah Ummi juga sudah memintamu untuk menyerahkan Khansa pada bunda?" Mutiyah mengangguk perlahan sambil menundukkan kepala, menyembunyikan bulir-bulir air mata. Aisyah membelai punggung Mutiyah, dan menggenggam tangannya. Setelah dirasa sudah tenang, Aisyah meninggalkan Mutiyah yang tetap mengawasi Khansa bermain.
Mutiyah merasa semua orang di pesantren ini menginginkan Khansa jauh darinya, itu membuatnya sedih, dia merasa sendiri. Dia tidak mau ada yang mengambil putrinya, hanya Abahnya yang boleh, bahkan wanita yang sekarang menjadi istri dari ustadz itu tidak berhak. Dia yang lebih dulu diperkenalkan dengan ustadz, dia yang seharusnya mendampingi. Satu tetes air mata kembali lolos dari matanya, tapi kemudian segera dia sembunyikan. 'Mungkin lelaki itu bisa membantunya.' Batin Mutiyah.
.
.
.
.
__ADS_1