Cinta Pertama Ustadz

Cinta Pertama Ustadz
35.


__ADS_3

Assalamualaikum temans,


Alhamdulillah makin bertambah pengunjung novel perdana ini, jadi makin semangat nihh...


Demi kalian aku crazy up nih...


Happy readings,


♡♡♡♡


"Bu...pasien sudah sadar..." Suara perawat membangunkannya dari lamunan panjang. Meilinda mengemas barang-barang, menyimpannya dalam loker kemudian mencuci tangan agar bisa masuk kedalam ruang ICU.


"Assalamualaikum..." Salamnya sambil tersenyum pada Ummi.


"Waalaikumsalam..."


"Tadi sudah diperiksa dokter ya, Um. Semoga hasilnya baik ya...setelah ketemu dokter, ustadz pulang dulu untuk istirahat, nanti sore kembali lagi." Papar Meilinda. Ummi mengangguk lemah.


Meilinda bercerita tentang keadaan pesantren, santriwati dan juga Aisyah yang membantunya mengaji. Ummi senang mendengar cerita Mei, tidak lama kekuatannya sudah bertambah sedikit. Sudah biasa jika bangun tidur Ummi akan merasa lemah, tapi setelah beradaptasi kondisinya akan berangsung lebih baik.


"Sudah shalat istikharah, bund? Sebetulnya petunjuknya itu sudah jelas, bahkan hadir juga dalam mimpi Ummi. Sudah sedikit lega rasanya, bund. Allah memang Maha Mengetahui yang terbaik untuk hambaNya."


Meilinda mengangguk-anggukkan kepala. Bingung memulai kalimat, memilah dan menimbang agar tidak ada kata yang salah atau keliru.


"Beneran? Alhamdulillah, terimakasih bund." Air mata haru menetes dari mata Ummi, puja dan puji mengalir dari mulutnya. Meilinda ikut menangis, hatinya kacau, pikirannya buntu.


"Abah harus segera ke kantor desa, daftarkan pengajuannya. Bantu dilengkapi ya, bund surat-suratnya." Meilinda menggelengkan kepala sambil berusaha menahan isak tangisnya. Ummi memandangnya dengan tatapan penuh tanya.


"Secara agama saja, Um. Mei tidak membawa surat-surat yang diperlukan, semua ada dirumah." Jawabnya beralasan. Ummi menghela nafas berat, tapi dia tidak menyalahkan Meilinda. Tetap rasa syukur disematkan dalam hati, karena Meilinda sudah mau menerimanya saja sudah membuatnya bahagia.


'Ya Allah, kuatkan hamba. Beri kesempatan hamba melakukannya dengan baik dan benar, Engkau sebaik-baik perencana, Engkau tak akan memberi cobaan yang tidak mampu ditanggung oleh hambaMu. Insyaallah hamba sanggup menahan sakit ini sedikit lagi, mungkin Engkau begitu menyayangi hamba, masih banyak dosa hamba yang harus dilebur' doa Ummi dalam bathin.


Sore hari Abdul sudah datang kerumah sakit, Meilinda segera pamit pulang. Ummi menyambut kedatangannya dengan senyum bahagia. Seharusnya Abdul senang melihatnya, tapi entah lah apa namanya, hatinya merasa tidak ikhlas.


"Abah ini lucu, calon pengantin kok cemberut. Apa pun kondisinya kita syukuri ya, Bah. Insyaallah, suatu hari nanti pasti akan terbuka juga. Yang sabar ya, kali ini Abah harus usaha nih memenangkan hatinya... Tidak sulit untuk luluh pada Abah kok, usaha dikiiiitt aja cukup lah." Godanya.


Tidak lama dokter datang memeriksa, Abdul menunggu diluar.


"Kemajuan hari ini bagus sekali, sepertinya istri anda mendapat semangat baru. Syukurlah, terus tingkatkan. Nanti malam bisa dipindahkan ke ruang perawatan." Tutur dokter. Abdul bernafas lega, memang luar biasa efek dari berita itu.

__ADS_1


Semalaman Abdul berfikir, permintaan Ummi, permintaan Mey. Ya Allah, bagaimana orang bisa berfikir untuk berpoligami belum-belum Abdul sudah merasa pening tujuh keliling. Setelah mengambil air wudhu dia sedikit merasakan sejuk, dia gelar sejadah disamping tempat tidur. Setelah dikamar perawatan, Abdul jadi lebih leluasa menjaga Ummi. Tapi secanggih apa pun fasilitas rumah sakit, tetap tempat yang paling nyaman adalah rumah sendiri.


Kini Abdul bisa berfikir lebih jernih, mengabulkan permintaan Ummi berarti mengorbankan perasaan Mey. Walaupun Mey bersedia, tapi terlihat jelas bahwa dia tertekan. Membatalkan rencana berarti mengecewakan Ummi, dan setelah sekian lama dia bisa bertemu kembali dengan Mey. Ya Allah takdirMu memang luar biasa.


Abdul: Assalamualaikum, sudah tidur Mey?


Mey: waalaikumsalam, belum.


Abdul: Udah malem loh, kok belum tidur? Sepi yah dirumah?


Mey: Udah biasa.


Abdul: Ummi sudah dikamar perawatan malam ini, besok datang ya ke rumah sakit?


Mey: InsyaaAllah.


Pagi itu selepas melaksanakan shalat subuh, Abdul kembali ke kamar rawat. Diliatnya Ummi masih tertidur, dia mencoba membangunkan untuk membantu nya shalat. Ummi tidak juga bangun, tubuhnya lemah, wajahnya pucat. Abdul segera menekan bel memanggil perawat, tidak lama kemudian perawat datang memeriksa.


Salah satu perawat segera kembali ke ruangannya untuk menghubungi dokter, penanganan darurat dilakukan setelah dokter jaga datang sambil menunggu dokter spesialis datang.


"Abah...tolong lakukan ijab qobul hari ini juga, Ummi mohon." Ucap Ummi dengan lirih. Abdul menggenggam tangan Ummi dan mengangguk. "Telfon teh Ais, minta dia membantu Mey bersiap. Minta Kang Arief menghubungi bapak penghulu, sekarang ya..." Lanjutnya.


Meilinda melihat raut muka Aisyah berubah tegang, hanya 'iya, baik" yang bisa dia dengar dari percakapan itu, sesekali dia melirik Meilinda.


"Ummi drop lagi, nanti kita kesana sama-sama. Maaf Ais mau cari kang Arief dulu."


"Astaghfirullah, tapi ustadz Abdul bilang semalam Ummi sudah pindah ke kamar perawatan." Ucap Meilinda.


"Kita doakan saja semoga tidak ada apa-apa, Ummi masih diruang perawatan sekarang."


Meilinda mengaji sendiri dalam masjid, air mata meleleh perlahan. Lama dia tetap bertahan disana, sampai Aisyah datang mendekatinya.


"Bund, dicari-cari dirumah ternyata masih disini. Ayo bersiap, Ais bantu." Meilinda menatap Aisyah penuh tanya, tidak biasanya dia menemani sampai kedalam rumah. "Bunda mandi saja dulu, nanti Ais siapkan bajunya yang bunda pakai di kamar ya." Tanpa menunggu Meilinda mengajukan pertanyaan, Aisyah sudah berlalu menuju kamar utama.


Selesai mandi, Meilinda masuk kedalam kamar. Diatas kasur Meilinda melihat baju gamis berwarna putih, bukan miliknya, cantik sekali.


"Kok malah bengong, lebih baik kita sarapan dulu deh biar make up nya gak luntur nanti."


"Make up? Untuk apa?"

__ADS_1


"Bagaimanapun juga, pengantin harus terlihat cantik. Makanya kita sarapan dulu, nanti pucet berkurang cantiknya, lebih gawat lagi sampai pingsan. Hayu..." Aisyah menarik tangan Meilinda menuju meja makan.


"Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam..." Aisyah segera beranjak kedepan, Meilinda sepertinya merasa itu suara Haikal tapi Aisyah memintanya untuk tetap duduk dan melanjutkan sarapannya.


"Bunda..."


"Haikal sehat, nak?" Meilinda memeluk dan mencium puncak kepala putranya itu. Walau mereka berada di pondok pesantren yang sama tapi karena area yang berbeda maka jarang bertemu. Haikal menganggukkan kepalanya.


"Barusan ustadz Abdul video call, bund. Ustadz minta izin, katanya mau menikahi bunda..." Meilinda tersedak mendengar ucapan Haikal. Ya Allah, bukan begini rencananya. Dia bermaksud memberitahu Haikal pelan-pelan nanti, kenapa semua jadi serba terburu-buru dan mendadak ya. Meilinda menatap Haikal menyelidik.


"Lalu, Haikal jawab apa?"


"Ustadz bilang bunda sudah setuju, Haikal sih gimana bunda saja." Meilinda terdiam kehilangan kata-kata.


"Haikal sih setuju saja, jadi bunda bakal tinggal disini terus kan. Ustadz juga pasti bisa jagain bunda, bunda juga bisa jagain ustadz. Ummi juga lagi sakit katanya ya, dirumah sakit."


"Ayok Haikal ikut sarapan yah, nanti ikut ustadz Arief jemput penghulu." Aisyah memberikan piring kepada Haikal. Sungguh Meilinda kehilangan kata-kata, dia hanya bisa pasrah. Kejadian yang serba mendadak itu, serba cepat, tapi mulus lancar terorganisir baik. Sepertinya memang Allah yang memberi jalan seperti jalan tol bebas hambatan.


Aisyah sibuk didapur memberi instruksi pada bik Asih, kembali ke meja makan setelah Meilinda dan Haikal selesai sarapan. Membawakan piring kotor kebelakang, mendorong Meilinda untuk masuk ke kamar dan berganti pakaian dengan yang telah dia siapkan. Sedangkan Haikal segera keluar mencari ustadz Arief.


"Bunda mau dandan sendiri atau apa perlu kita ke salon? Ummi punya sedikit alat make up sih dikamar, Ais juga bisa sih sedikit dandanin."


"Sendiri aja, teh. Gak perlu pake ke salon segala, kayak apa aja." Aisyah membawakan alat make up dari kamar utama. Meilinda mengaplikasikan beberapa diwajahnya tipis-tipis saja, walau sudah lama dia tidak pernah lagi menggunakannya tapi dia belum lupa caranya.


Tidak butuh waktu terlalu lama, Meilinda sudah selesai.


"MasyaaAllah bunda, cantik sekali." Aisyah berteriak histeris.


Meilinda menatap pantulan bayangannya di cermin, harus dia akui memang penampilannya memuaskan. Satu yang kurang disana, sulit sekali dia tersenyum. Menyadari bahwa hari itu dia akan menikah dengan ustadz Abdul.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2