
Ustadz Arief mempersilahkan Revan menempati rumah tamu paling ujung, dekat dengan pos satpam. Revan melihat ruangan yang hanya berupa petak dengan kasur yang diletakkan dilantai dengan alas tikar dan kamar mandi kecil, dia sempat mempertimbangkan keputusannya. Tiba-tiba dari kejauhan dia melihat motor melaju dari depan rumah utama, tidak begitu jelas memang pengendaranya namun dia yakin itu adalah Meilinda, wanita yang dia rindukan.
"Baik, pak, kalau begitu saya permisi. Ada beberapa hal yang harus saya kerjakan dulu di kota, nanti sore saya kembali lagi disini. Permisi." Ucap Revan kemudian beranjang tanpa menunggu jawaban dari ustadz Arief yang hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Arief segera kembali ke kantornya, mengurus dana yang baru saja disumbangkan oleh keluarga Gunawan untuk pembangunan pondok pesantren Babussalam. Alhamdulillah semakin banyak jamaah ustadz Abdul yang tergerak hatinya, salah satunya bapak Gunawan yang mulai tertarik belajar agama Islam.
Malam harinya Revan sudah kembali dengan beberapa barang yang dia beli dari kota untuk mengisi kamar yang akan dia tempati beberapa hari kedepan, dia terlihat duduk-duduk didepan kamar memperhatikan aktivitas diluar, lebih tepatnya dia memperhatikan rumah utama.
"Assalamualaikum tadz, punten tamu yang didepan tidak diajak ke masjid sama-sama?" Ustadz yang merangkap keamanan pondok menghampiri dan bertanya pada ustadz Arief.
"Tidak, tadz, dia nasrani, keperluannya meninjau dana yang disalurkan ke pondok kita. Wallahu alam apakah ada niat lain yang terselubung, sebaiknya kita tidak zu'uzhon dulu." Jawab Arief yang mengerti kekhawatirannya.
"Tadi pagi beliau bermaksud ketemu bunda katanya, pantas saja tidak paham adab. Ustadz Abdul tidak dirumah kan ya, apa tidak sebaiknya ada yang menemani bunda, tadz. Ana khawatir liat gelagatnya, dari tadi terus memperhatikan rumah itu." Arief mengangguk-angguk mendengar laporan itu.
Adzan Isya berkumandang, santri mulai beranjak menuju masjid. Revan memperhatikan dalam penerangan yang temaram, mencoba mencari wajah yang mungkin dia kenal. 'Mengapa hanya laki-laki yang terlihat? Apa tempat ini isinya hanya laki-laki? Tidak, tadi dari rumah itu ada perempuan, sepertinya Linda, keluar naik motor. Tapi mengapa sekarang tidak kelihatan?' Benak Revan
Dia yakin sekali kalau Linda akan beribadah di masjid, dia ingat dulu saat menjemput Haikal dari sekolah pun dia mengantar Linda ke masjid. Sia-sia sudah dia selama satu jam berdiri didepan sini, seharian ini dia belum bisa menemui Linda.
"Permisi, pak. Maaf bapak mau ikut makan malam dengan kami di pondok atau kami bawakan kesini ya?" Tanya salah satu santri yang mendapat tugas di dapur, seusai shalat Isya.
"Gak perlu, saya udah pesan makanan." Jawab Revan ketus, santri itu akhirnya pamit. "Tunggu, sini saya mau tanya. Dirumah itu ada siapa aja?" Tanya Revan menunjuk rumah utama.
"Itu rumah ustadz Abdul dan keluarga, ya ada ustadz Abdul dan Bunda disana." Jawab santri itu.
"Cuma berdua aja? Gak ada yang lain?" Revan memastikan dan dijawab gelengan kepala membuatnya tertegun. 'Apa mungkin Linda menikah dengan ustadznya?'
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam, loh teh Ais ada apa ya malam-malam?" Aisyah masuk kedalam rumah utama melalui pintu penghubung dengan asrama akhwat.
"Mau menemani bunda disini, tadi kang Arief yang minta."
"Hah...tumben, ada apa?"
"Bunda coba sini, bunda tahu tidak tamu yang sekarang tinggal dirumah tamu depan?" Meilinda mengikuti Aisyah mengintip dari jendela rumah, hari sudah malam sehingga mereka tidak bisa melihat dengan jelas.
"Ndak ada siapa-siapa tuh, teh. Emang kita kedatangan tamu ya?"
"Kang Arief cerita ada laki-laki mengantarkan dana sumbangan pembangunan pondok, lalu meminta untuk tinggal disini mengawasi penyaluran dana katanya. Rasanya kan aneh, memberi sumbangan tapi terkesan tidak percaya. Padahal pemberi dana bukan pertama kalinya ini, biasanya hanya transfer dan sudah percaya."
"Ya ndak apa-apa toh, teh. Biarkan tinggal disana, ada yang mengawasi juga, memang dia mau apa di pondok begini. Mobilnya juga kelihatannya mewah, bukan mau merampok kan?"
__ADS_1
"Bukan begitu, bun. Kang Arief dapat laporan tingkah lakunya mencurigakan, tadi pagi ketok-ketok kesini padahal kang Arief sudah bilang kalau kang Abdul lagi keluar kota. Terus katanya ngeliatin terus rumah sini, bukan kita mau zu'uzhon tapi waspada kan lebih baik."
"Maksudnya apa ya, teh?" Aisyah mengangkat bahunya.
"Malam ini biar Ais temenin bunda dulu." Mereka beranjak masuk kedalam.
Setelah lelah karena bosan, Revan masuk kedalam kamar dan merebahkan diri. Ruangan itu sebenarnya bersih, tapi untuk seorang Revan yang terbiasa dengan kamar yang luas merasa sesak. Dia hanya bisa membolak-balikan badannya, setiap sisi yang dilihat hanya dinding.
Langit masih gelap, namun Revan yang merasa baru saja memejamkan mata merasa terganggu dengan suara keras dari luar. Sejenak dia termenung, mengumpulkan kesadarannya. Suara itu, suara yang sering terdengar keras, kemudian orang-orang pergi ke arah suara, ke masjid. Dia ingat, dulu saat menunggui Haikal pulang sekolah, pernah dia merasa takjub sejenak.
Segera dia membuka pintu dan berdiri terpaku disana, menyaksikan satu persatu orang masuk kedalam masjid dengan tertib. Samar dia melihat satu sosok yang dikenalinya.
"Haikal..!" Anak laki-laki yang merasa namanya dipanggil menoleh dan berjalan kearah seorang lelaki yang melambai-lambaikan tangan.
"Om Revan masih disini?"
"Bunda mana?"
"Bunda...? Pasti sudah didalam masjid, atau mungkin masih dirumah."
"Nanti lewat sini kan, kalau ke masjid?"
"Ndak, om. Kalau akhwat lewat dalam, bunda juga dari dalam."
"Ndak bisa begitu, om. Santri tidak boleh masuk wilayah asrama akhwat. Maaf om, Haikal harus cepat-cepat ke masjid nanti kena hukum."
'Ini maksudnya gimana, ya? Kok kayaknya ribet amat peraturannya. Jadi Linda ga lewat sini kalau ke masjid, cih...percuma aku sedari kemarin berdiri disini udah kayak satpam aja, s****n!'. Revan memaki-maki dalam hati, segera dia masuk kedalam mengambil kunci mobil, dompet dan HP nya meninggalkan pondok dengan kesal.
Siang itu, menjelang Ashar Meilinda mengendarai maticnya kembali dari rumah singgah. Dia menjalankan motornya perlahan sambil menikmati suasana sawah disepanjang jalan, hijabnya melambai-lambai tertiup angin. Dia memang tidak terburu-buru, karena suaminya sedang diluar kota maka tidak akan ada yang menungguinya.
Meilinda tidak tahu bahwa hampir dua jam seseorang sedang menunggunya datang, berharap bisa bertemu dan berbincang lagi dengannya. Yah, Revan kembali ke pondok setelah dia melanjutkan tidur di hotel di kota dan makan siang. Bukan Revan namanya jika tidak mendapatkan apa yang dia inginkan. Dulu dia memilih mundur dan melepaskan Linda, tapi tidak sekarang setelah lama dia mencarinya. Apapun keadaannya sekarang, dia harus mendapatkan Linda.
"Hai, Lind. Apa kabar?"
Revan yang sudah melihat sebuah motor matic dari kejauhan langsung mendekatinya, ketika Meilinda sudah sampai didepan rumah dan memarkirkan maticnya. Meilinda reflek menoleh ke arah suara, tidak lama kemudian langsung menundukkan pandangannya karena tahu yang menyapanya seorang laki-laki.
"Masih ingat kan, aku Revan."
Meilinda terkejut mendengar nama itu... Ingatannya kembali ke Jawa, di kantor XX, di cafe itu bersama Naura. 'Mau apa laki-laki ini disini?' Benaknya.
"Maaf, sudah hampir Ashar, saya masuk dulu. Jika ada perlu silahkan di kantor, bisa bertemu dengan ustadz Arief." Ucap Meilinda dan segera beranjak.
__ADS_1
"Tunggu, Lind! Aku kesini mau ketemu kamu!" Setengah berteriak Revan berkata, dia mencoba menghalangi langkah Meilinda. Setidaknya dia masih ingat bahwa wanita dihadapannya ini paling anti disentuh.
"Maaf, pak Revan. Ini lingkungan pondok pesantren, laki-laki dan perempuan dilarang untuk bertemu apalagi berbicara berdua. Saya mohon permisi." Jawab Meilinda dengan suara tegas namun tetap menjaga pandangannya.
"Setidaknya aku sudah tahu tempat tinggalmu sekarang, dan kali ini aku tidak akan melepaskanmu." Ucap Revan membiarkan Meilinda pergi meninggalkannya dan masuk kedalam rumah, senyum mengembang di bibirnya.
Beberapa santri yang sedang mutola'ah di serambi masjid menyaksikan kejadian itu, mereka bertanya-tanya dalam hati, tanpa berani mengungkapkan karena menyangkut keluarga dari pemilik pondokan. Petugas keamanan yang juga menyaksikan dan selalu memperhatikan gerak-gerik sang tamu pun tidak luput melihat, bahkan lebih bisa menangkap lebih jelas percakapan yang dilakukan karena rumah utama memang berdekatan dengan pos keamanan. Dia beranjak menuju gedung kantor.
Arief yang mendengar laporan menganggukkan kepala, pembicaraan terputus karena sudah waktunya shalat ashar. Kegiatan perkantoran di pondok pun berakhir menjelang Ashar, maka sekalian petugas keamanan mengunci ruangan itu setelah Arief keluar menuju masjid.
"Permisi, pak Revan, maaf saya mengganggu istirahat anda. Boleh kita berbicara sebentar?"
"Soal apa ya, pak?"
"Saya mau melaporkan dana yang diterima pondok dari pak Gunawan."
"Soal itu, anda bisa lakukan apa saja uang itu. Lagi pula itu uang dari papa, bukan dariku."
"Bukannya pak Revan mengatakan tujuan tinggal disini karena ingin memantau langsung soal dana tersebut?"
Memang Arief sengaja memancing pembicaraan dengan tamunya itu, karena kecurigaannya tentang maksud sebenarnya.
"Oh itu, iya...itu..."
"Sekali lagi saya minta maaf, pak Revan. Apa sebenarnya niatan anda disini, karena tidak biasanya pak Gunawan meminta orang mengawasi. Saya juga mendapat laporan bahwa anda ingin menemui seorang ustadzah disini."
"Meilinda, saya teman dekatnya. Memang betul saya disini ingin bertemu dengannya, apa itu salah?"
"Tentu saja salah, saat ini beliau ada dalam perlindungan pondok. Jika ingin bertemu, anda bisa menghubungi kami dan menemuinya di ruang tamu. Ini salah satu aturan di pondok ini, pak. Tapi sepertinya, anda harus menunggu ustadz Abdul jika ingin menemui beliau."
"Kenapa begitu?"
"Akan lebih baik jika bunda ditemani ustadz Abdul jika ingin bertemu yang bukan mahramnya, saya yakin bunda juga tidak akan mau bertemu anda tanpa didampingi suaminya."
"Suami?! Meilinda sudah menikah lagi?"
.
.
.
__ADS_1
.