Cinta Pertama Ustadz

Cinta Pertama Ustadz
64.


__ADS_3

"Abah hari ini mengantar Mutiyah ke kantor polisi jam berapa?" Tanya Meilinda mewakili pertanyaan Mutiyah keesokan paginya saat sarapan bersama.


"Kita berangkat agak pagi ya, sekalian ada ramah tamah dengan salah satu jamaah. Bunda ikut saja, siap-siap sama Khansa, kan kita gak pernah jalan-jalan bareng." Jawab Abdul.


Rombongan berangkat setelah semua siap, Saeful seperti biasa setia mendampingi sang ustadz yang duduk di kursi penumpang di depan. Meilinda, Mutiyah dan Khansa duduk di belakang.


"Pul, nanti ente turunkan ana di rumah Haji Somad, gak perlu ditungguin ana sama bunda diajak bareng-bareng naek mobilnya. Ente anter ke kantor polisi aja, tungguin disana jangan kelayapan!" Titah Abdul.


"Aahh ustadz, emang pernah apa ana kelayapan biasanya juga setia nunggu kok. Ustadz aja ana tungguin apa lagi ini..." Jawab Saeful sambil melirik Mutiyah di belakang dari kaca spion mobil.


"Bisa aja ente, inget masih belum halal, banyakin istighfar biar ga digoda shaiton."


Mutiyah bukannya tidak mendengar obrolan yang menggodanya di depan, tapi dia memilih untuk tidak bereaksi. Hatinya masih bimbang.


Tidak berapa lama mereka sampai di kediaman Haji Somad, Saeful hanya menurunkan Abdul, Meilinda dan Khansa saja tanpa ikut turun sesuai dengan instruksi Abdul karena harus segera ke kantor polisi.


Setelah memarkirkan mobilnya, Saeful berjalan mengikuti Mutiyah dari belakang.


"Saya bisa sendiri, tadz, tidak perlu ditemani."


"Tidak apa-apa, dek, ana juga bosan kalau cuma di mobil hehe"


Mutiyah tidak membantah, setelah melapor Mutiyah diminta untuk duduk di kursi tunggu. Saeful berdiri tidak jauh darinya, hanya bisa memperhatikannya. Tidak lama kemudian, seorang polisi wanita memanggilnya untuk masuk kedalam ruangan.


Setengah jam Mutiyah berada di dalam ruangan, ketika keluar Saeful masih menunggunya dan duduk di kursi tunggu.


"Sudah selesai, dek?" Mutiyah menggelengkan kepalanya kemudian ikut duduk di sebelah Saeful dengan jarang satu kursi kosong.


"Diminta menunggu surat panggilan ke pengadilan."


"Ooohhh... minum dulu, dek. Tadi sempat beli di minimarket depan, lumayan buat ganjel-ganjel lah." Saeful menyodorkan air mineral utuh kepadanya dan juga roti serta biskuit. Setelah Mutiyah masuk ke dalam ruangan tadi, Saeful segera beranjak ke mini market. Untung saja saat kembali Mutiyah masih belum selesai, dia tidak mau Mutiyah yang menunggunya. Hehe


"Neng...? Neng Mutiyah baik-baik aja kan?" Saeful melihat Mutiyah yang tertunduk, sepertinya ada genangan air mata di ujung matanya yang belum sempat menetes sudah dihapus olehnya.


"Saya nyesel, kalau ingat apa yang sudah saya lakukan, saya malu. Ingin cepat-cepat pergi, tapi tadi harus menunggu sampai sidang pengadilan, jadi saksi. Padahal sudah pesan tiket." Mutiyah tiba-tiba mencurahkan isi hatinya, tidak perduli siapa yang ada disampingnya. Saeful sedikit terkejut mendengarnya.

__ADS_1


"Tiket? Emang neng Muti mau kemana?"


Sejenak Mutiyah tersentak, memandang sekilas orang disampingnya yang menunggu jawaban darinya dengan harap-harap cemas. Setelah tersadar, dia mengalihkan pandangannya sembarangan.


"Pulang..." Mutiyah kembali dengan mode dingin nya.


"Apa belum ada yang memberi tahu neng Muti soal niatan akang?" Saeful berkata perlahan.


"Dek, suratnya sudah bisa diambil, ditandatangani dulu." Panggil seorang petugas, Mutiyah segera beranjak meninggalkan Saeful.


Mutiyah masih dengan aksi diamnya, duduk di kursi belakang mobil. Saeful melajukan mobil perlahan, hatinya bimbang pikirannya menimbang-nimbang. Belum berapa jauh, Saeful membelokkan mobilnya menuju sebuah taman. Dilihatnya Mutiyah memandangi keluar jendela dengan tatapan kosong, bahkan sampai mobil terparkir dengan sempurna pun Mutiyah masih larut dengan lamunannya.


"Loh, ini dimana tadz?" Kok berhenti?" Tanya Mutiyah setelah beberapa saat dia baru menyadari keberadaannya, tidak ada jawaban, ternyata kursi didepannya kosong. Dia edarkan pandangannya, dan melihat Saeful berdiri diluar bersandar pada kap. Mutiyah membuka kaca mobilnya.


"Ustadz Saeful? Ustadz Abdul sama bunda mana? Bukannya kita harus menjemput?"


"Boleh akang bicara dulu sekarang? Tadi eneng sedang asyik jadi tidak mau mengganggu. Neng Muti didalam saja tidak apa-apa, biar akang bicara dari sini." Ucap Saeful yang kini sudah berdiri dipintu depan mobil, menyenderkan badannya memandang kedepan.


"Maaf kalau sebenarnya akang sudah lama memperhatikan eneng, sejak masih di kampung. Maunya akang kemarin langsung saja meminta eneng sama keluarga eneng, tapi tidak enak karena niatnya kan mau mengajak neng Khansa. Eh ternyata neng Muti ikut, rasanya memang Allah mempermudah."


"Akang serius ingin mengkhitbah eneng, sudah lama juga akang mencari pendamping tapi belum ada yang sreg, lagi pula akang sudah berjanji ingin menemani ustadz Abdul. Akang pikir karena neng ikut ke pondok, neng mau tinggal disini juga. Ternyata neng Muti mau pulang? Gak betah, neng di pondok? Gak pengen gitu tinggal di pondok, sama akang?" Saeful bukan orang yang pandai merangkai kata, dia hanya mengucapkan apa yang ada dibenaknya.


"Neng gak usah jawab sekarang kalau masih bingung, dipikir-pikir dulu. Akang akan tunggu sampai eneng siap, kapan jadwal sidangnya neng?"


"Minggu depan, tadz."


"Ya sudah, kita ketempat acara sekarang, sudah ditunggu ustadz Abdul. Padahal tadinya akang pengen ngajak eneng makan mie ayam saja, tapi ya sudah lain kali ya neng?" Saeful melajukan mobilnya.


Tidak berapa lama kemudian mereka sampai. Acara masih berlangsung, karena memang akan dilanjut shalat dhuhur dan makan siang bersama.


"Neng, boleh akang minta nomor telfonnya?" Baru saja Mutiyah akan turun dari mobil namun terhenti ketika mendengar ucapan Saeful yang menyodorkan HP miliknya. Mutiyah menerimanya dan mengetikkan rangkaian nomor, kemudian turun dan berjalan menuju area akhwat.


Saeful menerima kembali HP nya dan menyimpan kontak.


*Neng MutiπŸ’•

__ADS_1


Lengkap dengan icon hatinya.


...****...


Mereka sudah kembali ke pondok, Khansa tertidur dalam pangkuan Meilinda yang kemudian memindahkannya dengan perlahan ke atas kasur di kamar utama. Mutiyah segera masuk ke dalam kamar, melanjutkan merapikan baju-bajunya kedalam travelbagnya.


"Jadi pulang lusa?"


"Tidak bunda, Tiyah harus hadir dalam persidangan sebagai saksi minggu depan, ini surat panggilannya. Ada juga untuk bunda." Ucapnya sambil menyerahkan amplop yang dia dapatkan di kantor polisi tadi.


"Kok bajunya tetap dimasukkan dalam tas, kan masih lama?"


"Kalau diijinkan, Tiyah mau tidur di kamar musrifah saja, bunda."


"Ooohhh ya sudah, coba nanti bunda tanyakan teh Ais ya? Sekarang dek Tiyah istirahat saja dulu, tiketnya sudah diurus?" Mutiyah menganggukkan kepalanya.


Cling


Saeful: Assalamualaikum, neng ini akang. Nomornya di save ya...


Mutiyah membaca pesan yang masuk ke aplikasi chatnya, 'ustadz Saeful' gumamnya melihat profil yang ditampilkan.


Mutiyah: Waalaikumsalam, baik.


Saeful tersenyum-senyum membaca pesan yang baru saja dia baca, berulang-ulang dibacanya.


"Tadz...? Lha... bacaan ana gak disimak geuning, malah senyum-senyum lihat HP..." Protes salah satu santri di depan Saeful yang sedang setoran hafalan.


"Apa? Eh iya, punten sok atuh diulang kali ini mah disimak lah." Saeful segera memasukkan HP nya kedalam saku baju kokonya. 'Astaghfirullah...'


.


.


.

__ADS_1


.


Maaf temans, up ny sedikit banget yah hari ini... bener-bener lagi repot ini di dunia nyata πŸ™πŸ™


__ADS_2