
"Ada lagi?" Revan bertanya kembali.
"Maaf, pak. Katanya Tejo, mba Linda itu ga banyak cerita di tempat kerja. Tapi dia janji mau cari informasi lagi hari ini. Ya itu karna saya janjiin upah yang bapak bilang kemarin, aduh maaf loh pak, saya jadi gak enak ini." Pak Rahmat menggosok-gosokan tangannya untuk mengusir rasa gugup.
"Hari ini siapa yang antar katering?" Kembali suara Revan terdengar.
"Seminggu ini katanya Tejo antar, pak. Lha mba Linda nya sibuk jemput."
"Oke, nanti kalo dia datang suruh masuk ruangan saya." pak Rahmat pun pamit kembali ke pantry.
.......
"We lah, Jo... Sini, ayo sini..." Sumringah pak Rahmat melihat Tejo datang, selain karna makan siang datang pas perutnya sudah keroncongan juga karena ingat pesan pak Revan.
"Iyo pakde, ngerti aku. Ta ceritain ya, pakde..."
"Wes wes nanti aja, kamu udah ditunggu itu sama pak Revan di ruangannya." pak Rahmat mendorong Tejo dan menyerahkan kotak makan bertuliskan nama pak Revan.
"Loh...kok aku yang harus kasihkan, pakde wae toh." Agak segan Tejo berhadapan dengan bos kantor itu lagi setelah pengalaman kemarin.
"Pak Revan mintanya kamu langsung masuk ke ruangannya, udah sana..."
tok tok tok
"Permisi pak... Ini makan siang nya..." Tejo meletakkan kotak makan diatas meja tamu yang ada di ruangan itu.
__ADS_1
"Duduk!" Revan tidak mengalihkan pandangannya dari layar laptop karna dari sudut matanya dia sudah tau siapa yang datang.
"Loh...kok duduk disitu, emang kamu tamu saya?!" Bentak Revan setelah beberapa saat melihat Tejo sedang duduk santai diatas sofa.
"Eh maaf, pak. Tadi bapak ndak bilang saya harus duduk dimana." Tejo akhirnya mendekati meja Revan dan duduk di kursi didepannya.
"Ayo mulai..." Titah Revan. Tejo pun menceritakan tentang Linda informasi yang umum saja yang sekiranya tidak akan merugikan Linda. Revan mendengarkan dengan seksama, menyerap informasi dan menyimpan dalam memorinya.
"Jadi dia yang masak makanan ini?"
"Iya, pak. Bos saya udah percaya sama mba Linda, memang pinter kok mba Linda tuh, diajarin sebentar aja udah bisa. Masakannya enak toh, pak?" Revan menyesal tidak jadi mencicipi makan siang kemarin, karena kecewa bukan Linda yang mengantar lantas dia berikan makanan itu pada sekretarisnya dan dia pergi makan siang diluar.
"Besok saya tidak mau dengar alasan apa pun, dia sendiri yang harus mengantarkan makanan saya keruangan ini. Atau saya buat semua karyawan disini tidak lagi memesan katering ditempat mu." Tejo terheran mendengar perkataan bos didepannya ini, tapi mau bertanya pun rasanya malas melihat sikapnya.
Revan menyerahkan dua amplop kepada Tejo dan menyuruhnya keluar dari ruangan itu.
"Kasih satu untuk pak Rahmat." Hanya itu yang diucapkannya dan kembali memusatkan perhatiannya pada laporan yang ada di atas mejanya.
Tejo pun keluar dari ruangan itu dengan hati senang tidak terkira. Setelah Tejo pergi, Revan yang sebenarnya pura-pura sibuk kemudian meletakkan kembali kertas itu. Dia berjalan menuju meja tamunya, membuka kotak makanan yang seakan melambai-lambai minta dibukakan.
Revan mencicipi satu persatu masakan di depannya, mengulum, mengunyah tak kalah gayanya dengan chef Juna dalam acara masterchef. Bedanya kalo chef Juna hanya 1-2 sendok saja yang dimakan, Revan menghabiskan makanan itu dengan lahapnya.
'Heeemmm istri idaman ini..' ... Apa...apa tadi dia bilang?! Pasti ada obat halu nya dimakanan ini sampai-sampai pikirannya ngelantur, batinnya.
....
__ADS_1
"Tante... bos di kantor XX itu minta paketnya mba Linda yang antar, kalo ndak dia bakal bikin karyawan yang pesan ke kita batalkan semua. Gimana nih, tante?" Lapor Tejo setelah kembali dari mengantarkan pesanan.
"Emang ada apa, toh kok bisa jadi begitu?" Ivone balik bertanya.
Tejo pun menceritakan semua dari mulai dia bertemu Revan pertama kalinya di kantor itu. Kecuali bagian dimana dia menerima amplop, rasanya dia merasa gak enak hati.
"Jadi itu alasannya kok tiba-tiba kamu tanya hal pribadi sama Linda?" Tejo menganggukkan kepalanya masih menunggu jawaban Ivone.
"Ya sudah, besok dibicarakan sama Linda baiknya bagaimana." Sambung Ivone.
........
Meilinda termenung menatap buku tabungan ditangannya. Sudah beberapa hari belakangan dia mendapatkan pesan dari sekolah Haikal, karena tabungan yang semakin menipis untuk bulan ini memang belum setor uang SPP sekolah. Dia juga harus menghitung biaya tahunan, sebagian orang menyebutnya daftar ulang, yang harus dibayarkan diawal tahun ajaran baru.
Sepertinya dia harus mencairkan salah satu deposito peninggalan suaminya, untuk biaya sekolah dan juga biaya hidupnya. Banyak sekali yang harus dia pikirkan, biasanya ini adalah kawasannya Hamdan. Dia hanya mendapat bagian didapur, belanja bulanan, uang jajan Haikal. Untuk urusan bayar listrik, air, pajak motor dan lain-lain semua diurus Hamdan. Setelah mengucap kalimat istighfar, dia membereskan buku-buku itu dan beranjak mengambil air wudhu. Hanya dengan shalat hatinya akan lebih tenang, semoga Allah mudahkan jalannya, menguatkannya dan memberinya kesabaran.
Haikal mengucek-ngucek matanya ketika mendengar suara gemericik air dibelakang, dihampirinya bunda yang baru saja menyelesaikan wudhu nya.
"Loh anak bunda sudah bangun... Ayo ambil wudhu, sebentar lagi adzan Ashar." Titahnya sambil tersenyum melihat putra semata wayangnya berjalan terantuk-antuk.
Meilinda memulai berdzikir petang sambil menunggu adzan setelah mengenakan mukenanya. Dia membaca Subhanallah, Alhamdulillah, Laa Illaha Ilaullah dan Allahu Akbar masing-masing 100 kali. Disambung membaca shalawat Nabi saw sebanyak 100 kali dan beristighfar 100 kali pula. Semua itu yang diajarkan dan dicontoh Hamdan semasa hidupnya. Adzan pun berkumandang dari masjid komplek. Haikal mengalungkan sarungnya di pundak dan berpamitan pada bundanya untuk shalat berjamaah. Hamdan memang mengajarkan dan membimbing keras Haikal agar tertib shalat di masjid, karna laki-laki harus shalat di masjid ucap Hamdan tegas setiap Haikal merasa malas. Rasulullah saw menyuruh setiap laki-laki yang tidak ada uzhur wajib shalat berjamaah di masjid. Dengan menggunakan sepeda milik ayahnya Haikal pergi ke masjid. Hanya beberapa saja anak seusianya yang melaksanakan shalat berjamaah di masjid, itu tidak mengendurkan semangatnya mengayuh sepeda. Linda sangat bersyukur ditengah cobaan yang dia alami karena kehilangan Imam nya, tapi Allah berikan anak yang sholeh sebagai penyemangat dan kekuatannya.
.
.
__ADS_1
.
.