
"Ada yang mau Ustadz Abdul bicarakan sama kamu." Fajar mendorong Haikal untuk menuruti undangan ustadz itu.
Haikal ragu-ragu duduk disebelah ustadz itu, bersabar menunggu apa yang akan dikatakannya. Ustadz Fajar pun ikut duduk dikursi didepannya.
"Hafalan suratnya sudah sampai mana, nak? Ustadz Abdul memulai percakapan dengan mengajukan pertanyaan pada Haikal.
"InsyaaAllah sebentar lagi sudah hafal juz 29, ustadz." Jawab Haikal
"Kalau ustadz test, berani?" Tanya Ustadz Abdul lagi, Haikal sempat memandang kearah ustadz Fajar didepannya yang kemudian menganggukkan kepalanya. Haikal ikut menganggukkan kepala.
"MasyaaAllah, bagus bagus. InsyaaAllah saya disini tiga hari, gimana kalau Haikal persiapkan diri dulu. Setiap habis pulang sekolah, kita bertemu. Nanti ustad Fajar yang nemenin, ya kan tadz?" Pertanyaannya diarahkan pada teman lamànya itu.
"Boleh boleh lah..." Jawab ustadz Fajar.
Haikal pulang dengan perasaan senang, dia ingin segera bercerita pada bundanya begitu sampai dirumah. Mereka memang jarang bercerita dalam perjalanan pulang, karena berbahaya bisa mengganggu konsentrasi bunda mengemudikan sepeda motornya. Mereka pun harus berteriak untuk mengalahkan deru suara motor dijalan dan angin yang menerpa. Sesekali ada obrolan kecil saja dalam setiap perjalanan pulang.
"Tadi aku diajak ngobrol, bund sama ustadz Abdul. Jadi, beliau itu pembicara yang datang dari Jawa Barat itu loh, bund, yang lulusan dari Mesir pake beasiswa. Banyak deh motivasi yang dikasih ustadz Abdul tadi." Haikal berhenti bercerita sebentar, memasukkan sepotong puding yang dibuat Meilinda untuk camilan sore putranya itu.
"Tiga hari kedepan setiap pulang sekolah, Haikal setor sama test hafalan, kalo lulus Haikal dapat beasiswa bisa sekolah di pesantren beliau gratisss." Antusias Haikal bercerita dan memberi penekanan pada kata terakhir seperti bunyi ular yang mendesis.
"Beneran? Pesantren nya dimana itu? Bagus ndak?" Meilinda ikut tertarik. Ya Allah semoga ini lah jawabanMu untuk doa-doa kami, batinnya.
"Katanya di kota T bund. Ya, jauh sih..." Suara Haikal berubah pelan, ada khawatir mendera jika bunda nya tidak mengizinkan.
"Ikhtiar saja dulu, le. Berusaha, kita lihat kemana takdir akan membawa kita kemana. Kalau pun bunda ga bolehin Haikal masuk pesantren itu tapi ternyata rezeki dan takdir Allah, pasti akan terjadi. Begitu juga sebaliknya. Bunda akan dukung jika memang untuk kebaikan, kita minta petunjuk sama Allah agar diberi jalan dan petunjuk ya..." Jawab Meilinda memberi dukungan pada putra semata wayang nya.
Malam harinya, dia mengirip pesan chat pada guru Haikal untuk memastikan.
Meilinda: Assalamualaikum ustadz, maaf mengganggu, Haikal bercerita soal beasiswa di pesantren milik salah seorang ustadz. Apa betul, tadz?
Fajar: Waalaikumsalam wr.wb Njih, bu leres. Kebetulan ustadz Abdul teman lama saya, beliau punya pesantren di kota T.
Meilinda: Jauh ya, ustadz.
__ADS_1
Fajar: Ya, begitu lah. Tapi Ibu tidak perlu khawatir, InsyaaAllah amanah, bu. Nanti saya bantu sebisanya, sekarang Haikal persiapkan diri dulu untuk tiga hari ini.
Meilinda: Iya, ustadz. Ini semangat sekali anaknya murojaah, Alhamdulillah.
Fajar: MasyaaAllah... Besok Haikal pulang lebih lama, bu karena menghadap ustadz Abdul dulu. Nanti saya kabari lagi.
Meilinda: Baik, ustadz, terimakasih. Assalamualaikum.
Fajar: Waalaikumsalam wr. wb
Esok harinya, seperti biasa dihari Jumat siswa siswi mengadakan senam pagi dilanjutkan dengan kerja bakti. Untuk menanamkan sifat menjaga kebersihan, karena dalam sebuah hadits yang berbunyi 'Kebersihan itu adalah sebagian dalam iman' menyatakan bahwa seseorang disebut beriman jika dia senantiasa menjaga kebersihan.
"Haikal, kamu ditunggu ustadz Abdul di masjid. Bapak izinkan kamu tidak ikut senam dan kerjabakti, sudah siap kan ikut testnya beliau?" Tanya ustadz Fajar sambil menepuk pundak Haikal, memberikan dukungan padanya.
"InsyaaAllah, tadz." Haikal kemudian pamit menemui ustadz Abdul. Sesampainya di masjid, dilihatnya ustadz itu sedang melaksanakan shalat. Haikal menunggu dengan sabar, dibelakang. Tidak lama kemudian,beliau mendekatinya.
"Sudah siap, Haikal?" Sapanya. Haikal menganggukkan kepalanya. Mereka duduk bersila sambil berhadap-hadapan, ustadz Abdul terlebih dahulu memerintahkan Haikal untuk berwudhu karena orang yang membaca atau memperdengarkan ayat-ayat suci Al-Qur'an harus dalam keadaan suci agar mendapatkan berkah dari bacaannya.
Lantunan suara Haikal mulai terdengar merdu, ustadz Abdul menyimak dengan tenang. Menilai dan menimbang keputusan dalam benaknya, Haikal dapat memberikan setiap penggalan ayat dalam surat yang diminta ustadz Abdul. Dia juga bisa menyambung ayat atau melanjutkan ayat yang dibaca ustadz itu sebelumnya.
"Kamu bener-bener pengen sekolah di pesantren ya? Orangtua sudah mengizinkan sekolah di pesantren di tempat ustadz?" Tanya nya kemudian.
"Bunda tidak keberatan, ustadz. Kata beliau kalau sudah rezeki dan takdir dari Allah, tidak ada yang bisa menghalangi."
"Ayahmu?" Walau Ustadz Abdul sudah mendengar kisah Haikal dari Fajar, tapi dia ingin mendengarnya sendiri dari anak itu dan melihat reaksinya.
"Ayah sudah meninggal, ustadz. Kami hanya berdua dirumah, kasihan bunda sih sendirian kalau nanti ditinggal. Tapi aku pengen masuk pesantren, ayah juga pengen aku masuk pesantren." Jawab Haikal menerawang.
"Tidak ada keluarga lain yang menemani ibumu?" Ustadz semakin menyelidiki. Entah lah ada sesuatu pada anak ini yang membuatnya tertarik, sejak dia berdiri mengajukan pertanyaan di aula sekolah.
"Ada eyang sama bulek, tapi bunda memilih tinggal dirumah sendiri. Kalau om sama tante, tinggal agak jauh, di kota S, kadang-kadang saja kami bertemu." Papar Haikal.
"Besok, bisa datang ke sekolah kan? Kita lanjutkan. Kamu bisa datang sekitar jam 8 dan kita selesai jam 9, saya ada jadwal dakwah setelahnya." Ucap ustadz Abdul. Haikal menganggukkan kepala lalu setelah dizinkan dia pun pamit bergabung dengan teman-temannya.
__ADS_1
Fajar: Assalamualaikum bu, pagi tadi Haikal sudah menghadap ustadz Abdul jadi hari ini bisa dijemput seperti biasa setelah pelajaran tambahan. Terimakasih
Meilinda: Waalaikumsalam, terimakasih informasinya ustadz.
Meilinda menerima pesan chat setelah selesai memasak, seperti biasa dia mematikan HP nya saat bekerja. Dia kemudian bergabung dengan rekan-rekannya membantu packing, dan ikut mengantar beberapa kotak makanan sebelum pulang.
Dia membelokkan sepeda motornya menuju toko kelontong milik ibu, beberapa hari kemarin dia memang tidak sempat menjenguk ibu mertuanya itu.
"Assalamualaikum..." Salamnya ketika memasuki toko ibu, terlihat ibu sedang merapikan estalase.
"Waalaikumsalam... Lama ga kesini, Lin. Sehat toh? Ical gimana?" Seperti biasa ibu akan memberondongnya dengan pertanyaan bahkan sebelum dia sempat mencium punggung tangan wanita paruh baya itu.
"Alhamdulillah sehat, bu. Ical juga sehat, udah kelas 6 jadi sibuk les. Ibu sama Gendis juga sehat toh?" Tanya nya balik sambil membantu ibu.
"Yah begini ini lah, kadang rame kadang sepi." Jawab ibu.
"Alhamdulillah, bu." Meilinda menjawab sambil memberikan senyuman pada ibu mertuanya.
Mereka saling bertukar cerita, lebih tepatnya Linda mendengarkan ibu curhat mengenai beberapa pelanggan atau tetangganya. Dia mendengarkan dengan sabar. Menghadapi orang tua memang butuh ektra sabar, Linda sebenarnya tidak mau gibah dan membicarakan orang lain. Tapi dia juga menghormati ibu jadi hanya bisa mendengarkan dan menjawab seperlunya.
"Nah, Ical jadi lanjut sekolah dimana, Lin?" Ibu bertanya karena topik pembicaraannya pas mengenai tetangga ibu yang pamer karena masuk di sekolah swasta yang mahal katanya.
"Masih dipikirkan, bu. Yah, anaknya sih tetep kepengen masuk pesantren kayak mas Hamdan bilang." Jawabnya.
"Pesantren itu mahal, Lin. Mau duit dari mana coba!" Ibu mulai menceramahinya.
"Atau apa kamu mau menikah lagi, ada yang bakal jamin sekolah Ical ya?" Tiba-tiba ibu bertanya.
.
.
.
__ADS_1
.