
"Saya ikut pak Revan dengan dua syarat. Syarat pertama, saya duduk dibelakang. Keberatan?" Tantang Linda.
"Hah...?"
"Aku bukan supir online ya, kenapa harus dibelakang? Aku juga ga akan ngapa-ngapain kok."
"Maaf, pak Revan. Saya sama sekali tidak bermaksud untuk menghina anda, tapi saya diajarkan untuk tidak boleh duduk bersanding dengan lawan jenis yang bukan mahram saya. Bisa menimbulkan fitnah. Kalau bapak keberatan, saya bisa pakai kendaraan umum saja." Linda baru saja akan memutar badannya pergi dari sana.
"Oke oke... what ever..." Bener-bener diuji kesabaran Revan.
"Lalu motor saya gimana ini?" Linda sebenarnya bertanya pada dirinya sendiri.
"Pak Rahmat! Tolong bawa motor Linda ke bengkel ya, sekarang juga!" Perintah Revan pada pak Rahmat yang berdiri tidak jauh dari mereka.
#Flashback on
Pagi-pagi pak Rahmat sudah ada di dalam ruangan Revan.
"Pak, kalau Linda datang, saya mau bapak bikin kempes kendaraannya. Jangan sampai ada yang tahu!" Perintah Revan.
"Loh, kok begitu pak. Wah ndak berani saya, pak. Kasihan saya sama mba Linda, anaknya baik kok pak. Bener deh... Ampun deh, pak. Maafin mba Linda aja, pak kalau memang dia ada salah." Pak Rahmat memberanikan diri berbicara, sungguh dia tidak mengerti rencana bos nya itu. Dia sangat mengkhawatirkan wanita itu, entah mengapa akhir-akhir ini kok ya bos mengusiknya.
"Bapak mau saya pecat?!" Ancamnya. pak Rahmat menggeleng-gelengkan kepalanya.
Maka setelah melihat Linda memasuki gedung kantor, pak Rahmat mengendap-endap menuju motornya dan melakukan apa yang diperintahkan bos nya. Setelah selesai, dia menunggu tidak jauh dari sana dengan pompa yang sudah dia persiapkan. Dia tidak tahu apa rencana pak Revan, tapi bila diperlukan dia siap membantu Linda nanti.
#flashback off
"Syarat kedua, maaf sekali lagi, bisa kita mampir dulu di masjid. Ini sudah waktunya shalat Dhuhur." Ucap Linda ketika Revan mulai menyalakan mesin mobilnya.
__ADS_1
Pak Rahmat melepas kepergian bosnya dan wanita katering itu dengan senyum simpul, selembar uang merah ada ditangannya setelah berpindah tangan dari Revan. 'Oalaaahhh iki toh maksud e... Kirain pak Revan mau jahatin mba Linda, ndak taunya biar bisa jalan bareng yah xixixixixi' benaknya.
"Jam berapa anakmu keluar kelas?" Tanya Revan sambil melajukan mobilnya mengikuti arahan Linda menuju masjid terdekat. Linda mencari masjid lain dari yang biasa dia datangi karena saat ini dia menggunakan mobil, harus yang memiliki halaman untuk parkir.
"Ba'da Dhuhur." Jawabnya singkat.
"Jam brapa itu?" Revan sedikit kesal dengan jawaban Linda. Sehingga Linda menatapnya melalui kaca, namun secepatnya dia alihkan pandangan kembali kejalan.
"Mereka shalat Dhuhur berjamaah di sekolah, baru kemudian pulang." Terbesit pertanyaan dalam benak Linda, apa agama yang dianut pak Revan. Tapi untuk bertanya rasanya tidak etis ya... Lagi pula, kepercayaan seseorang adalah hak setiap orang jadi tidak perlu dipertanyakan.
"Setelah itu kalian kemana?" Revan kembali bertanya.
"Belok kiri di depan, pak. Ada masjid di depan." Titah Linda menunjuk sebuah masjid yang indah. Tidak besar tapi bagus dan bersih.
"Maaf, pak. Saya masuk dulu." Pamit Linda.
"Oke, aku tunggu disini. Oh ya, Lin. Jangan panggil bapak lah, usia kita juga kayaknya ga jauh-jauh banget. Aku juga masih muda loh, masih single. Kamu kan bukan karyawanku, kita teman kan..." Pintanya. Linda menganggukkan kepala kemudian beranjak kedalam masjid.
"Maaf menunggu lama, pak." Ucapnya. Terkesan basa-basi tapi dia tulus meminta maaf karena memang merasa tidak enak, walau bukan keinginannya diantar.
"Kok pak lagi, sih?!"
"Oh iya, maaf. Saya panggil apa ya, duuhhh maaf ga enak jadinya..." Linda kikuk.
"Revan. Kamu tuh sering banget sih bilang 'maaf', ga salah apa-apa juga bilang 'maaf'." Revan kembali dengan mode dingin nya, tapi sejurus kemudian dia tersadar. Dia menatap Linda dari kaca spion, memastikan kalau wanita dibelakang nya tidak tersinggung.
"Kenapa ya... Ndak ada salahnya juga sih minta maaf, siapa tahu memang ada perkataan atau perbuatan saya yang tanpa sengaja menyinggung perasaan. Salah satu sifat sahabat itu kan ikramul muslimin, jadi kita harus menghargai sesama dengan sesama." Linda bukannya tidak tahu seringkali Revan mencuri-curi pandang, tapi dia berusaha mengalihkan pandangannya. Karena dari pandangan yang tidak halal bisa menimbulkan dosa, dan dia selalu berusaha mengindari pandangan dengan lelaki.
Mobil Revan pun akhirnya sampai di depan sekolah Haikal, terlihat Haikal sedang menunggu di halaman masjid yang berada di dekat parkiran sambil membaca. Linda kemudian turun dari mobil dan berjalan mendekatinya.
__ADS_1
"Assalamualaikum anak sholih." Sapa nya, yuk pulang.
"Waalaikumsalam eh, bunda... Motornya mana?" Haikal celingukan menengok arah belakang bundanya. Memang biasanya Linda mengendarai motornya sampai depan masjid saat menjemputnya.
"Motornya kempes, nak. Ada seseorang yang menolong bunda jemput kesini, namanya om Revan. Nanti kita diantar om Revan ambil motor ke bengkel yah." Jelas Linda. Mereka pun berjalan menghampiri sebuah mobil mewah yang terparkir tidak jauh dari masjid, yah karena saat itu siswa lain banyak yang sudah pulang jadi parkiran tidak terlalu padat
Linda membuka pintu depan bagian kiri mobil itu dan meminta Haikal duduk didalam.
"Assalamualaikum, om." Ucap Haikal sambil menjulurkan tangannya hendak salim.
"Eh, siapa namanya?" Tanya Revan sedikit kikuk. Dia pikir akan dijadikan supir lagi dan berfikir kedua orang itu akan duduk dibelakang hehe.
"Haikal, om. Om temannya Bunda? Kok Ical gak pernah lihat sebelumnya?" Sebetulnya Haikal bukan tipe anak yang mudah beradaptasi dengan orang baru, dia juga cenderung pendiam. Hanya saat itu rasa penasaran lebih tinggi dari rasa malunya, apa lagi teman bunda ini laki-laki.
"Iya, kita baru aja kenal kan, Lin." Aneh nada bicara Revan tiba-tiba berubah, sedikit lebih santai. "Jadi kita mau kemana nih, sekarang?" Lanjutnya.
"Ambil motor." Jawab Linda cepat.
"Loh, motornya kan di bengkel. Apa ga sebaiknya aku antar kalian saja, Lin kasihan Haikal capek kan." Senyumnya sambil melirik Haikal. Yang dilirik hanya memandangnya penuh selidik.
"Ndak apa-apa, pasti sekarang motornya udah selesai di perbaiki, kalau ditinggal besok repot kami mau berangkat. Kalau pun belum selesai, kami tunggu di bengkel saja." Jawab Linda.
"Jangan gitu dong, Lin. Kasihan Haikal kalau nunggu di bengkel, gimana kalau kita makan siang dulu?" Tawar Revan.
"Haikal sudah dapat katering di sekolah, jadi tidak usah repot-repot ya kan, Cal?" Linda meminta dukungan putranya. Haikal mengangguk-anggukkan kepalanya.
.
.
__ADS_1
.
.