Cinta Pertama Ustadz

Cinta Pertama Ustadz
38.


__ADS_3

"Sudah shalat Dhuha, Mey? Hari ini kak Bas mau dirumah saja, istirahat." Ucapnya setelah menyelesaikan sarapan. Meilinda mengambil piring kotor dan beranjak ke belakang, Abdul mengikutinya, dia memperhatikan Mey mencuci piring.


"Ada yang ustadz perlukan?" Tanyanya sambil tetap sibuk mencuci piring, risih rasanya dipandangi begitu.


"Bik Asih kemana?"


"Dapur umum." Jawabnya singkat.


"Jadi cuma berdua dong dirumah?" Dia mendekati Mey yang sedang membilas sabun di piring.


"Anda mau apa?" Meilinda tercekat mendapati Abdul semakin mendekat, sangat dekat sampai hampir tidak berjarak. Tangannya mengulur kearahnya, hampir saja dia menjatuhkan piring.


"Cuci tangan, tadi kan habis makan." Jawabnya ringan, lalu beranjak meninggalkannya dengan senyum simpul. Mey hanya bisa melongo.


'Senyum kak Bas ternyata manis sekali, ada lesung pipit kecil di pipinya saat tersenyum kalau dilihat dari dekat. Hey hello, wake up Mey, sadar sadar.' Mey melanjutkan pekerjaannya, kemudian kembali ke meja makan untuk merapikan makanan yang masih ada.


"Kak Bas tunggu di mushola ya, Mey." Mendengar perintah dari sang ustadz yang sudah menjadi suaminya, Meilinda bergegas mengambil air wudhu dan mengenakan mukenanya.


Satu jam lamanya dia mengaji bersama Abdul, terkenang lagi mereka masa-masa sekolah dulu. Saat Abdul datang kerumah Mey untuk mengajarinya iqro.


Mereka sama-sama menutup kegiatan mengaji dengan doa penutup.


"Boleh loh mulai sekarang dibiasakan mencium tangan." Goda Abdul sambil mengangkat tangan kanannya. Meilinda menyambut tangan itu dan menciumnya.


"Jalan-jalan, yuk. Pake motor, bahaya kalau cuma dirumah berdua saja." Ucap Abdul, lalu beranjak untuk mengganti pakaian.


Sungguh hari yang penuh dengan kejutan untuk Meilinda, sejak pagi sudah berkali-kali dia dibuat terkejut dengan sikap ustadz yang kini sudah menjadi suaminya itu. Abdul sudah menunggu didepan, diatas sepeda motor maticnya dengan sabar menunggu Mey sambil memanaskan mesin. Sesekali dia menjawab sapaan ustadz yang lewat.


Meilinda keluar menutup pintu rumah dan menguncinya, sekarang ini tidak ada orang dirumah. Dengan canggung dia menaiki motor, berpegangan dibagian belakang jok penumpang.

__ADS_1


"Sudah sah kok, Mey, jadi boleh pegang. Kalau pegang aja kan ya gak apa-apa, daripada jatuh. Sakitnya tidak seberapa, malunya itu loh." Meilinda mencibir kesal digoda begitu, dia hanya mencubit kecil baju yang dikenakan lelaki itu.


"Jadi jalan ndak, saya turun lagi nih." Ancaman Mey membuat Abdul terkekeh.


Mereka berkeliling menyusuri jalan kecil perkampungan, terbentang sawah disepanjang jalan. Sudah lama Mey tidak merasakan semilir angin sambil diatas motor, selama ini jika akan berpergian selalu diantar ustadz Saiful dengan mobil. Jadi teringat rumah, mengantar Haikal sekolah lalu bekerja. Rindu rasanya.


Abdul menghentikan sepeda motornya dipinggir sawah, memarkirkannya disamping sebuah gubuk tempat petani beristirahat. Meilinda turun dari atas sepeda motor.


"Assalamualaikum ustadz, damang?" [damang: sehat] Seorang petani datang menghampiri.


"Alhamdulillah, pangestu. Panen, pak? Seueur geuning kenging na, Alhamdulillah." [pangestu:jawaban untuk sehat; seueur:banyak ; kenging:dapat] Jawab Abdul sambil melihat keranjang berisi kelapa muda dibagian belakang motor bapak yang diajaknya berbicara.


"Alhamdulillah, ustadz kersa? Simkuring purak nya dua." [ustadz mau,saya kupaskan dua] Dia turun dari motornya memilih buah kelapa hasil panennya.


"Teu kedah repot, pak, hiji weh atuh." [Gak repot, satu saja]


"Iisshhh biar romantis ya..." Bapak nya malah menggoda.


"Bismillah, kak Bas coba dulu ya... Seger, Mey, ayo coba."


Sebenarnya Mey ingin menolak karena cuma ada satu, tapi godaan itu terlalu berat. Akhirnya dia menerima dan meneguknya langsung dari lubang yang sudah terbuka karena tidak ada sedotan, benar segar sekali. Agak sulit sih, sebagian meluber tumpah saat dia meminumnya. Setelah beberapa teguk dia kembalikan pada lelaki yang sudah menjadi suaminya itu. Abdul terkekeh melihat Mey dengan canggung membersihkan mulutnya dari air kelapa yang luber.


"Kak Bas ambilkan dagingnya ya, pas ini matangnya, tidak terlalu tua juga tidak terlalu muda. Aaaa..." Abdul menyodorkan sendok dengan potongan daging buah kelapa diatasny, tebal tapi lembut kelihatannya. Tapi Mey merasa enggan harus disuapi.


"Saya bisa makan sendiri." Protesnya.


"Tinggal mangap doang kok susah amat ya, sekalian ini, repot kalau diopar-oper." Dia bersikeras, Mey pun bersikeras tetap menggelengkan kepala. Akhirnya Abdul asyik makan sendiri, Mey jadi merasa kesal, ada sesal juga, padahal kepingin banget rasanya tapi ngengsi kalau minta secara tadi dia sudah menolak.


Kini didepan mulutnya sudah ada daging kelapa muda yang menggiurkan itu, Abdul tetap berusaha untuk menyuapinya. Meilinda membuka mulutnya dan kelapa mendarat dengan sempurna dilidahnya, disambut senyum bahagia penuh kemenangan dari Abdul. Bergantian mereka memakan buah kelapa dari tangan Abdul, sampai akhirnya habis tidak bersisa.

__ADS_1


"Ustadz, kapan jemput Khansa?"


"Terserah Mey, kapan siapnya."


"Secepatnya saja, biar rumah tidak sepi."


"Katanya surat-surat ada di Jawa, berarti harus pulang dulu untuk ambil gitu. Kalau sudah lengkap nanti baru bisa didaftarkan ke KUA."


"Loh kok gitu, ustadz kan janji tidak perlu dicatat. Nanti jika ustadz akan menikah lagi biar tidak repot mengurusnya."


"Siapa yang bilang akan menikah lagi?" Abdul menjeda ucapannya, dia menatap mata Mey mencari... "Paman bilang tidak akan menyerahkan Khansa jika tidak punya buku nikah, kak Bas juga baru mengetahuinya kemarin kalau ternyata sebelum wafat Ummi mengirim pesan pada paman. Memberi amanah agar tidak menyerahkan Khansa jika kak Bas belum secara resmi menikah di catatan sipil." Lanjutnya sambil menyerahkan bukti chat yang dilakukan Ummi bersama paman.


Abdul kemudian mengajak Mey pulang karena hari semakin terik. Sepanjang perjalanan Mey terdiam memikirkan pesan yang dikirim Ummi. Sesampainya dirumah Mey beranjak kebelakang hendak menyiapkan makan siang nanti, namun Abdul menahannya dan berkata akan makan dengan lauk sarapan tadi, karena masih ada tidak perlu masak lagi, cukup dihangatkan saja yang perlu.


"Ustadz bisa mencari wanita yang pantas mendampingi ustadz dan menikah, agar bisa berkumpul dengan Khansa." Ucap Meilinda ketika mereka duduk-duduk diruang tengah, lebih tepatnya Abdul rebahan dikarpet disebelah Meilinda.


"Wanita seperti apa memang yang pantas mendampingi seorang ustadz?" Abdul memiringkan badan dan menopang kepalanya dengan satu tangan sambil menatap Meilinda.


"Yah yang memiliki ilmu agama yang tinggi, pandai mengaji, shalihah bahkan harusnya seorang hafidzah agar dia bisa mengimbangi ilmu yang dimiliki ustadz. Kan dipandang orang juga bagus, memang pantas hafidz bersanding dengan hafidzah. Suami ustadz dan istri juga bisa menjadi ustadzah."


"Bukan seperti itu yang kak Bas mau."


"Lalu seperti apa?"


"Seorang wanita yang selalu menunduk dihadapan laki-laki yang bukan mahramnya, yang bisa menjaga auratnya, yang mau mendampingi dan mendukung suami, menjadi ladang ibadah bagi suami dalam bimbingannya. Dan kak Bas sudah menemukan dan menikahi wanita itu, untuk apa mencari lagi."


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2