
Meilinda menggeliat, Abdul masih tertidur memeluknya. Jam berapa ini, Astaghfirullah sebentar lagi adzan subuh dan mereka bahkan belum mandi.
"Kak Bas, bangun iihh ayo bentar lagi adzan ini. Ayok mandi."
"Hah, Astaghfirullah... Ya Allah, kenapa bisa khilaf begini, Mey sih pake minta ronde kedua..." Cerocos Abdul terbangun, dikecupnya pipi Mey sebelum kemudian melesat menuju kamar mandi.
Meilinda awalnya berniat protes dengan kalimat kedua suaminya, tapi melihat tidak banyak waktu lagi maka dia segera berlari sambil berbelit selimut menuju kamar mandi luar. Dia pun terlambat shalat subuh di masjid, akhirnya dia baru datang ke masjid saat kajian sudah dimulai.
"Kok telat bund, tadi?" Aisyah bertanya saat mereka beranjak meninggalkan masjid kembali ke rumah.
"Bangun kesiangan, semalam gak bisa tidur gara-gara hujan deras." Kilahnya, dia tidak sedang berbohong karena pada awalnya dia memang terbangun karena hujan deras eh malah membangunkan yang lain hehe.
"Emang berapa ronde?" Goda Aisyah
"Lohh kok teh Ais bisa tahu?!"
"Jadi bener, nih?! Alhamdulillah akhirnya tembus juga, semoga berkah ya bund." Aisyah memeluk kakak iparnya itu.
Blush...wajah Meilinda langsung merona.
***
Persiapan sudah dimulai, dibantu oleh Gendis yang mencarikan dokumen dirumah Meilinda akhirnya semua persyaratan bisa terkumpul. Dia wanti-wanti Gendis tidak usah bilang ibu apa-apa, nanti akan dia jelaskan saat pulang. Atas petunjuk dan bantuan Bima, semua proses menjadi cepat.
Tiket sudah dikonfirmasi, Aisyah dan keluarga lain disana akan menyusul sehari sebelum hari H. Acara akan diadakan di rumah mas Bima, rumah peninggalan orang tua mereka. Meilinda, Abdul dan Haikal akan berlibur selama sepekan baru setelah itu kembali ke pondok.
Haikal sudah menyelesaikan ujiannya, tinggal menunggu hasil. Semakin hari prestasinya semakin bagus, dari kejauhan Abdul selalu memantau kemajuan putranya. Yah, Haikal sekarang putranya. Dia selalu mendamba seorang putra agar bisa menjadi penerusnya mengurus pondok peninggalan keluarga mereka. Awalnya semua akan dikelola Dzaki, tapi masih akan lama lagi karena Dzaki masih kecil. Kedepannya mereka berdua yang akan mengelola. Atau mungkin nanti akan ada anggota baru, hasil karyanya dan Mey... Abdul terkekeh sendiri dengan pemikirannya.
Sudah panjang rencana yang dia buat untuk Haikal, tapi tentu saja dia tidak akan memaksakan kehendaknya pada Haikal. Kiayi selalu menanamkan bahwa semua yang dilakukan dengan hati baru akan mendatangkan keberkahan, yang diperlu penanaman dan bimbingan agar tidak salah mengambil langkah. Jangan katakan tidak bisa, bisa itu karena biasa. Jadi tanamkan kebiasaan baik maka hasilnya akan baik.
Abdul, Haikal dan Meilinda saat ini sudah berada dalam kereta. Sengaja Abdul membeli tiket untuk 4 orang agar lebih leluasa, dia sangat menikmati perjalanannya. Ini perjalanan pertamanya dengan keluarga kecilnya, dia bertekad akan segera melengkapi keluarganya yang masih kurang.
"Abah nanti nginep dirumah juga kan?" Diluar pondok memang Abdul meminta putranya itu memanggilnya begitu, dan Haikal senang sekali. "Nanti kita jalan-jalan dulu kan bund, atau langsung ke tempat Pakde?"
"Paling dua hari aja, mas. Silaturahmi kerumah eyang dan lain-lain, baru kesana. Biar puas nanti kamu main sama mas-mas mu." Meilinda pun mulai memanggil Haikal dengan sebutan mas karena sekarang dia punya seorang adik kecil.
"Abah juga ketemu Eyang? Nanti dimarahin ga?"
"Kenapa eyang marah?" Abdul bertanya.
"Hehe gak papa..." Imajinasi Haikal mengumbara membayangkan eyang memarahi bunda karena menikah lagi dengan abah, tapi lalu dia tersenyum-senyum sendiri.
__ADS_1
"Sampai stasiun kita pesan taksi online ya, kak eh Abah?" Meilinda masih kaku dengan panggilan baru, karena sehari-hari terbiasa dengan panggilan 'kak' dan di pondok panggil 'ustadz'.
"Enggak, nanti ada yang jemput. Abah udah minta tolong Fajar kok."
"Ustadz Fajar?" Tanya Haikal dijawab Abdul dengan anggukkan.
Percakapan ringan terus berlangsung, selama ini Meilinda dan Abdul juga jarang berinteraksi dengan Haikal maka mereka gunakan untuk bercerita banyak.
"Seru ya kalo sudah bisa kumpul sama dedek Khansa, jadi gak sabar pengen ketemu. Haikal suka sama anak kecil yang cantik."
"Kalo cantik tapi sudah agak besar ada yang disuka gak?" Pancing Mey melirik putranya, Abdul terkekeh.
"Apaan sih bunda..." Wajah Haikal memerah.
"Hahahaha itu kemaren mas ngintip-ngintip ke asrama putri tuh cari siapa?" Haikal membungkam mulut bundanya. 'Please deh bund, ada ustadz Abdul disini nanti aku kena iqoq.' Mata Haikal mengirim sinyal telepati yang tentu saja tidak dapat didengar Meilinda.
"Belajar dulu yang bener, nanti jadi zina mata. Kalau mau tatap 5 detik terus tundukkan mata, nanti tatap lagi..." Abdul dengan santai berkata sambil menatap pemandangan diluar jendela.
"Emang boleh begitu?" Haikal berkedip-kedip.
Meilinda dan Abdul tertawa bersama melihat kepolosan putra mereka, setelah tersadar Haikal pun ikut tertawa.
"Assalamualaikum, Alhamdulillah bisa silaturahmi lagi kesini... Ustadz Saiful tidak ikut ini, kalian bertiga saja?" Tanya Fajar. Memang Abdul belum menceritakan status mereka, sengaja karena ingin bercerita langsung.
"Ini berarti kita kerumah Haikal dulu baru kerumahku, begitu?" Tanya Fajar.
"Praktisnya kerumahmu dulu saja. Ini mobil yang disewa kan ya, sekalian kami bawa nanti habis nganter."
"Lha terus nanti nganter mereka berdua, terus kamu balik kerumahku atau nginep di hotel gitu, emang tahu jalan?" Fajar kebingungan digoda Abdul. Sedangkan Meilinda hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan jahil suaminya.
"Gak mau lah semakin merepotkan, aku menginap dirumah Haikal saja." Abdul semakin membuat Fajar kebingungan. "Sudah, ayok aku ceritain dijalan saja." Lanjutnya.
"MasyaaAllah...takdir Allah tidak disangka-sangka, saya bahkan ndak ngenali bu Linda ini ternyata salah satu peserta program kita dulu ya hahahahaha"
"Kami tunggu kehadirannya ya, pak dan ibu di Solo." Ucap Meilinda.
"InsyaaAllah."
Setelah beramah-tamah sebentar di rumah Fajar akhirnya mereka pamit pulang, Meilinda menunjukkan arah. Sampai dirumah, menurunkan barang. Sebelum masuk kerumah Meilinda mengajak Abdul untuk silaturahmi kerumah RT setempat, melaporkan kepulangan dan statusnya sekalian mengundang untuk acara di Solo. Juga dengan tetangga kanan, kiri dan depan agar tidak menimbulkan fitnah karena kehadiran Abdul dirumahnya.
Sebetulnya badan sudah lelah setelah perjalanan ditambah singgah-singgah, tapi sampai dirumah tetap harus beres-beres karena rumah lama ditinggal. Memang dia meminta orang datang berkala untuk membersihkan rumahnya, jadi tidak terlalu banyak yang harus dikerjakan.
__ADS_1
Haikal sudah nyaman beristirahat dikamarnya. Abdul mendekati Meilinda, memeluknya dari belakang posisi favoritnya.
"Kak, iihh lepas kotor loh, bau kecut juga ini, nanti dilihat Haikal loh..."
"Hehe... Ini rumah mau diapain, Mey? Kan sayang kalau ditinggal begini aja."
"Dikontrakin aja kali ya, kak. Tapi pelan-pelan lah, harus beresin barang-barang juga."
"Besok aja, sekarang istirahat dulu, nanti sakit. Masa calon pengantinnya tepar." Meilinda terkekeh mendengar celoteh suaminya, dia memandang berkeliling rumah. Banyak kenangan yang dia alami dirumah itu, ada haru dihati. Abdul mengusap-usap pundak istrinya itu, setelah mengecup kepala dia pamit rebahan di kamar.
Adzan berkumandang dari masjid, Haikal terbangun dan mengajak Abahnya ke masjid. Dia senang sekali bisa ke masjid ditemani ayah penggantinya, jadi tidak sendirian. Meilinda tersenyum haru melihat mereka berdua, karena sifat kak Bas diluar pondok memang sangat menyenangkan jadi mudah sekali akrab dengan Haikal. Dia juga mengerti Abdul sangat mendambakan seorang anak sejak dulu.
"Kalian mau dimasakan apa buat makan nanti?" Tanyanya sebelum mereka pergi.
"Makan diluar aja bund, boleh yah bah?" Lirik Haikal pada Abdul dijawab dengan anggukkannya "Yesss..." Mereka pun berjalan beriringan. Meilinda keluar mengekor mereka hendak membuang sampah didepan, dari kejauhan dia mendengar suara orang berbisik-bisik.
"Gak nyangka ya, pamitnya kerja ke pesantren anak eh ternyata jadi pelakor. Kayaknya dia jadi istri sirih ustadz disana tuh, kok berani dibawa kesini ya..." Meilinda hanya menghela nafas, sebaik apa pun kita masih ada saja orang yang selalu mencari-cari kesalahan kita.
Segera Meilinda masuk kedalam rumah untuk mengambil air wudhu dan shalat, biar adem hati dan pikirannya.
Sore itu juga mereka memutuskan untuk bersilaturahmi kerumah Ibu, kebetulan Gendis juga sedang dirumah karena masih cari-cari pekerjaan. Abdul menjelaskan dengan rinci tentang pernikahan mereka, menunjukkan foto-foto di rumah sakit dan rencana mereka meresmikannya di catatan sipil kota kelahiran Mey. Mereka mengundang Ibu dan Gendis untuk hadir.
"Tenan toh ibu ngomong, mesti ono maksud e, koe ki yo ojo polos-polos banget toh. Ne wes ngene ki yo piye..." [Bener kan Ibu ngomong, pasti ada maksudnya, kamu itu jangan polos-polos banget. Kalau sudah begini ya mau bagaimana lagi.]
"Takdir bu.." Jawab Meilinda.
"Ibu sih kepengen dateng, Lind keacara kamu nanti, tapi jauh lah kesana juga pake apa. Sewa mobil kan ya mahal."
"Nanti kami sewakan kalau Ibu mau." Abdul menawarkan.
"Ndak usah repot-repot mas, Ibu punya tanggungan ada toko yang harus dijaga, kalau libur nanti ga ada pemasukan. Ibu doakan kalian bisa langgeng, Ibu titip cucu ibu, sering-sering ajak maen kesini. Le, kalo udah gede disini aja ya...Bapakmu orang sini, dulu ya berjuang bener buat kamu." Panjang kali lebar Ibu bicara, Abdul mengangguk-angguk menghormati wanita paruh baya dihadapannya itu.
Kalau boleh jujur saat itu ibu sedang patah hati, kehilangan menantu perempuan satu-satunya. Sebenarnya dia tidak rela Meilinda menikah lagi, dia ingin mereka tetap ada disampingnya. Dia menyaksikan kesabaran menantunya menghadapi sifat tidak peka nya sang anak, tapi ini sudah takdir Allah maka dia harus menerimanya.
Tidak lama kemudian mereka pamit, diluar Abdul mendekati Meilinda dan menyerahkan sesuatu. Meilinda kembali mendekati ibunya dan menyerahkan titipan tadi.
"Buat tambah-tambah modal Ibu, Assalamualaikum." Meilinda berlalu setelah menyerahkan lembaran uang ratusan ribu pada Ibu mertuanya. Keluarga kecil menikmati suasana kota Jawa yang semakin lama semakin ramai dengan kerlap-kerlip namun udara tetap hangat. Mengunjungi berbagai tempat, berwisata kuliner sampai hampir larut baru pulang kerumah. Mereka beristirahat dengan pulas karena sudah benar-benar lelah, lagipula mereka harus mengumpulkan tenaga untuk perjalanan besok.
.
.
__ADS_1
.
.