
"Ndok, udah selesai kan masaknya?" Tante Ivone menghampiri Linda di dapur.
"Sudah, tante. Nunggu adem sebentar bisa langsung plating, aku beresin dulu tempatnya." Linda baru akan beranjak namun langkahnya tertahan.
"Masuk sebentar yuk, tante mau ada yang diomongin. Ini biar diberesin anak-anak." Ajak tante Ivone.
Meilinda mencuci tangannya kemudian mengikuti tante Ivone yang sudah duluan masuk kedalam rumah. Hawa sejuk langsung menyambut Linda begitu dia melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah tante Ivone, berbeda sekali dengan suasana di dapur yang penuh dengan peralatan masak dan kompor yang memberi hawa panas. Tapi Linda tidak pernah merasa berat bekerja disana, dia senang bisa bersama-sama orang yang baik seperti keluarga.
"Kamu kenal sama pak Revan, bos di kantor XX, tempat beberapa konsumen kita?" Tanya Ivone setelah mereka duduk berhadapan.
"Pak Revan? Maaf, tante...saya tidak berhubungan langsung dengan konsumen setiap kali mengantar paket, saya simpan di pantry seperti biasanya. Paling sesekali saya bertemu dan menyapa OB disana yang bernama pak Rahmat. Ada apa ya tante, apa saya melakukan kesalahan di kantor XX?" Linda menatap Ivone dengan cemas.
"Tidak, hanya saja dua hari kemarin tiba-tiba pak Revan ikut pesan ditempat kita, tapi dia minta langsung diantarkan ke ruangannya. Dan dia meminta kamu sendiri yang mengantarkannya. Karena kemarin yang antar Tejo, beliau protes bahkan mengancam kalau bukan kamu yang antar dia akan suruh semua karyawan membatalkan pesanan katering kita lagi." Jelasnya.
"Apa...kok bisa, kenapa begitu, tapi kenapa saya, tante?" Linda bertanya bertubi-tubi.
"Itu juga pertanyaan tante, Tejo sendiri ndak tau katanya." Ivone memberi jeda sebelum melanjutkan "Tante sudah memberimu ijin selama anakmu ujian untuk tidak mengantar makanan, tapi kalau begini yah bagaimana ya, ndok?" Ivone sangat menjaga perasaan setiap karyawannya, apalagi dia sudah sangat sayang pada Linda. Kalau saja dia punya anak lelaki yang masih single, pasti mau dia jodohkan dengan Linda. Tapi Ivone pun ragu Linda akan mau, Ivone mengerti bayang-bayang mendiang suami masih belum bisa Linda singkirkan.
"Baik, tante. Akan saya antarkan sesuai permintaannya. Ini sudah jadi tanggung jawab saya, tante. Haikal pasti mengerti, ustadz nya akan menemani di sekolah sampai saya jemput. Biar saya kabari dulu ustadz nya kalau saya jemput agak telat." Jawabnya. Ivone pun mengangguk dan membiarkan Linda kembali melanjutkan pekerjaannya di dapur.
"Piye, mba. Ini siapa yang antar?" Tanya Tejo begitu Linda kembali.
"Aku aja, mas. Ga papa, tadi udah chat ustadz nya Haikal kalo dijemput agak telat. Yuk cepet ditata, biar lebih cepat bisa aku kirim ya, mas." Jawabnya.
"Ada apa, toh Jo?" Tanya karyawan lain kepo menanggapi situasi yang berbeda dari biasanya.
__ADS_1
"Iiihhh kepooo, deh... Mau tau banget atau mau tau aja nih... Tapi gak bakal aku kasih tau, deng. Ini rahasia aku sama mba Linda, ya mba... Biar pada ngiri kalian hahahaha..." Tejo mencairkan suasana karna dia juga tidak ingin masalah ini jadi dibesar-besarkan.
Linda memarkirkan motornya di samping kantor XX, seperti biasa dia masuk lewat pintu pantry di belakang.
"Alhamdulillah yang dateng mba Linda, toh."Sambut pak Rahmat "Slamet...slamet...slamet..." Mulutnya komat-kamit sambil menepuk dada.
"Segitu nya banget bapak ini... Emang kenapa ya pak sama bos itu?" Linda memang penasaran apa yang telah terjadi.
"Gak ngerti, mba. Pokokny pak Revan tuh tanya-tanya mba Linda, kemaren sempet ketemu ya disini? Terus ada apa itu, mba?" pak Rahmat malah balik bertanya.
"Ya ga ada apa-apa... Cuma kebetulan ketemu terus saya cepet-cepet pergi kok, pak. Ga ada ngobrol ato apa gitu." Jawabnya.
"Apa jangan-jangan pak Revan kesengsem nih sama mba Linda... Dia udah punya tunangan loh, mba. Anaknya pemilik perusahaan ini lagi." pak Rahmat malah bergosip.
"Yang lain biasa aja disini, kalo yang pak Revan minta diantar langsung sama mba Linda ke ruangannya. Di lantai 3 ya, nanti ada mba Wid yang mejanya depan pintu gitu nah tanya aja disitu." Petunjuk pak Rahmat.
Meilinda mengangguk dan beranjak mendekati lift sambil membawa satu kotak makanan bernamakan pak Revan. Hatinya sedikit khawatir, menerka maksud dari lelaki yang bernama Revan itu. Sekelebat ingatannya kembali pada kejadian pertemuannya dengan lelaki itu. Apa dia mendapat masalah karena waktu itu ya, tidak ada yang tahu kalau mereka sempat bersembunyi sekitar 5 detik dalam kolong meja bersama. Lalu apa itu menjadi masalah? Ya Allah lindungi hambamu ini... Batin Linda.
Ting...
Dia mendekati meja seperti yang diucapkan pak Rahmat.
"Permisi, saya dari katering nyonya Ivone mengantar ini untuk pak Revan." Ucapnya
"Oh iya, mba... Tunggu sebentar ya..." Wanita cantik dengan penampilan ala pegawai kantoran itu melakukan panggilan telfon kedalam ruangan, setelah selesai dia mempersilahlan Linda untuk masuk kedalam ruangan itu.
__ADS_1
"Permisi, pak, makan siang nya..." Sahut Meilinda sambil meletakkan kotak makan diatas meja tamu dalam ruangan Revan.
"Tunggu...! Mau kemana kamu, saya belum menyuruh kamu pergi." Bentak Revan ketika dilihatnya Linda berbalik hendak keluar dari ruangan itu karna melihat Revan yang sibuk dengan kertas-kertasnya. Sebenarnya Revan hanya berpura-pura sibuk karena kenyataannya sejak tadi dia mondar mandir menunggu kedatangan Linda.
"Maaf saya masih ada pekerjaan lain, pak." Padahal dia hanya bertugas mengantarkan makanan ke kantor itu, yang lainnya sudah di handle Tejo. Tapi Linda juga tidak berbohong, pada kenyataannya dia masih harus menjemput Haikal.
"Kamu harus menunggu saya selesai makan baru boleh pergi, bagaimana jika saya tidak suka dengan makanan itu?" Revan mencari alasan untuk menahannya.
"Jika ada komplen mengenai masakan kami bapak bisa ajukan klaim ke nomor kantor, pak. Ini nomor kami." Linda menyerahkan selembar brosur.
"Itu nomor kamu?" Tanya Revan membiarkan brosur itu menggantung ditangan Linda dan terus menatapnya. Linda yang salah tingkah hanya menjawab dengan gelengan kepala.
Bukan karena apa-apa dia menjadi salah tingkah ditatap sedemikian rupa oleh Revan. Memang Revan tampan, badannya tinggi kekar, kulitnya putih terawat dan tatapan matanya tajam dan dingin. Linda merasa gelisah karena rasa khawatir dalam dirinya, mereka hanya berdua dalam ruangan itu. Dia hanya berdua dalam sebuah ruangan tertutup bersama lelaki yang bukan mahram nya. Dan seperti yang selalu diajarkan oleh suaminya, dosa seorang muslim menatap mata orang lain yang bukan mahram nya lebih dari 5 detik. Maka dia selalu menundukkan atau memgalihkan pandangannya jika berbicara dengan laki-laki.
"Saya mau nya nomor kamu, atau kamu tunggu saya makan dan dengarkan komplen saya!" Revan meraih tangan Linda hendak mengajaknya duduk di sofa
"Astaghfirullah..." Pekik Linda sambil menepis tangan Revan.
.
.
.
.
__ADS_1