Cinta Pertama Ustadz

Cinta Pertama Ustadz
13.


__ADS_3

Akhirnya dia harus nekat, waktunya tidak banyak. Dia harus bertemu Linda secepatnya, dia tidak mau menyesal karena keputusan yang salah.


---


Sudah 15menit Revan menunggu di parkiran, matanya asyik menikmati pemandangan didepan. Siswa laki-laki bergiliran dan mengantri didepan aliran air, sesekali mereka bersenda gurau. Wajah mereka menampakkan keceriaan, tidak ada beban. Semua menunggu giliran dengan tertib, bahkan ada siswa baru datang berbadan besar, dia tetap mengambil antrian dibelakang. Dalam pikiran Revan sebenarnya anak lelaki itu bisa saja mengambil antrian didepan atau bahkan lebih dulu melakukan kegiatan itu tanpa menunggu, toh anak yang lain tidak akan ada yang berani padanya. Revan pun tak melihat ada satu pun guru atau penjaga disana yang mengawasi, jadi mengapa anak itu tidak melakukannya?


Revan teringat masa sekolahnya dulu, badannya yang kecil membuatnya selalu tersingkir. Sering kali dia mendapatkan perlakuan kasar dari teman-temannya, ejekan, dorongan, bahkan terkadang pukulan dia terima dimasa kecilnya. Jika saja bukan karena kecerdikkannya, dia pasti akan terus menjadi anak yang tertindas. Dia memikirkan strategi dengan matang, saat itu dia masuk kelas 7. Sekolahnya memang memiliki tingkatan dari pra SD sampai Menengah, walau dengan gedung yang berbeda tapi masih dalam lingkungan yang sama. Setelah 6 tahun menjadi bulan-bulanan, walau masih awal di gedung tingkatan yang baru. Dengan segera dia mengambil tindakan sehingga dia bisa diakui seisi kelas. Sengaja dihari pertama dia datang lebih awal, dia kerjain semua siswa dikelas kecuali beberapa anak yang menjadi targetnya, anak yang dominan sehingga dia bisa bergabung dengan kelompok mereka.


Lantunan suara merdu dari dalam masjid terdengar nyaring, sepertinya suara salah seorang siswa. Ini bukan pertama kalinya Revan mendengar suara adzan, tetapi ada sesuatu kali ini yang membuatnya tertegun. Suara itu bening, khas suara anak-anak, renyah namun mengalun merdu. Hanya dengan suara itu, anak-anak yang masih berada diluar masjid bergegas memasuki ruangan. Tidak ada teriakan, perintah dari guru atau petugas, mereka beranjak mengambil barisan didalam dengan sendirinya. Tidak ada saling mendorong, atau memiliki tempat khusus untuk seseorang. Tidak sedikit bahkan anak-anak memberikan tempat untuk anak lain yang baru datang dengan bergeser. Dengan komando dari seorang didepan, semua serempak mengikuti gerakannya.


Revan terus memperhatikan sampai kegiatan shalat berakhir dan satu persatu anak-anak keluar masjid menuju kelas mereka, sesekali ada canda, saling mendorong tapi itu semua khas anak-anak, sama sekali tidak nampak aura persaingan disana. Parkiran mulai dipadati kendaraan yang menjemput, seiring dengan munculnya siswa dari dalam. Suasana sangat ramai, Revan mulai melihat siswa putri beriringan keluar dari dalam gedung sekolah. Mereka mirip sekali, jika dia harus menjemput salah satu dari mereka pasti akan keliru karena seragam yang dikenakan sama dan menutupi hampir seluruh badan mereka. Yang membedakan hanya tas yang mereka bawa dan sepatu, untung siswa yang dia cari anak laki-laki.


Ya, Revan sedang menunggu Haikal. Bukan sekedar ingin menjemput anak itu, tapi karena dia ingin bertemu dengan Meilinda. Matanya kini mencoba lebih fokus mencari diantara ramainya orang lalu lalang. Ada hal yang menjadi perhatiannya saat melihat interaksi orang-orang disekitarnya. Tidak ada salaman yang bersentuhan tangan antara laki-laki dan perempuan disana, dilihatnya mereka meletakkan kedua tangan saling menutup didepan dada sambil tersenyum dan sedikit menundukkan kepala. Anak-anak mencium punggung orang tua yang menjemput, ada apa dengan hatinya melihat pemandangan didepan mata itu. Tidak bisa lagi dia ingat apakah orang tuanya pernah menjemputnya di sekolah, seingatnya dia selalu diantar dan dijemput supir, kecuali saat pengambilan raport, itu pun dengan terburu-buru dan perdebatan diantara kedua orangtuanya.


Revan melihat Haikal berjalan menuju teras masjid, seperti biasa dia akan menunggu bundanya disana. Revan segera keluar dari mobilnya dan berjalan mendekatinya.


Buukk!!


Tiba-tiba sebuah bola yang entah dari mana datangnya mengenai lengannya. Dilihatnya beberapa anak laki-laki berlari menghampirinya.

__ADS_1


"Maaf om... Maaf om... tidak sengaja..." Jawab mereka bergantian, jika saja dia tidak melihat sikap anak-anak itu pasti dia sudah teriak-teriak memaki. Tapi anak yang menunduk dengan sopan dan meletakkan kedua tangan didepan dada sambil meminta maaf dengan tulus itu membuatnya terpana, pandangannya beralih pada anak-anak lain dilapangan yang menanti bolanya pun melakukan hal yang sama. Dia melihat kesekeliling lapangan, tidak ada guru maupun penjaga yang memperhatikan.


"Om, bola nya, om." Ucap salah satu dari mereka.


"Oh iya, ini..." Revan melempar bola ke arah anak itu yang menangkapnya dengan suka cita.


"Makasih, om..." Mereka pun kembali bermain.


Revan yakin anak yang telah menendang bola itu yang pertama menghampirinya dan paling depan meminta maaf, tapi hampir semua anak turut meminta maaf. Pemandangan yang asing dalam keseharian Revan. Revan remaja senangnya keluyuran, balapan sampai akhirnya dia dikirim papi nya untuk sekolah asrama di luar negri. Sekolah bisnis, dengan keseharian yang disiplin. Mencetaknya menjadi pribadi yang keras dan dingin.


"Om Revan kok kesini? Kenapa, om, tadi kena bola ya hehe." Haikal sudah ada di hadapannya.


"Eh iya, Haikal. Belum dijemput bunda ya? Ikut om, yuk..." Revan tersadar dari lamunannya.


"Iya, om ngerti. Om bukan mau jemput kamu kok, om mau ketemu bunda. Haikal bisa nunggu di mobil om, tadi om beliin pizza sm cemilan loh buat Haikal." Bujuk Revan. "Nanti kan bunda bisa keliatan tuh lewat kalo jemput dari mobil om, ayok..." Lanjutnya.


Haikal akhirnya menganggukkan kepalanya dan mengikuti Revan, tak lama kemudian dia pun asyik menikmati makanannya.


"Papa Haikal kemana?" Tanya Revan hati-hati setelah beberapa saat mereka sudah berbincang-bincang.

__ADS_1


"Ayah meninggal, om. Sakit." Jawabnya.


"Maaf..." Dia memperhatikan Haikal, ada kesedihan dimatanya tapi dia tetap terlihat ceria. "Haikal sedih?" Tanya nya lebih dalam.


"Sedih lah, om. Gak ada yang ajakin jalan-jalan, bunda juga sekarang harus kerja. Tapi sekarang udah ga apa-apa, Ical kuat kan ada bunda. Eh itu bunda..." Ucap Haikal.


Revan mengalihkan pandangannya kedepan, dilihatnya Meilinda menghentikan motornya di depan masjid. Dia mencari kesekeliling masjid mencari Haikal, tas Haikal memang masih disimpan di teras masjid tapi dia tidak bisa menemukan putranya itu.


"Haikal tunggu disini yah, lanjutin aja makannya. Biar om kasih tau bunda." Revan turun dari mobilnya dan berjalan kearah Meilinda berada.


"Hai, Lind." Sapanya ketika sudah berada dibelakang Linda.


"Anda..?! Kenapa anda ada disini? Mana Haikal?" Entah lah ada perasaan takut dalam diri Linda akan niat lelaki didepannya itu.


"Haikal lagi makan dimobil ku... Tunggu, Lind. Aku mohon, aku ingin bicara." Bujuk Revan.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2