
Meilinda sudah meminta ijin beberapa hari dari pekerjaannya, syukurlah tante Ivone memahami dan mengizinkannya walau dengan berat hati. Akhir-akhir ini Meilinda memang sering mengajarkan mbak Surti rekannya memasak, kalau dulu mbak Surti yang memang orangnya pemalu sering tidak percaya diri memasak jadi lebih memilih mendampingi. Sekian lama bekerja bersama, Linda bisa melihat sebenarnya masakan mbak Surti itu enak, sesekali Linda mencari alasan agar mbak Surti yang menjadi leader dan berhasil. Dan sekarang, ketika Linda tidak masuk maka mbak Surti bisa menggantikannya.
Meilinda duduk sambil memperhatikan deretan angka dalam sebuah buku besar, Alhamdulillah Haikal bisa memperoleh nilai yang memuaskan semester ini. Bukan nomor satu, tapi buat Linda putranya tetap membanggakan. Dikursi depan, berhadapan dengan wali kelas sedang berbincang-bincang salah seorang wali murid dari teman Haikal.
Setiap pembagian hasil ujian, para orangtua memang selalu hadir selain mengambil hasil belajar putra/putri nya tapi juga bisa sekaligus berkonsultasi dengan wali kelas.
"Assalamualaikum ustadz, Alhamdulillah terimakasih atas bimbingannya. Haikal bisa mendapatkan nilai yang memuaskan." Tiba giliran Meilinda duduk dihadapan Fajar, wali kelas Haikal.
"Barakallah bu, semua atas semangat dan dukungan dari ibu sehingga Haikal bisa menerima pelajaran dengan baik." Fajar kemudian menjelaskan beberapa poin pelajaran yang dipelajari selama 6 bulan kebelakang, dan juga menjelaskan KBM yang akan dilaksanakan semester depan.
Meilinda mengangguk-anggukkan kepala mengikuti arahan, sesekali dia bertanya jika ada yang dirasa kurang paham.
"Baik ibu, seperti yang sudah saya kabarkan kemarin, InsyaaAllah kita akan berangkat ke kota T besok malam. Apa perlu kamu menjemput ibu dirumah? InsyaaAllah kami akan pesan taxi online." Tanya Fajar.
"Tidak perlu ustadz, nanti malah merepotkan. Kita bertemu di stasiun kereta saja, InsyaaAllah kami akan berangkat awal." Jawab Meilinda. Setelah tidak ada lagi yang harus dibicarakan, dia pamit undur diri melihat masih ada beberapa wali murid yang menunggu giliran.
"Ical, kita ke rumah eyang dulu yah." Ajak Meilinda sambil mempersiapkan diri melajukan motornya.
"Assalamualaikum..." Salam mereka bersama-sama ketika masuk kedalam toko eyang. Meilinda lihat toko ibu lumayan ramai dengan anak-anak yang sedang memilih jajanan, wajar saja karena rata-rata anak-anak mulai libur sekolah.
"Waalaikumsalam, gimana raportnya le? Rangking mesti cucu eyang ini." Sambut Ibu sumringah, Haikal tersenyum-senyum bangga. "Dapat hadiah nanti ya dari eyang..." Lanjutnya.
Meilinda dan Haikal masuk kedalam rumah ibu, sudah bisa ditebak Haikal langsung ke kamar mencari bulek nya untuk meminjam HP buat main game. Setelah meletakkan tas, Linda kembali ke toko membantu Ibu.
"Besok jadi berangkat, Lin?" Tanya Ibu.
__ADS_1
"InsyaaAllah, bu."
"Sebenernya ibu kepengen ikut, pengen liat sekolahnya kayak apa. Dilihat bener-bener loh, Lin. Bersih enggak, makanannya gimana? Ninggalin anak masih bocah jauh loh, kalo ada apa-apa gimana. Kalau sakit gimana, macam-macam orang nanti disana."
"Njih, bu. Kalau jadi, kita kesana bareng-bareng, ini kan baru survey, ndak enak lah kalo rame-rame wong dibayari."
"Kamu ya hati-hati, jangan sembrono. Kudu bisa jaga diri, inget statusmu itu kan janda, rawan, Lind. Itu gurunya Ical, laki-laki toh?"
"Leres bu, tapi berangkat sama istrinya kok."
"Sing ati-ati, kita gak tau hati orang punya maksud lain atau tidak."
Meilinda sudah bercerita rencana kepergiannya pada Ibu, sudah pula dijelaskan rinciannya. Tapi tetap saja setiap bertemu, yang ibu bicarakan itu-itu lagi. Meilinda sudah paham sifat ibu, tetap bersyukur dan berhuznuzon bahwa semua itu rasa sayang ibu kepadanya.
Setelah sekian petuah dan nasihat diberikan ibu saat pamit pulang, Meilinda dan Haikal pun pulang.
"Kok gitu?"
"Iya, katanya nanti bunda sama istrinya ustadz Fajar menginap dirumah ustadz Abdul. Semua perempuan, lha kamu laki-laki sendiri nanti, emang mau gabung?"
"Kan sama bunda."
"Betul, tapi disana juga ada akhwat lain. Haikal sudah besar, sudah harus bisa memilah tentang batasan antara perempuan dan laki-laki. Ini cuma jaga-jaga saja, kalau nanti yang punya rumah tidak keberatan ya Haikal sama bunda nanti. Kalau tidak, nanti Haikal ikut ustadz Fajar ya?" Akhirnya Haikal mengangguk-anggukkan kepala tanpa paham.
Pagi-pagi Meilinda sudah pergi ke pasar, dia berniat memasak lebih untuk bekal nanti malam. Bukan untuknya dan Haikal saja, tapi juga akan berbagi dengan keluarga ustadz Fajar. Sekalian dia juga membeli sedikit oleh-oleh untuk dibawa, walau hanya seadanya tapi dia pikir setidaknya dia harus membalas kebaikan ustadz Abdul yang telah menjamin kepergiannya, dan juga untuk Ummi nanti yang akan menampung mereka disana.
__ADS_1
Jadwal kereta berangkat jam 9 malam, setelah melaksanakan shalat Isya, dia memesan taxi online lewat aplikasi di HP nya. Sebelumnya dia sudah memastikan semua pintu dan jendela tertutup dan terkunci, kompor pun sudah dimatikan. Lampu yang dinyalakan hanya secukupnya, dan dipastikan dalam kondisi baik agar tidak terjadi konslet.
Mereka pun sampai di stasiun kereta, pandangan Meilinda menyusuri pintu masuk stasiun itu mencari sosok yang dia kenal. Tidak lama kemudian dia melihat ustadz Fajar turun dari sebuah kendaraan, diikuti seorang wanita dan seorang anak kecil.
"Maaf apa ibu sudah menunggu lama? Kenalkan ini istri saya dan putri ragil kami." Ucap Fajar begitu mereka sudah berhadapan. Kedua wanita itu pun saling berjabat tangan.
"Tidak, ustadz, kami pun belum lama sampai."
"Aduh, tolong tidak usah panggil ustadz diluar lingkungan sekolah. Nanti dikira ustadz beneran sama orang-orang, belum pantas saya dipanggil begitu, saya cuma seorang guru." Meilinda dan Haikal mengangguk kecil.
Mereka pun bersama-sama masuk kedalam stasiun, menunggu kereta mereka datang. Selama menunggu dan selama perjalanan Meilinda mendekatkan diri dengan istri dan putri Fajar, bu Nur dan Sekar. Dari pembicaraan mereka, akhirnya Linda pun tahu bahwa pak Fajar mempunyai 1 putra dan 2 putri. Putra yang tertua kelas 2 di menengah atas, yang kedua putri kelas 3 menengah pertama dan Sekar kelas 4 sekolah dasar.
Malam semakin larut, setelah lelah mereka akhirnya beristirahat didalam kereta. Haikal yang duduk disamping bunda nya sudah terlelap sejak tadi, perjalanan memakan waktu 8 jam. Sekitar pukul 5 baru mereka akan sampai di kota tujuan.
Adzan sudah berkumandang saat mereka tiba di stasiun, rombongan itu bergerak menuju mushala stasiun untuk shalat subuh dan sekedar membersihkan diri. Karena sudah memasuki liburan sekolah, keadaan stasiun terlihat ramai, mereka harus sedikit mengantri menunggu giliran. Suasana di mushala pun demikian, selain orang-orang yang melakukan ibadah ada segelintir orang merebahkan diri sekedar melepas ketegangan dipunggung akibat perjalanan.
Akhirnya Meilinda shalat munfarid, yaitu shalat sendiri. Karena area putra dan putri terpisah dan sepertinya Haikal telah mulai shalat berjamaah diimami oleh Fajar. Bu Nur mungkin masih di kamar mandi, karena mereka berdua sehingga membutuhkan waktu lebih banyak.
Setelah semua selesai dan siap, Fajar mengabari bahwa orang suruhan ustadz Abdul sudah menjemput dan menunggu didepan stasiun. Ketika melewati pintu gerbang keluar stasiun, Fajar bisa melihat Saiful melambai-lambaikan tangannya. Fajar sudah mengenal Saiful, anak didik sekaligus asisten ustadz Abdul yang ketika itu ikut serta mengunjungi sekolah.
Rombongan memutuskan untuk langsung menuju pondok pesantren karena info dari Saiful mengatakan bahwa Ummi sudah menyiapkan sarapan untuk mereka di rumah.
.
.
__ADS_1
.
.