Cinta Pertama Ustadz

Cinta Pertama Ustadz
15.


__ADS_3

Cafe A baru saja buka. Dan Revan sudah duduk manis di depan sebuah meja yang sedikit memojok sehingga terhindar dari keramaian lalu lalang orang, namun cukup strategis dan bisa terlihat dari depan agar Meilinda tidak kesulitan mencarinya.


Revan: Aku udah di lokasi. Take your time, I just can't wait to see you. *pesan sent


Untung dia membawa laptop nya saat ini, jadi dia masih bisa tetap bekerja. Sesekali dia melirik kearah HP nya dan tanda itu masih saja belum berubah, 1 jam berasa lama sekali sampai akhìrnya dia melihat icon dua centang kemudian berganti warna.


Meilinda memang selalu mematikan HP nya saat bekerja, agar tidak mengganggunya. Setelah dia menyelesaikan pekerjaannya, dia menyalakan HP nya. 'Ish...apa coba, jam berapa ini...kan janjiannya juga masih 2jam lagi...' Rutuknya dalam hati membaca pesan yang dikirim Revan tanpa berniat untuk membalasnya.


Dia mengirim pesan pada adiknya, mengingatkan janji menjemput Haikal. Dia harus memastikannya, barulah merasa tenang.


"Mba Linda...kemarin bos kantor XX kalo siang tuh ga ada diruangannya, duuuhhh selamet deh Tejo gak dapet tatapan es nya yang bisa membekukan itu. Habis aku taruh itu 'paket', ngaciiirrr dehhh cari selamat xixixixixi." Kelakar Tejo.


"Hari ini juga kamu bakal selamat kok, mas hehe" Jawab Linda sambil bersiap-siap.


"Loh, bener po mbak... Aaahhh mbak ini sok sok an deh, ngehibur aku yah... Ga papa juga sih, sekarang ini dia lebih anteng kok. Kata pakde Rahmat sih bentar lagi dia mau nikah, mbak. Udah persiapan gitu, duuhh pasti mewah yah hajatannya." Tejo malah bergosip. Gosipnya bakal makin hot kalau sampai Tejo tahu kalau Linda ada janji bertemu Revan siang itu.


'Syukur lah kalau dia mau menikah, jadi kekhawatiranku tidak beralasan. Lalu apa mau dia?' Pikir Linda.


"Mbak! Malah ngelamun... Pulang gak, nih?" Tejo membuatnya tersadar.


Jalur yang Linda lalui siang ini bukan menuju sekolah Haikal, maka ia pun mencari masjid terdekat lainnya untuk melaksanakan shalat dhuhur. Dia sudah hafal betul daerah itu, karena dekat dengan kantornya dulu bekerja. Kini dia memarkirkan motornya tidak dibelakang kantor, tempat para karyawan, tapi didepan tempat untuk pengunjung. Walau kantor itu masih sama seperti dulu, dia juga masih mengenal satpam dan beberapa petugas tapi tetap saja saat ini dia hanyalah pengunjung.


"Mbak Naura nya masih sibuk gak, Pak?" Tanya Linda setelah menyapa petugas keamanan disana.


"Lind... Sinii, ini loh anak-anak kangen sama kamu." Belum sempat Linda mendapat jawaban, dia melihat Naura melambaikan tangannya.


Setelah bernostalgia sebentar dengan teman-teman rekan kerjanya dulu, mereka melangkahkan kaki menuju parkiran.

__ADS_1


"Kita mau ketemu siapa sih, Lind. Kok tumben kamu ngajak aku?" Naura penasaran karena semalam Linda tidak bercerita apa pun.


"Panjang ceritanya, Ra. Kapan-kapan aja deh, nanti keburu jam istirahat mu habis. Yuks..." Ajaknya.


"Iihhh...gak sabaran amat, jadi makin penasaran deh. Cowok ya? Ganteng ga?" Goda Naura.


"Apaan sih?! Orang mikirin takut bikin kamu telat malah ngelantur kemana-mana." Protesnya diikuti cekikikan Naura.


Naura memaksa untuk menggunakan mobilnya ke cafe, dia gak mau rambutnya kusut kena angin katanya. Setelah memarkirkan mobilnya, Meilinda keluar dari mobil. Revan yang melihatnya sempat dibuat terkejut, menebak-nebak siapa yang bersama Linda. Ternyata seorang wanita, nafasnya berhembus lega.


"Hai, Lind. Makasih yah udah mau dateng, ayo duduk, kita pesan dulu makan yah." Linda memilih untuk tidak duduk bersebrangan dengan Revan, tapi mengambil kursi disebelahnya dan mendorong Naura untuk duduk berhadapan dengan Revan.


"Ini Naura, sahabat saya." Linda memperkenalkannya. Revan terdiam sebentar, tapi ketika melihat Naura menyodorkan tangannya, dia pun tanpa ragu lagi menyambut.


"Naura"


"Sori aku pikir kamu dateng sendiri, Lind." Revan agak canggung dengan kehadiran orang asing saat dia ingin berbicara dengan Linda.


"Duh jadi gak enak nih, maaf aku ganggu ya? Ini semalam Linda yang ngajak, tapi dia ga bilang mau ketemu kamu." Naura bukan orang yang **** yang tidak mengerti makna kalimat Revan.


"Ndak papa, Ra. Kamu tahu sendiri aku gak mungkin bisa ngobrol berdua saja dengan laki-laki yang bukan mahramku disini." Revan mengalah, dia mencoba untuk memahami bahwa ini bagian dari keyakinan yang dianut oleh Linda.


"Ya udah, anggap aja aku ga ada..." Ucapan itu dia tujukan pada Revan.


"Jadi?" Tanya Meilinda.


"Kita makan-minum dulu lah, Lind." Tapi kemudian Revan melanjutkan ucapannya melihat reaksi Linda yang sepertinya tidak nyaman.

__ADS_1


"Oke, aku ga akan menyita waktu kalian lebih lanjut. Sebentar lagi aku akan menikah, Lind. Tapi sebelum aku memutuskan benar-benar meneruskan rencana ini, aku pengen kamu tahu kalau aku suka sama kamu. Sejak pertama pertemuan kita yang tanpa sengaja itu, aku gak bisa ngelupain kamu." Revan memberi jeda ucapannya.


Meilinda semakin tidak nyaman berada disana sedang Naura terbelalak mendengar penuturan lelaki didepannya. Siapa laki-laki ini, kenapa tiba-tiba dia menyatakan perasaannya pada Linda? Dia tidak pernah mendengar Linda dekat dengan laki-laki manapun, kecuali Haikal. *hehe


"Mungkin kamu pikir aku bercanda, aku sendiri juga gak pernah punya perasaan seperti ini sebelumnya. Sejak dulu papi sudah menjodohkan ku dengan Siska, aku gak pernah dekat dengan wanita mana pun selain dia dan tidak ada wanita yang bisa membuat hatiku bergetar seperti kamu, Lind. Jadi kalau kamu mau menerimaku, aku bisa meninggalkan semua buat kamu." Ditatapnya Linda dengan penuh keteguhan, dia benar-benar menganggap tidak ada Naura yang semakin terbelalak dan menatap bergantian antara Revan dan Linda.


Linda menghela nafas dengan berat dan perlahan. "Maaf, saya tidak menerima anda. Kami permisi, ayo Ra." Linda beranjak dari duduknya.


"Tunggu, Lind." Revan hampir saja meraih lengan Linda untuk menahan kepergiannya,tapi kemudian dia urungkan. Tangannya hanya menggantung diudara, ditatapnya Meilinda yang berdiri terdiam didepannya dengan tangan terangat keatas sebatas dada, setelah sekian kali bertemu dengan Revan kini Linda sudah bisa refleks memproteksi diri.


"Lihat...kita berbeda. Jalan hidup kita berbeda, keyakinan kita berbeda." Ucap Linda tegas.


"Aku bisa belajar, kamu bisa ajarkan aku. Gak masalah buat aku, agama apa pun baik." Jawab Revan dengan cepat demi meyakinkan Linda.


"Tapi masalah buat saya, buat kami, saya dan putra saya. Agama buat kami tidak untuk dipermainkan, bisa dengan mudah berpindah hanya karena makhluk lain. Permisi." Kali ini Linda benar-benar meninggalkan Revan yang berdiri terpaku.


"Kamu harus cerita sedetail-detailnya, Lind! Kalau enggak, aku gak mau jadi temenmu lagi." Ancam Naura sambil melajukan mobilnya.


"Iya, sekarang aku manut kamu mau diajak makan kemana. Kamu tadi ga jadi makan siang kan, aku traktir deh sebagai ucapan terimakasih karena sudah nemenin aku. Tapi jangan yang mahal ya..." Canda Linda. Mereka akhirnya berhenti di warung bakso langganan mereka semasa masih menjadi rekan kerja, Linda bercerita sambil menikmati baksonya.


.


.


.


.

__ADS_1


-Cerita tentang Revan sampai disini saja ya, temans, kalau kepanjangan nanti semakin melenceng dari jalurnya. Habis ini babak baru, kira-kira Meilinda bakal ketemu sang ustadz di chapter berikutnya atau belum ya.... Simak terus, temans, dan terimakasih buat dukungannya semua... Sampai ketemu hari Senin 🥰


__ADS_2