
"Duduk Revan, papa mau bicara!" Titah pak Gunawan saat melihat putranya sudah siap dengan setelan jas seperti biasa jika akan pergi ke kantor keesokan harinya.
"Sudah berapa lama kamu tinggalkan rumahmu? Papa tidak keberatan kamu tinggal disini, toh ini juga rumahmu tapi tidak dengan cara meninggalkan istri dan mengacuhkannya!" Revan hanya mendengarkan sambil lalu perkataan papa nya.
"Revan gak pernah cinta sama Siska, Pah." Jawabnya ketus dan dingin.
"Kalau tak cinta kenapa kamu nikahi juga, sekarang kalian sudah terikat pernikahan dihadapan Tuhan dan juga negara. Kamu harus bertanggungjawab terhadap istrimu!"
"Tanggungjawab seperti apa lagi, Pah? Revan sudah menafkahi, mencukupi bahkan lebih dari cukup kebutuhan Siska. Revan kembalikan perusahaan yang sudah Revan kembangkan, apa lagi yang mereka tuntut?! Perusahaan mereka berkembang pesat dibawah kepemimpinanku, sekarang keuntungannya sudah berlipat, anggap saja itu bayaran dariku selama disana." Revan berdiri dan hendak beranjak dari tempatnya.
"Tunggu, Revan! Jangan buat Papa malu sama ustadz Abdul, papa minta kamu tidak lagi pergi ke pesantren itu! Hari ini kita ada meeting penting, kita akan mulai proses pengambil alihan perusahaan menggantikan posisi papa. Besok kita ke Jawa, kamu selesaikan baik-baik urusanmu disana. Jika memang tidak bisa dipertahankan, lakukan dengan benar!" Titah pak Gunawan. Saat ini Revan tidak punya pilihan, dia sudah meninggalkan semua yang dia punya di Jawa. Dia harus menuruti kemauan papa nya agar perusahaan yang memang sudah menjadi hak nya itu jatuh ketangannya.
Dulu, dia menolak berada dibawah kepemimpinan sang papa dan memilih merantau ke Jawa. Mulai mencari pekerjaan, dengan bermodalkan ijazah lulusan luar negeri memang tidak sulit dia mendapatkan posisi dalam sebuah perusahaan. Perusahaan milik papi nya Siska. Bukan hal yang aneh dan sudah bisa diduga setelah sekian lama mengembangkan perusahaan, Siska jatuh hati padanya. Awalnya dia menikmati perannya, walau terkadang juga merasa jengah dengan sifat manja dan posesif Siska. Sampai akhirnya tanpa disengaja dia bertemu Meilinda di pantry kantor.
Wanita dengan kecantikan alamiah, tanpa polesan berlebihan. Satu-satunya wanita yang tidak terpesona melihatnya, bahkan menolak untuk memandangnya. Wanita yang pada akhirnya membuat dia tidak bisa memejamkan mata tanpa membayangkan wajahnya. Penolakan Meilinda saat itu benar-benar membuat harga dirinya jatuh, dia tidak bisa terima seorang wanita menolak untuk mendampinginya.
Dia merasa yakin, Meilinda akan menyesal setelah dia bertunangan dengan Siska. Dia menunggu Meilinda datang dan memohon untuk mau diperistrinya, apalagi jika dilihat saat itu Meilinda tidak memiliki materi berlebih, pasti dia memiliki nilai dimata Meilinda.
Dia terus menunggu dan menunggu, sampai akhirnya dia tidak dapat lagi menolak pernikahannya. Dan sosok wanita yang dinantikannya sama sekali tidak menampakkan diri. Kehadiran Siska yang selalu menempel membuat ruang geraknya tidak bebas, bahkan sekedar ingin menemui Meilinda.
Sampai pada akhirnya dia nekat mulai mencari keberadaan Meilinda, pertengkaran kerap terjadi antara dia dan Siska yang telah resmi menjadi istrinya. Ketika dia sudah tidak lagi bisa bertahan dengan sesak didadanya, dia putuskan untuk meninggalkan perusahaan dan juga semua yang ada di Jawa. Dia terpaksa pulang dan menerima bekerja dibawah pimpinan dan kendali Papa, menceritakan bahwa dia sudah tidak ada kecocokan dengan perusahaan keluarga istrinya.
Pak Gunawan menyambut dengan senang kehadiran putranya, dia akan didik putranya menjadi pemimpin yang lebih baik dari dirinya. Dia berniat untuk mundur dan memantapkan dirinya untuk berhijrah setelah dia yakin Revan mampu dan berubah lebih baik.
Seharian itu Gunawan benar-benar tidak melepaskan pengawasannya terhadap Revan, membuat dia tidak dapat pergi untuk menemui Meilinda. Terpaksa rencananya tertunda, apalagi besok lusa dia akan berangkat ke Jawa. Membereskan dan memutuskan semua urusannya seperti yang diinginkan papa nya, mengajukan perceraian ke pengadilan agama.
Dilain tempat, Meilinda baru saja kembali dari pasar dengan barang belanjaan yang dibawakan Abdul ke belakang. Rencananya dia akan membuat perbekalan yang dia masak untuk perjalanan mereka, untuk pakaian dan kebutuhan lainnya sudah dia packing dari semalam. Rencananya mereka akan berangkat lewat tengah malam, dengan perkiraan telah sampai di pelabuhan penyebrangan sebelum subuh agar bisa menjalankan ibadah subuh di masjid sebelum naik kapal.
Perjalanan menggunakan kapal memakan waktu sekitar satu setengah jam, Meilinda menatap matahari terbit disamping Abdul, suaminya dengan bergandengan tangan diatas kapal yang terus bergerak membelah air laut. Tidak ada percakapan, mereka hanya menikmati keajaiban alam dengan sesekali saling memandang, tersipu dan tersenyum bahagia. Lain halnya dengan Saeful yang menikmati perjalanan dengan beristirahat didalam mobil, sekalian menjaga barang-barang. Tidak dapat dipungkiri, terkadang ada saja tangan-tangan jahil disana.
__ADS_1
Setelah dua jam perjalanan darat dari pelabuhan, akhirnya kendaraan mereka berhenti disebuah perkampungan yang sangat asri. Didepan sebuah rumah yang masih mempertahankan keaslian daerah, dengan pekarangan yang luas tanpa menggunakan pembatas atau pagar Meilinda berdiri memandangi sekitar.
Matahari sudah naik, menyinari bumi. Dikejauhan dilihatnya seorang gadis cilik berlari-lari kecil bermain mengejar anak ayam yang ketakutan. Gelak tawa terdengan renyah dari mulutnya yang mungil, Meilinda ikut tersenyum melihat tingkahnya yang menggemaskan. Dilihatnya Abdul, disebelahnya yang telah turun dari mobil juga berdiri terpaku melihat pemandangan didepannya.
Abdul melihat bidadari kecilnya, dia tumbuh dengan keindahan sempurna. Setitik air mata menelusup keluar dari ujung matanya, rindu yang membucah serasa menyesakkan. Dia ingin berlari mendekati putri kecilnya, memeluknya dan menciumnya sampai puas. Tapi kakinya seperti terpaku ditanah, tidak dapat digerakkan.
Kesadarannya kembali saat dirasanya sebuah tangan halus mendekapnya dari samping, menggenggam tangannya memberi dia kekuatan. Tersenyum lembut dengan mata yang berkaca-kaca sambil mengangguk kecil, menyatakan perasaan yang sama mereka miliki.
"Assalamualaikum, Abdul! Sudah sampai lah kalian, mari masuk lah dulu. Mari mari..." Sambut seorang lelaki paruh baya yang keluar dari rumah dan berkata sambil menuruni tangga rumahnya.
"Waalaikumsalam, paman. Itu Khansa...?"
"Iya lah itu anakmu, biarkan lah dia bermain dulu, nanti terkaget lah dia jika langsung kau temuinya. Mari masuk lah dulu."
Hidangan khas sudah tersaji di ruangan yang terbilang luas itu, dirumah panggung yang terlihat sangat kokoh walau pastinya sudah berumur. Mereka duduk beralaskan tikar, berkeliling membentuk hampir lingkaran sempurna. Percakapan ringan terdengar mengisi ruangan dengan kelakar mempererat hubungan persaudaraan.
Sesosok mungil muncul dari belakang, diikuti seorang wanita muda yang sedari tadi menemani diluar. Khansa tanpa ragu bergabung dalam lingkaran, memandang kearah datuknya yang selama ini menjaga seakan meminta ijin diperbolehkan mengambil salah satu camilan yang tersedia di tengah mereka. Senyum merekah terlukis diwajahnya yang tembem dan segera mengambil makanan itu dan melahapnya.
"Itu Mutiyah, masih kerabat jauh kami. Sejak kecil berkawan dengan Billa, kemana-mana mereka berdua selayaknya saudara kembar. Usianya tidak jauh dengan Billa, hanya selisih beberapa bulan saja." Papar paman Sanuri.
"Tiyah lah yang merawat Khansa sejak datang kesini, dia bahkan selalu menolak untuk dinikahkan karena tak mau berpisah dengan Khansa." Lanjutnya. Mutiyah berperawakan mungil seperti mendiang Ummi, pantaslah jika orang menyebut mereka seperti saudara kembar.
"Jadi, bagaimana paman apa kami boleh membawa Khansa pulang?" Abdul bertanya dengan tidak sabar.
"Seperti yang pernah paman ucap dulu, tak akan paman menghalang-halangi sesuai dengan amanah Billa. Kapan pun Khansa siap, boleh lah kau bawa dia. Hanya saja, apa tidak akan berpengaruh apa-apa kah pada dirinya jika kau membawanya?"
"Kami mengerti Khansa masih kecil dan membutuhkan adaptasi, paman. Rencana kami akan tinggal beberapa hari disini untuk mendekatkan diri dengan Khansa, jika paman dan keluarga tidak berkeberatan dengan kehadiran kami." Ucap Meilinda.
"Nah bagus lah itu, tinggal kalian lebih lama disini. Kenali putri kalian, berbaurlah dengan tradisi disini. Walau bagaimana pun disini tanah leluhurnya pula."
__ADS_1
Mereka kemudian diajak kesebuah rumah disamping rumah utama, rumah yang lebih kecil yang digunakan sebagai rumah untuk tamu. Mungkin lebih tepatnya sebuah ruangan terpisah dari pada rumah ya, karena disana hanya ada satu kamar kecil dan ruang tengah yang lebih besar. Didalam kamar hanya terdapat kasur beralaskan tikar, Meilinda dan Abdul bertatapan sambil tersenyum.
Tidak masalah bagi mereka bisa tinggal dimana saja, Meilinda terbiasa hidup susah dan Abdul sendiri sering melakukan dakwah keliling. Rasa syukur tidak habis-habisnya mereka panjatkan, bisa sampai sejauh ini dan bertemu putri mereka.
Setelah menata barang-barang, Meilinda keluar mencari Khansa dan Abdul, suaminya. Ternyata mereka sedang bermain di serambi rumah, Abdul membantu Khansa mengayunkan ayunan yang terbuat dari ban bekas dengan tali rotan. Mutiyah duduk tidak jauh dari mereka, ikut larut dalam kegembiraan.
Meilinda tidak mau mengusik kedekatan Abdul dan Khansa, biarlah lain kali saja dia akan bermain dengan putrinya. Langkah kaki dia arahkan ke belakang rumah rumah utama, menuju dapur untuk membantu disana.
Langkah Meilinda terhenti ketika dia hendak masuk kedalam dapur, dia tidak bermaksud menguping hanya saja rasa penasaran membuatnya menajamkan telinganya.
"Jadi macam mana lah, Mak nasib si Tiyah itu?"
"Macam tu lah, nak. Lagi pula dia seperti punguk merindukan bulan, dia sendiri sadar lah itu."
"Mak kan tahu macam apa dia, walau Billa sendiri sudah menasihatinya, keras kepala betul lah dia. Dia cakap, Khansa yang akan menjadi pengikatnya. Sudah berapa lelaki yang dia tolak karna mengharapkan duda dari ayuk nya sendiri."
"Mamak pun bingung memikirkan nasih Tiyah, bagaimana jika Khansa dibawa Abi nya? Semoga saja setelah itu mau lah dia menikah, dan semoga pula ada jodohnya lah dia."
'Ada apa dengan Tiyah...?" Benak Meilinda.
"Assalamualaikum... Ada yang bisa Mey bantu kah Ibu?" Sapa Meilinda tetap dengan niatannya.
"Aaahhh mari... mari lah, betina memang lah harus pandai di dapur, kau tolong kupaskan ini bawang buat bumbu ya..." Sambutan ramah tanpa kepura-puraan atau basa-basi bisa Mey rasakan selama di dapur, terlepas dari percakapan yang tanpa sengaja dia dengarkan itu. Mey senang sekali karena keluarga Ummi menerimanya dengan baik.
.
.
.
__ADS_1
.