
Setelah selesai dengan es goyobod dan pembicaraan mereka, akhirnya motor matic melaju kembali kerumah. Abdul segera menuju kantor pondok setelah memarkirkan motornya, Meilinda masuk kedalam rumah mengecek keadaan Khansa yang ternyata masih terlelap. Mutiyah sedang merapikan baju-bajunya, memasukkannya dalam koper.
"Loh, dek, kok dimasukkan?" Tanya Meilinda setengah berbisik agar tidak membangunkan Khansa, putrinya.
"Bersiap-siap, bunda, Tiyah hendak pulang." Senyum tergambar dibibir Mutiyah saat melihat orang yang diajak bicara, tapi matanya tidak bisa menyembunyikan sedih yang dirasa dihatinya.
Meilinda memberi isyarat untuknya keluar dari kamar, mereka duduk dikursi meja makan.
"Kenapa Tiyah mau pulang?"
"Memang itu yang terbaik, bunda. Sesuai amanah ayuk Billa, bahkan seharusnya Tiyah tak perlu ikut kesini, kalau saja Tiyah tidak buta hati dan egois."
"Bagaimana mungkin kami biarkan kamu pulang sendiri, kami yang sudah membawamu dan meminta izin pada keluargamu. Kalau kamu mau pulang, sudah sepantasnya kami pun yang harus mengembalikanmu pada keluargamu."
"Tiyah sudah bercerita pada paman dan ibu, mereka kecewa sekali. Secepatnya Tiyah harus pergi dari rumah ini, tidak lagi menjadi duri dalam hidup ustadz dan bunda. InsyaaAllah Tiyah akan baik-baik saja, terimakasih bunda masih mengkhawatirkan dan perduli pada Tiyah." Isak tangis mulai terdengar pelan.
"Kapan kamu pulang?"
"Rencana pekan depan, bunda, Tiyah sudah booking tiket tapi semua tergantung dari kepolisian. Tiyah masih harus menghadap lusa, kalau diizinkan pihak polisi maka Tiyah segera pulang."
"Niatnya bunda mau ngomong nanti saja kalau sudah sedikit tenang, tapi melihat rencanamu seperti itu yah bunda omongin sekarang saja." Meilinda menjeda ucapannya.
"Ada yang mengajukan ingin berta'aruf dengan Tiyah, bagaimana menurutmu?"
"Hah?!"
"Iya, salah seorang ustadz disini bertanya pada ustadz Abdul meminta izin untuk berta'aruf denganmu, apa kamu bersedia?"
"Tapi Tiyah bahkan tidak mengenal ustadz disini selain ustadz Abdul, eh maaf maksud Tiyah bukan Tiyah masih berharap pada ustadz Abdul, tapi.... Siapa dia, bunda?"
"Kamu mengenalnya, ustadz Saeful..." Mutiyah membelalakkan matanya.
"Tak perlu kamu jawab sekarang, pikirkan lah dulu matang-matang. Bunda dan juga ustadz Abdul sepakat mendukung semua keputusanmu, dia orang yang baik dan insyaaAllah mampu membimbing dan menjadi imam untuk Tiyah."
"Hiks hiks hiks..." Suara tangis khas anak kecil yang baru terbangun dari tidurnya terdengar dari arah kamar, Meilinda menghampiri dan menggendong Khansa, memberi Mutiyah waktu untuk berfikir.
Suara adzan berkumandang, Meilinda mengajak Khansa untuk shalat bersamanya di masjid.
Malam itu, Khansa tertidur dikamar utama setelah lelah bermain bersama bunda nya. Mereka membiarkannya tertidur disana tanpa memindahkan ke kamar tamu. Untuk pertama kalinya Mutiyah tidur malam tanpa ditemani Khansa, sulit rasanya mata terpejam. Sebenarnya bukan karena tidak ada Khansa yang membuatnya begitu, tapi bayangan seorang lelaki yang katanya ingin mengkithbahnya.
Mutiyah memutar kembai ingatannya pada sosok yang dia lihat sering berada disamping ustadz Abdul itu, ustadz Saeful. Perawakannya tinggi besar, cocok jika disebut bodyguardnya ustadz Abdul. Orangnya pendiam tapi baik dan perhatian, Mutiyah ingat dia yang selalu memberi perhatian padanya untuk hal-hal kecil selama dalam perjalanan.
Dulu Mutiyah pikir wajar saja, bentuk kesopanan dan sikap gentleman. Tidak disangka ternyata ustadz itu menaruh hati padanya. Jika saja hatinya tidak buta, mungkin saat itu dia bisa membaca maksud lain lelaki itu. 'Senyumnya juga manis..., tapi sayang dia bukan tipeku.' Batin Mutiyah.
__ADS_1
Abdul baru saja kembali dari masjid, dia menatap istri dan putrinya tertidur bersama. 'MasyaaAllah...pemandangan yang indah sekali.' Batinnya. Khawatir membangunkan keduanya, Abdul menggelar karpet di lantai sebelah kasur. Meilinda bergerak, mendengar suara-suara.
"Ssshhhttt...gak usah bangun." Bisik Abdul. Posisinya bersimpuh di lantai bertumpu pada lutut dan kakinya, membuatnya hampir sejajar dengan tubuh Meilinda.
"Kak Bas ngapain? Mau tidur dibawah, apa nanti ndak sakit punggungnya?" Meilinda mengkhawatirkannya.
"Gak papa, udah biasa kok. Sudah tidur lagi, nanti Khansa ikut terbangun. Selamat tidur, my zaujaty..." Ucapnya, kemudian berdiri untuk mencium kening istrinya dan juga mengusap pelan kepala putrinya dengan hati-hati agar tidak membangunkannya.
Esok harinya, hari Jumat pekan ke 2 adalah hari perijinan untuk ikhwan di pondok pesantren Babussalam. Ijin diberikan pada santri bisa meninggalkan pondok selama setengah hari, dimulai jam 8 pagi sampai menjelang ashar.
Pagi-pagi setelah menyelesaikan tugasnya, Haikal pulang kerumahnya diikuti beberapa santri yang berasal dari luar kota. Haikal sudah rindu masakan bundanya, dan teman-temannya ikut nimbrung numpang makan disana karena keluarga tidak datang menjenguk karena jarak.
Meilinda sudah tahu kebiasaan putranya itu, maka sedari habis subuh tadi dia sudah sibuk di dapur memasak masakan yang istimewa lebih banyak. Tidak harus mewah namun berbeda dari yang biasa dimasak di dapur umum pondok.
Pagi itu Meilinda memasak soto ayam khas Lamongan, sudah lama Haikal merindukan masakan khas yang ada di kampung halamannya. Dia dan beberapa temannya makan dengan lahap. Abdul sudah makan duluan tadi, sengaja tidak makan bersama agar santri tidak merasa canggung dengan kehadiran pimpinan yayasan pondok. Abdul bermain-main didepan bersama Khansa.
"Assalamualaikum ustadz, syukron untuk sarapannya. Alhamdulillah laziz... hahahahaha"
"Mantaps ustadz..."
"Full perut ana, alhamdulillah..."
Bermacam komentar nyeleneh dari para santri teman Haikal lontarkan ketika mereka akan pamit kembali ke asrama saat melewati ustadz Abdul, Haikal yang melihatnya dari pintu hanya bisa tersenyum-senyum geli.
Mutiyah membantu Meilinda mencuci piring-piring kotor dibelakang, kini dia lebih sering melakukan pekerjaan rumah daripada mendampingi Khansa. Perlahan Mutiyah mulai menjauh dari Khansa agar tidak berat saat harus meninggalkannya, kembali ke kampung halamannya.
Obrolannya dengan Meilinda terngiang kembali, dia menjadi bimbang. Jika dia kembali ke kampung, hidupnya akan hampa tanpa Khansa. Sudah berulang kali dia menolak pinangan lelaki, dia sudah dianggap perawan tua tidak akan ada yang mau menikahinya. Tapi menerima ta'aruf an dari ustadz Saeful juga hatinya masih ragu.
"Dek...kok melamun?"
"Eh... iya, bunda ada apa? Ada yang perlu Tiyah bantu?"
"Ndak kok, cuma dari tadi diperhatikan kok bengong aja. Lagi mikirin apa?"
"Tak ada, bunda, hanya berfikir saja."
"Soal?"
"Soal pulang, apa yang akan Tiyah lakukan selanjutnya. Sudah tak ada Sasa, Tiyah mungkin bantu ibu sama paman di sawah."
"Lalu ustadz Saeful?"
"Tiyah bingung, bunda."
__ADS_1
"Ustadz Abdul pernah cerita bagaimana pada akhirnya bersedia menerima Ummi, Tiyah pernah dengar ceritanya?"
Meilinda mendudukkan dirinya disamping Mutiyah, beberapa hari ini melihat Mutiyah lebih banyak murung membuatnya merasa iba.
"Ayuk Billa bercerita ustadz belajar di Mesir dan akan kembali kemudian menikahinya setelah lulus, sementara menunggu ayuk tinggal sama Nyai buat belajar."
"Ummi cerita apa soal bunda?"
"Yuk Billa kata, Allah berbaik hati padanya karena meminjamkan ustadz Abdul untuk mendampinginya, waktunya sudah habis sudah seharusnya ustadz Abdul kembali ke jodoh yang sudah ditakdirkan Allah, cinta pertama ustadz."
"Ya, bunda sendiri baru tahu semua itu setelah beberapa saat menikah. Ustadz bilang, dulu beliau shalat istikharah untuk menentukan menerima atau tidak. Jawaban datang dari seorang musafir yang bilang 'pilihlah Salsabila, maka kau akan sampai pada tujuanmu' maka dari itu ustadz Abdul bersedia menikah dengan Ummi. Semua sudah ditakdirkan oleh Allah."
"Kalau kamu ragu, shalat lah, panjatkan doa pada Allah untuk menghilangkan keraguanmu dan minta petunjuk. Masa haid nya sudah selesai kan?"
Mutiyah mengangguk sambil sedikit terisak, malu mendapatkan perlakuan baik dari Meilinda setelah apa yang sudah dia lakukan.
"Bunda..." Haikal mencarinya.
"Abah mau ajak Haikal ke kota sekalian shalat Jum'at diluar.... Mas pergi dulu ya, cantik, nanti kita main lagi. Pulangnya mas belikan oleh-oleh, mau?" Haikal pamit pada bundanya sambil menggandeng Khansa masuk, lalu dia duduk bertumpu pada lututnya berbicara pada adik kecilnya agar mereka sejajar.
Sore itu Abdul pulang dengan membawa kasur busa yang dibelinya di kota, dia membawa masuk kedalam kamar utama. Meilinda yang melihatnya terheran-heran.
"Apa itu, kak, kok dibawa masuk ke kamar?"
"Buat Abah tidur, mulai malam ini Khansa kan tidur dikamar utama, ya kan?" Abdul menjawab dengan mata berbinar-binar, Meilinda terkekeh melihatnya.
Malam itu, seperti kemarin, Meilinda menatap putri kecilnya tertidur disampingnya. Sesekali terdengar suara dari arah bawah, Abdul tidur dengan gelisah, mengganti posisi membolak-balikkan badannya. Meilinda tersenyum kecil melihatnya, perlahan dia turun dari tempat tidurnya, meletakkan guling ditepi sisi tempat tidur agar putrinya tidak terjatuh, dilihatnya sang suami tidur membelakanginya.
Perlahan dengan berjalan berjinjit, dia mendekati Abdul. Dia mengambil selembar tisu tanpa menimbulkan suara, pelan disapu tisu itu di atas telinga suaminya. Merasa ada serangga yang mengganggunya, Abdul menepisnya sambil tetap memejamkan matanya berusaha untuk terlelap. Meilinda mengulanginya sampai beberapa kali, sambil berusaha menahan tawanya.
Grep...
Tiba-tiba dengan gerakan cepat, Abdul meraih tangan Meilinda dan menariknya, menjatuhkan badannya diatas tubuh Abdul dan menguncinya. Hampir saja Meilinda berteriak karena kaget, tapi bibirnya sudah dibekam dengan bibir Abdul yang lanjut men****nya.
Nafas mereka terengah-engah, saling menatap kemudian tertawa bersama tanpa suara. Kegiatan mereka berlanjut sampai keduanya benar-benar kelelahan.
Lain di kamar sebelah, Mutiyah mulai melaksanakan shalat istikharah nya. Meminta petunjuk kepala sang Pencipta, agar dia tidak lagi salah langkah. Besok hari terakhir dia harus melapor ke kantor polisi, setelah itu dia akan kembali pulang ke kampung halamannya.
.
.
.
__ADS_1
.