Cinta Pertama Ustadz

Cinta Pertama Ustadz
32.


__ADS_3

"Ummi mana? Ummi gimana?" Meilinda memberondong pertanyaan dengan tidak sabar, matanya mencari-cari keluar sambil tetap mengikuti langkah Aisyah menuju kamar utama, kamar Ummi dan ustadz Abdul.


Aisyah terdiam, helaan nafasnya terdengar berat.


Meilinda melihat teh Ais mengambil pakaian ustadz Abdul dilemari, HP dan memasukkan handuk kemudian beranjak ke kamar mandi mengambil alat mandi. Meilinda berdiri terpaku, hanya memperhatikan dan menunggu Aisyah.


"Ummi masuk ICU lagi, kondisinya sangat lemah. Bunda bisa tolong siapkan ini untuk Abah? Ais mau kebelakang, menyiapkan makan untuk dibawa ke rumah sakit." Jawab Aisyah sambil menyerahkan alat mandi yang dipegangnya lalu beranjak ke belakang.


Meilinda menatap gamang pada barang yang dia terima. Segera dia sadarkan diri dan mencari tempat untuk membawa semua yang telah Aisyah siapkan. Dia menghampiri Aisyah dengan goodybag berisi barang-barang tadi.


"Tolong Bund, antar ini ke rumah sakit. Siang ini Ais ada kelas sama anak-anak, Dzaki juga sebentar lagi pulang sekolah. Abi nya menghandle kelas Abah jadi tidak bisa jemput, tidak enak minta tolong ustadznya mengantar kesini." Papar Aisyah


"Pastikan makanan ini dimakan Abah, jangan sampai hanya Abah berikan pada orang lain dengan alasan tidak selera makan. Bunda juga katanya belum sarapan kata bik Asih, sekalian kalian makan bersama. Ada tiga kotak Ais siapkan, yang satu untuk ustadz Saiful. Pergi lah bund, sudah ditunggu didepan."


Meilinda menganggukkan kepalanya, menerima rantang yang disiapkan Aisyah. Setelah bersiap diri, dia kedepan naik mobil yang memang sudah menunggu untuk kembali ke rumah sakit. Meilinda hanya berdua saja dengan ustadz Saiful, sehingga dia duduk di belakang. Tidak ada pembicaraan selama perjalanan, pikirannya dipenuhi dengan tanya.


"Maaf Ukhti, boleh ana bertanya?"


"Apa ya, ustadz?"


"Apa sebelumnya Ukhti mengenal ustadz Abdul? Maksud ana, sebelum Ukhti datang ke pesantren ini apa sudah pernah bertemu sebelumnya?"


"Kenapa ustadz bertanya seperti itu?"


"Hahahahaha maaf jika pertanyaan ana aneh. Hanya saja, hari itu sewaktu melihat Ukhti dikejauhan setelah menguji Haikal di sekolahnya, sepertinya ustadz Abdul mengenal Ukhti. Tapi waktu Ukhti dan rombongan datang berkunjung sepertinya biasa saja, ana jadi bertanya-tanya. Hehe maaf ukhti jika tidak berkenan menjawab tidak apa-apa."


Meilinda terdiam saja, mobil sudah memasuki area parkir rumah sakit. Setelah keluar dari mobil, mereka bergegas masuk kedalam rumah sakit. Ustadz Saiful berjalan didepan menunjukkan jalan, sedang Meilinda mengikutinya tidak seberapa jauh.

__ADS_1


Meilinda bisa melihat dari jendela kaca besar didalam ruangan itu Ummi berbaring lemah dengan alat deteksi jantung terpasang, bunyi dengan ritme perlahan dan berulang-ulang terdengar memilukan. Selang infus tersambung pada lengannya. Disampingnya ustadz Abdul duduk membelakangi jendela. Tangan kiri menggenggam tangan Ummi dan tangan kanan terus bergerak mengikuti biji-biji tasbih yang tiada habisnya karena terus berputar.


Ummi tersenyum melihat kedatangan Meilinda, terlihat bahwa dia memberitahu ustadz Abdul keberadaannya terbukti kemudian dia membalikkan badannya dan beranjak keluar. Abdul berdiri terpaku dihadapan Meilinda, keduanya tidak mengeluarkan suara. Untunglah terdengar adzan dari kejauhan, ustadz Abdul pamit tanpa suara hanya anggukkan kepala.


Meilinda meletakkan barang bawaannya dilocker yang disediakan, dia juga memasukkan HP nya disana karena tertulis tidak boleh membawa alat komunikasi kedalam ruangan. Setelah mencuci tangan, dia masuk dengan disambut senyum lemah Ummi.


"Assalamualaikum, Ummi."


"Waalaikumsalam..."


"Ummi mau dibantu untuk shalat?" Ummi menganggukkan kepalanya. Meilinda membetulkan hijab Ummi dan membantu bertayamum sekedarnya karena Ummi tidak boleh banyak bergerak. Meilinda menunggu dalam haru disamping Ummi, setelah selesai Ummi mengajaknya berbicara.


"Ummi rasanya sudah tidak kuat, bund. Tapi masih mengganjal rasanya dihati ini sebelum yakin betul ada yang mendampingi Abah."


"Mey mohon, Ummi tidak perlu memikirkan itu lagi. Berjuang lah Ummi."


"Hampir dua tahun Ummi berjuang, setahun terakhir ini sudah berkali-kali Ummi meminta Abah untuk mencari pendamping, Ummi ikhlas. Abah tetap menolak. Ummi tahu Abah rindu Khansa, putri kami. Tapi Abah tetap memilih Ummi." Ummi menjeda ucapannya, sebenarnya Meilinda ingin bertanya tapi diurungkannya.


"Ummi..."


"Maaf, bu... Pasien butuh istirahat, sebaiknya ibu menunggu diruang tunggu." Tiba-tiba seorang suster sudah berada disampingnya dengan peralatan suntik, dia memasukkan obat kedalam selang infus. "Sebentar lagi Ummi akan tertidur." Lanjut suster itu dan mengajak Meilinda untuk keluar dari ruangan.


Meilinda mengambil barang-barang nya, melangkah menuju kursi tunggu dan duduk. Dia letakkan rantang makanan disebelahnya dan tertunduk memikirkan perkataan Ummi. Sampai baru dia sadari seseorang ikut duduk di kursi tunggu itu, ustadz Abdul duduk disampingnya hanya terhalang oleh rantang makanan.


"Ustadz makan lah dulu bersama ustad Saiful, saya permisi ke masjid untuk shalat." Ucap Meilinda kemudian berdiri. "Oh ya, pesan teh Ais, saya harus memastikan ustadz makan. Jadi saya mohon ustadz mau makan, ini barang-barang yang disiapkan teh Ais untuk ustadz. karena terburu-buru ustadz sampai lupa tidak membawa HP katanya".


Setelah Meilinda menjauh, Abdul mencari HP nya. Ada beberapa pesan yang masuk, salah satunya dari Aisyah yang segera dia baca. Kemudian dia memanggil Saiful yang berdiri tidak jauh darinya, menyerahkan satu kotak makan sekalian menitipkan Ummi dalam pengawasannya. Abdul beranjak membawa dua kotak makan lainnya.

__ADS_1


Meilinda terus berdoa setelah melaksanakan shalatnya, sungguh dia bingung sekali menyikapi keadaan ini. Teringat kembali dia akan mimpi-mimpinya akhir-akhir ini. Kenangan saat pesantren kilat dimasa sekolahnya dulu sering kali muncul.


Berganti dengan mimpi munculnya Hamdan, mantan suami mendatanginya dengan tersenyum. Seperti mimpi dulu yang pernah dia alami. Hamdan menghampirinya dan duduk disampingnya, menggenggam tangannya kemudian berkata


"Bun...aku ikhlas kamu mendampinginya. Dia lelaki yang baik yang bisa menjaga mu dan Haikal. Dia lebih baik dari aku, dalam menyayangi mu dan membimbingmu..."


Air mata menetes ketika Meilinda mengingat kembali dengan jelas mimpinya, pertanda kah ini ya Allah...


Dia melepas mukena dan melipatnya. Ketika keluar dari masjid, dia melihat seseorang duduk ditangga masjid, disampingnya tersimpan dua kotak makanan yang tadi dia bawa dari rumah.


"Ustadz kok ada disini?"


"Kamu belum makan juga kan? Ayo kita makan, Ummi sudah istirahat dijaga Saiful yang juga sedang makan disana."


"Ustadz makan saja, saya biar nanti dirumah." Jawab Meilinda sungkan.


"Kamu belum makan dari pagi, kalau gak mau, kak Bas juga tidak. Kamu bisa bawa ini pulang lagi." Ucapnya. Akhirnya Meilinda mengangguk sambil tertunduk pasrah, sebenarnya dia merasa sedikit lemas juga. Setelah pergulatan batin yang menguras emosi dan menyedot energinya, dia butuh asupan tenaga. Singkirkan rasa canggung, pasrah akan takdir yang akan Allah berikan.


Meilinda duduk satu tinggat anak tangga diatas Abdul, pandangan mereka lurus kedepan. Mereka makan dalam diam. Sedikit kesulitan Mei menelan makanan yang telah dikunyah, rasanya ada duri yang menghalangi ditenggorokan. Abdul telah menyelesaikan makannya, dia menutup kotak makan dan mengambil dua botol minuman mineral yang dibelinya tadi. Dia menyerahkan satu botol untuk Meilinda, dilihatnya Mei belum menghabiskan makannya tapi sudah menutup kotak makan itu.


"Nanti saya teruskan lagi dirumah, ustadz." Ucapnya seakan mendengar pertanyaan dalam tatapan lelaki itu.


"Baiklah, ucapan adalah janji. Tidak baik menyisakan makanan, mungkin keberkahan terdapat pada makanan yang tertinggal." Ucapnya. "Bisa kita bicara sebentar?" Tanyanya. Meilinda duduk terpaku, Abdul membetulkan duduknya kembali menatap pemandangan taman didepan.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2