Cinta Pertama Ustadz

Cinta Pertama Ustadz
49.


__ADS_3

Pagi-pagi mereka sudah berkemas, membersihkan rumah dan sampah karena rumah akan ditinggal lagi maka tidak boleh ada makanan atau sisa makanan yang mengundang binatang pengerat datang. Meilinda sudah membawa surat-surat penting bersamanya jika suatu saat diperlukan, membereskan beberapa barang sebisanya. Belum selesai semua karena waktu mereka tidak banyak, rencana mereka akan mampir kerumah tante Ivone dan mengundang rekan-rekan kerjanya dulu dan juga Naura.


Segala urusan dirasa sudah beres, kini perjalanan dilanjutkan menuju kota Solo. Tempat kelahiran Meilinda, setelah sekian lama akhirnya dia akan pulang kerumah. Mereka mampir ketempat katering tante Ivone, semua menyambut karena mereka datang di weekday. Ivone tampak ikut bahagia melihat Meilinda bahagia, dia menitipkan salam untuk Naura karena tidak bisa bertemu.


Perjalanan dari kotanya ke kota Solo memakan waktu sekitar 2-3 jam, Abdul juga mengendarai dengan santai, tidak ada yang dikejar-kejar. Mereka mampir shalat saat menjelang adzan dhuhur di masjid depan komplek rumah Meilinda, sebetulnya masih sempat kalau mereka pulang dulu karena adzan masih beberapa saat lagi. Tapi Abdul tetap memarkirkan mobil disana.


"Kok ndak pulang dulu saja, sudah dekat kok? nanti Abah bisa ke masjid lagi kalau sudah menjelang adzan." Tanya Meilinda.


"Pengen kesini dulu aja... kalau sudah dirumah Mey pasti heboh duluan deh, mungkin lebih praktis shalat dirumah buat Mey." Jawab Abdul lalu turun mendahului, menunggu Mey dan Haikal mengikutinya.


"Haikal tahu tidak, disini pertama kali Abah bertemu Bunda. Disini pertama kali Abah jatuh cinta sama Bunda."


"Beneran, Bund? Emang bunda pernah ketemu Abah disini? Bukannya bunda sama abah baru bertemu di pondok ya?" Haikal bertanya tidak percaya.


"Ceritanya panjang, mas." Meilinda tersenyum pada putranya dan mengusap kepalanya. Mereka beriringan memasuki area masjid, duduk dianak tangga sambil menunggu waktunya masuk adzan.


Mereka berbincang-bincang sebentar disana, menjawab pertanyaan Haikal dengan singkat. Abdul ingin sekali bernostalgia bersama istrinya disana, mencoba mengenal lebih jauh lagi masa kecil sang istri.


Setelah masuk waktunya dhuhur, mereka ambil air wudhu. Abdul mengumandangkan adzan dengan merdu, Meilinda dan Haikal sebetulnya sudah pernah mendengar suara Abahnya itu saat mengaji tapi jika melantunkan adzan baru kali ini, sehingga mereka terkesima mendengarnya. Meilinda jadi semakin jatuh cinta [ciieeee 🤭]


Sampai dirumah kehebohan langsung terjadi, Ningrum memeluknya antusias sambil cipika cipiki dan teriak-teriak. Tidak kalah heboh juga langsung memeluk dan mencubit Haikal yang merasa risih dengan tingkah laku budek nya itu. Abdul langsung mendekati Bima dan bersalaman, hanya senyum-senyum melihat reaksi para nyonya besarnya.

__ADS_1


Malam hari keluarga berkumpul di cafe milik Seno, pasangan baru diinterogasi habis-habisan oleh kakak-kakaknya. Suasana kekeluargaan sangat terasa, canda tawa gelak sesekali terdengar mengiringi perbincangan mereka. Kebahagiaan sangat dirasa oleh Meilinda, dan dirasakan juga oleh kakak-kakaknya menjadikan mereka terharu dan ikut berbahagia.


Meilinda yang dulu adalah seseorang yang sedikit menutup diri, semua kejadian dimasa lampau membuatnya seperti itu. Pertemuan yang sangat jarang dengan keluarga padahal jarak mereka tidak terlalu jauh membuatnya semakin 'tersisih' dari keluarga besarnya. Percakapan jarak jauh pun baik lewat telfon atau chat jarang membuatnya tertarik untuk bersuara. Kini adik kecil mereka telah kembali, satu-satunya anak perempuan yang selalu membawa keceriaan, membuat mereka repot dengan tingkah laku pemberontak dan banyak maunya.


Terbukti, untuk acara ini saja Meilinda banyak sekali memprotes. Dia tidak mau menggunakan adat Jawa, ingin acara sederhana saja. Akad diadakan di masjid perumahan, lalu ramah tamah tanpa perlu adanya pelaminan. Pengantin akan berbaur dengan tamu, dia juga menolak memakai kebaya karena sudah mendapat amanah untuk memakai kembali gamis yang dia pakai saat akad didepan Ummi dulu.


Baru kemarin, sebelum dia berangkat Aisyah mendekati dan memintanya kembali mengenakan gamis itu saat menikah.


"Dulu, Nyai yang membuat dan menjahit sendiri baju ini dengan penuh cinta. Nyai berangan-angan memakaikan baju ini untuk putrinya menikah dan putri menantunya, Ais juga saat menikah pakai baju ini. Sayang Ummi tidak bisa mengenakannya, kebesaran. Ummi juga menolak untuk memperbaharui baju itu. Ummi meminta untuk diijinkan memakai baju peninggalan Mamak nya, dan berjanji akan menyimpan gamis dari Nyai karena suatu saat nanti pasti akan berguna."


"Semua seperti sudah diatur Allah, Bund, bahwa Bunda memang jodoh kang Abdul sejak lama." Aisyah berkaca-kaca mengenang perjalanan hidup kakak kesayangannya itu. Aisyah wanita yang lembut dan tegar, bijaksana dan dewasa walau usia mereka sebaya.


Mereka berpelukan erat, Meilinda yang tidak punya kakak perempuan merasa sangat nyaman dengannya. Teman yang terasa kakak karena selalu membimbingnya. Dia memang punya kakak ipar yang juga sangat baik dan pengertian, tapi mbak Ayu tinggal jauh. Mbak Ningrum yang selalu ceria dan menyenangkan, dan sekarang terasa lengkap dengan adanya Aisyah disampingnya.


Hari yang dinanti pun tiba, persiapan sudah dilakukan sejak subuh. Meilinda sudah bersiap diruang transit belakang masjid, ditemani Ayu. Dengan mengenakan gamis setelah mengetahui sejarahnya, dia memandang pantulan dirinya dicermin. Dia tidak mengenal sosok Nyai, Ais bilang Nyai tuh mirip kak Bas. Pembawaannya menyenangkan, baik dan perhatian. Itu sebabnya kak Bas sangat dekat dengan Nyai dan selalu ingin membahagiakan beliau.


Meilinda bisa mendengar bahwa rombongan pengantin pria sudah tiba, tidak ada seremonial. Abdul pun kembali mengenakan jubah putih saat akad dihadapan Ummi, kembaran dengan Haikal. Memang mereka sengaja membelinya bersama saat Haikal datang kerumah sakit lebih awal dulu, Abdul ingin mereka menjadi keluarga seutuhnya. Karena Abdul tidak hanya menjadikan Meilinda istrinya tapi juga menjadikan Haikal putranya. Setelah doa dan nasihat pernikahan dari penghulu, maka ijab kabul dilaksanakan.


"Sah...sah...sah!"


Terdengar seruan orang-orang dalam masjid, Meilinda melangkah memasuki masjid dan duduk didamping suaminya. Mengikuti instruksi dari pihak penghulu dan menandatangani buku nikah mereka, menunjukkan kepada keluarga yang hadir sekaligus dokumentasi. Baru lah saat itu dia bisa melihat rekan-rekan dan keluarga yang hadir, haru menyelimuti saat dia melihat ibu dan Gendis hadir. Alhamdulillah, selama masa pernikahannya dengan Hamdan, ibu adalah orangtua bagi Meilinda. Restu ibu sangat lah berarti untuknya, lega rasanya karena ibu bisa legowo melepas menantunya.

__ADS_1


Meilinda menghampiri ibu, sungkem dan meminta maaf untuk segala kekurangannya selama mendampingi putra beliau. Ibu mengusap kepala Meilinda dengan sayang, semua ikut terhanyut dalam haru.


Acara dilanjutkan dirumah, ketika berbincang dengan Ibu dan Gendis akhirnya Meilinda tahu bahwa suaminya meminta ibu untuk datang bersama Fajar dan keluarga. Ibu mengakui bahwa menantunya tidak salah memilih suami, karena ibu bisa merasakan perhatian dan kasih sayang serta tutur kata yang baik darinya. Meilinda menatap suaminya dari kejauhan sedang berbincang dengan tamu lainnya, ya dia memang beruntung.


Rasanya lelah tapi senang, sudah lama Meilinda tidak merasa sebahagia ini. Seharian ini dia selalu tersenyum, beban besar telah lepas dari pundaknya. Saat ini mereka sedang beristirahat, berkumpul bersama keluarga besar. Petugas katering mulai membereskan barang-barang.


Abdul mendekati Meilinda dan duduk disebelahnya menikmati camilan khas kota daerah, sesekali dia menyuapi istrinya yang sibuk bercengkrama dengan keluarga.


"Duuhhh ini pengantin baru lengket teruusss ga mau jauh-jauhan, pamer mesra teruusss serasa dunia milik berdua ajah, kita ngontrak ini..." Goda Seno.


"Sirik aja, gak bisa liat orang happy!" Balas Meilinda sambil menjulurkan lidahnya. Semua tersenyum bahagia melihat Meilinda yang terlihat ceria, mereka ikut bahagia akhirnya adik kecil mereka mendapatkan pasangan yang sangat perhatian dan sayang padanya.


.


.


.


.


Maaf temans,

__ADS_1


Up nya hari ini sedikit yah... Lagi bingung nih, apa sebaiknya cerita ini langsung ke ending aja atau lanjut yah hehe kok rasanya belum rela nih meninggalkan kak Bas...


__ADS_2