Cinta Pertama Ustadz

Cinta Pertama Ustadz
33.


__ADS_3

"Mengenai permintaan Ummi, tolong jangan dijadikan beban. Jangan dilakukan jika terpaksa, Mey masih ingat waktu itu kak Bas bilang apa? Lakukan dengan hati agar menjadi berkah dan lebih mudah, jangan terpaksa karena permintaan Mama. Bahkan waktu itu kak Bas bersedia menjelaskan pada Mamamu kan, Alhamdulillah Mey mau mencoba. Sebenarnya saat itu kak Bas sudah yakin, Mey pasti mau." Senyum kecil tercipta dari bibir tipis Abdul, pandangannya menerawang lebih jauh lagi dari taman depan masjid rumah sakit itu.


"Ini kayak dejavu ya... Dulu, juga ngobrol depan masjid kayak gini." Meilinda ikut terbuai dalam angan, rasa canggung itu menguap tiba-tiba.


'Alhamdulillah ternyata masih ingat...' Batin Abdul tersipu, dia sedikit menundukkan kepalanya khawatir semu merah dipipi itu terlihat orang lain.


"Mey boleh bertanya? Tadi Ummi menyebut nama Khansa, dimana dia?" Kini dia memperhatikan sosok didepannya, walau saat itu tidak terlihat tapi Meilinda yakin mata teduh lelaki itu tidak berubah sama sekali, menenangkan.


Teringat dia tidak berkutik karena lelaki itu menatapnya saat dia dengan sengaja memakinya, menentang semua instruksinya dalam kegiatan pesantren kilat. Ingin sekali dia, lelaki itu membalas membentaknya agar bisa dia katakan pada Mama kalau pengajar disana tidak baik. Tapi tidak, dia dengan sabar menunggunya selesai kemudian mengajaknya berbicara diluar masjid.


Menjelaskannya dengan perlahan dan lembut, bahkan tidak keberatan mengantarnya pulang memastikan Meilinda benar sampai dirumah dengan selamat mengingat belum waktunya kegiatan hari itu selesai, dia khawatir Mei akan keluyuran dulu. Memberi pengertian pada Mama untuk tidak memaksakannya dan bersedia mampir setiap pagi untuk membimbingnya belajar iqro walau hanya sebentar tanpa harus Mey mengikuti kegiatan di masjid.


Hanya beberapa kali saja dia muncul dirumah, Mei sudah mulai lancar membaca huruf demi huruf. Saat itu kemudian dia pamit, tidak bisa datang lagi. Dia meminta Mey datang ke masjid jika ingin lanjut belajar, seperti yang lain.


Tapi dia tidak seperti yang lain, lelaki itu sesekali tetap mengajaknya berbincang didepan masjid. Bahkan sampai setelah acara itu usai, lelaki itu sesekali menghubunginya via telfon dirumah. Hanya pembicaraan ringan, seputar kegiatan sehari-hari mereka.

__ADS_1


Ya, salah satu siswa yang mengadakan kegiatan pesantren kilat dilingkungan rumahnya dulu itu adalah ustadz Abdul, yang dulu biasa dia panggil kak Bas. Nama Abas, singkatan dari A. Basyir atau Abdul Basyir karena ada beberapa teman yang sama bernama Abdul disekolahnya sehingga dirubah untuk memudahkan.


Sekali dua kali Mey menerima surat dari Cairo Mesir saat kak Bas baru saja melanjutkan kuliahnya disana dengan beasiswa, kak Bas bercerita mendapat kesempatan magang disalah satu divisi penerimaan haji dan umroh KBRI di Mekah dan bisa sekalian berkesempatan umroh, dia mendoakan suatu saat nanti Mey mendapat kesempatan untuk berkunjung ke tanah suci.


Surat terakhir yang Mey terima seperti kalimat perpisahan. Kak Bas mengatakan ingin berkonsentrasi belajar, suatu saat nanti jika Allah mengijinkan mereka akan bertemu kembali. Saat itu Meilinda sudah duduk di kelas dua sekolah menengah atas. Dia tidak pernah membalas surat kak Bas karena memang tidak ada alamat pengirim yang tercantum, padahal Mey juga ingin sekali bercerita tentang dirinya, juga teman laki-laki yang sedang dekat dengannya.


Dulu saat kak Bas masih di pondok pesantren kota kelahirannya, dan sesekali menelfonnya, dia bercerita tentang kakak kelas yang menarik hatinya. Biasanya jika sudah begitu, kak Bas akan menceramahinya tentang bahayanya pacaran, memintanya untuk selalu berhati-hati menjaga diri dan lain sebagainya.


"Khansa putri kami, usianya hampir dua tahun sekarang. Setelah menikah, lama kami tidak dikaruniai anak. Kak Bas sebenarnya juga tidak menuntut, walau memang mendambakan. Sampai akhirnya amanah itu hadir dalam rahim Ummi, kami sungguh bahagia. Walau sedang hamil, Ummi tetap berkegiatan di pesantren. Tetap mengajar, membimbing santriwati, naik turun asrama sampai akhirnya Ummi mengalami pendarahan dan keguguran. Ummi menolak untuk dibawa kerumah sakit, karena kandungan belum terlalu besar, janin juga baru berupa gumpalan darah maka bidan desa bisa melakukan penanganan. Kesimpulan kami saat itu adalah Ummi kecapean naik turun tangga dan Allah belum memberi kami kepercayaan."


"Alhamdulillah Ummi kembali mengandung, semua langsung menjaga dan menasihati Ummi untuk lebih hati-hati. Janin hanya bertahan sampai usia 7 bulan, karena Ummi kembali mengalami pendarahan lebih hebat lagi. Saat itu bertepatan dengan kecelakaan yang dialami Kiai dan Nyai sepulang menghadiri pernikahan kerabat di luar kota, Ummi shock mendengar berita duka itu sehingga akhirnya kami harus mengebumikan tiga jenazah. Kiai, Nyai dan bayi kami."


"Dari diagnosis dokter, kanker di rahim Ummi sudah lama ada. Selama ini Ummi menyembunyikan rasa sakitnya dengan sangat baik, bahkan kak Bas suaminya pun tidak tahu itu. Sebenarnya dokter menyarankan untuk melepas janin itu, tapi Ummi memohon dengan sangat untuk memberinya kesempatan sekali lagi. Dokter sudah menjelaskan resiko yang akan dialami Ummi, rasa sakit yang akan diderita Ummi tapi dia tetap bersikeras. Akhirnya kami menyerah dengan syarat, Ummi harus bedrest total dan selalu kontrol ke dokter untuk mengecek pertumbuhan kanker dirahim Ummi."


"Sejak saat itu Ummi mulai memikirkan untuk mencarikan kak Bas pendamping hidup lagi, Ummi merasa sedih karena keterbatasannya sehingga tidak bisa mengurus segala kebutuhan suami. Padahal sudah kak Bas bilang Kak Bas sama sekali tidak berkeberatan, sungguh kak Bas ingin Ummi kembali seperti dulu, sama-sama membangun pesantren."

__ADS_1


"Bukan kah dalam Islam poligami diboleh kan, apalagi memang kondisi Ummi memungkinkan untuk itu, kenapa menolak?" Meilinda tidak bisa menahan untuk bertanya, '...pasti karena kak Bas sangat mencintai Ummi sampai tidak mau membagi hati dengan wanita lain,' pikir Meilinda dalam hati.


"Betul itu, Mey. Tapi tidak sesederhana itu, untuk bersikap adil pasti sulit sekali. Dan kita tidak pernah tahu azab Allah akan ditimpakan pada kita karena menyakiti hati seseorang, kak Bas tidak mau menyakiti hati orang lain. Ummi manusia biasa, yang kak Bas yakini tidak ada seorang wanita yang mau dimadu, walau mengatakan ikhlas pasti hati kecilnya tetap merasa sakit. Kak Bas takut azab Allah, Mey. Lagi pula Kiai dan Nyai sudah mengamanahi Ummi pada kak Bas untuk selalu menemani, membimbing dan mendampingi Ummi. Kak Bas sudah berjanji menyanggupi itu."


"Lalu Khansa?"


"Iya, Ummi akhirnya melahirkan seorang bidadari mungil dengan operasi. Khansa, alhamdulillah lahir dengan selamat tapi kemudian Ummi masuk ICU. Kami kemudian berdiskusi siapa yang akan merawat Khansa untuk sementara waktu, keluarga Ummi dari pulau S datang berkunjung. Menawarkan untuk membawa Khansa bersama mereka, setelah berdebatan yang alot akhirnya kami mengalah. Khansa dibawa, mereka berjanji jika Ummi dinyatakan sembuh atau ada ibu lain yang akan merawatnya baru mereka akan menyerahkan Khansa."


Abdul menutup ceritanya dengan menghapus tetes air mata yang mengalir dipipinya. Meilinda terenyuh dan sedih mendengar kisahnya, ikut tersedu-sedu.


"Sekali lagi kak Bas bilang sama Mey, ikuti kata hati Mey jangan terpaksa karena seseorang. Mari, sebaiknya Mey kembali ke pondok." Meilinda berjalan dibelakang ustadz Abdul kembali menuju ruangan Ummi. Disana Ummi masih terlelap karena pengaruh obat yang diberikan, akhirnya dia menitipkan salam dan pamit melalui ustadz Abdul.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2