Cinta Pertama Ustadz

Cinta Pertama Ustadz
58.


__ADS_3

Jauh sebelum waktu dhuhur, Meilinda sudah bersiap kembali kerumah. Baru sebentar saja dia tidak melihat putrinya, sudah rindu rasanya. Ketika motor maticnya memasuki pintu gerbang, Revan sudah melihatnya dan segera turun dari mobilnya. Kepala keamanan yang tentu saja melihat istri pemilik pondok itu lewat juga segera besedia, terlebih kemudian melihat sang tamu sedang berjalan menghampiri Meilinda.


Kaki kepala keamanan itu urung dilangkahkan ketika sosok itu pun muncul dari masjid dan melambaikan tangan kearahnya. Abdul yang sedari tadi tilawah sambil mengawasi dari dalam masjid ikut keluar dan berjalan dibelakang Revan. Memang dia tidak menunggu dirumah karena khawatir akan ada fitnah karena ada Mutiyah disana, maka dia menunggu di masjid. Lagipula dengan jendela yang besar-besar dan mengarah ke jalan, semakin mudah dia memperhatikan situasi diluar.


Meilinda memarkirkan motornya didepan, seperti biasa Abdul yang akan memasukkannya nanti kedalam jika malam menjelang, siapa tahu nanti ada keperluan yang harus memakai motor itu jadi lebih mudah jika sudah standby didepan. Dia terkejut ketika melihat seseorang sudah dekat menghampirinya, tapi melihat sosok suami tak jauh darinya, dia bisa lebih tenang. Dia menundukkan pandangannya dan berjalan menuju rumah.


"Linda, aku datang. Sejak kemarin pun aku sudah datang, ada kabar gembira yang ingin aku sampaikan padamu."


"Kabar gembira apa itu, mas Revan?" Tanya Abdul dari belakangnya dan terus berjalan menghampiri Meilinda istrinya, yang langsung mencium punggung tangan sang suami.


Abdul tidak ragu-ragu mengusap kepala Meilinda dan mencium keningnya lamaaa, seakan menunjukkan nya pada Revan. Dan itu berhasil membuat hatinya panas terbakar amarah dan cemburu.


"Aku sudah mengajukan perceraian ke pengadilan, jadi statusku sebentar lagi lajang. Aku tidak keberatan nanti dengan statusmu, Lind yang menikah untuk ketiga kalinya denganku. Hidupmu akan lebih baik bersamaku, tak perlu berpanas-panasan pakai motor ataupun mengasuh anak orang, kamu akan punya putri sendiri dariku." [halu tingkat tinggi ni orang🤨]


Meilinda membelalakkan matanya mendengar penuturan Revan, sejurus kemudian dia kembali mengalihkan pandangannya. Merasa kesal sekali dengan kehadirannya.


"Mengapa anda berfikir saya akan melepaskan istri saya? Bahkan sampai berkhayal istri saya akan menerima anda. Saya harap anda tahu diri mas Revan, ini sudah kedua kalinya anda mengganggu ketidak nyamanan istri saya. Saya tidak akan segan-segan melaporkan anda ke kepolisian, silahkan anda meninggalkan pondok ini." Abdul berkata dengan tegas, kemudian mengajak Meilinda untuk masuk kedalam rumah.


Kali ini Revan kembali harus mengalah, tapi bukan mengakui kekalahan. Dia telah menyusun rencana agar ustadz itu mencampakkan Meilinda dan mau tidak mau menerimanya.


Ketika hati telah gelap, mata pun menjadi buta. Kebaikan didepan yang nyata dianggap suatu keburukan, hati yang telah lemah dengan mudah dikuasai setan. Bisikan demi bisikan semakin membuat hati mengeras.


Mutiyah semakin sering terlihat mengirim pesan chat melalui HP nya, Meilinda yang memperhatikan Khansa terlihat mulai lelah dan mengantuk kemudian menggendongnya dan membawanya kedalam kamar utama.


'Alhamdulillah, nak, senang sekali bunda bisa mendapatkan kesempatan tidur denganmu.' Batin Meilinda sambil terus memandangi wajah mungil nan cantik dihadapannya dan menepuk-nepuknya pelan.


Mutiyah tersadar Khansa tidak ada didekatnya, dia mencari-cari disekitar rumah dan mendengar suara orang melantunkan shalawat dengan pelan dari arah kamar utama yang pintunya sedikit terbuka.


Diberanikannya diri untuk mengintip kedalam, ternyata Meilinda sedang menidurkan Khansa disana yang sudah hampir terlelap. Menyadari kehadiran Mutiyah, Meilinda menempelkan jari telunjuk di bibirnya dan memintanya menutupkan pintu.


Patah hatinya, Khansa semakin jauh darinya. Jika seharusnya dia menyalahkan diri sendiri karena tidak menyadari sampai Khansa dibawa, untung didalam rumah. Apa jadinya jika itu terjadi diluar, dan orang tidak dikenal yang membawa Khansa. Tapi, karena hatinya telah diliputi oleh setan penggoda yang dibenak Mutiyah adalah menyalahkan Meilinda.

__ADS_1


'Bisa-bisanya ayu Mey membawa Sasa masuk ke kamarnya, bisa sekali dia mencuri-curi kesempatan disaat aku lengah.' Bisiknya dalam hati. Dia langkahkan kakinya menuju depan, mencari hawa segar untuk meredakan panas dihatinya.


Dari kejauhan dia melihat ustadz Abdul berjalan memghampirinya, dia merasa senang sekali dan tersenyum semanis mungkin sambil memperhatikan lelaki itu.


"Assalamualaikum, tolong dijaga pandangannya ukhti pada yang bukan mahramnya." Ucap Abdul sambil lalu melewati Mutiyah yang hanya bisa terpaku ditempatnya.


'Sial! Kenapa dingin sekali ucapannya.' Mutiyah menghentak-hentakkan kakinya menahan kesal. Dari kejauhan seseorang melihat tingkah Mutiyah sambil tersenyum simpul.


Perlahan Abdul masuk kedalam kamar utama, menutup kembali pintu dan menguncinya berusaha agar suaranya tidak mengganggu bidadarinya yang sedang terlelap. Sebelumnya dia menerima kiriman foto melalui aplikasi chat nya, Khansa sedang tertidur disamping istrinya. Dia pun hafal betul dengan latar belakang foto itu adalah kamar mereka, rasa tidak rela karena cuma istrinya yang bisa menikmati tidur bersama Khansa membuatnya segera pulang.


Meilinda terkekeh melihat kedatangan Abdul, binar-binar bahagia dan haru nampak dimatanya. Abdul ikut naik dan berbaring diatas kasur, menempelkan tubuhnya dibelakang sang istri dan memeluknya sambil terus memperhatikan putri kecilnya.


Ternyata Khansa sama sekali bukan anak yang rewel, sekali dua kali dia mengubah posisi tidurnya tapi setelah itu kembali terlelap. Abdul sudah kembali melakukan pekerjaannya, setelah dia mengecup pipi dan kening Meilinda. Sebenarnya dia ingin mencium putrinya juga, tapi mendapatkan serangan dari sang istri yang tidak mau sampai Khansa terbangun.


Meilinda masih betah memandangi Khansa yang tidur, sampai hampir dua jam lamanya. Dia melihat tubuh mungil itu mulai bergerak, mendudukkan dirinya sambil mengejap-ngejapkan dan mengucek-ngucek mata lalu melihat kearahnya. Meilinda menunggu reaksi Khansa, terus memberikan senyumnya. Khansa balas tersenyum, kembali merebahkan diri disamping Meilinda sambil memeluknya.


"Buwa..." Ucap bibir mungilnya.


"Hahaha assalamualaikum, cantik... Waalaikumsalam..." Ucap Meilinda dengan perlahan, mencoba mendrilling ucapan salam pada putrinya berkali-kali.


"Sasa haus? Mau minum?"


"Mimi..."


Mereka keluar dari kamar menuju meja makan dan mengambil air putih disana. Meilinda menuntun Khansa untuk duduk dan mengusap basmallah sebelum minum, dia mengedarkan pandangannya mencari sosok Mutiyah yang biasanya tidak pernah lepas dari Khansa. 'Kemana dia?'


Adzan ashar berkumandang, Meilinda yang memang berniat mengajak Khansa untuk shalat bersamanya di masjid tetap tidak melihat Mutiyah. Dia sempat mencari-carinya disekitar rumah dan juga asrama putri, tapi tetap tidak ada. Di dalam kamar, semua barangnya masih tersimpan.


Khansa duduk memperhatikan orang-orang melakukan gerakan shalat, ini bukan pertama kali untukny karena dia sering melihat bijunya shalat tapi dia terkesima dengan gerakan orang banyak yang melakukannya hampir bersamaan. Selesai shalat, Khansa menjadi sorotan santriwati dan ustadzah disana. Semua berebut ingin mencolek, mencubit dan menggendong Khansa. Semua akhirnya bubar setelah Khansa mulai merasa risih dan bersembunyi dipangkuan Meilinda, suara deheman juga terdengar dari sebelah, area ikhwan yang merasa terganggu dengan suara berisik dari area akhwat.


Meilinda membawa Khansa kembali kerumah diikuti oleh Aisyah yang terus menggoda gadis mungil itu.

__ADS_1


"Kemana Mutiyah, bund?"


"Itu dia, teh, Mey gak tahu. Dari tadi Khansa tidur sama Mey terus ga lihat Mutiyah, Mey jadi khawatir, teh. Dia kan belum kenal daerah ini, takut kesasar."


"Ini kan kampung, bund, emang dia mau kemana coba. Tinggal tanya orang aja udah pada tahu tempat ini, lagian dia pasti pergi gak jauh kalau jalan kaki kan. paling sekitar sini aja, jalan-jalan."


Saat akan pulang, Aisyah melihat sebuah ojek online menurunkan Mutiyah didepan gerbang pondok pesantren.


"Dari mana Tiyah?" Tanyanya ketika mereka sudah dekat. "Jawab teteh, dari mana?" Mutiyah menghentikan langkahnya.


"Jalan-jalan saja." Jawabnya tanpa membalikkan badan untuk menghadap Aisyah.


"Dari tadi bunda mencarimu, sangat khawatir padamu, lain kali kalau mau pergi pamit lah dulu. Kamu amanah yang harus kami jaga disini, oh ya tolong tuliskan nomor HP mu disini." Mutiyah mengembalikan HP Aisyah setelah menuliskan angka-angka disana, lalu masuk kedalam.


"Bi-ju..." Khansa berlari dan memeluk biju nya, walau bagaimana pun Mutiyah sosok yang paling dia kenal dan paling dekat karena sejak dilahirkan selalu bersamanya.


"Sasa tak rewel kan? Tak menangis?" Tanyanya lembut dijawab dengan gelengan kepala.


"Darimana saja, dek? Bunda khawatir kamu kenapa-kenapa."


"Tak apa lah, bunda, Tiyah bisa jaga diri Tiyah sendiri. Permisi Tiyah mau sembahyang dulu."


"Sasa dah tolat, sama buwa ditana, banyak..."


"Iya, tadi Sasa ikut bunda shalat di masjid ya? Suka? Maghrib kita shalat di masjid lagi, mau?" Khansa menganggukkan kepalanya. "Shalat lah dulu, dek, biar Sasa menunggu disini agar kusyuk kamu shalatnya." Dengan terpaksa Mutiyah menurunkan Khansa dari gendongannya.


Malam telah larut, Mutiyah masih belum bisa menutup matanya sedangkan Khansa sudah terlelap disampingnya. Dia meraih bungkusan yang tadi dia sembunyikan disaku roknya, memandangnya dengan ragu kemudian menyimpannya ditempat yang lebih aman dan mudah dia ambil jika memang diperlukan. 'Yah, jika memang diperlukan, dia terpaksa menggunakan cara itu." Gumamnya.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2