Cinta Pertama Ustadz

Cinta Pertama Ustadz
9.


__ADS_3

"Astaghfirullah..." Pekik Linda sambil menepis Revan.


"Kamu tuh kenapa sih?! Sombong sekali ya, saya tuh ga ada niatan ngapa-ngapain kamu!" Revan membentaknya. Heran rasanya Revan setiap kali dia berdekatan dengan perempuan dihadapannya ini pasti dia menghindar, bahkan dipegang saja menolak. Apa pesonanya sudah memudar sampai-sampai ada perempuan yang menolaknya, bahkan cuma dipegang tangan saja tidak mau.


"Maaf, pak. Dalam agama saya dilarang bersentuhan dengan yang bukan mahramnya. Sekali lagi saya minta maaf, tapi saya benar-benar harus pergi. Saya bukan karyawan anda, anda tidak bisa melarang saya. Jika ada keluhan silahkan bapak menghubungi nomor kami. Permisi..." Tanpa menunggu lagi Linda keluar dari ruangan itu dengan setengah berlari.


"Tunggu, Linda..." Revan berlari mengejar Linda sampai depan lift. Karena khawatir akan kembali berduaan dengan lelaki itu, akhirnya Linda memilih untuk menggunakan tangga. Revan tetap bersikeras mengikutinya.


"Tunggu, Linda... Oke, sorry..." Revan memblokir jalan Linda.


"Aku cuma pengen kenal kamu, itu saja. Kita bisa ngobrol sambil makan siang." Rekor nih, baru kali ini Revan meminta berkenalan dengan perempuan biasanya dia yang selalu dikejar-kejar. Linda benar-benar telah membuatnya penasaran.


"Maaf saya gak bisa, saya harus pergi." Elak nya sambil melirik jam yang melingkar pergelangan tangannya. Astaghfirullah sudah lewat waktu Dhuhur, dan dia belum menunaikan kewajibannya itu. Linda pun terburu-buru.


"Kamu mau jemput anakmu, kan. Biar aku antar, sekalian kenalan juga sama dia." Ucapannya sempat menghentikan langkah Linda sekejap


Dari mana dia tahu soal itu? Gumamnya dalam benak. Tapi tak ada waktu lagi buat berlama-lama, dia pun kembali menuruni tangga.


"Kan lebih enak pakai mobil, Lin. Gak kepanasan, anak kamu juga pasti senang." Kelihatannya Revan tak mau menyerah begitu saja.


Linda memarkirkan motornya disebuah mushola kecil sebelum melanjutkan perjalanan menuju sekolah Haikal, diambilnya air wudhu dan bergegas melaksanakan shalat. Jamaah lain sudah menyelesaikan shalatnya, sehingga Linda shalat munfarid.


Malam itu, setelah ritual menjelang tidur dia pun bersiap untuk beristirahat. Badannya terasa lelah, tapi malam itu dia sedikit kesulitan menutup matanya. Pikirannya menerawang, mengingat kejadian di kantor XX dengan bos yang bernama Revan itu.


Linda masih tidak habis pikir dengan lelaki itu, apa mau dia... Hanya ingin berkenalan... Cara berkenalan yang aneh... Terlebih lagi ternyata lelaki itu mengetahui statusnya sudah mempunyai seorang anak, jadi apa maksudnya...


Akhirnya Linda tertidur dengan semua pertanyaan yang belum bisa dia jawab, bermimpi bertemu dengan Hamdan suaminya.


"Bun...aku ikhlas kalau kamu menemukan lelaki yang baik yang bisa menjaga mu dan Haikal. Tapi lelaki itu harus baik dan lebih baik dari aku, dalam menyayangi mu dan membimbingmu..."

__ADS_1


"Mas ingat tidak salah satu hikayah sahabiyah yang kita baca saat taklim rumah, disana diceritakan sepasang suami istri berjanji jika salah satu dari mereka meninggal terlebih dahulu maka yang lain tidak akan menikah lagi karena Allah SWT memberi janji jika kekasih masih setia maka akan kembali dipertemukan di SyurgaNya kelak. Bunda ingin menjadi pendamping ayah di syurga nanti, maka nantikan lah aku."


"Betul, tapi dalam kisah tersebut akhirnya sahabiyah menikah dengan Rasulullah saw dan mendapatkan keberkahan dalam hidupnya. Maka dari itu, kamu pun akan menemukan orang yang lebih baik dari aku." Terlihat Hamdan tersenyum sangat manis.


Meilinda terbangun dari mimpinya, pertanda apa kah ini... Gumamnya. Dia melirik jam diatas nakas, sudah seperempat malam. Dia bangkit dan mengambil air wudhu agar segar dan melaksanakan shalat tahajud dengan khusuk, berharap mendapat petunjuk tentang mimpinya. Sejurus kemudian hatinya tenang, dan menganggap itu hanya bunga tidur. Hamdan hadir karna dia memang merindukannya, selalu merindukannya. Tak lupa dia kirimkan surat Al-Fatihah.


"Gimana, mba kemaren...Kencan dong sm si bos." Tejo menggoda Meilinda keesokan harinya di dapur.


"Opo toh, mas?" Dia mengelak dan tetap sibuk dengan pekerjaannya mengaduk-aduk makanan.


"Lha terus kenapa coba itu bos keukeuh pengen mba Linda yang anter katering, pasti tuh ada hati, mba... Mba kemaren ditembak toh?" Tejo tetap bersikukuh mencari jawaban.


"Enggak lah, mas... Aku ini siapa, dia itu siapa. Aku tuh cuma tukang masak, janda lagi anak satu hahahaha... Udah aahh mas, ntar mood ku jelek trus masakan ku jadi ndak enak mas Tejo mau tanggung jawab..." Linda sedikit mengancam dalam candaan *kyk gimana coba itu ya...😅


"Trus kantor XX aku lagi nih yang anter?" Tanya Tejo lagi.


tok tok


Dan disinilah dia sekarang, didepan ruangan Revan. Dia pun masuk setelah mendengar jawaban dari dalam ruangan.


"Udah dateng, Lin... Bentar aku beresin ini dulu..." Ucap Revan.


"Hah..." Kenapa ya laki-laki ini suka pake kalimat yang ambigu, susah dimengerti maksudnya.


"Maaf, permisi saya harus segera pergi."


"Oke, udah beres kok. Yuk..." Revan mendekati Linda.


"Hah...?"

__ADS_1


"Hah hoh hah hoh dari tadi, katanya buru-buru... Ayo, jemput anak kamu kan, ayo aku antar." Jawab Revan semangat.


"Eh ga usah, pak... Saya bawa motor sendiri kok... Jangan, pak." Segera Meilinda menolak dan beranjak keluar dr ruangan Revan agar tidak ada perdebatan. Revan tersenyum smirk dan mengikuti Linda dengan santai.


Sesampainya di parkiran Linda melihat ban motor nya sudah kempes, dia yakin betul perjalanan tadi tidak ada kendala kok bisa ban nya bocor sampe begitu ya... Mana bengkel jauh lagi dari sana, sementara dari kejauhan Revan datang mendekatinya.


"Ayo..." Revan merentangkan tangan kanannya seperti seseorang yang mempersilahkan.


"Tidak usah, pak, saya naik ojek aja." Tolak Linda.


"Ayo lah Lin, kita kan udah jadi teman. Apa salahnya sih teman membantu, ga usah sok jual mahal deh..." Revan sedikit tersulut emosinya. Rasanya tidak sabar dia menghadapi sikap Linda yang selalu menolaknya, tapi justru itu membuatnya semakin penasaran.


"Maksud bapak?" Linda merada tersinggung, baru saja dia akan melanjutkan kalimatnya terdengar adzan dari kejauhan dan dia pun diam.


"Sory sory...bukan gitu maksudnya, tapi yah ga masalah lah aku antar kan motor kamu juga gak bisa dipake. Kalo pake ojek terus anak kamu mau ditaruh dimana?" Demi apa coba dia bicara ngelantur panjang lebar menjelaskan, tidak biasanya.


Linda terpaksa menuruti Revan karena dia tidak mau berdebat, saat itu adzan sedang berkumandang. Tiba didepan sebuah mobil yang mewah, Revan membukakan pintu depan sebelah kiri untuk Linda. Linda menggelengkan kepalanya...


"Saya ikut pak Revan dengan dua syarat. Syarat pertama, saya duduk dibelakang. Keberatan?" Tantang Linda.


"Hah...?!" Penyakit 'hah' kayaknya penyakit menular dengan cepat, lama-lama mungkin bisa jadi pandemi 🤭


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2