
Langit masih gelap, mereka meninggalkan pondok menuju ibu kota. Meilinda yang masih merasa mengantuk bersandar dikursi belakang dan kembali terlelap.
"Gak ditemani lagi di belakang, tadz?" Goda Saiful
"Nanti ente ngiler, ga fokus nyetir kayak kemaren malah maen HP. Sempet-sempetnya candid lagi."
"Tapi kayaknya ustadz seneng tuh, paham bener lah ana hahaha..."
"Hush mulutmu itu dikontrol, bini lagi tidur dibelakang."
Setelah mampir shalat dan keperluan lainnya, mereka sampai di lokasi. Perjalanan hanya memakan waktu kurang dari 4jam karena jalanan masih lenggang, setelah daftar ulang di meja front office mereka mendapat kamar. Masing-masing masuk ke kamar untuk meletakkan barang dan bersiap diri dan berkumpul kembali untuk sarapan dan pembukaan acara.
Tempat duduk dipisahkan untuk akhwat dan ikhwan, beberapa kegiatan pun dilakukan berbeda dalam kelompok. Sudah lama Mey tidak mengikuti kegiatan seperti ini, rasanya senang sekali berbagi ilmu dan pengalaman. Kegiatannya hanya berkutat pada pekerjaan dapur, rumah sama anak.
Kegiatan selesai pada malam hari, akhwat terlebih dahulu selesai dan Mey kembali ke kamar. Mey buru-buru membersihkan diri sebelum suaminya datang, dia ingin langsung tidur atau pura-pura tidur saat suaminya datang.
Dengan tergesa dia menyelesaikan semua dan naik ke kasur, menutupi tubuhnya sampai leher dan memejamkan mata bertepatan dengan pintu yang terbuka. Abdul tersenyum melihat Mey sudah ditempat tidur, dia beranjak mandi. Shalat sunah dan tilawah sebentar kemudian naik ketempat tidur disebelah Mey yang tidur memunggunginya. Abdul tipe orang yang tidurnya tidak begitu suka pakai selimut, maka dia naik dan tidur diatas selimut.
Ternyata Mey juga tidak terbiasa tidur dengan selimut tebal seperti yang dihotel, tapi dia takut untuk membuka selimutnya. Maka ditunggunya beberapa saat sampai suaminya terlelap. Setelah dirasanya aman, dia bergerak perlahan mengeluarkan kakinya. Merasa pegal karena sedari tadi membelakangi sisi suaminya, kini Mey tidur memiringkan badan menghadap Abdul.
Matanya tidak bisa tidak melihat wajah Abdul dengan cermat, kulitnya putih, hidung kecil mancung dengan bibir yang mungil. Ingin rasanya mengelus wajahnya, tanpa disadari tangan bergerak menuruti perintah dari pikirannya. Baru saja tangannya mendarat dipipi lelaki itu, tangan suaminya sudah memegang tangannya menahan agar tidak berpindah. Abdul memiringkan tubuhnya hingga mereka saling berhadapan.
"Kan udah dibilang jangan godain." Senyumnya menggoda sambil alisnya naik turun, Meilinda jadi kikuk serba salah. "Gak biasa pake selimut juga ya? Cocok berarti, tapi dingin Mey, ga bisa tidur. Sini." Abdul menarik Mey lebih dekat dan mendekapnya di dada.
"Nah kan hangat, nyaman. Selamat tidur istriku." Ucapnya lalu mencium puncak kepala Mey dan mulai memejamkan mata.
Meilinda terus menundukkan kepala, sampai menyentuh dada Abdul karena lelaki itu mendekapnya. Hangat dan nyaman, irama detak jantung yang terdengar dari dada suaminya seperti menghanyutkan membuatnya mengantuk dan dia pun terlelap dalam pelukan suaminya.
Dia terbangun dini hari, merasakan sesuatu yang berat menindihnya. Dia juga merasakan geli di bulu kuduknya,menimbulkan gelenjar aneh. Dibukanya mata, mencoba menyadarkan diri sambil melihat situasi. Abdul memeluknya dari belakang dengan nyaman dan kepalanya sembunyi disekitar lehernya. Nafas Abdul terasa sampai kedaun telinga, rasanya geli tapi menyenangkan sampai tidak sadar dia melenguh.
Abdul semakin dalam menyusup ke leher, Meilinda memutar tubuhnya dan kembali berhadapan dengan Abdul. Dalam temaram minim cahaya, dia menatap manik mata itu. Entah siapa yang memulai, mereka kemudian berciuman mesra dan berhenti dengan nafas memburu.
"Assalamualaikum istriku, terimakasih morning kiss nya. Sekarang permisi, kak Bas harus mandi karena ada yang ikut bangun ini." Dia pun bergegas ke kamar mandi. Sedangkan Mey bersembunyi dibalik selimut mengingat kelakuannya.
Setelah shalat di masjid, Abdul kembali ke kamarnya. Acara pagi itu bebas, menjelang siang akan diadakan tanya jawab dan penutupan lalu makan siang. Meilinda sedang asyik dengan HP nya sambil telungkup diatas kasur, dia sedang berkirim pesan dengan mba Ayu yang memang tinggal di ibu kota. Duh godaan ini mah.
"Kak Bas, mbak Ayu minta ketemuan. Gimana dong?" Meilinda duduk ditepi tempat tidur diikuti Abdul.
"Dimana?"
"Deket-deket sini sih, tapi..."
"Kenapa?"
"Mey harus bilang apa soal status kita? Keluarga belum ada yang tahu kalo Mey menikah. Mana bisa Mey keluar kota dengan dua orang laki-laki dewasa dan perempuan sendiri, bisa-bisa ngamuk mas Tiar."
"Ya mungkin ini saatnya kita memberitahu keluarga." Meilinda menatap suaminya itu dengan tatapan tajam, kenapa jadi rumit begini ya.
"Mey belum siap, kak."
"Tapi tidak baik juga menyembunyikan, mungkin dengan mau terbuka Allah akan buka juga pintu hati Mey. Menyambung silaturahmi itu besar pahalanya, membawa keberkahan."
Meilinda menunduk termenung, akhirnya mengangguk.
__ADS_1
"Kebawah sarapan, yuk, disini terus bisa bahaya. Ustadz juga manusia, Mey. Pening rasanya..." Abdul tertawa meringis.
"Sejak kapan kak Bas tidak lagi...?"
"Waaahhh kapan ya, sudah lama. Tapi hasrat itu memang bisa teredam dengan sendirinya, Mey. Kondisi Ummi kan tidak memungkinkan, secara alamiah terkadang bisa keluar sendiri. Biasanya malam gitu, hehe. Kalau sekarang kan lain, Mey."
"Lain gimana?"
"Punya istri sehat lahir dan bathin, cantik seperti ini godaannya lebih berat." Abdul bergeser lebih dekat. Tangannya mengelus pipi, menyelusup keleher. "Ayok dipake hijabnya..." Ucap Abdul setelah menghembuskan nafas panjang tetap tersenyum lembut.
Sudah sedekat ini dan bisa menahannya.... Meilinda menatap suaminya pilu, mata nya kak Bas menyiratkan kesedihan tadi. Bukan nafsu, dosa kah dia memperlakukan suaminya seperti ini? Dan perasaan apa ini, kecewa? Apa dia juga berharap? Segera dia hilangkan pikiran aneh itu dan mengenakan hijabnya.
Setelah mengunci pintu kamar, mereka berjalan beriringan. Abdul menggenggam tangan Meilinda, tidak ada penolakan, bahkan pipi istrinya itu bersemu kemerahan. Seperti abg baru pacaran, malu-malu kucing.
Acara seminar sudah ditutup, mereka segera berkemas. Abdul sudah mengabari Saiful rencana mereka mengunjungi kakak tertua Meilinda, ditentukan bertemu di salah satu restoran. Saiful memarkirkan mobil di masjid tidak jauh dari lokasi, mereka shalat dhuhur terlebih dahulu.
Di masjid Abdul sempat mengobrol dengan salah seorang jamaah, dia bercerita keperluannya ditempat itu. Setelah mengikuti seminar akan berkenalan dengan kakak dari istrinya, begitu Abdul menjawab. Mereka berdua beriringan berjalan keluar dari masjid, Saiful dengan setia mengekor dibelakang.
Diluar mereka disambut Meilinda yang terkejut melihat suami dan kakaknya bersama.
"Mas Tiar!"
"Loh, Lind, disini juga? Oh ya, kenalkan ini adik saya, dia tidak tinggal disini dan kami memang ada janji bertemu di restoran depan karena kebetulan habis mengikuti sebuah seminar. Atau jangan-jangan tadi kalian ikut seminar yang sama, dek."
Meilinda menatap suaminya bingung, Abdul tersenyum kemudian mengulurkan tangannya. Bukan untuk bersalaman dengan Meilinda yang baru saja diperkenalkan oleh Tiar, tapi terulur pada Tiar sendiri.
"Maaf karena tidak mengenali mas barusan, perkenalkan nama saya Abdul Basyir, suami dari Meilinda." Tiar membelalakkan matanya.
"Dek...?"
"Menunggu di restoran." Akhirnya mereka beiringan berjalan memasuki restoran, untung Ayu memesan sebuah gazebo untuk tempat mereka makan sehingga suasana lebih akrab dan tidak sempit dengan Meilinda dan tambahan dua orang yang tidak mereka duga.
Sambil menunggu pesanan datang, mereka bercerita. Abdul bahkan menunjukkan dokumentasi pernikahan mereka yang disimpan di galeri HP nya. Sebetulnya Tiar tipe orang yang emosional dan tegas, tapi tutur kata dari Abdul yang lugas dan lembut membuatnya terdiam.
"Mas tahu adek sudah bukan anak kecil lagi, tapi menikah hanya secara agama itu seperti benang yang mudah putus, dek."
"Saya sudah berniat mendaftarkan ke KUA, mas, tinggal nunggu lampu hijau dari Mey saja, masih menahan surat-surat kelengkapannya. Aaww sakit Mey." Abdul spontan meringis mendapati pahanya dicubit sang istri.
"Loh, kenapa tidak segera diurus Mey?" Mbak Ayu ikut angkat bicara.
"Karena belum ada kesempatan untuk berbicara dengan kalian, Mey bingung harus bilang apa, semua serba mendadak."
"Tapi kamu bahagia kan bersama suamimu sekarang?" Mbak Ayu yang paling tahu perasaan Mey. Semua menatap Meilinda, kecuali Saiful, terutama Abdul disampingnya sangat antusias menunggu jawaban istrinya itu.
" Iya, mbak..." Jawabnya.
"Beneran kan? kamu cinta sama dia?" Ayu kembali bertanya.
"Aku sayang sama kak Bas dan aku bahagia ada disamping kak Bas." Meilinda membalas tatapan suaminya, yang sedang menggenggam tangannya.
"Oke, tapi mas minta ijab qabul diulang. Linda masih punya keluarga yang bisa menikahkannya, dek minta nomornya buat dimasukkan dalam grup keluarga."
Tiar: Selamat datang anggota keluarga baru.
__ADS_1
Seno: Sopo kui? [Siapa itu]
Ayu: Nanti juga akan memperkenalkan diri, sabar...
Ningrum: Kok masuknya di grup ini, mbak/mas kan ini cuma untuk keluarga inti toh?
Bima melakukan grup video call, tersambung Ayu, Seno, Ningrum. Meilinda on calling...
"Siapa mbaaak...? Foto profilnya kok ada Haikal sama Linda gitu bertiga seragaman bajunya sama laki-kali?" Ningrum heboh.
"Iki Linda kok ga diangkat toh, lagi sibuk pa di pondok?" Seno terlihat agak kesal.
Ayu memutar kamera HP, menampilkan Meilinda yang duduk berdampingan dengan Abdul. Suasana langsung heboh, Meilinda menutup mukanya lain halnya dengan Abdul yang cengengesan sambil melambaikan tangannya. Dia malah pamer kemesraan dengan cara memeluk istrinya didepan kamera.
"Sek toh, ojo ribut iki wong e arep ta' kon ngomong." [ Sebentar dong, jangan berisik ini orangnya mau ngomong] Ayu memberi kode agar Abdul berbicara.
"Assalamualaikum Mas, Mbak perkenalkan saya Abdul Basyir, suaminya Meilinda. Kami sama-sama tinggal di pondok pesantren Babussalam."
"Wes resmi po?"[ Apa sudah resmi] Bima angkat bicara.
"Sudah, mas, tinggal didaftarkan di catatan sipil."
Percakapan dihentikan sejenak karena pesanan makanan sudah datang, mereka menyantap hidangan makan siang terlebih dahulu. Meilinda mengaktifkan mode senyap pada HP nya karena banyaknya pesan masuk, biarlah mereka penasaran.
Mereka mengakhiri pertemuan siang itu, satu sama lain saling bersalaman kecuali yang bukan mahram, dan berpamitan mengingat perjalanan Meilinda masih lumayan panjang agar tidak terlalu kemalaman sampai di pondok.
Sepanjang perjalanan Abdul asyik membalas chat di grup barunya, celotehan Seno dan Ningrum dibalasnya. Meilinda membaca setiap pesan di kursi penumpang belakang.
Seno: Linda dimana toh ini kok gak muncul-muncul?
Abdul: Mey duduk dikursi belakang mobil kok, mas, lagi mesam mesem.
Ningrum: Cie cie punya panggilan sayang ini...
Abdul: Iya dong, mbak.
Bima: Ini grup ditambah satu anggota sing soplak wes lengkap sa iki, ono perwakilan e tiap omah.
Memang benar, biasanya grup diramaikan oleh Seno dan Ningrum, Ayu memang sesekali ikut nimbrung. Jarang Meilinda dan Hamdan menanggapi, bahkan sering Hamdan membaca pesannya saja tidak. Beberapa kali dia minta keluar dari grup saja dan biar kabar dia dapat dari Meilinda, tapi kena tegur kakak-kakak nya karena harus tetap menjaga silaturahmi.
Lain hal nya dengan Abdul, yang bisa dengan cepat beradaptasi dan ikut seru berceloteh di grup.
"Kapan kita main ke Solo ya, Mey? Seru kayaknya kalau ketemu sama mas Seno ini." Tanya Abdul. Sejujurnya dia senang mendapatkan kakak, karena dia anak sulung.
"Kapan-kapan deh, mas."
"Liburan semester sebentar lagi, kita kesana ya sama Haikal? Sekalian mengambil berkas-berkas yang tertinggal dirumah, untuk didaftarkan ke catatan sipil. Nanti mampir juga kerumah Fajar, pasti seru. Kosongkan jadwal dakwah, Pul."
.
.
.
__ADS_1
.