
Waktu berjalan tanpa terasa. Haikal sudah memulai belajar di kelas 6. Hari-harinya dilalui dengan berbagai les tambahan dari sekolah, untung nya Haikal sekolah dengan fasilitas les yang disediakan disekolah sehingga Meilinda tidak kerepotan untuk mengantar jemput, kegiatan pun dibuat tidak terlalu membebani siswa. Sebagai akibatnya Haikal pergi sekolah lebih pagi dari biasanya dan pulang lebih petang dari biasanya. Meilinda pernah menanyakan hal itu pada Haikal, tapi dia mengatakan cukup senang dan dia memang membutuhkan banyak latihan soal untuk menghadapi ujian.
Pada akhir pekan mereka baru bisa membicarakan tentang sekolah lanjutan untuk Haikal. Sebetulnya Meilinda selalu memikirkannya sendiri saat Haikal masih di sekolah, setelah menyelesaikan pekerjaan di katering, Linda pulang dan melakukan pekerjaan rumah. Sambil menunggu menjelang petang, dia sering membuka-buka brosur sekolah dan browsing di internet.
"Ical... Sepertinya bunda tidak bisa mengabulkan keinginanmu untuk sekolah di pondok pesantren, nak." Ucap Linda lirih. Pandangannya tertunduk, ada rasa malu berada didepan putra satu-satunya itu. Setelah banyak berfikir, dia tidak mau memaksakan diri pada hal yang tidak pasti karena rasa takut harus berhenti ditengah jalan.
"Bunda tahu kamu pasti kecewa, nak. Tapi berat rasanya, bunda sudah coba menghitung-hitung biaya setiap bulan dan juga tabungan serta gaji bunda. Bunda takut, nak." Meilinda akhirnya tidak bisa menahan isak tangisnya.
"Bunda jangan nangis, Ical nanti coba tanya-tanya ustadz. Di acara motifasi kemarin Ical denger ada beberapa pondok pesantren yang menawarkan beasiswa buat siswa yang berprestasi, Ical bakal belajar biar Ical dapat beasiswa jadi bunda ga bingung mikirin biayanya." Jawab Haikal mantap.
"Iya, nak. Terus lah berusaha, tetap ikhtiar. Kita harus yakin kalau memang rezeki Haikal sekolah di pondok pesantren pasti Allah kasih jalan ya, nak. Tapi kalau memang ternyata rezeki Ical tidak disana, kita harus tetap terima dengan lapang dada. Menerima dengan ikhlas takdir yang Allah berikan pada kita, Allah lebih tahu yang terbaik untuk umatNya." Papar Linda.
"Iya, bunda. Ical ngerti, kalau menurut Allah bukan rezeki Ical sekolah di pondok berarti Allah ingin Ical menemani bunda biar bunda gak sendiri."
"MasyaaAllah..." Meilinda berhambur memeluk Haikal, putranya. Untuk anak seusia Haikal yang umumnya masih memikirkan dunia bermain, Haikal sudah mampu menyikapi kehidupan dengan pemikiran matang.
*Author:part ini kok ikut terharu ya...
Beberapa hari kemudian, sepulang dari masjid setelah melaksanakan shalat Isya Haikal bercerita pada Meilinda.
"Bund, besok disekolah mau ada tamu datang. Kata ustadz, beliau punya pondok pesantren di Jawa Barat, beliau lulusan dari Cairo-Mesir loh bund. Beasiswa, mungkin punya kiat-kiat biar dapet beasiswa juga yah."
Meilinda mengusap kepala Haikal dengan sayang, semangat dan kegigihan Haikal untuk mendapatkan sesuatu menurun dari Hamdan, ayahnya. Teringat juga kegigihan Hamdan untuk mendapatkan hatinya saat itu, senyum tanpa dia sadari mengembang dibibirnya.
__ADS_1
"Bunda kok senyum-senyum gitu?"
"Aaahh enggak, seneng aja liat Ical selalu semangat dan optimis. Bangga bunda punya anak kayak Ical, dan bunda juga ga mau kalah dong harus semangat dan optimis." Lengannya diangkat keatas seperti binaragawan sedang menunjukkan ototnya.
Mereka tertawa bersama, kebersamaan yang dinikmati selagi bisa. Kita tidak pernah tahu kemana takdir akan membawa kita, tugas kita menjalani dengan sebaik-baiknya. Mengumpulkan amalan untuk bekal kita di akhirat nanti.
"Ndok, jangan pulang dulu ya. Biar 'paket' dianter sama Tejo aja, udah lama kan kamu ga temenin tante makan siang disini. Kangen nih, Clara juga tanyain Haikal terus itu." Pinta tante Ivone
"Iya, tante. Haikal juga suka tanyain Clara loh, cuma karena mau menghadapi ujian jadi sibuk les itu." Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Linda masuk kedalam rumah tante Ivone dan membantu menyiapkan makan siang diatas meja. Hari itu Linda sedang berhalangan jadi tidak melaksanakan shalat.
"Sudah pulang, nak, ayok siap-siap makanan udah ditata Linda itu didalam." Linda mendengar tante Ivone menyapa seseorang di depan, mungkin mas Kristian yang datang. Benarlah, tidak lama kemudian putra dari bos nya itu muncul memberikan senyum padanya.
"Ada dek Linda juga ternyata, lama ga ketemu, dek, apa kabar? Haikal gimana, kangen juga nih sama Haikal." Ucapnya menyapa sambil duduk di kursi makan.
"Kamu tuh cuma kangen sama Haikal atau sama bunda nya juga nih?" Godanya, mereka tersenyum menanggapi candaan itu. Tidak perlu ada perasaan canggung dan tidak ada konfirmasi, masing-masing menyadari posisinya.
"Lanjut kemana nanti SMP nya, dek?" Tanya Kristian lagi.
"Masih menimbang-nimbang, mas. Belum ada yang pas." Jawab Linda. Usia Kristian terpaut beberapa tahun diatas Linda, dengan pembawaannya yang kalem dan matang Linda seperti berhadapan dengan kakaknya sendiri. Tentu saja Linda tahu batasan sehingga tetap menjaga jarak dengan lelaki didepannya itu.
"Aku dengar Haikal ingin sekolah asrama, itu kan lumayan ya, dek." Linda menganggukkan kepala sebagai jawaban. Mereka sudah selesai makan saat itu dan sedang duduk di teras sambil memperhatikan Clara bermain. Tak lama kemudian Clara menguap tanda waktunya dia tidur siang, tante Ivone membawanya masuk kedalam kamar.
Linda merapikan mainan Clara dibantu Kristian.
__ADS_1
"Kalau diizinkan, aku bisa bantu dek." Kristian menawarkan diri. Sekejap Linda menghentikan kegiatannya, helaan nafas terdengar pelan sebelum dia melanjutkan pekerjaannya.
"Ndak usah, mas, terimakasih. Sebaiknya jangan, sudah terlalu banyak bantuan yang sudah aku terima. Aku takut nanti malah jadi kebiasaan, bikin aku ga bisa mandiri dan selalu mengandalkan. InsyaaAllah kami bisa, dengan begitu kami akan lebih kuat." Paparnya.
"Ndok, besok Haikal libur kan ya? Mbok ajak main kesini, ya... Clara kangen itu, besok kita jalan-jalan lagi lah. Bisa kan, Le?" Ucap tante Ivone yang baru saja keluar dari kamar setelah menemani Clara tidur, pertanyaan terakhir dia tujukan pada Kristian.
"Iya, ma."
"InsyaaAllah, tante, saya tanyakan Haikal dulu."
"Bagus lah, biar refreshing anak itu, kasihan belajar terus." Tukas tante Ivone senang.
Meilinda merasa bersyukur dikelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya, rezeki itu tidak hanya berupa uang atau materi. Bisa berada dilingkungan yang nyaman, yang menyayangi kita juga suatu berkah yang harus disyukuri. Hidup berdampingan dan saling menghargai walau ada perbedaan juga suatu nikmat yang harus disyukuri. Lebih dari 1 tahun Meilinda ikut bergabung di katering tante Ivone, mereka sudah seperti keluarga. Bahkan ikatan itu dirasa lebih erat karena mereka saling menghargai kehidupan dan pilihan masing-masing, tanpa paksaan.
Dia bukannya tidak tahu kalau tante Ivone berharap mereka bisa menjadi keluarga sebenarnya yang disatukan dalam ikatan pernikahan, walau obrolan kearah itu tidak pernah terucap. Oleh karena itu, Linda sangat berhati-hati dalam bersikap dan bertutur kata. Dia menyayangi dan merass berhutang budi pada tante Ivone, dua tidak mau silaturahmi itu menjadi terputus.
.
.
Maaf temans ceritanya sampai disini dulu hari ini, author lagi agak-agak gak mood ini... Kalau ga suka boleh diskip aj, InsyaaAllah besok lebih baik lagi. Tolong dukungannya ya biar author semangat dan bisa memberikan yang terbaik 🙏🙏
.
__ADS_1
.