
Malam itu rumah sangat sepi, hanya ada Meilinda disana. Setelah merapikan rumah, dan menjalankan semua rutinitas ibadahnya, kini dia baringkan tubuhnya diatas tempat tidur. Matanya menatap lamgit-langit kamar, pikirannya menerawang jauh, kantuk tidak segera datang.
Dia terus teringat dan terngiang dengan permohonan Ummi, memikirkan anak batita yang kini jauh dengan kedua orang tuanya. Walau ada dalam asuhan kerabat, tapi seorang putri sangat lah dekat dengan ayahnya. Dia ingat almarhum Papa, dia merindukan sosok Papa yang berwibawa dan penyayang.
Malam sudah sangat larut, tiba-tiba dia mendengar tangisan seorang anak. Dia beranjak dan melihat dalam sebuah kamar, seorang laki-laki duduk membelakanginya. Dia bisa mengenalinya langsung bahwa itu adalah sosok Hamdan, benar saja menyadari kehadirannya Hamdan memutar tubuhnya dan menatapnya. Dalam pangkuannya seorang anak kecil dengan kulit putih sangat menggemaskan sedang menangis sedih, Meilinda mendekat.
"Dia membutuhkan seorang ibu, kamu bisa jadi bunda untuknya kan Lind? Rawat dia agar dia tidak kehilangan sosok ayah dan mendapatkan kasih sayang bunda." Hamdan menyerahkan anak yang sedang menangis itu kedalam gendongannya, secara tiba-tiba anak itu berhenti menangis dan tersenyum padanya. Meilinda membalas senyuman itu, mereka bermain bersama bahkan Meilinda sampai tidak menyadari Hamdan sudah tidak lagi disana.
Mimpi itu begitu indah sampai Meilinda baru terbangun karena suara adzan subuh dari masjid, setelah mengucap istighfar karena melewatkan shalat tahajud dia membaca doa bangun tidur dan segera bergegas ke masjid.
"Bund, untuk sementara setor bacaan dan hafalan sama Ais yah disini saja tidak apa kan?" Aisyah mendekati Meilinda setelah shalat subuh dan tausiah berakhir. "Ummi yang minta kemarin, sampai nanti Abah... Yuk, bund."
...
"Shadakaullah hul 'adzim..."
"Alhamdulillah... Hari ini bunda ke rumah sakit?" Tanya Aisyah ketika mereka sudah selesai mengaji.
"Belum tahu, teh. Kalau ada yang mengajak sih mau saja."
"Kalau diminta menggantikan Abah menunggui Ummi hari ini, tidak keberatan kan? Biar Abah pulang dulu untuk istirahat, nanti sore Abah kembali ke rumah sakit."
"Iya, ndak apa-apa. Saya siap-siap dulu ya, teh."
"Tolong bawakan sarapan untuk Abah ya, bund. Sepertinya semalam Abah tidak makan, mungkin baru makanan yang kemarin dibawakan saja yang masuk diperut. Abah memang begitu, bund, bandel hehe tolong ya, bund."
Meilinda menganggukkan kepalanya. Kemudian dia teringat sesuatu yang ingin ditanyakan, dia kembali membalikkan badannya dan memanggil Aisyah.
"Teh, sebentar teh Ais...Maaf tadi sebelum mengaji teh Ais ada bilang Ummi minta teh Ais dampingi Mey ngaji sebelum ustadz Abdul...apa, kalimatnya kok tidak dilanjutkan?"
__ADS_1
"Ais cuma bisa ikut mendoakan, bund. Semoga Allah membukakan hati bunda untuk Abah, Ummi sudah cerita sama Ais jadi pokoknya ditunggu kabar baiknya ya, bund." Aisyah menepuk-nepuk tangan Meilinda sambil tersenyum menggoda, kemudian beranjak meninggalkannya.
Meilinda melihat ustadz Abdul sedang duduk dikursi tunggu, ruang ICU tertutup dengan tirai. Sepertinya dokter sedang memeriksa kondisi Ummi, wajah lelaki itu terlihat gelisah.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam, Mey disini?"
"Sarapan dulu ustadz, katanya semalam tidak makan mumpung Ummi sedang diperiksa." Meilinda menyerahkan kotak makan padanya.
"Mey tidak ikut makan sama-sama?" Tanya Abdul sambil melihat kotak makan lain yang dibawa Meilinda.
"Sudah sarapan dulu tadi dirumah, ini untuk makan siang nanti." Jawabnya sambil tersenyum, Abdul mengangguk-angguk dan mulai makan. Tidak berapa lama setelah dia selesai, tim dokter keluar dari ruangan. Tirai sudah dibuka dan terlihat Ummi berbaring sambil menutup matanya.
"Bagaimana kondisi istri saya, dok?"
"Kondisinya semakin lemah, tolong dukungan dari keluarga dan orang terdekatnya. Kami baru saja mengambil sample dan akan kami uji di lab, satu jam lagi hasilnya akan keluar. Tolong ditunggu, pasien sedang istirahat setelah proses pemeriksaan tadi, tolong tidak diganggu."
"Nunggu hasil lab dulu saja, Mey, biar tenang." Beberapa saat kemudian hanya sepi.
"Boleh saya bertanya ustadz?" Meilinda memecah kesunyian, Abdul tersadar dari lamunan dan mengangguk.
"Jika seorang istri meminta suaminya untuk tidak mengambil haknya dan tidak memberinya nafkah bathin, apakah diperboleh dalam agama, apakah dia istri yang berdosa?" Abdul terkejut dengan pertanyaan itu menatap Meilinda yang menundukkan kepalanya.
Setelah menghela nafas panjang, dia menjawab.
"Tidak berdosa seorang istri jika suami ikhlas, hubungan suami istri menjadi berkah jika didasari keikhlasan. Jika suami ridho, maka syurga untuknya, begitu pula dengan sebaliknya."
"Jika seandainya saya memenuhi permintaan Ummi, menikah dengan ustadz, apa ustadz ridho melakukannya?"
__ADS_1
"Kemarin kak Bas sudah bilang, jangan paksakan jika memang tidak mau, Mey."
"Saya bersedia ustadz, demi Ummi, demi membalas semua kebaikan ustadz pada kami, tapi dengan syarat itu. Maaf..."
"Apa alasannya?"
"Ummi meminta saya untuk mengurus ustadz, saya sanggup untuk itu. Saya juga ingin agar ustadz bisa berkumpul dengan Khansa, putri ustadz. Tapi untuk menjadi seorang istri, saya rasa tidak pantas ustadz. Saya tidak sebanding dengan Ummi atau ustadzah lain. Bacaan saya masih tersendat-sendat, hafalan saya masih kurang. Saya bukan hafidzah yang pantas untuk bersanding dengan seorang ustadz. Biarlah ini bisa membuat hati Ummi tenang, sekali lagi saya minta maaf ustadz..." Meilinda terisak pelan.
Hati Abdul perih rasanya mendengar penuturan Meilinda, dia tidak senang melihat Meilinda menangis. Rasanya seperti bertahun-tahun yang lalu, saat tanpa sengaja dia melihat Meilinda kecil sedang menangis dibelakang masjid. Dari kata-kata yang terucap disela-sela tangisannya, Mey ingin berlibur keluar kota bersama teman-teman mengisi liburan sekolah itu bukannya malah belajar mengaji.
"Permisi ustadz, dokter ingin bertemu diruangannya." Interupsi seorang perawat, Meilinda menyeka air matanya segera. Abdul pamit menemui dokter.
Sel kanker dalam rahim Ummi hidup dan terus tumbuh berkembang, jika dalam kondisi lain tindakan pengangkatan rahim bisa dilakukan, tapi melihat kondisi Ummi yang lemah, terlalu beresiko. Yang bisa dilakukan sekarang menunggu kondisi Ummi kuat dan stabil, maka dari itu sangat dibutuhkan dukungan dari keluarga agar Ummi selalu happy dan tidak tertekan.
Ucapan dokter tadi terus terngiang ditelinga Abdul, dia melangkah menuju area parkir menghubungi Saiful menanyakan posisinya. Memintanya untuk mengantar pulang, dalam perjalanan dia mengirim pesan pada Meilinda.
Meilinda membaca pesan yang dikirim ustadz Abdul, sebenarnya dia ingin segera mendengar hasil pemeriksaan Ummi tapi rupanya ustadz itu memilih untuk pulang tanpa menemuinya terlebih dahulu. 'Apa karena ucapannya tadi sehingga dia tidak mau lagi melihatnya? Ya Allah kuatkan hambamu ini, aku belum bisa menerimanya, hati ini malu jika harus bersanding dengannya.' Batinnya.
Jika saja bisa, ingin sekali dia pergi dari sana dan kembali kerumahnya di Jawa. Jika saja dia tidak memikirkan Haikal, putra kesayangannya dengan cita-citanya yang mulia ingin menjadi seorang hafidz. Apa bisa dia meminta pendapat orang lain tentang tindakan yang dia ambil, atau dia bertanya pada kakak-kakak nya saja? Tapi bagaimana reaksi mereka? Sungguh Meilinda merasa bingung.
Niatnya, dia menikah dibawah tangan saja, dihadapan Ummi. Semoga saja setelah mendengar semua itu, dengan keajaiban Ummi jadi sembuh dan berkumpul dengan suami dan putri mereka. Dia bisa dengan mudah mundur dan berpisah secara agama, tidak perlu proses yang menyulitkan, bahkan pihak keluarga pun tidak perlu tahu.
Karena niat itu lah, dia tidak ingin berhubungan dengan ustadz Abdul. Meilinda yakin akan semakin sulit keadaannya jika melibatkan hubungan fisik, akan ada rasa pertanggungjawaban dan lainnya. Walau dia pada kenyataannya seorang janda, bukan perawan. Meilinda pusing sendiri dengan segala spekukasi yang dia buat dalam pikirannya.
"Bu...pasien sudah sadar..." Suara perawat membangunkannya dari lamunan panjang.
.
.
__ADS_1
.
.