Cinta Pertama Ustadz

Cinta Pertama Ustadz
14.


__ADS_3

"Anda..?! Kenapa anda ada disini? Mana Haikal?" Entah lah ada perasaan takut dalam diri Linda akan niat lelaki didepannya itu.


"Haikal lagi makan dimobil ku... Tunggu, Lind. Aku mohon, aku ingin bicara." Bujuk Revan. Meilinda melihat mobil Revan yang diparkirkan tidak jauh dari mereka berdiri, dia pun berjalan cepat menghampiri mobil itu. Bisa dilihatnya didalam mobil nampak Haikal menatapnya, ada raut kekhawatiran atau lebih tepatnya takut disana. Meilinda berfikir cepat, dia beristighfar dalam hati. Seharusnya dia bisa mengendalikan emosinya, dia tidak ingin kejadian di kantor dulu terulang dan Haikal ketakutan.


"Lagi apa, nak... Bunda cariin ternyata disini." Ucapnya setelah berhadapan dengan putranya sambil tersenyum. Revan yang mengikutinya di belakang lega melihat reaksi Linda.


"Maaf bunda, Haikal... anu... itu..." Dia masih bingung harus menjawab apa.


"Lind, aku mau ngomong." Desak Revan.


"Oke, silahkan." Meilinda kembali berdiri disamping mobil.


"Enggak disini juga lah, kita cari tempat yang enak buat ngobrol." Ajak Revan.


"Maaf... Kami harus cepat-cepat pulang, kasihan Haikal." Tolaknya.


"Oke, gak masalah. Kapan kamu bisa?" Revan semangat.


"Nanti saya kabari."


"Ayo lah, Lind. Dulu kamu juga bilang begitu, tapi sampai hari ini... Kalau kamu gak bisa kasih aku kepastian, aku bisa saja terus datang kesini untuk nemuin kalian. Atau mungkin ke tempat kamu bekerja, bahkan tidak sulit buat ku menemukan tempat tinggalmu." Ucap Revan, kenapa Meilinda merasa sedang diancam oleh Revan. Atau hanya perasaan dan rasa takutnya saja.


"Besok saya kabari anda, oke..." Akhirnya Meilinda menyerah.


"Oke aku pegang perkataanmu, aku yakin kamu bukan orang yang suka ingkar janji." Revan tersenyum senang. Meilinda melihat sekilas, senyuman itu kelihatannya tulus, dia berbeda dari kesehariannya di kantor dulu. Kelihatannya dia lelaki yang baik, lalu apa maksud semua ini batin Linda.


"Ayo jagoan, bunda mu sudah menjemput kasihan panas. Masukkan makanan itu kedalam kantongnya, kamu boleh lanjutkan makan dirumah. Jangan lupa, bunda dibagi ya..." Senyum Revan pada Haikal. Anak itu memandang bundanya, meminta pendapat. Meilinda mengangguk kan kepalanya.


"Makasih, om!" Ucapnya girang. Revan masih menunggu sampai Meilinda dan Haikal pergi dengan motornya dan melambaikan tangannya pada anak itu. Senyum tak juga lepas dari wajahnya saat dia kembali ke kantor, membayangkan pertemuan selanjutnya dengan Meilinda.


"Kayaknya lagi happy nih, pasti karena kamu tahu aku mau dateng ya..." Seorang wanita berbody semampai dan berpakaian modis sudah sejak tadi masuk dalam ruangan Revan dan memperhatikannya.


"Masuk kok ga ketuk pintu dulu?" Revan kembali ke mode dinginnya. Siska, nama wanita itu, pun menyadarinya.


"Biasanya juga enggak, ini kan perusahaan papa, aku bisa masuk kemana dan kapan semau ku." Jawabnya ketus, ada rasa jengkel mendapati kemungkinan besar sikap Revan yang terlihat bahagia ternyata bukan karena dia.

__ADS_1


"Ada perlu apa?" Tanya Revan yang kemudian mengalihkan perhatian pada pekerjaannya.


"Aku tuh kan tunangan kamu, kita akan menikah sebentar lagi. Wajar dong aku menghabiskan waktu disini, kamu tuh sibuk banget sih akhir-akhir ini." Siska mendekati kursi Revan, mendudukkan diri dipinggiran kursi dan merangkul Revan manja.


Revan hanya diam dan matanya fokus pada layar laptop didepannya, tapi tidak pikirannya. Bagai slide foto dalam otaknya, gambar-gambar Linda yang menolak dia pegang dan interaksi wanita di sekolah Haikal. Membandingkan dengan saat ini.


"Sayaaaang.... Kamu denger aku ngomong, gak sih?!" Siska setengah berteriak merasa diacuhkan.


"Iya...apa sih, aku kan lagi kerja."


"Aku bilang Sabtu kita fitting baju, sekalian foto prewed ya. Aku ga mau kamu alasan dan tunda-tunda lagi, hari H nya kan tinggal bentar lagi ini. Pokoknya semua harus perfect dan on schedule. Konsep undangan udah fix ya, tinggal pilih² foto aj. ... ... ...." Siska yang sudah pindah duduk di sofa masih ceramah panjang kali lebar ditambah keliling soal rencana mereka, atau lebih tepatnya rencananya.


Harus secepatnya bertemu Linda, sebelum dia benar-benar tidak bisa mundur benak Revan.


Revan: Aku tidak punya banyak waktu, bisa kita bertemu besok? *pesan delivered alias centang dua.


Meilinda bisa melihat pesan itu tanpa harus membukanya, hatinya bimbang.


Meilinda: Besok bisa minta tolong jemput Haikal, dek? Pulang habis Dhuhur dia...


Setelah semua pasti, dia bernafas lega dan melanjutkan pekerjaannya. Memang tidak bisa dibiarkan berlarut-larut, lebih cepat selesai lebih baik.


ting...


Meilinda: Oke, besok jam 1 di cafe A.


Revan hampir saja berteriak membaca pesan yang dikirim Linda untuknya.


"Kenapa, sayang... Kok kayaknya seneng banget, chat dari siapa sih?" Siska mendekati Revan dan mencoba untuk melihat layar HP tunangannya itu.


"Bukan apa-apa, cuma soal kerjaan, kamu juga gak bakal ngerti." Revan buru-buru memasukkan HP nya kedalam kantong sakunya.


"Bosen ah... Jalan yuk, Van?" Siska sejak tadi duduk di sofa ruangan Revan, menungguinya bekerja.


"Kerjaanku masih banyak, Sis."

__ADS_1


"Udah ah, kamu ga asyik... Aku pulang ya, jangan pulang kemaleman!" Setelah cipika cipiki Siska pun keluar dari ruangan Revan.


"Ical..."


"Ya, bunda..."


"Besok Ical dijemput tante Gendis ya, sebentar main dirumah eyang. Bunda ga bisa jemput sayang, ada perlu. Ga papa kan, sayang?" Ucap Linda pada putranya itu.


"Iya, bunda. Ical sekalian bawa baju ganti ya, nanti bau kecut diomelin eyang lagi xixixixixi. Besok Ical ada lomba tilawah perwakilan kelas, bund. Semoga lancar dan menang ya, bund." Jawab Haikal.


"Pasti dong, tapi jangan karena pengen menang nya doang. Diniatkan karena Haikal ingin mengaji dengan baik, soal menang tidaknya itu rezeki dari Allah. Kalau tidak menang artinya kita kurang berusaha dan artinya bukan rezeki kita saat itu." Nasihatnya sambil mencium kepala Haikal.


Haikal anak yang berani, dalam arti yang positif, dia berani tampil dan sering mengikuti lomba dalam kegiatan keagamaan. Rasa percaya dirinya muncul karena dorongan Hamdan, ayahnya. Haikal selalu diceritakan kisah-kisah sahabat yang pantang menyerah dalam meraih tujuan, berdakwah dijalan Allah SWT.


Keesokan harinya, seperti biasa Meilinda mengawali harinya diluar rumah dengan mengantar Haikal kesekolah.


"Assalamualaikum, nanti siang Haikal dijemput tantenya, pak." Ucap Linda setelah Haikal masuk kedalam gerbang sekolah dan dia mendekati pos satpam didekat gerbang.


"Waalaikumsalam, njih. Nak Haikal nya sudah tahu toh, bu?" Jawab pak Satpam dan kembali menjawab salam ketika Linda sudah menjawab dengan anggukkan kepala dan pamit.


Lain hal nya dengan Revan yang merasa bahwa hari itu bukan lah hari seperti biasanya, dia sibuk mempersiapkan diri di kamarnya. Dicobanya beberapa kemeja dan memadu padankan dengan dasi beberapa kali. Semalaman dia berlatih kalimat yang akan dia katakan pada Linda, seperti sedang latihan berpidato. Dia sudah biasa berbicara didepan banyak orang dalam rapat atau pun seminar tanpa kendala bahkan tanpa persiapan sekalipun. Tapi kali ini, ada sedikit gugup hanya akan berbicara dengan seorang wanita.


Sampai di kantor pun dia tidak bisa berkonsentrasi, untung tidak ada rapat atau temu klien hari itu. Dia hanya memeriksa laporan kerja. Sesekali dia melirik jam di tangannya, lalu jam di dinding kantornya. Kenapa waktu berjalan lambat sekali, rutuknya.


Tidak tahan menunggu lebih lama lagi, Revan keluar dari kantornya dan melajukan mobilnya menuju cafe A walau jam masih menunjukkan jam 10 pagi. Dia tidak mau terlambat, jam istirahat jalanan bisa saja macet pikirnya.


Cafe itu baru saja buka. Dan Revan sudah duduk manis di depan sebuah meja yang sedikit memojok sehingga terhidar dari keramaian lalu lalang orang, namun cukup strategis dan bisa terlihat dari depan agar Meilinda tidak kesulitan mencarinya.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2