
Ini hari ketiga Meilinda, Abdul dan Saeful tinggal di kampung halaman Ummi. Sejak mendengar percakapan di dapur lalu, Meilinda jadi lebih memperhatikan Mutiyah. Yang Mey lihat dia sangat menyayangi Khansa, tulus dari hatinya. Tidak tega rasanya Meilinda jika harus memisahkannya.
Pagi itu, saat para lelaki sedang pergi meladang dimana Abdul dan juga Saeful ikut membantu, Meilinda bermain di halaman rumah menemani Khansa dengan Mutiyah.
"Dek, boleh tanya?"
"Tentu boleh, ayu boleh tanya apa pun InsyaaAllah kalau Tiyah bisa jawab akan Tiyah jawab."
"Kalau Khansa ikut kami, apa yang akan dek Tiyah lakukan?"
"Maaf, Yuk, bukan bermaksud memberatkan tapi jujur Tiyah tak mau berpisah dengan Sasa. Sudah sayang benar macam anak sendiri, ayu Billa menitipkan Sasa padaku." Jawab Mutiyah lesu.
"Apa tidak ada keinginan untuk membina keluarga dan memiliki anak sendiri? Mungkin ada pria yang adek sukai?"
"Pernah ada, yuk, tapi dia sudah menjadi milik orang lain. Tiyah hanya ingin merawat Sasa untuk saat ini, Tiyah hanya bisa berdoa pada Allah."
"Jika seandainya ustadz Abdul dan keluarga disini mengizinkan, apa dek Tiyah mau ikut kami menemani Khansa? Perlahan Khansa sudah mengenal kami dan mau bermain, tapi kami masih khawatir jika dilingkungan baru dengan orang-orang baru juga, dia menjadi rewel."
"Benarkah, yuk?! Aku boleh ikut? Apa tidak akan merepotkan jika aku ikut tinggal disana?" Mata Mutiyah berbinar-binar mendengar kabar yang disampaikan Meilinda.
"Kita tanyakan dulu, asal kamu tidak keberatan nanti coba kita bicarakan dengan ustadz Abdul dan juga keluarga yang lain."
"Ternyata ayu Billa benar sewaktu bilang kalau ayu Mey itu baik dan penyayang, maaf kan aku yang dulu sempat berfikiran buruk. Banyak lah cerita yang mengisahkan seorang ibu tiri yang jahat, aku tak mau Sasa menderita seperti mereka."
Meilinda tertawa mendengar celotehan Mutiyah, usianya mereka tidak terpaut jauh jadi dia menganggapnya seperti adik. Sudah sejak lama dia memang ingin seorang adik perempuan, karena dia terlahir sebagai anak ragil [bungsu] dan perempuan satu-satunya dalam keluarga.
Menjelang siang para lelaki sudah kembali dari ladang, Abdul memasuki ruangan tempat mereka menginap selama ini untuk membersihkan diri diikuti oleh Meilinda. Dia sudah mempersiapkan pakaian ganti untuk suaminya, sebelum pergi ke kamar mandi yang berada diluar ruangan, Meilinda mengajaknya berbicara.
__ADS_1
"Kak, tunggu sebentar ada yang ingin Mey tanyakan dulu. Bagaimana jika kita mengajak Mutiyah bersama kita ke pondok pesantren? Dia bisa membantu mengasuh Khansa dan mungkin ikut mengajar di pesantren. Mey lihat mereka dekat sekali, pasti akan sulit jika harus secepat ini berpisah. Jika kak Bas tidak berkeberatan kita bisa secepatnya kembali, tadi Mey sudah bicara dengan Mutiyah dan dia bersedia."
"Benar, Mey, kak Bas juga rasanya sudah ingin cepat-cepat kembali. Tidak baik berlama-lama kita tinggal dirumah orang, sesuai dengan ajaran Rasulullah saw bahwa sebaiknya kita tidak bertamu lebih dari tiga hari."
"Iya, kak, Mey pikir juga begitu."
"Baik, coba kita bicarakan dengan paman dan keluarga disini."
Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, Abdul dan yang lainnya duduk-duduk di serambi rumah menikmati secangkir teh dan sedikit camilan sambil melepas lelah setelah meladang. Para wanita sedang sibuk di dapur mengolah hasil tani yang dibawa dari ladang, termasuk Meilinda.
"Bagaimana perkembangan kalian dengan Sasa, Dul?" Tanya paman Sanuri.
"Khansa sudah tidak malu lagi bermain bersama kami, dan sudah mau kami ajak berjalan-jalan. Memang, Mutiyah masih mengikuti dari belakang khawatir jika tiba-tiba Khansa rewel katanya. Semalam sebenarnya Mey ingin mengajak Khansa untuk tidur bersama kami, hanya Mutiyah bilang nanti jika malam-malam Khansa terbangun akan merepotkan kami."
"Itu lah Mutiyah, keras kepala betul dia. Sudah banyak sekali kami nasihati agar tidak terlalu dekat dengan Sasa, kami ingatkan Sasa akan diambil keluarganya suatu hari nanti. Maklum lah, nak, kehilangan betul dia setelah Billa pergi."
"Berkali-kali kami menanyakan apakah ada Billa memintanya untuk menunggu atau memberinya harapan, tapi selalu dia berkata karena hatinya yang ingin menunggu. Kehadiran Khansa membuatnya semakin bersikeras, dia menganggap Khansa itu putrinya sendiri. Tak dia bolehkan kami ikut mengurus bocah itu, semua tanggungjawab dia yang pikul sendiri."
"Itu dia, paman. Khansa sangat lengket dengan Tiyah, sulit atau lebih tepatnya butuh waktu lama. Jika kami paksakan sekarang, tidak baik untuk anak sekecilnya. Tadi Mey mengatakan, bagaimana jika kami mengajak Mutiyah untuk ikut bersama kami tinggal di pondok pesantren? Itu jika paman dan keluarga mengizinkan."
"Tak apa kah, kau menanggung hidup Mutiyah disana?"
"Di pondok kami hidup bersama-sama, paman, walau hanya makan sederhana tapi kami saling berbagi. Mutiyah bisa tinggal dirumah kami sementara sampai Khansa bisa ditinggal, setelah itu bisa menjadi musrifah di asrama putri."
"Bagaimana dengan istrimu jika Tiyah tinggal satu rumah denganmu, tak akan mengapa kah? Atau apa kau ada niatan lain, Abdul? Apa Billa mengamanatkan sesuatu soal Tiyah? Jika memang iya, mumpung kau masih disini..."
"Maaf, paman, tidak ada niatan lain. Saya hanya ingin segera berkumpul bersama Khansa, menjadi keluarga yang lengkap bersama istri saya, Meilinda. Dia juga sangat menantikan dan menyayangi Khansa seperti putrinya sendiri, bahkan sebelum kami sampai disini. Dek Billa memang mengamanati Khansa untuk dia rawat dan didik."
__ADS_1
"Paman sedikit mengkhawatirkan rumahtangga kalian, sudah tahu kah istrimu tentang Mutiyah?"
"Belum, paman, belum sempat saya ceritakan karena tidak tahu jika situasinya akan begini. Saya tahu Tiyah memiliki ilmu agama yang baik, dia bisa mengajar di pesantren untuk mengisi waktu luang. Siapa tahu kan paman, dia kepincut ustadz disana, jika ada jodohnya."
"Aamiin Allahuma Aamiin, asalkan jangan menjadi perusak rumahtangga orang lah hahahahaha carikan yang belum beristri, ya... Coba lah nanti kita tanyakan anak itu, walau paman sangat yakin dia tidak akan menolak, bahkan akan sangat senang bisa tinggal disana. Billa banyak sekali bercerita padanya tentang pesantrenmu itu, dia berangan-angan suatu hari bisa lah sekedar melihat apalagi tinggal disana."
"Alhamdulillah, Mey sudah menanyakannya dan Mutiyah bersedia katanya."
"Bagus bagus, pantaslah kalian bersanding. Salsabilla tidak keliru mencarikan kau pendamping, dia memang meyakinkan kami saat itu bahwa ini yang terbaik. Tapi sebaiknya kau ceritakan lah pada istrimu agar tidak terjadi kesalahpahaman dikemudian hari. Paman senang dan merasa lega. Pasti akan rindu lah kami dengan tingkah Sasa disini." Abdul sesaat melihat ada mendung dimata paman dari istri pertamanya itu, tapi secepatnya dia hapus dan berganti dengan senyum tulus.
Akhirnya diputuskan keesokan harinya mereka akan kembali ke kota T setelah sarapan, semua persiapan dilakukan. Perbekalan dan oleh-oleh sudah ditata sedemikian rupa didalam mobil, jumlahnya menjadi berlipat-lipat dibandingkan dengan saat kedatangan. Selain ditambahkan dengan barang bawaan Khansa, juga beberapa barang milik Mutiyah.
Khansa anak yang manis dan penurut, jarang sekali dia rewel walau dalam perjalanan panjang yang baru pertama kalinya itu. Khansa juga tidak berkeberatan Meilinda menggendong atau mau menyuapinya, tapi sering kali Mutiyah bisa membujuknya untuk kembali bersamanya.
Seperti saat di atas kapal, Meilinda membiarkan Khansa mengeksplore sekeliling kapal, selalu memperhatikan dan mengawasinya berjalan kesana kemari dan menjelaskan apa yang sekiranya perlu diketahui putri kecilnya dengan bahasa yang sederhana agar dapat dipahami.
"Aduuhh Sasa sayang, sini yuk nak duduk dekat biju [bibi]. Bahaya, tak payah lah berlari-lari! Nanti kau terjatuh, sakit pula lah." Ucap Mutiyah sambil kemudian menggendong Khansa dan mendudukkannya disamping, memberinya mainan agar mau duduk tenang.
Meilinda hanya menghela nafas dan menggelengkan kepalanya, tersenyum dan bergabung duduk disebelah Khansa.
.
.
.
.
__ADS_1