
Setelah kejadian di cafe itu, Linda menolak untuk bertemu dengan Revan. Akhirnya Revan pun memutuskan untuk berhenti berlangganan di katering tante Ivone, semua kembali seperti semula.
Sesekali Linda masih mendengar kabar tentang pernikahan Revan yang dirayakan dengan sangat meriah, Linda menanggapi sewajarnya.
Selama libur sekolah, terkadang Haikal diantar terlebih dahulu ke rumah eyangnya sebelum bundanya pergi bekerja, tapi seringkali Haikal merasa bosan, untung saja tante Ivone tidak keberatan Haikal ikut Linda ketempat bekerja. Haikal akan menunggu didalam rumah bersama tante Ivone, membantunya menemani Clara, cucu dari tante Ivone, bermain. Clara berusia 2 tahun, sebelum Linda ikut bergabung di katering tante Ivone, Clara didampingi seorang babysitter. Tapi tetap saja tante Ivone merasa kerepotan karena dia ingin mengawasi cucunya sendiri sedangkan dia juga sibuk di dapur katering.
Maka dari itu, tante Ivone sangat terbantukan ketika Linda bergabung dan belajar dengan cepat sehingga bisa menggantikan nya didapur. Seandainya saja...yah hanya seandainya saja, Meilinda mau jadi putrinya, putri menantu, maka dia bisa serahkan total katering miliknya ditangan yang tepat.
Tante Ivone memiliki seorang putra, Kristian. Dia seorang CEO sebuah perusahaan di kota, seorang yang gila akan pekerjaannya. Sedari pagi sudah berangkat kerja dan malam hari baru pulang, seringkali larut malam saat dia memilih untuk lembur. Tante Ivone tahu putranya bekerja sangat keras untuk melupakan mantan istrinya, ibu dari Clara. Mereka berpisah karena ibunya Clara memilih untuk ikut lelaki lain pindah keluar negri.
Ingin sekali tante Ivone memiliki menantu seperti Linda, cantik dan lembut. Tapi tante Ivone tidak mungkin mengutarakan keinginannya itu, dia mengenal Linda yang sangat teguh dengan keyakinannya. Dia pun tidak ingin, rasa kekeluargaan yang sudah terbentuk karena pekerjaan ini berubah karena rasa tidak enak diantara mereka. Biarlah dia nikmati semua seperti apa adanya dan mengikuti takdir Tuhan, pikirnya.
"Mas Ical suka sama Clara?" Tanya tante Ivone pada Haikal yang sedang bermain lego bersama cucunya itu, dijawab dengan anggukkan kepala Haikal tanpa mengalihkan perhatiannya dari mainan. "Mau punya adek, gak?" Tanyanya lagi sambil tersenyum menggoda.
"Emang bisa, Oma?" Akhirnya Haikal mengangkat kepala dan menatap tante Ivone yang dia panggil dengan Oma, sama seperti Clara memanggilnya.
"Coba aja tanya bunda. Tapi nanti, dirumah. Sekarang bunda kan lagi masak..." Tante Ivone tidak bisa menahan diri untuk menggoda.
"Mas Ical siap-siap ya, sebentar lagi kita ke mushala dulu. Sebentar lagi adzan." Meilinda muncul dari arah belakang. Disempatkannya menyapa dan bermain dengan Clara yang baru saja mulai belajar berbicara.
"Lala itut, tante..." Rengeng Clara ketika dia dan Haikal bersiap beranjak dari dekatnya. Dia melirik tante Ivone untuk meminta pendapat.
"Lala tunggu sama Oma aja ya, nanti Lala ganggu tante disana. Tante sama mas Ical mau shalat aja kok." Tante Ivone turun tangan langsung membujuk Clara.
"Lala juga mau tolat, Oma!" Jeritnya.
"Ya, udah. Oma temanin ya, tapi Lala diluar aja main-main sama Oma ya, nak. Anak kecil ga boleh masuk, ga boleh berisik disana. Nanti Tuhan marah." Ivone mengalah dan ikut bersiap.
__ADS_1
"Maaf tante, jadi ikut repot gara-gara kami." Meilinda benar-benar merasa tidak enak karena dia selalu menolak dengan halus untuk melaksanakan shalat dirumah tante Ivone.
Sebetulnya tidak ada larang baginya untuk melaksanakan shalat disana, sudah pasti rumah yang sangat terawat itu bersih dan suci. Hanya saja Meilinda kurang merasa mantap dan sedikit sulit khusuk dalam shalatnya karena banyaknya hiasan yang terpasang didinding.
Tante Ivone yang semasa mudanya pernah menjadi model iklan itu memasang berbagai potret dirinya menghiasi dinding rumah, ada juga foto keluarga dengan ukuran besar disana. Foto putranya dan Clara juga menjadi salah satu koleksi yang berjejer rapi dimeja, foto Clara dari semenjak bayi menjadi koleksi yang paling disukai. Selain itu ada pula patung bunda Maria diatas meja itu.
Meilinda pernah mendengar Hamdan membacakan sebuah kisah sahabat Nabi saw yang intinya menceritakan bahwa malaikat tidak masuk kedalam sebuah rumah yang didalamnya terdapat gambar atau hiasan yang menyerupai makhluk hidup. Dia khawatir malaikat tidak bisa mencatat amalannya bahkan doanya tidak sampai, wallahualam.
Tante Ivone senang sekali kalau Haikal menghabiskan waktu dirumahnya, mereka bisa makan siang bersama layaknya sebuah keluarga. Jika Haikal datang, maka dia akan langsung mengirim pesan pada putranya untuk makan siang bersama dirumah. Tidak ada alasan! Rasanya bahagia sekali Ivone bisa merasakan keramaian dirumahnya. Linda dan Haikal juga sudah mengenal Kristian.
"Papaaa...!" Teriak Clara ketika melihat Kristian sedang duduk dan menatap layar HP sesampainya mereka dirumah.
"Habis darimana nih, sampe keringetan gini princes nya papa." Kristian membelai rambut Clara dengan lembut.
"Lala nangis pengen ikut mas Ical ke mushala depan itu." Ivone membantu menjawab pertanyaan. Sedangkan Linda sudah sejak tadi kebelakang mempersiapkan makanan diatas meja, Haikal pun pamit kebelakang mengganti baju koko nya dengan kaos rumah.
"Bunda... Ical bisa punya adek kayak Clara, ga?" Linda terkejut mendengar pertanyaan Haikal yang tiba-tiba, dilihatnya Haikal tetap sibuk dengan kertas dan pinsilnya menggambar sesuatu disana.
"Kok tiba-tiba tanya gitu?" Linda kembali melanjutkan pekerjaannya menutupi rasa kaget dan gugupnya.
"Kan lucu, bund. Bisa temenin bunda nanti kalo Ical udah masuk pondok." Ucapnya sambil tersenyum sendiri menatap hasil gambarannya, menimbang-nimbang kemudian melanjutkan pekerjaannya.
"Terus kalo bunda kerja, gimana?" Linda terkekeh, berharap obrolan itu hanya guyonan mereka saja.
ting
Ivone: Ndok, Sabtu ini gak ada acara kan? Ikut kita jalan-jalan ya, biar seneng Clara ada temennya.
__ADS_1
Meilinda: Maaf, tante. Saya janji temani Haikal survey pondok pesantren.
"Hari Minggu saja kalau gitu. Ini mumpung Kristian juga ada waktu weekend ini, susah sekali ngajak dia liburan sama-sama. Alasannya selalu sibuk sibuk terus. Kita ke pantai aja, hitung-hitung menutup liburan sekolah Haikal dengan piknik." Ivone langsung menelfon setelah membaca jawaban dari chat yang dia kirim.
"Aduh gimana ya, tante... Takut merepotkan..." Jawab Linda bimbang.
"Coba, tante pengen ngomong sama Haikal.... Halo sayang, mau ikut ke pantai gak?" Ivone antusias sekali.
"### Mau banget, Oma!" Linda melihat wajah bahagia putranya, mungkin memang tidak ada salahnya membahagiakan putranya itu.
Hari yang ditunggu pun tiba, pagi-pagi Linda dan Haikal sudah tiba di rumah tante Ivone. Mereka kemudian berangkat menuju pantai yang jaraknya tidak begitu jauh dari rumah itu, sekitar 1,5 jam perjalanan dengan arus kendaraan yang lancar karena jalanan masih lenggang dipagi hari.
Linda dan tante Ivone menggelar tikar dibawah pohon rindang sebagai pelindung dari sengatan matahari. Mereka mempersiapkan makanan yang sudah mereka bawa dari rumah, tante Ivone khusus memasak untuk piknik hari itu. Haikal, Clara dan Kristian bermain ombak tak jauh didepan. Sesekali mereka ikut tertawa menyaksikan keseruan dikejauhan.
"Sudah lama rasanya tidak melihat Kristian tertawa lepas seperti itu..." Ucap Ivone menerawang. "Dia mengalihkan dunianya dalam pekerjaan, padahal ada Clara disini yang sangat membutuhkannya." Lirihnya.
Linda hanya bisa menggenggam tangan tante Ivone untuk menguatkannya.
"Kalian berdua itu sama, memiliki nasib yang sama. Tante tahu kalian bahkan tak pernah sekali pun sekedar berbincang, tapi tante yakin kalian sama-sama memahami apa yang dirasakan satu sama lain walau tidak ada kata-kata."
Meilinda tertawa kecil, entah lah apa yang dia tertawakan. Nasibnya, atau nasib Kristian... Yang pasti dia sangat bersyukur hari itu bisa melihat kebahagiaan putra satu-satunya yang sangat dia sayangi. Kekuatannya dan sumber kebahagiaannya.
.
.
.
__ADS_1
.