
Malam itu ditempat lain, disebuah penginapan.
"Assalamualaikum, ummi. Sehat?"
"Waalaikumsalam, abah, Alhamdulillah sehat. Abah gimana disana, makan teratur kan? Kapan pulang?"
"Alhamdulillah. Soal makan mah gak usah ditanya, mi. Sekalian nostalgia atuh, mumpung ada kesempatan. Coba ummi ikut, pasti abah ajak keliling-keliling dulu disini, ga ada ummi mah selesai acara pulang aja, udah kangen sama ummi. Ummi mau dibawain oleh-oleh apa?"
"Abah pulang dengan selamat itu sudah cukup buat Ummi. Makanya cari dong yang bisa Abah ajak-ajak kemana-mana ikut dakwah gitu, siapa tahu kan ada yang nyantol disitu hehe."
Abdul tertegun mendengar ucapan itu.
"Abah... Halo..."
Panggilan beralih menjadi video call...
Abdul tersadar dari lamunannya dan menggeser icon berwarna biru dilayar HP nya.
"Iya, ummi kenapa?"
"Abah yang kenapa, dari tadi Ummi panggil kok ga jawab. Ini Abah sudah di hotel ya, kapan pulang?"
"InsyaaAllah kereta besok pagi, ummi."
"Abah tadi kenapa? Masih keberatan dengan permintaan ummi?"
Abdul hanya tersenyum memandang wajah wanita dihadapannya, mengalihkan pembicaraan agar dia tidak perlu menjawab pertanyaan itu.
☆•☆
Ahad pagi, Haikal mengajak bundanya jalan-jalan ke stadion. Tempat itu biasanya ramai dipakai orang-orang untuk berolahraga kalau Ahad. Ada yang jogging, senam, main badminton, sepatu roda. Kalau Haikal sebenarnya tidak bermaksud untuk olahraga mengajak bundanya kesana, tapi menikmati bebagai jajanan yang berderet dipinggir jalan menuju dan juga disekitaran stadion.
Maklum lah sekolah Haikal sekolah swasta, tidak diperbolehkan abang-abang pinggir jalan berjualan disekitar sekolahnya. Dia pun jarang ada dirumah karena kesibukannya di sekolah hampir seharian, jadi jarang sekali jajan
Meilinda tersenyum geli melihat Haikal membawa tas keresek berisi macam-macam jajanan yang dia beli, sesekali memang dia mengijinkan Haikal belinya.
__ADS_1
"Cal, kita mampir tempat eyang ya... Kemarin nanyain loh, udah lama Ical ga main kan." Ajak Meilinda dijawab Haikal dengan anggukkan kepala.
Setelah mereka menghabiskan jajanan sambil duduk ditrotoar,melihat keramaian orang-orang disekitar stadion, Meilinda melajukan motornya menuju rumah ibu mertuanya.
"Assalamualaikum..." Sapa Haikal saat masuk kedalam rumah eyangnya. Meilinda sedang memarkirkan motor didepan toko. Dilihatnya toko sepi dan tertutup. 'Tumben ibu gak buka toko, ada apa ya, semoga tidak ada apa-apa.' Batinnya.
"Eehhh thole nya bulek dateng, iihhh pipi gembil e bulek, gemesh gemesh..." Sambut Gendis sambil mencubiti dan meremas-remas pipi Haikal.
"Ampuuunnn, bulek! Sakiiittt iiihhh..." Haikal berusaha melepaskan diri dari adik ayahnya itu.
"Wes to, ndok, jangan diganggu terus! Nanti ga mau maen sini lagi loh gara-gara kamu! Omel ibu begitu mendengar suara teriakan Haikal langsung menghampiri cucunya itu dan menggandengnya masuk lebih dalam dirumah.
"Iya, dek. Salam kita aja sampe gak dijawab, dosa loh." Melinda sudah bergabung didalam.
"Hehe iya, Waalaikumsalam warohmatullahi wabarrokatuh." Jawab Gendis cengengesan.
"Tokonya kok tutup, bu? Tanya Linda setelah mencium punggung tangan wanita itu.
"Iya, Lin. Itu loh kita mau kerumahnya pakde Mul, katanya mau lamaran loh. Belum lama cerai kok sudah nemu yang baru, katanya janda belum punya anak gitu, Lin." Ibu mulai nyerocos kayak kereta yang berbaris gak kelihatan unjungnya saking panjangnya.
"Kamu tuh, ndok. Ibu dah bilang ga usah cerita sama mbak mu, malu-maluin aja." Tepis ibu.
"Apa iya, bu?" Linda tidak percaya.
"Iya. Katanya udah merasa gak cocok sama budek mu itu, berantem terus, pengen pisah. Mau cari yang manut aja, kayak kamu gitu katanya. Iiihhh kalo bukan saudara sendiri udah ibu maki-maki tuh, mentang-mentang punya duit lebih terus dikiranya kita bisa dibeli." Ibu terlihat terpancing emosinya mengingat kembali kejadian itu.
"Kamu udah makan, le? Ceritanya terpotong begitu teringat cucu kesayangan, nada bicara ibu pun sudah kembali normal hehe.
"Tadi jajan di stadion, Eyang." Jawab Haikal masih asyik main game dengan gadget milik bulek nya itu. Yah memang hanya menggunakan gadget Gendis, Haikal bisa bermain game. Meilinda belum mengizinkannya mempunya HP sendiri, dan HP nya pun tidak memiliki aplikasi game.
Pernah suatu hari Ibu bermaksud membelikan Haikal HP, tapi Hamdan menolaknya dengan keras. Dia tidak ingin Haikal kecanduan game di HP nya dan lupa dengan pelajaran. Ibu menyerah jika Hamdan yang sudah bicara.
"Jadi lanjut sekolah dimana, dek?" Giliran Gendis yang bertanya. Haikal meletakkan HP dan menjawab dengan antusias.
"Aku lolos test masuk pesantren loh, bulek." Mata Haikal berbinar-binar saat bercerita.
__ADS_1
"Loh jadi di pesantren toh, Lin. Terus biaya nya gimana, ada?" Ibu membrondongnya dengan pertanyaan.
"Ical dapet beasiswa kok, Eyang. Jadi gak bayar, gratis." Bela Haikal
"Wahhh hebat kamu dapet beasiswa, pesantren mana?" Tanya Gendis.
"Pondok Pesantren Babussalam di kota T" Jawab Haikal mantap.
"Loohhh kok jauh banget! Beneran ini, Lin? Ibu tuh masih inget ya, dulu Hamdan tuh pernah bilang ndak bakal masukin anak ke pesantren, anak dipaksa prihatin, makan seadanya, tidur ndak enak. Itu lihat anaknya pak Sugeng, disekolahin di G**** berapa kali kabur, gak betah katanya. Ini kok jadi berubah tuh ada apa sih?!" Ibu mulai mode ketusnya *hehe
"Anaknya yang mau sendiri, bu. Sebelum mas Hamdan meninggal juga udah berangan-angan bareng Haikal, sudah menanamkan kalau besok SMP masuk pesantren. Kalau Linda sih gimana rezekinya aja, kemarin bingung dengan biaya masuk eh kok ndilalah ada tawaran beasiswa. Mungkin memang kehendaknya Allah, bu." Papar Meilinda membela Haikal yang sedikit berubah ekspresinya.
"Lha emang bener kuat ditinggal jauh? Jangan setengah-setengah loh, nanti baru jalan udah mau mundur. Susah lagi kan nanti. Ini diluar kota lagi, kalau mau nengokin kan ya harus pakai uang, belum nginapnya, makannya. Sekolahnya gratis, tapi biaya yang dikeluarkan lebih itu." Gendis yang lebih mengerti sifat ibu nya kemudian mengalihkan pembicaraan ibu, mengajak ibu segera bersiap untuk acara dirumah pakde... Dia melihat wajah Haikal berubah sendu, padahal saat mulai bercerita sangat antusias sampai melepaskan perhatian dari game nya.
"Mbak mending pulang dulu aja, kasihan Ical. Ibu kalo ngomel ga bakal berhenti, panjang kali lebar urusannya bisa 2hari 2malam nanti xixixixixi." Candanya membuat kode.
"Eh iya, bu, anu karena Ibu juga mau keluar, Linda sama Ical pamit dulu, bu." Ucapnya.
"Iya, ndok. Kamu gak usah ikut, nanti malah acaranya jadi ngelamar kamu kan repot. Ini, le bawa jajanan nya di toko ayo ikuy eyang, ambil yah buat nyemil sambil dirumah sambil belajar, ambil yang banyak ayo..." Ibu menyeret dan membimbing Haikal untuk membawa apa yang dia tunjuk. Ya seperti itu lah kasih sayang ibu pada cucunya.
"Jadi gimana, bunda?" Tanya Haikal pelan saat mereka sudah sampai dirumah.
"Apa nya, Cal?" Meilinda bertanya balik karena memang tidak paham maksud putranya itu.
"Bener yang dibilang eyang, kalo sekolah di luar kota nanti nganternya butuh biaya, nengoknya juga, biaya lagi. Jadi Haikal gak bisa dong sekolah di pesantren." Suaranya terdengar sedih.
"Haikal sayang...dengar bunda. Kalau Ical percaya sama Allah, pasti Allah kasih jalannya. Eyang seperti itu karena eyang sayang Ical, gak mau jauh dari Ical. Tapi takdir dari Allah tidak bisa diubah, makanya Ical terus berusaha, terus berdoa biar Allah kasih jalan dan yang terbaik buat kita." Jawab Meilinda sambil mensejajarkan pandangannya dengan putranya itu.
"Iya, bunda. Ical akan terus berdoa sama Allah, minta sama Allah biar bisa sekolah di pesantren dan Allah kasih bunda teman yang bisa gantiin Ical jagain bunda."
.
.
.
__ADS_1
.