Cinta Pertama Ustadz

Cinta Pertama Ustadz
28.


__ADS_3

Dengan mengucap bismillah Meilinda memantapkan hati menggapai kehidupan di lingkungan baru. Alhamdulillah banyak orang yang menyayangi mereka, teman dan keluarga berniat mengantar sampai ke pondok pesantren. Namun dia tolak dengan sopan dan halus, masalahnya bisa dibilang Mei 'numpang' tinggal di pondok tidak enak rasanya kalau rombongan.


Mereka tidak membawa banyak barang, sesuai instruksi dari pondok dan sebagian atas saran Ummi akhirnya mereka berangkat dengan kereta. Yang disebut tidak membawa banyak barang ternyata cukup merepotkan, masing-masing membawa koper besar. Tas ransel besar di punggung dan satu travel bag yang disimpan diatas koper Mei, sedangkan Haikal membawa tas sekolah berisi perlengkapan sekolah dan keresek berisi camilan untuk di kereta.


Sampai di stasiun kereta kota T, mereka melihat ustadz Saiful sudah menunggu. Alhamdulillah Ummi memang menyarankan untuk menerima tawaran penjemputan ini, mereka datang seminggu sebelum waktunya penerimaan santri dan santriwati pondok lainnya. Ini pun atas usulan dari Ummi, agar Mei bisa beradaptasi terlebih dahulu dengan lingkungan dan bisa membantu saat penerimaan tahun ajaran baru nanti.


Mobil.diparkirkan tepat didepan rumah Ummi, ustadz Saiful menurunkan barang-barang diteras depan.


"Maaf ustadz, apa sebaiknya kami masukkan barang-barang di rumah tamu saja? Tidak enak nanti angkat-angkat lagi." Saran Mei.


"Afwan, ukhti. Ummi mintanya langsung diturunkan didepan rumah, mari saya permisi."


Mendengar suara didepan, Ummi segera keluar dan menghampiri mereka. Benar ternyata, Ummi terlihat lebih segar dari terakhir bertemu. Walau beberapa kali Mei melihat Ummi via video call, tapi bisa melihat Ummi secara langsung begini senang rasanya.


"Assalamualaikum Ummi, alhamdulillah senang rasanya bisa bertemu kembali." Mereka pun berpelukan.


"Waalaikumsalam... MasyaaAllah Tabarakallah... Mari masuk, kalian pasti lelah... Ayok, nak masuk lah istirahat dulu. Sebentar lagi Abah pasti datang, ayok ayok." Ummi semangat sekali.


Mereka akhirnya masuk kedalam rumah, Ummi membimbing mereka untuk masuk ke kamar tamu dan beristirahat terlebih dahulu. Haikal pamit memakai kamar mandi untuk panggilan alam, mereka bergantian menggunakan kamar mandi. Tidak lama kemudian, bik Asih memberitahu untuk menikmati teh hangat yang sudah disiapkan agar badan menjadi segar setelah perjalanan jauh.


Ummi menemani mereka minum teh hangat dengan camilan khas priangan sambil mengobrol ringan, keakraban yang selama ini hanya jarak jauh lebih terasa ketika berinteraksi langsung. Tanpa mereka sadari, Haikal yang merasa teracuhkan ternyata tertidur di kursi sofa.


"Assalamualaikum..."

__ADS_1


"Waalaikumsalam, sssttt jangan berisik Abah... nak Haikal tertidur, biarlah dia istirahat sebentar sebelum shalat dhuhur."


Abdul menatap Haikal intens, ada desiran aneh dalam hatinya. Mungkin karena sudah lama sangat dia menantikan kehadiran seorang anak yang menunggu dan menyambutnya dirumah. Mei sekilas menatap ustadz Abdul karena merasakan sesuatu dalam pandangan ustadz itu, tanpa sengaja kedua mata mereka bertabrakan. Mei yang pertama kali memutus pandangan dan mengalihkannya kearah lain, disusul Abdul segera dengan salah tingkah melihat senyum diujung bibir Ummi.


Canggung dirasa suasana itu, tapi sungguh lucu dan hiburan tersendiri untuk Ummi yang tidak berniat sedikit pun menyembunyikan senyumnya. Malah dengan sengaja Ummi menggoda mereka berdua, untung saja Haikal sedang tidur.


Abdul pamit masuk kedalam diikuti Ummi dibelakangnya, Mei memilih untuk kebelakang membantu pekerjaan bik Asih. Lagipula dia selama ini bekerja di katering jadi sudah terbiasa dalam hal masak memasak. Tidak lama kemudian, tanpa disadari karena asyik dengan pekerjaan, suara adzan terdengar menggema dari arah masjid. Meilinda dan yang lainnya segera menyelesaikan kegiatannya, bersiap untuk menyambut panggilan adzan.


Meilinda masuk ke ruang depan mencari Haikal yang tadi tertidur di sofa, tapi ternyata tidak ditemukan anak itu. Mei mencarinya dikamar tamu pun tidak ada.


"Nak Haikal tadi sudah pergi ke masjid bareng Abah, Bund. Sempat menanyakan Mei juga, tapi Abah bilang bunda lagi sibuk di dapur jadi langsung ikut Abah." Ucap Ummi yang melihat Mei. Dia sudah siap dengan mukenanya.


"Ummi shalat ke masjid?" Tanya Meilinda.


Banyak ustadzah yang menyapa Ummi, memang benar rupanya sudah lama Ummi tidak shalat ke masjid bahkan ini pertama kalinya ke masjid katanya. Semua menyambut gembira bisa melihat Ummi lagi dengan senyuman, mereka belum bisa berbincang leluasa karena shalat berjamaah segera akan segera dimulai.


Selesai mengucap salam, Mei melirik Ummi yang ada disampingnya, tanpa sengaja dia melihat tetes air mata mengalir dari sudut mata Ummi ketika memanjatkan doa dengan tangan tengadah dan mata tertutup. Ummi menangis dalam diam, tidak ada isak tangis terdengar. Ummi sangat khusyuk berdoa sehingga tidak menyadari ada orang yang memperhatikannya.


Iri rasanya dalam hati Mei melihat Ummi memanjat doa seindah itu, sedangkan dirinya baru bisa merasa sedikit khusyuk dalam doa ketika malam saja. Ketika tidak ada suara lain kecuali bisikan hatinya untuk sang Maha Khalik. Melihat suasana pesantren membuat Mei semakin merasa kecil, suasana syahdu dengan lantunan ayat suci terdengar sahut menyahut. Sedangkan dirinya, walau sudah terbiasa mengaji tapi masih banyak kekurangan dalam pelafadzan maupun tajwid. Bacaannya masih terbata-bata, bahkan kalah dengan putranya sendiri.


Dulu sekali, saat masih duduk di bangku sekolah menengah pertama, Mama memintanya untuk belajar mengaji di masjid, tapi dia lebih suka bermain atau menonton televisi. Sampai akhirnya ada beberapa orang santri datang ke masjid kompleks dan membuat program mengaji disana, Mama dengan antusias memaksanya untuk ikut dengan ancaman hehe


Memalukan memang, usia beranjak remaja baru dia mengenal huruf hijaiyah dengan bantuan kakak-kakak pendatang itu. Untungnya teman sepermainannya pun mendapatkan nasib yang sama, dipaksa untuk belajar mengaji. Jadilah Mei dan teman-temannya mulai rutin belajar Iqro. Sayang nya kakak-kakak itu tidak lama tinggal, hanya satu bulan saja, demi mengisi waktu liburan sekolah. Selanjutnya Mei dan teman-teman mulai jarang-jarang mengaji dimasjid, jadi wajarlah Mei masih terbata-bata.

__ADS_1


Kalau saja waktu bisa diputar kembali, ingin rasanya Mei mengulang masa-masa belajar mengaji bersama kakak-kakak itu lagi, dia akan lebih serius belajar dan ingin istiqomah dengan bacaannya.


"Mei...kok melamun, mikirin apa?" Ucap Ummi yang ternyata sudah selesai berdoa dan terheran melihat Meilinda menatapnya dengan pandangan kosong.


"Astaghfirullah, maaf Ummi." Jawabnya segera.


"Assalamualaikum Ummi, senang sekali rasanya bisa melihat Ummi kembali disini." Ucap seorang ustadzah sambil bersalaman dengan Ummi.


"Waalaikumsalam, iya teh, Alhamdulillah... Lebih baik sekarang, punya semangat baru, punya misi baru." Jawab Ummi sambil tersenyum.


"Misi apa, Ummi?"


"Ada aja, nanti juga semua tahu lah. Permisi kami mau kembali kerumah, mau menyiapkan makan siang untuk Abah. Assalamualaikum teh." Ummi menggandeng tangan Meilinda dan mengajaknya meninggalkan masjid dengan diiringi tatapan penuh tanya.


"Maaf Ummi, kalau boleh saya tahu, sekali lagi maaf kalau saya menguping pembicaraan Ummi tadi, apa misi Ummi? Siapa tahu saya bisa bantu." Ucap Meilinda dalam perjalanan kembali kerumah.


"Tentu saja Mei harus bantu, karena misi Ummi sekarang adalah membuat Mei kerasaan tinggal disini." Jawab Ummi sambil mempererat genggamannya dan tersenyum kearah Meilinda.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2