
Pagi itu Mutiyah dan Khansa ikut membonceng dengan Meilinda menuju rumah singgah, sedari tadi Meilinda tak henti-hentinya bercerita tentang kegiatan dan orang-orang yang ada disana.
Setelah memarkirkan motor maticnya, dia mengajak Mutiyah yang menggendong Khansa untuk berbaur dengan yang lain. Meilinda mengenalkan Mutiyah sebagai adik dari Ummi, dan semua pengurus menyatakan rasa simpatiknya.
'Yuk Billa memang selalu bisa membuat orang lain lebih sayang padanya, bahkan mamak dan abah pun.' Batin Mutiyah.
"Ada apa, nak? Kelihatannya ada yang mengganggu pikiranmu, kalo butuh temen curhat kita semua siap disini. Disini tuh semua keluarga, saling membantu, paling tidak bisa jadi tempat untuk berkeluh kesah." Salah satu pengasuh mendekati Mutiyah yang terlihat merenung.
"Iya, neng. Perempuan mah pasti weh butuh temen ngobrol, temen curhat, walo ga ada solusi tapi bisa legain hati. Beneran saya mah, pengalaman sendiri, yah teh?" Yang lain menimpali disambut tawa rekan-rekannya.
Mutiyah pamit ingin menemani Khansa bemain, "Sasa paling kecil disini dan juga belum mengenal siapa pun, Tiyah khawatir nanti dinakali anak yang lebih besar" kilahnya.
Meilinda menepuk tangan ustadzah disana yang ingin menjelaskan, sambil menganggukkan kepalanya. "Pelan-pelan saja, Ust. Memang beberapa hal harus diperbaiki dalam pengasuhannya, maklum lah pengalaman pertama." Paparnya.
Ya, tujuan Meilinda membawa Mutiyah dan Khansa ke rumah singgah sebetulnya bukan semata-mata agar Khansa memiliki teman bermain tapi justru ingin memberikan arahan pada Mutiyah tentang pengasuhan anak.
Sesekali disela-sela mengawasi Khansa bermain, Mutiyah membuka aplikasi chat dan membalas beberapa pesan yang masuk. Meilinda seperti biasa membantu pesiapan makanan di dapur atau berbaur bersama anak-anak yang lebih besar dan mengajarkan mereka belajar, ada yang menggambar, berlatih menulis, atau membacakan cerita.
Setelah makan siang, anak-anak yang lebih kecil akan tidur siang ditempat yang tersedia. Beberapa anak yang juga tinggal disana, sudah berhasil masuk sekolah dasar dan ketika pulang sekolah akan membantu menjaga dan bermain dengan anak-anak yang lain.
Sejak dini mereka telah diajarkan untuk saling menjaga dan perduli terhadap sesama, selalu bersyukur atas apa yang didapat dan dimiliki serta berusaha menggapai apa yang diimpikan.
"Bunda, punten ada yang nyari didepan, laki-laki ganteng, pake mobil mewah." Ucap Nisa, salah satu penghuni rumah singgah yang sudah sekolah di tingkat pertama mendekati Meilinda yang sedang menemani Rio membuat kapal-kapalan dari kertas.
"Siapa ya?" Nisa mengangkat bahunya, Meilinda berjalan menuju tempat yang lebih mudah untuk melihat kearah gerbang. 'Revan?! Kok bisa sampe kesini, aku selalu hati-hati agar dia tidak bisa mengikutiku sampai sini, aku yakin sekali saat berangkat tadi tidak ada orang yang mengikuti.'
"Ada apa, bunda?" Kepala pengasuh menghamprinya yang terlihat khawatir.
"Ada lelaki yang mencari saya, ust, dia terus mengejar saya padahal ustadz Abdul sudah menemuinya dan menjelaskan semua."
"Biar saya yang temui ya, Bund." Ucapnya Sosok kepala pengasuh yang lembut namun tegas dan mengayomi selalu membuat orang disekitarnya nyaman.
"Ada yang bisa dibantu, pak?"
__ADS_1
"Panggilkan Meilinda, bilang saya sudah datang."
"Maaf, pak, bunda berpesan tidak ingin bertemu dengan anda. Memang benar, sebaiknya jika ada perlu bertemu saat bunda didampingi ustadz Abdul, suaminya. Begitu yang disyariatkan dalam agama, pak."
"Agama kalian itu terlalu banyak aturan, mengekang kebebasan seseorang. Aku hanya ingin bertemu dan berbicara dengan Meilinda, kami teman lama."
Ustadzah tertegun dengan jawaban lelaki dihadapannya, 'sepertinya lelaki ini memang tidak mengetahui karena tidak mempunyai ilmunya. Pantas saja bunda tidak ingin menemuinya, walau hanya untuk menjelaskan.'
"Sekali lagi saya minta maaf..." Ustadzah berlalu dari depan pagar, memang pagar selalu dalam keadaan tertutup dan terkunci saat seperti ini untuk keamanan.
Revan mendengus penuh amarah, dia meraih HP nya. Mencari kontak dan menekan tombol biru setelah menemukan siapa yang dia cari, tidak diangkat. Kembali dia menekan tombol dan menunggu dengan tidak sabar, 'reject!' Revan menendang kerikil kecil didepan kakinya, mencoba melampiaskan kekesalannya. Tidak ada lagi yang bisa dia lakukan, hari masih terik dia menimbang-nimbang apakah menunggu atau beranjak dari sana.
Pesan masuk: Sebaiknya mas pulang dulu saja.
Revan: Sampai kapan aku harus menunggu?
Pesan masuk: Nanti saya kabari lagi.
Pesan masuk dan terbaca.
Abdul berjalan menuju pos keamanan, awalnya dia berniat akan ke masjid setelah melakukan pengecekan di pondok asrama putra tapi setelah membaca pesan yang dikirim istrinya, dia membelokkan langkahnya.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam, tadz, ada yang bisa ana bantu?"
"Apa hari ini lelaki itu datang lagi?" Tanya Abdul to the point.
"Alhamdulillah aman terkendali, ustadz... seharian ini saya berjaga tidak ada dia datang."
"Begitu... Syukron, Akhi. Ana ke masjid dulu."
'Bagaimana dia bisa tahu soal rumah singgah, bagaimana dia bisa sampai kesana?' Batin Abdul sambil melanjutkan langkahnya menuju masjid, Meilinda tinggal lebih lama di rumah singgah menunggu Khansa bangun dari tidur siangnya.
__ADS_1
Selesai shalat ashar dan dzikir petang masing-masing 100 kali serta tilawah, Abdul melihat istri dan putrinya beserta Mutiyah pulang. Dia kemudian menghampirinya, hampir seharian tidak bertemu Khansa membuatnya rindu.
Meilinda mencium punggung tangan suaminya yang dibalas Abdul dengan mencium kening istrinya, pemandangan yang sudah biasa Mutiyah lihat tapi tetap membuat hatinya iri. Meilinda membimbing Khansa untuk melakukan hal yang sama.
"Tiyah bantu bunda masak didalam saja ya, biar Khansa bermain dengan ustadz Abdul." Ucap Meilinda seperti memahami keinginan suaminya. Tiyah sebetulnya ingin berdua dengan Khansa saja, seharian tadi dia Khansa bermain bersama teman-teman. Tapi dia tidak bisa membantah, ustadz Abdul juga sudah menggendong dan membawa Khansa pergi. Dia ingat betul ustadz mengatakan peraturan bahwa wanita dilarang memasuki area lelaki.
Terpaksa Mutiyah mengikuti Meilinda masuk kedalam rumah setelah dia tidak lagi melihat Khansa yang digendong ustadz Abdul menyebrangi jalan menuju pondok asrama putra.
"Dek, sayur ini tolong dipotong-potong ya..." Pinta Meilinda menyerahkan sayur yang sudah dia cuci dengan air keran yang mengalir, dia memperhatikan wanita didepannya. "Ada apa, dek, kok lesu seperti itu? Ndak usah khawatirkan Sasa, insyaaAllah baik-baik saja." Ucapnya sambil tersenyum.
"Terimakasih ya, dek, sudah sangat sayang pada Khansa. Bunda dengar, kamu sama Ummi sudah seperti kakak dan adik jadi pasti kamu juga menyayanginya. Bunda hanya sebentar saja mengenal Ummi, tapi masyaaAllah, Ummi memang luar biasa. Jika bukan karena Ummi, bunda ndak bisa seperti ini."
"Oh ya, kalau misal ada ustadz dari pondok ini yang mau ta'arufan, kamu ndak? Atau ada yang udah kamu sukai, bunda lihat akhir-akhir ini kamu sering kirim-kirim pesan dan telfonan."
"Tidak ada, bunda." Jawab Mutiyah singkat. "Boleh Tiyah bertanya? Apa bunda mau dipoligami?" Meilinda sempat menghentikan pekerjaannya terkejut dengan pertanyaan Mutiyah.
"Dulu bunda pernah berpikiran begitu memang, berkali-kali bahkan meminta ustadz Abdul untuk menikah lagi. Bunda merasa tidak pantas, tidak layak disandingkan dengan seorang ustadz. Sampai akhirnya ustadz bilang kalau ternyata bunda cinta pertamanya saat kami masih sama-sama anak sekolah, hahahahaha..."
"Hati wanita mana coba yang tidak senang jika begitu, ustadz itu lelaki yang luar biasa. Beliau menolak poligami karena tidak mau menyakiti, jika ditanya jauh kedalam lubuk hati seorang perempuan pasti tidak rela membagi cinta suami. Bunda belum bisa seperti Ummi. Allah Maha Mengetahui, karena Allah tahu bunda tidak sanggup maka jodoh bunda ya ustadz Abdul yang tidak mau poligami hehehe..."
Mutiyah merenungi ucapan Meilinda, sibuk dengan pikirannya sendiri. 'Coba kamu tidak keberatan, semua akan lebih mudah, tidak perlu memakai jalan pintas. Tapi apa tidak membahayakan jika seperti ini...'
.
.
.
.
Happy weekend...
InsyaaAllah ketemu lagi hari Senin ya🤗
__ADS_1