
"Kamu siapa?" Tanya wanita itu lagi.
"Anu..saya...anu makanan..." Linda ngelagapan menjawab karena tatapan mata wanita didepannya yang tajam dan angkuh...
"What ever...ga penting, kamu lihat Revan ga?" Tanyanya lagi yang hanya dijawab Linda dengan gelengan kepala.
'Siapa lagi Revan ini, duh aku harus cepat-cepat kembali ini. Pekerjaanku masih banyak, jangan sampai aku terlambat menjemput Ical.' Pikir Linda ketika wanita itu berlalu sambil terus memanggil nama Revan.
Baru saja Linda akan melangkah, laki-laki dari bawah meja itu keluar. "Thanks ya, udah nyelametin aku dan ga bilang ke dia kalo aku ngumpet disini." Ucapnya menahan kepergian Linda kembali memegang tangannya.
"Astaghfirullah...maaf pak,tolong lepaskan tangan saya." Linda berusaha melepaskan tangan lelaki itu.
"Sorry...aku ga maksud...sekali lagi makasih ya, duh males banget aku tadi ketemu Siska" Rutuknya.
"Saya ga tau maksud bapak, tadi saya ga melakukan apa-apa... Tunggu jadi bapak yang dicari ibu nya tadi, aduh saya tidak berniat untuk berbohong...hanya saja..." Linda berkata lemah.
"Apa...jadi kamu ga tau siapa aku? Kamu juga gak tau siapa dia?" Lelaki yang ternyata bernama Revan itu tertawa tidak percaya melihat Linda menggelengkan kepalanya.
"Ya Allah...saya harus cepat-cepat...permisi,pak..." Linda pergi dengan tergesa tanpa sempat Revan cegah.
......................
"Kok lama kembalinya, Lin? Ada masalah?" tanya Dina sambil memeriksa catatan pemesanan dan pembayaran dimejanya.
"Iya, mba... Maaf tadi agak ada gangguan kecil, tapi ga papa kok paket aman sampai ditempat hehe. Aku kebelakang dulu ya, mba belum shalat Dhuhur trus mau beres-beres biar cepet kelar." pamitnya.
"Eh tunggu, Lin. Ini bayaranmu minggu ini, aku mau pulang cepet ini, ada janji." Linda selalu menerima amplop berisi uang upahnya di hari Jumat setiap minggu nya.
"Alhamdulillah,terimakasih ya mba..." Ya, berapa pun rezeki yang dia terima tak lupa dia selalu bersyukur.
__ADS_1
Sedangkan ditempat lain, kembali ke kantor XX.
"Sayang...kamu tuh kemana aja sih dari tadi aku cariin?! Kok bisa udah ada disini?!" Wanita dengan pakaian modis dan branded itu masuk ruangan Revan, langsung menghujaninya dengan pertanyaan.
"Kamu tuh ngapain sih kesini, aku disini kan kerja. Mending sekarang kamu pulang deh..." Jawab Revan dingin.
"Aku kesini cuma mau bilang, besok kamu diundang papa sama mama untuk makan malam. Katanya mau ngomongin pertunangan kita, sayang."
"Itu kan bisa lewat chat ato telfon, ngapain harus sampe kesini..."
"Tadinya aku mau sekalian ajakin kamu lunch..."
"Aku udah kenyang, kerjaanku banyak."
"Iya deh, ngerti... Aku pulang, jangan lupa besok malam ya... Daahhh sayang..." Siska memajukan wajahnya untuk berpamitan, setelah cipika cipiki yang hanya ditanggapi dingin oleh Revan, dia pun pergi meninggalkan ruangan itu.
"Wid, tolong panggilkan pak Rahmat keruanganku." Titah nya pada Widya, sang sekertaris melalui sambungan telfon.
Tok tok tok
"Permisi, pak. Bapak panggil saya?" Pak Rahmat, OB senior yang sudah berumur tapi masih terlihat sehat itu meminta ijin masuk keruangan Revan.
"Aahhh iya, pak. Itu karyawan pantry yang pake kerudung biru siapa namanya ya?" Tanya nya to the point.
"Pake kerudung...? Enggak ada tuh, pak, OG yang pake kerudung disini." Jawab pak Rahmat sambil menggaruk kepalanya yang gak gatal.
"Tadi itu di pantry ada perempuan pake kerudung, pak. Dia bawa makanan gitu, karyawan kita kan? kok dia ga pake seragam?" Revan berusaha menjelaskan.
"Oalaaahhh pak Revan ki yo, itu mesti mba Linda. Dia itu pegawai katering, pak. Bukan karyawan sini." Pak Rahmat akhirnya mengerti.
__ADS_1
"Katering?"
"Kalau gitu, besok tolong pesankan saya dan minta dia antar langsung keruangan saya, ya."
"Nganu, pak... Besok kan Sabtu, kantor libur toh..." Jawab pak Rahmat bingung.
"Ya maksud saya, saat kantor masuk pak...jadi besok Senin ya, ingat dia harus antar sendiri keruangan saya." Sabar...ngomong sama orang yang berumur memang harus ekstra sabar ya...
......................
"Bunda...besok kita berenang, yuk... Udah lama deh Ical ga berenang, boleh ya bund." Bujuk Haikal saat Linda menjemputnya di sekolah.
"Ical berani berenang sendiri? Ato kita ajak tante Gendis aja ya yang temenin Ical berenang." Jawab Linda.
"Lebih seru kalo ada ayah ya, bund..." Sudah lama Haikal tidak mengungkapkan kerinduan terhadap ayahnya. Linda menyembunyikan air mata yang tiba-tiba saja hampir lolos dari matanya.
"Ical kangen ayah ya... Gak apa-apa, bunda juga suka kangen kok sama ayah. Itu tandanya kita sayang sama ayah, kalau Ical lagi kangen sama ayah coba deh Ical baca Al-Fatihah... doakan ayah semoga ayah dilapangkan kuburnya, diringankan hisabnya dan kita bisa berkumpul di syurga nya Allah nanti. Aamiin Allahuma Aamiin" Hening sejenak, Linda pun segera mengalihkan pembicaraan.
"Oh iya, Cal. Kamu jadi ikut les sama ustadz gak, besok? Alhamdulillah bunda sudah ada uang buat bayar les nya ini." Ucap Linda riang.
"Gak usah, bund. Gak jadi, mending uangnya bunda tabung aja buat Ical masuk SMP nanti, Ical pengen masuk Pondok, bund. Ayah dulu juga selalu minta Ical lanjut ke pondok aja." Mata Haikal berbinar-binar ketika dia berbicara.
Ada haru mendengar putra semata wayangnya mengatakan ingin melanjutkan sekolah di pondok pesantren, seperti yang selalu suaminya inginkan semasa hidupnya. Haikal, rasanya baru kemarin kamu dalam pangkuan bunda dan sekarang... Haikal yang tidak pernah jauh dari bunda nya, apa bisa dia melakukannya, tidak, yang benar adalah apa bisa aku jauh dari dia sekarang ini. Hanya dia satu-satunya milikku sekarang...
"Aamiin...kalau memang Haikal mau nya begitu, minta sama Allah dengan sungguh-sungguh. Bunda yakin kalau Ical jadi anak sholeh, pasti Allah kabulkan doa Ical."
"Iya bunda... Aamiin..."
Dan malam itu, seperti malam-malam sebelumnya, Meilinda duduk bersimpuh dengan kedua tangan ditengadahkan keatas, mengenakan kain yang menutupi hampir seluruh tubuhnya kecuali bagian wajah. Kain yang dulu diberikan kekasih hatinya saat mengucapkan ijab qabul, berikrar janji akan bersama dalam suka dan duka sampai maut memisahkan. Jodoh, rezeki dan maut semua sudah digariskan oleh Allah. Meilinda selalu berdoa memohon perlindungan dan kekuatan kepada Sang Pencipta, karena sering kali dia merasa berjalan dalam keadaan pincang. Tak ada lagi penopang hidupnya. Tapi dia yakin, bahwa Allah tidak pernah menguji umatNya diluar batas kemampuannya. Hanya setelah dia mengadu dalam shalat malam maka hatinya bisa lebih tenang.
__ADS_1