Cinta Pertama Ustadz

Cinta Pertama Ustadz
40.


__ADS_3

Abdul meluruskan kaki dan meregangkan ototnya, entah berapa lama dia tertidur disana. Dia beranjak ke belakang mencari istrinya, dan dilihatnya Mey baru saja akan selesai menjemur pakaiannya. Kepengennya sih mendekati tapi diurungkan niatnya, dia hanya menatap dari kejauhan. Setelah puas, dia masuk kedalam untuk membersihkan diri.


Meilinda menyadari jika ustadznya sudah tidak lagi duduk didepan, inderanya mendengar suara gemericik air dari arah kamar utama berarti ustadz sedang mandi. Segera dia kembali kebelakang dan memanaskan makanan.


Kali ini dia menggelar alas makan di atas karpet, menata makanan diatasnya. Dia selesai bertepatan dengan Abdul keluar dari kamar sudah segar. Senyumnya merekah melihat apa yang disiapkan istrinya.


"Sudah lama gak makan begini dirumah..." Ucapnya "Tapi ada yang kurang..." Lanjutnya kemudian berjalan kebelakang dan kembali dengan membawa nampan. Dengan cekatan dia menata makanan diatas nampan, nasi secukupnya, lauk dan sayur secukupnya. Abdul juga sudah membawakan sedikit garam meja.


"Sebelum makan utama, diajarkan Nabi saw untuk mengicip garam dengan ujung jari manis sebelah kanan. Banyak sekali fadhillahnya, salah satunya menghindarkan penyakit dalam tubuh kita."


"Makan bersama dalam satu nampan seperti ini juga ajaran beliau, Mey tidak keberatan kan makan satu tempat dengan kak Bas?" Godanya " Makan dari makanan yang terdekat, jangan lupa memuji makanan sebagai tanda rasa syukur atas nikmat Allah, tapi juga bisa membahagiakan orang yang dengan susah payah memasak untuk kita, apa lagi kalau dia itu istri. Sudah menjadi kewajiban suami untuk membuatnya bahagia."


Dicermatinya kata-kata ustadz, penuturannya lembut tidak terdengar sedang menceramahi atau menggurui.


"Bahkan ada hadits mengenai pahala bagi suami yang senang menyuapi anak dan istri dengan menggunakan tangannya loh." Abdul menyorongkan tangan berisi nasi dan lauk didepan mulut Mey. Dia membuka mulutnya menerima suapan yang diberikan ustadz yang sudah menjadi suaminya itu.


Abdul senang sekali, senyumnya sangat lebar. Meilinda membayangkan seperti seorang anak yang mendapatkan mainan baru kesukaannya, terkekeh sendiri.


"Ada yang lucu?" Abdul menatap istrinya dengan takjub, ini pertama kali melihat Mey tersenyum karenanya. Mey yang menyadarinya kemudian kembali dengan mode diam. Abdul yang melihatnya gemas dan terkekeh.


Ustadz Abdul jika dilihat pertama bertemu sebagai ustadz terkesan diam, berwibawa, keras. Tapi saat ini yang ada dihadapannya adalah sosok yang menyenangkan, jauh dari yang Mey bayangkan. Sikapnya hangat dan penuh perhatian dan mata teduhnya... Penampilannya dirumah juga santai, dengan kaus oblong celana pendek sebatas betis. Memang begitu ada tamu luar atau dalam pondok, mode seriusnya akan kembali.


"Seneng banget ya suami pulang, tadi senyum-senyum sekarang ngeliatin sampe lupa ngedip gitu." Satu lagi, ternyata ustadz yang sudah menjadi suaminya ini senang sekali menggoda. Tidak terima dikatakan seperti itu akhirnya Mey cemberut.


"Maaf... Senyum lagi dong, pamali makanan dimonyongin gitu. Bikin gemes tau, nanti kak Bas cium itu bibir." Mey melotot kearahnya, yang dibalas dengan tawa renyah sampai Abdul tersedak.


"Astaghfirullah, makan tuh jangan sambil bersuara." Balas Mey menasihati sambil memberi segelas air putih.


"Iya istriku sayang, terimakasih sudah diingatkan."


Acara makan sudah selesai, Abdul memaksa untuk membantu beres beres.


"Hari ini Mey mau ditemani kemana?" Tanyanya sambil menerima gelas yang sudah Mey cuci dan menyimpan ditempatnya. Meilinda menggelengkan kepala, kalau boleh jujur dia ingin ke asrama saja bergabung dengan yang lain daripada hatinya selalu resah berada disamping ustadz yang sudah menjadi suaminya itu.


"Kalau gitu kita jalan-jalan lagi, ya. Kemarin udah keselatan, sekarang kita ke utara. Ada yang mau kak Bas tunjukkan pada Mey."


Mereka mengeringkan tangan dan bersiap, Abdul beranjak menuju kamar hendak berganti pakaian.


"Mey, bisa kesini sebentar?"


"Iya, ustadz?" Meilinda mengintip dari gawang pintu kamar utama, tidak berani masuk karena hanya ada mereka bedua disana.


"Sini dong." Abdul berdiri didepan lemari yang terbuka. Meilinda tetap berdiri, dia merasa enggan. Berada berdua saja dirumah itu sudah membuatnya merasa tidak nyaman, ini dia harus masuk ke kamar... Tapi tatapan ustadz saat itu tajam menandakan keseriusan, terpaksa Meilinda akhirnya masuk. Berdiri agak jauh dari ustadnya itu.


"Ealah takut amat ya sama suami, ga percaya nih Mey sm kak Bas hehe Ini loh, baju-baju Ummi masih ada dilemari ini, coba tolong Mey rapikan ya?"


"Itu sudah rapi kan..." Meilinda tidak pernah membongkar barang milik Ummi, jadi semua masih tertata seperti terakhir bik Asih kerjakan.

__ADS_1


"Maksud kak Bas, baju Ummi dikeluarkan saja. Kalau Mey ada yang cocok boleh diambil duluan, Ummi pasti senang jika Mey mau pakai. Tapi kalau Mey tidak nyaman juga tidak apa-apa, bisa minta tolong Ais nanti membagikan orang-orang." Abdul berjalan mendekati ujung tempat tidur dan duduk.


"Dibagikan semuanya ustadz? Apa ustadz tidak sayang? Mungkin ada yang ingin disimpan untuk kenangan?" Meilinda jadi ingat beberapa baju mendiang Hamdan masih tersimpan dilemari rumahnya.


"Iya kalau Mey tidak mau lebih baik dibagikan semua, nanti bisa diisi buat baju-baju Mey disini. Kenangan Ummi akan tetap ada, tersimpan rapi di sini." Tangan Abdul memegang dadanya. Kemudian dia menepuk sisi tempat tidur disampingnya agar Mey mau duduk disebelahnya, Mey menggeleng cepat. Abdul tersenyum simpul, modusnya tidak berhasil ternyata hehe.


"Semua barang yang ada di dunia akan dihisab di hari kiamat nanti, termasuk pakaian. Kita akan ditanya apakah sudah memanfaatkan dengan benar barang-barang yang kita punya, kalau cuma disimpan dilemari kan tidak bermanfaat. Diluar sana masih banyak orang-orang yang sulit untuk menutup auratnya, jadi kita juga bisa membantu sedikit meringankan hisab Ummi nanti dan juga diri kita sendiri karena ini sudah menjadi tanggung jawab kita yang masih hidup sekarang."


Meilinda sebenarnya sudah paham, Hamdan pernah memberitahu hal ini saat bapak mertua berpulang. Waktu itu Ibu menangis tersedu ketika Hamdan mengeluarkan baju-baju bapak dan menasihati ibu, sampai secara sembunyi-sembunyi ibu menyimpan beberapa baju kesukaan bapak sampai sekarang ditumpukan baju ibu.


Ustadz Abdul sama sekali tidak tampak berat bahkan menangis saat memintanya, yang Mey tahu ustadz sangat mencintai Ummi semasa hidupnya. Apa begitu cepat cinta itu hilang? Apa karena sekarang ustadz sudah dapat penggantinya? Tidak, tidak mungkin karenanya ustadz jadi begini, ustadz tidak mungkin punya rasa padanya.


"Kamu tuh punya kebiasaan melamun ternyata, Mey." Tiba-tiba Mey tersadar dan melihat ustadz yang sudah menjadi suaminya itu berada sangat dekat dengannya, menatapnya sambil sedikit membungkukkan badan.


"Astaghfirullah..." Mey berlari keluar dari kamar utama dan masuk ke kamar tamu langsung menguncinya. Gelak tawa terdengar bersumber dari mulut Abdul membuat Mey kesal karena merasa dipermalukan.


tok tok tok


"Ayo lah Mey, kak Bas minta maaf ya... Kita jalan-jalan yuk, please temanilah suamimu ini wahai istriku..."


"Ustadz siapkan saja dulu motornya, nanti saya menyusul." Jawab Meilinda dari dalam kamar, dia butuh waktu menenangkan debaran jantungnya yang seperti mau loncat dari tempatnya.


Kembali menyusuri jalan dengan pemandangan sawah disekitarnya, Meilinda mulai menikmati momen jalan-jalan seperti ini. Motor tiba-tiba berhenti, baru saja suasana hatinya membaik ini ada kejadian lagi sampai badannya menubruk punggung ustadz. Kali ini Mey duduk ngangkang dikursi penumpang agar tidak pegal seperti terakhir dulu, karena memang tidak terbiasa boncengan duduk miring.


"Aauuhhh..."


"Hah..." Meilinda menatap bangunan rumah didepannya, saking asyiknya melamun sampai tidak menyadari ternyata mereka sudah sampai. Tapi sepertinya rumah ini tidak begitu jauh dari pondok, terbukti dia masih bisa melihat bangunan tinggi asrama pondok.


"Assalamualaikum, ustadz mangga kalébét. Alhamdulillah sama bunda juga." Seorang ustadzah mempersilahkan mereka. [silahkan masuk]


Mereka duduk di kursi set yang diletakkan diteras rumah, pemandangan anak-anak sedang bermain di halaman yang luas sangat ramai. Ada ayunan, perosotan dan mainan lainnya. Anak-anak dengan usia beragam, berbaur bercampur. Dibagian dalam seperti sebuah gazebo luas, beberapa anak sedang membaca atau mengerjakan sesuatu. Ustadz Abdul berbincang-bincang dengan ustadzah menggunakan bahasa sunda jadi dia kurang paham.


"Jadi gimana, Mey?" Ustadz mengajukan pertanyaan padanya, dia menatapnya bergantian dengan ustadzah tadi yang menatapnya penuh harap. Ups, apa ini ya...


Karena gugup dan bingung, Meilinda hanya mengangguk saja. Ustadz Abdul tersenyum menahan geli melihatnya.


"Alhamdulillah, terimakasih banyak bunda..." Ucap ustadzah itu sambil menyalami tangan Meilinda yang membalasnya dengan senyum-senyum. Diliriknya ustadz yang sudah menjadi suaminya itu dengan tatapan tanya, eh dia masih saja tergeli-geli.


Mereka kemudian pamit dan mengucapkan salam, ustadzah tadi terus mengucapkan terimakasih padanya. Setelah menjalankan motor sedikit menjauh, tawa Abdul pecah membuat Meilinda kaget.


"Astaghfirullah, ustadz kenapa tiba-tiba tertawa, awas hati-hati iihh oleng ini motornya." Omel Meilinda panjang kali lebar.


"Makanya pegangan." Abdul kembali menghentikan motornya mendadak.


Jedug, tabrakan kedua kali karena Mey tidak siap. Iihh lama-lama bikin kesel juga nih, ngerem mendadak terus batin Mey.


"Ayo pegangan dulu, baru jalan lagi." Untung di kampung, jalanan sepi kalau tidak pasti tabrakan beruntun tadi, berhenti ditengah jalan begini, bisa-bisa dimaki orang-orang karena menghalangi jalan.

__ADS_1


Sekali lagi Mey memegang ujung baju ustadz yang sudah menjadi suaminya itu.


"Emang Mey ngerti tadi kenapa bu Iis berterimakasih apa?"


"Apa? Gak kedengeran, Ustadz bilang apa barusan?" Mey berteriak mencoba mengalahkan suara deru motor dan angin yang berhembus. Abdul memperlambat laju motornya dan pengulangi pertanyaannya.


"Emang kenapa?"


"Tadi kak Bas bilang Mey akan bantu-bantu disana, Mey gak keberatan kan?"


"Bantu gimana maksudnya, emang itu rumah siapa?"


"Kami membuatnya untuk Khansa..." Meilinda tersentak, dia sedikit mendekat agar bisa mendengar suara ustadznya lebih jelas.


"Rumah itu semacam rumah titipan untuk anak-anak yang kurang beruntung tidak mendapatkan kasih sayang orangtua, kami membuatnya sebagai pengganti kasih sayang kami untuk Khansa karena jauh. Kalau Mey bosan dirumah, mampir lah kesana, temani anak-anak, sayangi mereka. Mey mau kan?"


"Memang Mey boleh ya keluar dari pondok sendiri?" Abdul menghentikan motornya lagi, kali ini Mey lebih sigap untuk menghindari tabrakan kepunggung ustadz dengan mencengkeram pegangannya.


"Aawwww kok dicubit, sakit Mey! Ampun kak Bas salah..." Saking semangatnya ternyata Mey tanpa sengaja malah mencubit pinggang ustadz Abdul.


"Eh maaf maaf, ndak maksud tadinya cuma nahan aja." Abdul meringis sakit sekaligus geli.


"Tadi maksud Mey gimana, siapa yang gak bolehin Mey keluar pondok? Ada yang bilang begitu?"


"Itu, aturan pondok santriwati dilarang keluar area."


"Mey itu santriwati?"


"Bukan, tapi kan orang tahunya saya istri ustadz, masa keluyuran..."


"Mey emang istri kak Bas, tapi bukan berarti kemudian dikurung dalam pondok. Mey boleh kok keluar, bersosialisasi dengan lingkungan. Kak Bas percaya Mey tahu batasan-batasan dan bisa menjaga amanah serta kehormatan, ini motor kak Bas sediakan emang buat Mey. Ayo dicoba, udah lama kan gak pake motor?"


Mey memperhatikan ustadz yang sudah menjadi suaminya itu sudah turun dari motornya, ketika Mey maju memegang stang motor, ustadz naik dibelakang.


"Tau jalan pulang kan? Kita putar balik aja, nanti lewati rumah tadi trus lurus aja udah keliatan pondok sama rumah."


"Dipeluk dong ustadz itu bunda nya..." Teriak santri-santri menggoda saat Meilinda melintas mengendarai motor dan membonceng ustadz mereka.


'Kesempatan nih' Gumam Abdul lalu melingkarkan lengannya dipinggang Mey yang menjadi gugup namun tetap bisa mengendalikan laju motornya. Siulan dan teriakan kembali terdengar, Abdul terkekeh senang penuh kemenangan.


"Udah pegangannya, ga usah cari-cari kesempatan, udah sampe." Ucap Meilinda ketus, Abdul tertawa kesenangan lalu melepaskan pegangannya dan mengambil alih motor yang sudah ditinggalkan Mey masuk kedalam.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2